
--- Rumah Mansur dan Risma ---
Pagi hari, Risma terbangun terkejut melihat Mansur keluar dari kamar mandi dengan keadaan setengah telanjang dengan lilitan handuk di bagian bawahnua
"Aaaa......mas...keluar...." teriak Risma
Mansur bergegas memakai baju yang diambilnya dalam lemari dan segera bergegas menghampiri Risma yang ketakutan.
"ris, sudahlah, mas sudah pakai baju, buka matamu" ucap Mansur
Risma membuka matanya sedikit menjauh dengan Mansur. Mansur yang mengetahui istrinya takut denganya berusaha mendekat dan mengelus rambut istrinya yang terurai berantahkan karena baru bangun tidur
"ris, kok masih takut sama mas, kemarin sebelun berangkat ke surabaya kamu nggak takut lihat mas setengah telanjang" ucap Mansur
"mas, kemarin itu karena ada ancang ancang persiapanya mas, untuk hari ini maafkan aku mas, tadi aku melihat secara tiba tiba mas telanjang cuma pakai handuk melilit dipinggang" jawab Risma
"hmm..tidak apa apa, mulai sekarang kamu harus terbiasa melihat mas seperti ini, agar kedepanya kamu merasa nyaman saat menjalankan proses awal menuju kehamilan" ucap Mansur
"iya mas, aku akan berusaha" jawab Risma
"Baiklah sekarang mandilah, habis ini kita sarapan terus balik lagi ke jakarta, tinggal dua minggu lagi waktu liburan kita" ucap Mansur
"iya mas" jawab Risma beranjak dari kamarnya
__ADS_1
30 menit kemudian setelah Mansur dan Risma sarapan nasi pecel Mak Endang, mereka berdua berangkat ke jakarta untuk menikmati sisa liburanya.
----- Di Kos Sarah -----
Pagi hari, Umar didalam kamar kosnya Sarah bermain bersama Namira sambil menunggu istrinya memasak sarapan di dapur umum. Saat bermain bersama, 10 menit kemudian Sarah datang membawa masakanya dalam kamar
"Makanan sudah siap, ayo sarapan" ucap Sarah
Umar melihat masakan Sarah hari ini, ingin rasanya dirinya menangis. Sarah memasak tahu dan tempe goreng. Saat Sarah menyuapi Namira, Namira tidak nafsu makan karena lauknya tidak membangkitkan selera makanya
"aku tidak mau makan, aku ingin omlet" ucap Namira
"Sayang, untuk hari ini makan ini dulu ya, nanti sore ibu buatin omlet untuk Namira" jawab Sarah
"pokoknya aku mau omlet !!!" tegas Namira
Karena melihat wajah ibunya yang sembab, Namira terpaksa menerima suapan nasi dari ibunya dengan lauk tahu dan tempe goreng.
Umar melihat raut wajah istrinya yang merasa bersalah menyajikan lauk tahu dan tempe goreng. Umar merasa tak enak hati, Setelah sarapan pagi selesai, Umar memecah keheningan dalam kamar meminta maaf pada Sarah
"dek, maafin mas ya , hidupmu jadi menderita karena menikah dengan mas" ucap Umar
"mas, aku tidak apa apa, aku akan menemanimu dalam suka atau duka, kita berdua harus berjuang bersama sama mas" jawab Sarah
__ADS_1
"kamu boleh kok dek ninggalin mas jika kamu merasa menderita dan tidak bahagia menikah dengan mas, mas tahu kamu mau menikah dengan mas karena demi namira kan?" ucap Umar
Sarah meneteskan air matanya mendengar ucapan suaminya itu. Apa yang dikatakan suaminya memang benar, tapi entah mengapa dirinya merasa berat meninggalkan Umar. Akhirnya dengan bijak Sarah menanggapi ucapan suaminya
"mas, sampai kapan pun aku tidak akan meninggalkan kamu dengan namira, kecuali jika kamu menceraikan aku karena kamu tidak bahagia bersamaku" jawab Sarah
"dek, mas tidak akan berani melakukanya, sekarang mas hanya bisa berusaha membahagiakan kalian, mas akan mencari perkerjaan sampingan selain mengajar di TPQ, doain mas ya" ucap Umar
"iya mas" jawab Sarah
Umar memegang tangan Sarah dan Namira dengan kedua tanganya. Umar mengecup tangan Namira dan Sarah kemudian mengucapkan sesuatu
"Kalian berdua adalah wanita yang terpenting sekarang dalam hidupku, Kondisi ekonomi keluarga kita jangan sampai menimbulkan perpecahan. Kita bertiga harus bersama sama , harus terbiasa dengan kehidupan yang kita jalani saat ini, Namira anaku sayang ,dan Sarah istriku, aku berjanji kepada kalian semua akan membuat hidup kalian bahagia, kalian berdua adalah tanggung jawabku" ucap Umar
"mas, aku akan selalu bersamamu dan Namira dalam suka maupun duka" jawab Sarah
Namira memang masih kecil berusia 6 tahun. Dirinya belum sepenuhnya mencerna dan memahami dengan baik perkataan Umar. Dengan sigap Namira berdiri di tengah tengah Umar dan Sarah yang masih terduduk. Tanpa aba aba, Namira merangkul leher Umar dan Sarah sembari tertawa kecil dan mengatakan sesuatu
"ayah, ibu , Namira sayang ayah dan ibu, Namira senang punya ayah dan ibu" ucap Namira memeluk Umar dan Sarah
Umar dan Sarah tersentuh dengan ucapan Namira, mereka berdua kompak mengecup pipi Namira bersamaan.
"Namira sayang, ayah sangat menyayangi Namira" ucap Umar
__ADS_1
"Ibu juga sayang sama Namira" ucap Sarah
Mereka bertiga akhirnya saling berperlukan, suasana hangat dan kenyamanan di pagi itu menyelimuti keluarga kecil mereka. Senyuman manis dari Namira seketika menghipnotis suasana kamar yang canggung menjadi keceriaan.