Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Part 9


__ADS_3

"Kamu kenapa?" tanya ibunya ketika mereka sedang makan malam.


"Tidak apa-apa kok, Ma," jawab Lani dengan senyum yang dipaksakan.


"Kalau kamu punya masalah di sekolah, cerita sama Mama."


"Tidak ada kok, Ma. Lani hanya capek karena tugas sekolah yang lumayan banyak."


"Ya, sudah. Cepat selesaikan makan dan segera istirahat."


"Iya, Ma."


Di dalam kamarnya, Lani masih terbayang kejadian tadi siang dan itu membuat dia tidak bisa tidur. "Aku harus bagaimana? Apa aku harus menghindar dari Reihan dan teman-temannya?" batinnya dalam hati.


Keesokan paginya, Lani sudah bersiap berangkat sekolah. Seperti biasa, Iva sudah menunggunya di depan lorong rumahnya.


"Wajah kamu kok lesu begitu, kamu sakit?" tanya Iva.


"Tidak kok, hanya saja semalam aku tidak bisa tidur."


"Aku tahu perasaanmu dan kamu harus kuat. Dasar Adrian brengsek!!" umpat Iva kesal. 


Tiba-tiba, mereka berdua terkejut melihat Reihan dan teman-temannya sudah menunggu di depan gang.


"Kalian kenapa ada di sini?" tanya Iva bingung.


"Kami ingin menjemput kalian,"  jawab Ian.


"Kalian duluan saja, kami berdua bisa naik angkot, kok," ucap Iva sambil berjalan bergandengan tangan dengan Lani.


"Kamu sudah sehat?" tanya Ian ketika mereka sudah sampai di halaman parkir sekolah.


"Sudah. Maaf, aku sudah membuat kalian khawatir," jawab Lani pelan.


"Tidak perlu minta maaf, kami senang kalau kamu baik-baik saja," ucap Reihan sambil mengambil tas di tangan Lani dan segera digantung di pundaknya.


Melihat sikap Reihan seperti itu, sontak membuat mereka menjadi kaget.


"Kenapa? Ayo jalan."


Reihan perlahan mulai menunjukan perhatiannya. Reihan yang biasa acuh tak acuh, kini mulai membuka diri. Dan itu, membuat mereka menjadi heran.


Di dalam kelas, Lani hanya terpaku di tempat duduknya. Dia enggan untuk keluar kelas seakan dia sedang menghindari sesuatu.


"Nih, buat kamu." Tiba-tiba Ian datang dan menyodorkan sebungkus tahu isi dan sebotol minuman dingin untuknya.


"Aku tahu kamu pasti malas ke kantin, makanya aku belikan buat kamu."


"Punya kita mana?" tanya Rifal.


"Beli saja sendiri," jawab Ian ketus.


"Terima kasih, ya," ucap Lani.


"Ayo dimakan," lanjutnya sambil menyuruh teman-temannya untuk makan tahu itu dan langsung saja mereka mengambilnya, tanpa mereka sadari wajah Ian terlihat kesal.


Tiba-tiba, Lani terkejut saat melihat Adrian masuk ke kelasnya.


"Kenapa juga dia datang ke kelas kita?" tanya Raka jengkel.


Sementara Adrian tidak mempedulikan mereka dan asyik bercerita bersama Riana.


Lani hanya tertunduk, tapi karena  Adrian yang berdiri menghadap ke arahnya membuat cowok itu dengan mudah memandanginya. Sementara Iva, berusaha menenangkan Lani yang terlihat mulai panik.


"Tumben Kakak kemari, ada apa?" tanya Riana penasaran.


"Kakak kan sudah bilang, Kakak suka sama gadis itu, makanya Kakak main ke sini."


"Tapi di sini kan ada Reihan dan teman-temannya. Apa Kakak tidak takut?"


"Tenanglah, mereka tidak akan melakukan apa-apa, kok," jawabnya santai.


Sementara itu, Lani mencoba untuk menundukkan wajahnya karena dia takut bertatapan dengan Adrian.


"Kamu kenapa?" tanya Raka karena melihat tingkah Lani yang mulai aneh.


"Tidak apa-apa," jawabnya dengan senyum yang dipaksakan sambil buru-buru berdiri dan berjalan keluar kelas.


"Lan, kamu mau kemana?" panggil Iva sambil berjalan mengikutinya.


