Kesabaran Cinta Pak Ustadz

Kesabaran Cinta Pak Ustadz
223. KEINGINAN NAMIRA


__ADS_3

--- TPQ Al Wafaa ---


Di hari sabtu, seperti biasa Sarah dan Umar mengajar mengaji di TPQ. Selama satu tahun lebih beroperasi, TPQ Al Wafaa sudah mulai berkembang dan tentunya semakin banyak anak anak yang mengaji disana. TPQ Al Wafaa memiliki fasilitas guru dan tempat yang memadai. Bahkan sekarang selain mengaji Iqro dan Al Quran, terdapat progam baru di TPQ Al Wafaa diantaranya adalah progam baca kitab kuning dan progam tilawah.


Hari ini kebetulan kegiatan belajar mengajar di TPQ terdapat syukuran perayaan kelahiran bayi kembar Risma dan Mansur. Umar sebagai wakil kepala pengelolah TPQ saat itu memimpin jalanya syukuran.


30 menit kemudian, acara syukuran selesai seluruh anak anak di TPQ kembali masuk ke kelasnya masing masing untuk menerima peajaran. Sarah dan Umar mengajar kelas yang berbeda. Jika dulu keduanya sama sama mengajar anak anak membaca Iqro dan Al Quran, sekarang Umar mengajar kelas progam baca kitab kuning sementata Sarah tetap memegang kelas membaca iqro dan al quran.


Di kelas baca Iqro dan Al Quran saat itu Sarah memiliki teman mengajar bernama Zahwa. Zahwa adalah kakak kelas Sarah sewaktu masih kuliah. Dulu waktu Sarah masih mahasiswa baru, Zahwa sudah memasuki semester akhir. Jarak usia Zahwa dan Sarah selisih 3 tahun. Jadi tidak heran jika Sarah dan Zahwa sudah saling kenal walau Zahwa sendiri baru satu minggu bergabung di TPQ. Kebetulan saat itu Zahwa mengajar Namira mengaji yang masih Iqro 4. Namira sangat semangat ada guru baru di TPQ. Selesai mengaji, Namira dan Zahwa saling berbincang.


"Bu Wawa, aku seneng deh punya guru baru," ucap Namira


"Iya Namira, Bu Wawa juga seneng kok. emang bener kata Bu Sarah. ternyata kamu anak yang rajin." jawab Zahwa


"Terima kasih Bu Wawa," ucap Namira


"Sama sama Namira, Bu Wawa lanjut ngajar dulu ya, Namira boleh main dulu sama teman teman diluar," jawab Bu Wawa


"Siap Bu Wawa," saut Namira


Namira berlari menuju halaman TPQ bermain dengan teman temanya. Namun saat bermain Naimira mendengarkan obrolan temanya yang bernama Arin dan Sasa menceritakan senangnya dirinya akan mempunyai adik.


"Teman teman, hari ini aku seneng banget lo karena Ibuku hamil," ucap Arin


"Wah berarti kamu akan punya adek rin," jawab Sasa

__ADS_1


"Iya, Ibuku hamil 2 bulan. kata Ibu harus nunggu 7 bulan lagi," ucap Arin


"Selamat ya Rin, punya adek itu seru lho, aku merasakanya. jadi gak gampang bosen di rumah ada teman main," jawab Sasa


"Iya Sa, kalau kamu gimana Namira? Ibumu belum kasih kamu adek?" tanya Arin


Namira saat itu hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Arin. Karena sebenarnya Namira juga tidak paham. Namira berpikiran memang Ibu dan Ayahnya pernah menyinggungnya tentang adek. Tapi sampai sekarang Namira belum tahu mengapa ayah dan Ibunya belum memberikan adek.


Arin dan Sasa yang melihat Namira bengong tak menjawab pertanyaanya sontak langsung menegurnya.


"Eh, Namira kok kamu bengong dari tadi?" tanya Sasa


"Iya nih, dari tadi diam aja awas kesambet Namira," saut Arin


"Ih, aku nggak mau kesambet," jawab Namira


"Pertanyaan apa?" tanya Namira


"Ibu kamu kapan kasih kamu adek, aku dan Sasa udah punya adek lo..nanti kalau kita punya adek kita ajak main sama sama," jawab Arin


"Aku tidak tahu." ucap Namira


"Kamu coba tanya sama Ibumu," jawab Arin


"Arin sayang..." saut seserang dari belakang

__ADS_1


Arin menoleh kearah belakang ternyata Ibunya sedang memanggilnya. Arin adalah anak pertama dari Zahwa. Dan kebetulan Zahwa memang hamil dua bulan.


"Eh, Ibu" jawab Arin


"Arin sayang dengarkan Ibu. urusan rezeki, maut dan jodoh itu sudah ditentukan oleh Allah. jadi Arin gak boleh bilang gitu ya sama Namira. Kita doakan saja semoga Namira juga cepet segera punya adek," jawab Zahwa


"Iya Ibu, aku mengerti," ucap Arin


Zahwa saat itu melihat Namira murung mencoba menanyainya. Zahwa memang sekilas mendengar ucapan Arin yang menyinggung Namira. Tapi Zahwa tidak tahu perbincangan lengkap Arin dan Namira sebelumnya.


"Namira, kok murung dari tadi?" tanya Zahwa


"aku hanya berpikir kapan Ibu beri aku adek kaya Arin dan Sasa," jawab Namira


"Oh dari tadi mikir itu. Namira harus ingat rezeki, jodoh, maut sudah di gariskan oleh Allah, jadi sebagai hamba kita hanya bisa berusaha dan berdoa,. kalau Namira sayang Ibu, Namira harus terus mendoakan unuk Ibu Namira." ucap Bu Zahwa


"Iya, Bu Wawa," jawab Namira


Zahwa memang memiliki panggilan Bu Wawa di TPQ.


Zahwa yang saat itu melihat Namira nampak tenang langsung berpamitan dan pulang ke rumahnya. Setelah kepergian Zahwa, ternyata ada Sarah dibelakang Namira. Sebenarnya Sarah mendengar keinginan Namira memiliki adik. Sarah saat itu hanya bisa berdoa semoga dalam waktu dekat dirinya dan Umar akan segera diberikan rezeki dari Allah untuk mendapatkan momongan.


--------------


@@@@@

__ADS_1


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!


Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga


__ADS_2