Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Part 10


__ADS_3

Lani masih terbaring lemah ketika perlahan dia mulai membuka matanya.


"Kamu istirahat dulu," ucap dokter muda itu sambil berdiri di sisi tempat tidur. "Untung teman kamu cepat membawamu ke sini, dia sepertinya sangat khawatir denganmu."


"Memangnya, aku kenapa, dok?" tanya Lani pelan.


"Karena terbentur, hidung kamu mengeluarkan darah yang cukup banyak. Apa kamu pernah mengalami ini sebelumnya?" tanya dokter itu ingin tahu. Lani menggeleng sambil menahan rasa sakit di kepalanya.


"Syukurlah, sekarang kondisi kamu sudah stabil. Sebaiknya kamu jangan berkelahi lagi," ucap dokter itu yang membuat Lani tersenyum malu.


"Temanmu sudah menunggu di luar dari tadi dan dia tidak berhenti menangis. Sebaiknya, aku biarkan dia masuk agar dia bisa tenang," ucap dokter itu sambil keluar memanggil Iva yang masih menunggu di luar.


"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Iva ketika duduk di samping Lani dengan suara gemetar.


"Aku tidak apa-apa, jangan menangis lagi," bujuk Lani.


Sejenak, tatapan Lani tertuju ke tangan Iva yang masih gemetar dengan sisa darah yang masih menempel di tangannya. Lani kemudian menggenggam erat tangan sahabatnya itu. "Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Kamu pasti susah bawa aku ke sini."


"Bukan aku."


"Kalau bukan kamu, lalu siapa?"


"Reihan, dia yang membawamu ke sini," jelas Iva dengan isak yang masih terdengar.


Lani tersenyum. Walau sebenarnya di dalam hatinya dia ingin berkumpul lagi dengan mereka. "Bisa, kan antar aku pulang? Aku tidak ingin berlama-lama di sini, aku tidak ingin membuat ibuku khawatir."


"Tapi bajumu penuh darah."


"Pakai baju ini saja," ucap dokter muda itu sambil memberikan baju kaos berwarna hitam miliknya.


"Terima kasih, dok," ucap Lani sambil mengambil baju itu dan segera memakainya.


"Lain kali harus hati-hati. Jangan sampai terjadi lagi kejadian seperti tadi dan jangan lupa, minum obatnya."


"Terima kasih, dok. Kami permisi dulu," ucap Iva sambil menuntun Lani keluar dari ruang UKS.


Walau masih merasa pusing, Lani berusaha untuk bisa berjalan karena dia tidak ingin membuat sahabatnya itu menjadi khawatir.


"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Reihan ketika kedua gadis itu baru saja keluar.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik aja," jawab Lani dengan senyum di bibirnya.


"Apanya yang baik-baik saja. Hidung berlumuran darah begitu kamu bilang baik-baik saja. Apa kamu ingin aku mati gara-gara panik?" tanya Iva dengan suara gemetar dan tangis yang berusaha dia tahan.


"Aku minta maaf, karena sudah membuatmu khawatir."


"Aku yang harusnya minta maaf, kalau aku tidak meladeni gadis gila itu, mungkin sekarang kamu tidak terluka seperti ini."


"Kamu masih kuat berjalan?" tanya Ian.


"Masih, kok."


Entah apa yang Lani pikirkan ketika melihat mereka yang begitu khawatir padanya. Hatinya luluh dan tak ingin menghindar dari mereka lagi. Mereka adalah teman-temannya. Dan dia sudah tidak peduli lagi dengan perkataan Riana dan juga ancaman Adrian.


Lani masih memaksakan kakinya untuk melangkah, tapi apa daya dia masih merasakan pusing di kepalanya hingga dia hampir saja terjatuh andai Reihan tidak segera memegang pundaknya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Reihan panik sambil menuntunnya duduk di salah satu kursi di halaman parkir sekolah.


"Lebih baik kita ke rumah sakit," ucap Ian yang tak kalah panik.


"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit pusing," jawab Lani dengan suara yang terdengar begitu lemah.


"Lan, kamu tidak apa-apa, kan? Ayolah, jangan buat aku khawatir," isak Iva sambil memeluk sahabatnya itu.


"Sabar, Va. Kamu jangan panik begitu," ucap Raka mencoba menenangkan Iva yang sudah mulai menangis.