Melihat Lani yang sudah keluar kelas, membuat Adrian segera keluar dan mengikutinya.


 Lani terus berjalan menelusuri koridor kelas dan menuju ke toilet. Dia ingin bersembunyi di sana hingga jam istirahat selesai. Belum lagi dia memasuki pintu toilet, suara itu pun memanggil namanya


"Lani..." Adrian yang berjalan dibelakangnya perlahan mendekatinya.


"Tunggu, aku ingin menjelaskan."


"Kamu mau apa lagi? Belum puas kemarin kamu menyakitinya?" tanya Iva dengan nada kesal.


"Karena itulah, aku ingin minta maaf padanya."


"Orang seperti kamu, tahu apa tentang  maaf," ucap Iva masih kesal.


"Aku tahu kalau dia marah, tapi jujur apa yang aku katakan kemarin adalah benar. Aku benar-benar menyukai dia."


"Bohong!! Kamu sengaja katakan itu agar bisa menyakiti Reihan, kan? Kamu tahu Lani dekat dengan geng Reihan, karena itu kamu ingin Lani meninggalkan geng Reihan dan bergabung ke geng kamu, setelah itu kamu akan meninggalkan Lani, iya, kan? Gara-gara perbuatanmu, Lani jadi sakit. Kenapa kamu harus menyakiti dia? Kalau kamu suka sama dia, mestinya kamu lindungi dia, bukan mengancam dia seperti itu. Apa kamu pikir, Lani itu barang yang bisa kalian perebutkan?" ucap Iva kesal.


Sementara mereka berdua bertengkar, Lani memilih berdiam di dalam toilet sambil menutup kedua telinganya. Dia tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Kenapa dia harus terlibat dengan dua geng yang sedang bermusuhan.


"Untung Lani melarangku untuk menceritakan perbuatanmu kemarin, kalau tidak, aku pasti akan melaporkannya pada Reihan dan teman-temannya."


"Perbuatan apa maksudmu?" Tiba-tiba Reihan sudah berdiri di belakang mereka.


"Hmm, tidak kok, bukan apa-apa," ucapIva kaget.


"Kenapa juga kamu ada di sini? Ada urusan apa kamu sama mereka?" tanya Reihan pada Adrian yang masih berdiri di tempat itu.

__ADS_1


"Lebih baik, kamu pergi dari sini," ucap Iva sambil mendorong Adrian agar meninggalkan mereka.


Adrian langsung pergi meninggalkan mereka, walau sebenarnya dia ingin bertemu dengan Lani.


"Mana, Lani?"


"Masih di dalam, sebentar aku lihat dia dulu." Iva kemudian buru-buru masuk ke dalam toilet.


"Lan, ayo kita keluar, Adrian sudah pergi," kata Iva pelan.


"Kenapa harus seperti ini? Kenapa mereka memperlakukanku seperti ini?" isak Lani ketika berdiri di depan sahabatnya itu.


"Sudahlah, ayo kita masuk," ajak Iva sambil menggandeng tangan sahabatnya itu.


Sejak saat itu, Lani yang awalnya ceria perlahan mulai jadi pendiam. Lani yang biasa selalu pulang dengan kelima cowok itu memilih untuk pulang sendiri. Dia berusaha untuk menghindar dari kelima cowok itu, hingga akhirnya Reihan memberanikan diri untuk bertanya padanya.


"Sebelumnya aku minta maaf, tapi apa boleh aku bertanya?"


"Tanya apa?"


"Kami berlima minta maaf, kalau memang kami ada salah hingga kamu menjauhi kami. Jujur, teman-teman menjadi serba salah karena sikapmu itu."


"Kalian tidak salah apapun, aku yang seharusnya tidak hadir di antara kalian."


"Maksud kamu, apa?"


"Lebih baik pertemanan kita berakhir sampai di sini," ucapnya sambil berdiri meninggalkan Reihan yang masih terduduk dengan hati yang bertanya-tanya.


Dengan air mata yang mulai jatuh, Lani meninggalkan Reihan. Sementara Reihan, hanya bisa melihat gadis itu pergi dan menghilang di lorong kelas.


"Bagaimana? Lani bilang apa?" tanya Raka penasaran.


"Mungkin dia sedang ada masalah. Lebih baik, kita biarkan dia sendiri dulu."


Dengan menahan tangis, Lani berlari ke belakang sekolah yang sudah mulai sepi. Dia terduduk dan bersandar di dinding dengan menahan sakit di dadanya.


