
Siang hari, Namira terbangun dari tidurnya melihat disekelilingnya merasa sangat asing baginya.
"Dimana aku?" gumam Namira
Namira mengingat dirinya kabur dari rumah, tetapi dirinya tidak tahu bagaimana dirinya berada di tempat yang sekarang dirinya tempati. Namira turun dari ranjangnya melihat desain rumah temboknya berupa gedek kayu. Lantai rumah juga terasa lebih dingin karena beralas mester.
Namira berjalan menuju ruangan tiba tiba dikejutkan dengam suara nenek nenek.
"Namira, kamu sudah bangun ya? ayo sini makan. nenek sudah masak masakan kesukaan kamu," ucap Nenek
"Maaf, nenek siapa? apa nenek mengenalku?" tanya Namira
"Jangan kaget gitu, nenek namanya Winarsih. Namira panggil nenek saja ya, kemarin suami saya menemukan kamu malam malam tidur di kursi taman," jawab Nenek
"Iya Nek, lalu suami nenek dimana?" tanya Namira
"Masih kerja, nanti malam biasanya pulang. kamu santai saja, kamu sudah akrab kok sama suami nenek," jawab Nenek
"Iya Nek," saut Namira
Namira melihat di ruang tengah telah berjejer nasi, lauk tahu, tempe dan telur ceplok. Namira terdiam mengingat masa masa susahnya dulu bersama orangtuanya saat masih di kontrakan. Nenek Winarsih saat melihat Namira hanya terdiam melihat makananya langsung meminta maaf.
"Maaf ya Namira, nenek hanya bisa masak ini di rumah, makananya gak seenak di rumahnya Namira. tapi kalau Namira ingin makan sesuatu nenek beliin. Namira mau apa? mie goreng? nasi soto? atau apa?" tanya Nenek Winarsih
Namira merasa Nenek Winarsih salah paham terhadap dirinya. Namira bukanya tidak suka dengan makanamya. Justru masakan sederhana didepanya adalau masakan kesukaanya terutama telur ceplok.
"Namira suka kok Nek, Namira suka telur ceplok. tapi telur ceploknya hanya satu," jawab Namira
"Kalau gitu Namira makan saja telur ceploknya. Nenek sama Kakek biar makan tahu sama tempe," saut Nenek Winarsih
__ADS_1
"Gak mau, Nenek dan Kakek juga harus makan telurnya," jawab Namira
"Tapi sayang, kakek masih lama. setengah jam lagi kakek pulang. jadi Namira makan duluan saja mumpung masih hangat," ucap Nenek Winarsi
"Gak apa apa Nek, telurnya dibagi aja jadi tiga," jawab Namira
Namira langsung membelah telur ceploknya menjadi tiga bagian. Namira kemudian mengambil nasi beserta satu tempe dan satu tahu. Namun sebelum makan, Namira menginginkan kecap.
"Nek, di dapur ada kecap?" tanya Namira
"Ada, tunggu sebentar biar Nenek ambilkan," jawab Nenek Winarsih
Tak butuh waktu lama Nenek Winarsih membawakan kecap untuk Namira. Namira tanpa pikir panjang memancurkan kecap dalam botol ke makananya. Setelah kecap yang dipancurkan cukup, Namira memakan dengan lahab masakan Nenek Winarsih
---- Di Rumah Umar dan Sarah ----
Mendengar cerita dari Pak Hamzah, Umar sungguh menyesal tak cepat menyadari kalau selama ini dirinya tidak memperhatikan Namira
"Pak, saya seperti ini karena terlalu senang memiliki Burhan hingga lepas kontrol tanpa saya sadari saya semakin jauh denga Namira. Namira adalah keponakan saya yang saya sudah anggap seperti anak saya. saya sebelumnya sudah diperingati oleh Mansur akan hal ini. tapi bodohnya saya yang terlalu yakin tidak akan menyampakan Namira," ucap Umar
"Pak, anda harus sabar. insyallah Namira sehat. dia masih anak anak, dia butuh waktu untuk menghadapi semua ini. Mungkin dengan cara yang di rencanakan Tuhan, Pak Umar dan Bu Sarah bisa menyadari kesalahan yang diperbuat kepada Namira secara tidak langsung." jawab Pak Hamzah
"Saya sangat merindukan Namira, Pak," ucap Umar menagis
"Pak, saya mohon bapak tenang dulu. saya akan membantu mencari Namira agar kembali bersama Bapak," jawab Pak Hamzah
"Iya Pak, terima kasih banyak," saut Umar
---- Rumah Nenek Winarsih ----
__ADS_1
Sore hari, suami dari Nenek Winarsih sudah pulang dari kerjanya. Nenek Winarsih meyambut suaminya dengan telaten menyuruhnya mandi terus makan.
15 menit kemudian
Nenek Winarsih mengambilkan makana untuk suaminya. Saat itu Suami Nenek Winarsih menanyakan tentang Namira.
"Namira sudah makan?"tanya Suami Nenek Winarsi
"Sudah pak, ibu seneng lihat sikap Namira. anaknya sopan. bahkan ibu gak habis pikir pak sama Namira yang membagi satu telur ceplok jadi tiga bagian agar kita juga ikut makan telur ceploknya," jawab Nenek Winarsih
"Harusnya ibu berikan saja telur ceploknya, kasihan dia. Bapak juga gak apa apa kok makan cuma sama tahu dan tempe," ucap Suami Nenek Winarsih
"Sudah ibu paksa biar buat dia aja tapi dia gak mau. bahkan karena kesal dengan penolakam ibu, Namira mengancam gak makan. Namira memang gadis yang baik pak, suka berbagi," jawab Nenek Winarsih
"Namira sudah ibu beritahu siapa bapak?" tanya Suami Nenek Winarsih
"Belum Pak, tadi dia nyari bapak pas lagi kerja. ibu cuma bilang kalau bapak orang yang akrab sama Namira. ibu suruh panggil bapak kakek tapi ibu gak sebut nama bapak." jawab Nenek Winarsih
"Iya Bu, nanti biar Namira tahu sendiri siapa bapak." saut Suami Nenek Winarsih
---------------
@@@@@
Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!
Rate, Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga
nb : ada yang tahu siapa yang mennolong Namira?
__ADS_1