"Jangan menangis. Aku tidak apa-apa, kok. Aku cuma pusing saja, mungkin karena kepalaku tadi terbentur makanya aku masih merasa pusing."


Lani terdiam sejenak. Dengan posisi kepala yang bersandar di bahu sahabatnya itu membuat dia merasa nyaman. Rasanya, dia tidak ingin beranjak dari tempat itu, apalagi ketika melihat kelima cowok itu yang sedang menatapnya dengan penuh rasa khawatir.


"Aku minta maaf," ucapnya sambil memandangi mereka.


"Sudahlah, dari tadi kamu minta maaf terus. Kamu itu tidak punya salah sama kita," ucap Ian.


Lani hanya mengangguk dengan air mata yang mengalir di sudut matanya. Sementara Reihan, hanya bisa mengepalkan tinjunya karena mengingat kembali perlakuan Riana pada gadis itu.


"Aku sudah pesan taksi," ucap Raka saat Lani sudah agak baikan.


"Ya, sudah. Kamu tunggu saja di depan, kalau taksinya sudah datang, suruh saja masuk ke parkiran biar Lani tidak usah jalan ke gerbang lagi," jelas Reihan.


Tak lama kemudian, mobil taksi sudah datang. "Masuklah," ucap Reihan pada kedua gadis itu.


Kedua gadis itu kemudian masuk. Perlahan mobil taksi itu meninggalkan parkiran sekolah dan diikuti ke lima cowok itu dengan motornya.


"Terima kasih karena sudah menemaniku sejak tadi," ucap Lani ketika mereka sudah sampai di depan gang.


"Kalian pulanglah. Biar Iva yang akan mengantarku, kalian juga pasti capek karena habis latihan."

__ADS_1


"Kami antar sampai ke rumah, ya?" ucap Ian.


"Tidak usah."


"Ya, sudah. Va, tolong kamu jaga Lani."


"Tanpa kalian suruh pun aku akan menjaganya."


"Masuklah," ucap Reihan.


Reihan hanya bisa memandangi kedua gadis itu yang perlahan menghilang di balik tikungan jalan.


*****


"Apa yang sudah kamu lakukan pada Lani?" tanya Adrian pada Riana ketika dia mendengar tentang perkelahian Riana yang membuat Lani harus dibawa ke ruang UKS.


"Kenapa? Kakak juga mau salahkan aku? Gara-gara dia aku harus kehilangan Reihan dan sekarang gara-gara dia Kakak juga memarahiku?"


"Bukan begitu maksud Kakak. Kalau kamu bertindak ceroboh seperti itu, Reihan tidak akan pernah menyukaimu dan kamu tidak akan bisa mendapatkan dia."


"Itu karena aku benci pada gadis itu, aku sangat membencinya. Kalau aku tidak bisa mendapatkan Reihan, maka gadis itu pun tidak akan bisa mendapatkan Reihan."


Adrian hanya bisa menatap adik sepupunya itu yang menangis sesenggukan.


****


Lani masih terbaring di tempat tidur ketika Iva datang menjemputnya untuk pergi ke sekolah.


"Maaf, Nak Iva. Sepertinya, Lani hari ini tidak bisa ke sekolah karena kondisinya yang kurang sehat," ucap ibunya menjelaskan.


"Baiklah, Tante. Nanti saya akan meminta izin buat Lani. Saya permisi dulu, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Wanita itu kemudian masuk ke dalam kamar anaknya dan mendapatinya masih berbaring. "Hari ini Mama tidak kerja dulu. Kalau kamu sakit begini, Mama jadi tidak fokus kerja."


"Lani baik-baik saja kok, Ma. Mama tidak usah khawatir, nanti besok Lani akan ke sekolah."


"Apa kamu yakin?"


"Yakin, Ma. Mama pergi kerja saja, paling sebentar pulang sekolah, Iva bakal main ke sini."


"Ya, sudah. Kalau begitu, Mama pergi kerja dulu. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi Mama, oke."


"Iya Ma, iya."


"Bagaimana keadaan Lani?" tanya Reihan penasaran.


"Sudah agak baikan, tapi mamanya belum izinkan dia ke sekolah dulu. Mungkin besok dia sudah masuk sekolah lagi."


"Syukurlah," ucap mereka kompak.