"Kebetulan kamu ada di sini." Tiba-tiba Riana sudah berdiri di depannya.


"Dasar cewek murahan. Setelah mendekati Reihan, sekarang kamu juga mau mendekati Adrian?" ucapnya ketus.


"Maksud kamu, apa?"


"Apa kamu bangga menjadi rebutan cowok-cowok itu? Dasar perempuan murahan," ucap Riana sambil mendorong tubuh Lani hingga terjatuh ke tanah.


"Sampai kapanpun, kamu tidak akan bisa mendapatkan salah satu dari mereka. Karena itu akan membuat mereka menjadi musuh seumur hidup. Kamu pikir kamu siapa? Apa kamu bangga menjadi rebutan cowok-cowok itu?" ucap Riana yang membuat Lani tertunduk.


"Kamu mestinya sadar diri, siapa kamu. Mereka itu cowok-cowok kaya, terus kamu siapa? Kamu tidak sebanding dengan mereka." Riana terus melontarkan kata-kata yang membuat Lani menangis.


"Kalau mau mendekati cowok, cari yang sepadan dengan status kamu, paham!!" ucap Riana sambil mendorong kepala Lani dan kemudian pergi meninggalkan Lani yang masih terduduk di tanah.


Sementara itu, Iva sedang mencari tahu keberadaan Lani. Sejak tadi, Iva belum bertemu dengannya hingga dia melihat Lani yang baru keluar dari toilet.


"Kamu kemana saja sih, aku cari dari tadi."


"Maaf, perutku sakit karena aku lagi dapat, makanya aku lama di toilet," ucap Lani berbohong.


    


Dengan langkah yang berat, Lani mencoba untuk tetap berjalan walau sebenarnya dalam hatinya dia ingin pergi dan tak ingin kembali.


*****


Reihan dan teman-temannya akan latihan setiap pulang sekolah. Sudah seminggu mereka tidak berbicara dengan Lani karena mereka ingin membiarkan dia menyelesaikan masalahnya. Namun, mereka tidak menyadari kalau masalah yang dihadapi Lani menyangkut dengan mereka.


"Sebentar kita temani mereka latihan, kamu mau, kan?" tanya Iva saat mereka sudah siap-siap mau pulang.


"Kamu sendiri saja, aku tidak bisa," jawab Lani sambil berjalan meninggalkan Iva.


"Kamu kenapa? Jangan bilang kalau kamu mau terus menghindar dari mereka," ucap Iva penasaran sambil mengikutinya.


"Aku tidak ingin gara-gara aku mereka berkelahi, jadi sebaiknya aku menghindar. Aku harap kamu mengerti, aku pulang dulu," ucapnya sambil pergi meninggalkan Iva yang masih berdiri terpaku menatapnya.


Iva ingin mengejarnya, tapi dia sudah terlanjur berjanji pada Raka kalau dia akan menemani mereka latihan.


Sementara di depan pintu kelas, Lani berpapasan dengan Reihan dan teman-temannya, tapi mereka tidak digubrisnya sama sekali.


"Lan, Lani," teriak Ian sambil mengikutinya, tapi ditahan oleh Reihan.


"Lani kenapa sih, kok bisa berubah begitu?" tanya Raka dengan wajah sedih.


"Kamu kan dekat sama dia, apa kamu tahu dia itu kenapa?" tanya Ian pada Iva.


"Aku tidak tahu," jawab Iva berbohong.


"Lebih baik sekarang kita fokus latihan. Ayo, kita ke lapangan," ucap Reihan sambil berjalan meninggalkan mereka.


Saat itu, Riana sudah menunggu dengan beberapa gadis yang biasa datang saat mereka latihan. Seperti biasa, dia ingin menyemangati mereka selama latihan.


Latihan kali ini mereka seakan tidak bersemangat. Ian selalu saja membuat kesalahan dan selalu ditegur oleh pelatih.


"Kalian kenapa dari tadi buat kesalahan terus? Ayo fokus!!" teriak pelatih dari sisi lapangan.


Walaupun sudah disemangati bahkan sampai dimarahi, latihan mereka tetap berantakan dan akhirnya mereka dihukum lari mengelilingi lapangan dan push up tiga puluh kali.


Selesai latihan, Reihan memilih duduk di salah satu kursi sambil mengelap tubuhnya yang bermandikan keringat. Sejenak, dia teringat akan sikap Lani yang sudah berubah seratus delapan puluh derajat.