"Aku mau bicara sesuatu sama kamu, tapi nanti saat jam istirahat," ucap Iva pada Reihan saat teman-temannya sudah berjalan di depan.


Reihan sangat penasaran karena Iva ingin bicara berdua dengannya. Pikirnya, mungkin ada masalah serius tentang kondisi Lani dan itu membuat dia sudah tidak sabar lagi untuk segera jam istirahat.


"Ada apa? Apa ada yang ingin kamu bicarakan?"


"Sebelumnya, aku minta maaf. Apa kamu menyukai Lani?"


"Maksud, kamu?"


"Aku bingung harus memulainya dari mana, tapi apa kamu tahu kenapa aku bertengkar dengan Riana? Itu karena dia marah karena kamu menyukai Lani," jelasnya.


"Aku hanya ingin dengar dari mulutmu sendiri tentang perasaanmu pada Lani. Apa itu benar atau kamu perhatian selama ini hanya karena kita berteman?" tanya Iva mencoba mencari tahu.


Reihan terdiam. Dia ingin mengatakan yang sebenarnya tentang perasaannya pada Lani. Dengan memantapkan hatinya, Reihan pun mulai mengutarakan isi hatinya.


"Aku menyukai Lani sejak pertama kali melihat dia. Awalnya aku pikir, mungkin ini hanya perasaan kagum, tapi perasaan itu terus menyiksaku. Aku merasa nyaman jika berada di sampingnya dan aku ingin selalu melihatnya. Kamu tahu, saat kalian mencoba menghindar dari kami, terus terang aku sangat takut. Aku takut kalau Lani benar-benar akan menghindar dari kami selamanya."


Dengan serius, Iva mendengar semua ungkapan hatinya dan dia sangat kagum dengan ketulusan Reihan yang tidak ingin orang yang dia sukai terluka.


Dia ingat betapa paniknya Reihan ketika melihat Lani terluka dan betapa marahnya dia pada Riana karena sudah melukai gadis yang disukainya itu.


"Kalau kamu memang suka sama Lani, coba katakan padanya dan aku mohon tolong jaga dia. Tolong lindungi dia, jangan biarkan siapapun menyakitinya. Aku akan mendukungmu seratus persen bahkan seribu persen aku akan mendukung kalian karena aku akan bahagia jika kalian berdua juga bahagia," ucap Iva penuh kesungguhan.


"Apa kamu serius?" tanya Reihan seakan tidak percaya.


"Apa kamu mau melihat Lani di pacari cowok lain?"


"Tidak."


"Ya, sudah. Kamu harus ungkapkan perasaanmu itu, kalau kamu hanya diam, kamu pasti akan menyesal."


"Apa ada cowok lain yang suka sama dia?"


"Pokoknya, kamu harus gerak cepat kalau tidak mau Lani direbut cowok lain."

__ADS_1


"Kenapa kalian di sini? Anak-anak sudah menunggu di kantin." Tiba-tiba Raka datang mendekati mereka.


"Iya, kita ke sana, ayo jalan," ucap Reihan sambil berjalan lebih dulu karena kesal dengan candaan Iva.


"Kalian sedang membicarakan apa?"


"Tidak ada."


"Va, kalian tadi sedang membicarakan apa?" tanya Raka sambil berjalan mengekori Iva.


"Tidak ada apa-apa, ayo," jawab Iva sambil menarik tangannya dan beranjak pergi menuju kantin.


Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Suasana yang awalnya tenang kini riuh karena anak-anak mulai berebut ingin pulang lebih dulu.


Sementara Reihan, Raka dan Iva masih di dalam kelas menunggu ketiga sahabat mereka datang.


"Bagaimana kalau habis latihan, kita menjenguk Lani?" tanya Raka ketika mereka semua sudah berkumpul.


"Baiklah, sebentar kita ke rumah Lani," ucap Reihan mengiyakan usul Raka.


"Kalau begitu, aku pulang duluan. Aku tidak bisa menemani kalian latihan, aku harus temani Lani. Kasihan, dia pasti sudah menungguku," ucap Iva menjelaskan.


"Tidak apa-apa, Lani lebih penting. Kalau saja tidak ada latihan, kita pasti sudah temani kamu ke sana," ucap Rifal.


"Eh, jangan lupa, kalau datang bawa buah-buahan, terutama apel karena Lani suka sama apel. Ingat itu," ucap Iva mengingatkan teman-temannya.