"Kamu lagi memikirkan apa?" Tiba-tiba Riana sudah duduk di sampingnya.


"Bukan urusanmu," jawab Reihan datar.


"Kenapa kamu selalu bersikap dingin padaku? Apa salahku? Apa karena perempuan itu kamu menolakku?"


"Maksud kamu, apa?"


"Aku tahu, kamu diam-diam menyukai Lani. Iya, kan?" tanya Riana dengan kesal.


"Apa hebatnya dia. Dia hanya gadis miskin, dia tidak pantas bergaul dengan kalian. Dia hanya ingin memanfaatkan kalian," ucapnya dengan tangis.

__ADS_1


"Apa kamu ingin aku berbuat kejam padanya baru kamu mau menerimaku?"


"Jangan coba-coba kamu menyentuhnya, aku tidak akan pernah memaafkanmu."


"Kenapa!! kenapa!!" teriak Riana histeris.


Reihan kemudian berdiri dan meninggalkan Riana yang masih duduk terisak. Sementara Iva yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka hanya bisa terdiam.


Keesokan harinya, Iva sudah menunggu Lani di depan rumahnya.


"Ayo, kita ke sekolah sama-sama."


Lani hanya tersenyum dan mengikuti sahabatnya itu. Dalam hatinya, Iva sangat paham dengan posisi Lani yang tertekan karena berada di tengah-tengah kedua orang yang sedang bermusuhan. Dan apa jadinya kalau Lani sampai tahu, kalau ternyata selama ini Reihan menyukainya.


Setibanya di gerbang sekolah, mereka bertemu dengan Reihan dan teman-temannya yang juga baru datang, tapi mereka tidak peduli dengan kedua gadis itu.


"Mereka kenapa?" tanya Iva penasaran.


"Sudahlah, lebih baik seperti itu. Kita ini memang tidak pantas bergaul dengan mereka."


Lani masih duduk di bangkunya saat jam istirahat. Tak seperti biasa, saat mereka akan berlari pasti seragam mereka dititipkan, tapi itu tidak terjadi.


Bahkan, Raka yang biasanya paling dekat dengan Iva tak menggubris saat gadis itu mencoba mendekatinya dan itu membuatnya sedih.


"Benar katamu, dari awal kita sudah salah berteman dengan mereka. Kita tidak pantas berteman dengan mereka," ucap Iva ketika mereka sedang duduk di taman sekolah.


"Sudahlah, kita fokus saja belajar," ucap Lani dengan senyum.


"Lalu, bagaimana dengan Adrian, apa dia masih mengganggumu?"


"Aku berharap dari awal aku tidak pernah bertemu dengannya."


Kedua sahabat itu hanya bisa saling menguatkan. Mereka sadar dengan posisi mereka yang tak sepadan dengan cowok-cowok itu. Dan mereka juga sadar kalau mereka memang tak pantas berteman dengan cowok-cowok tampan itu.


Sudah dua minggu lebih kedua gadis itu tidak saling menyapa dengan Reihan dan teman-temannya. Dan mereka berdua sudah mulai terbiasa dengan keadaan itu. Lani yang awalnya pendiam, kini sudah mulai ceria kembali. Begitupun dengan Iva yang awalnya sedih karena di acuhkan oleh Raka, kini mulai tersenyum lagi.


Kemana-mana mereka selalu bersama. Saat pergi dan pulang sekolah mereka selalu bersama. Bahkan, Iva sering datang ke rumah Lani untuk belajar atau sekedar nonton drama korea favorit mereka.


Bahkan, saat tugas harian, hanya mereka berdua saja yang bertugas. Dari mengangkat kursi sampai menyapu dan mengangkat sampah, hanya mereka berdua. Sementara Reihan dan teman-temannya langsung pergi latihan basket saat bel pulang berbunyi.


"Baguslah kalau kalian berdua ada di sini." Tiba-tiba Riana sudah muncul di depan mereka saat mereka sedang mencuci tangan di toilet.


"Bagaimana? Memang enak dicuekin sama Reihan dan teman-temannya? Dari awal kalian mestinya sudah tahu diri kalau kalian memang tidak pantas berteman dengan mereka, apalagi sampai menyukai mereka, jangan menghayal," ucap Riana dengan sombongnya.