"Ya sudah, aku pulang dulu. Latihannya yang serius, biar bisa menang nanti, oke?"


"Tolong jaga Lani, ya!!" teriak Ian ketika Iva sudah pergi beberapa langkah.


"Siap," jawab Iva sambil mengacungkan jempolnya.


*****


"Assalamualaikum." Salam Iva yang sudah berdiri di depan pintu rumah Lani.


"Waalaikumsallam."


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Iva ketika baru saja masuk ke dalam rumah.


"Alhamdulillah, sudah mulai membaik."


"Nih, aku bawa roti," ucapnya sambil meletakkan bungkusan roti di atas meja.


"Terima kasih, ya," ucap Lani sambil duduk di atas tempat tidurnya.


"Syukurlah kamu sudah mulai membaik. Mereka sebentar lagi datang karena masih harus latihan basket dulu," ucap Iva sambil duduk di belakang Lani sambil menyisir rambut sahabatnya itu.


"Berhubung mereka mau datang, jadi kamu harus terlihat cantik."


"Maksud kamu, apa?"


"Pokoknya, kamu harus sehat kembali agar kita bisa ke sekolah sama-sama lagi. Hari ini aku bosan karena tidak ada kamu," rengek Iva sambil memeluk sahabatnya itu.


"Iya, besok aku akan ke sekolah."


Sambil menunggu Reihan, kedua gadis itu memilih menonton drama korea favorit mereka. Drama yang membuat mereka berdua terbawa perasaan karena ketampanan oppa-oppa idola mereka.


Belum selesai menonton, tiba-tiba terdengar suara salam dari luar.


"Apa itu mereka? Tapi jam segini, mereka kan harusnya masih latihan?" tanya Iva penasaran sambil berlari ke ruang tamu dan benar saja, mereka sudah berdiri di depan pintu.


"Kok kalian sudah datang? Bukannya, kalian masih harus latihan? Jangan bilang kalau kalian bolos," celetuk Iva yang membuat Raka ingin mencubit pipinya karena gemas.


"Bukannya dipersilakan masuk malah menuduh kita bolos. Pak pelatihnya lagi punya urusan, makanya latihannya dipercepat," jelas Raka.


"Maaf, maaf. Ayo masuk," ucap Iva mempersilakan mereka masuk.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Reihan ketika melihat Lani keluar dari kamarnya.


"Sudah agak baikan, terima kasih karena kalian sudah datang mengunjungiku."


"Nih, buat kamu," ucap Raka sambil menyerahkan sekantung penuh buah apel.


"Katanya kamu suka sama apel, makanya Reihan beli lumayan banyak. Aku saja jadi pegal karena membawa tas itu," ucap Raka yang pura-pura mengeluh.


"Bawa tas itu saja bilang pegal. Bagaimana kalau nanti pacar kamu pingsan di jalan? Jangan-jangan, kamu akan meninggalkan dia karena tidak kuat menggendongnya," celetuk Iva yang membuat mereka semua tertawa.


"Kalau itu, aku pasti kuatlah. Masa pacar pingsan ditinggal begitu saja di jalan. Gini-gini, aku setia loh."


Sementara mereka asyik bercanda, pandangan Reihan hanya tertuju pada Lani. Melihat Lani yang tersenyum membuat Reihan merasa nyaman. Dia sudah rindu melihat senyuman itu lagi. Senyum yang selalu membuat dia ingin selalu bertemu dengan gadis itu.


Di saat bersamaan, Ian melihat sikap Reihan yang terus memandangi Lani. Apa mungkin yang dicurigainya selama ini memang benar, kalau Reihan ternyata menyukai Lani. Andai itu benar, maka Ian akan mundur walau sebenarnya hatinya akan terluka.


Lani mulai salah tingkah ketika menyadari kalau Reihan terus menatapnya dan Reihan juga menyadari itu. Perlahan, dia memalingkan pandangannya ke tempat lain.


Dalam hatinya, Reihan sudah bertekad kalau dia harus mengungkapkan perasaannya pada gadis itu. Dia tidak ingin Lani disakiti lagi, karena itu dia harus melindunginya. Dan keputusannya itu sudah bulat, secepatnya dia harus mengungkapkan perasaannya itu pada Lani.

__ADS_1


__ADS_2