"Kamu yang seharusnya tahu diri. Sudah tahu Reihan tidak suka sama kamu, tapi masih saja mengejar-ngejar dia. Apa kamu tidak malu?" ucap Iva dengan emosi.


Mendengar perkataan Iva, Riana langsung menampar wajahnya. Karena tidak terima ditampar, Iva kemudian membalasnya dan mereka akhirnya berkelahi. Melihat mereka bertengkar, Lani mencoba untuk melerai, tapi percuma karena Riana masih sempat menampar wajahnya. Karena dorongan dari keduanya membuat Lani terdorong ke belakang dan akhirnya tersandar ke dinding dengan darah yang perlahan keluar dari hidungnya.


Beberapa anak yang kebetulan ada di toilet melihat kejadian itu dan berusaha melerai mereka. Sementara Lani, masih terduduk dengan hidung yang penuh dengan darah.


"Kalian bedua, cepat berhenti!!" teriak Imelda yang mencoba melerai.


"Iva, berhenti!! Sana, tolong Lani." Mendengar ucapan Imelda, Iva kemudian melepas cengkramannya dan melihat Lani yang sudah terbaring dengan darah yang sudah memenuhi seragamnya.


"Lani! Lani!!" teriak Iva dengan tangis yang tak bisa dibendung lagi.


Salah satu anak yang melihat kejadian itu segera berlari dan melapor pada pelatih.


"Pak! Pak pelatih, tolong Pak," ucap gadis itu sambil berlari panik di sisi lapangan.


"Ada apa?" tanya pelatih heran.


"Di toilet, Lani Pak, Lani ...."


Mendengar nama Lani disebut membuat Reihan penasaran dan mendekati gadis itu. "Maksud kamu, apa?" tanya Reihan penasaran.


"Lani berlumuran darah di toilet."


Tanpa berpikir panjang, Reihan kemudian berlari ke toilet dan diikuti teman-temannya. Ketika sampai di depan pintu toilet, Reihan terkejut melihat Lani yang sudah terbaring tak sadarkan diri dengan kepala di pangkuan Iva dan seragam yang telah penuh dengan darah.


Reihan kemudian menggendong Lani di punggungnya dan berlari menuju ruang UKS yang kebetulan belum tutup.


"Dia kenapa?" tanya dokter yang kebetulan masih ada di ruang UKS.


"Dia pingsan dan darah terus keluar dari hidungnya," jelas Reihan dengan rasa khawatir yang menyelimuti pikirannya.


"Kamu tunggu di luar, biar saya yang akan memeriksanya," ucap dokter itu sambil menutup tirai ruang periksa.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Iva sambil menangis.


Reihan tidak menjawab, dia hanya tertunduk lesu melihat tangannya yang penuh darah.


"Sudahlah, jangan menangis," ucap Raka mencoba membujuk Iva yang tak henti-hentinya menangis.


"Kalian pergilah. Biar aku yang akan menemaninya," ucap Iva dengan isak tangis yang semakin menjadi.


"Pergilah, aku mohon."


"Bagaimana mungkin kami akan meninggalkan kalian," ucap Ian gemetar karena cemas.


"Kami berdua tidak butuh kalian. Terima kasih karena sudah membawa Lani ke sini, tapi kami tidak butuh kalian. Kami bukan teman kalian, kami bukan siapa-siapa kalian, pergilahh!!" teriak Iva dengan air mata yang terus mengalir.


Mendengar itu, Reihan kemudian pergi.


"Rei, Reihan," panggil Raka sambil mengikutinya.


"Kita pergi, biarkan dia sendiri," ucapnya sambil berlari seakan sedang mencari seseorang.


"Apa yang kamu lakukan pada Lani, hah!!?" tanya Reihan marah sambil mencengkram pergelangan tangan Riana hingga dia merasa kesakitan.


"Aku ... aku ..."


"Kamu memang perempuan yang kejam."


"Ya, aku memang perempuan kejam, tapi itu semua karena kamu," jawab Riana dengan mata yang mulai memerah.


"Kalau sampai terjadi sesuatu pada Lani, sampai mati pun aku tidak akan pernah memaafkanmu," ucap Reihan sambil menghempaskan pergelangan tangan Riana yang sedari tadi dicengkramnya.

__ADS_1


Riana memandang kepergian Reihan dengan mata yang berkaca-kaca. Tak hanya itu, teman-temannya yang sedari awal bersamanya pun kemudian pergi meninggalkannya.


__ADS_2