Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Episode Terbaru 21


__ADS_3

Pagi ini April membuatkan susu hangat untuk Anabel yang sedang hamil saat ini. April sangat senang karena sedikit demi sedikit kondisi Anabel membaik dan mereka tetap bisa berkumpul bersama.


"Ma Anabel ngidam mangga muda," ujar Anabel saat melihat iklan mangga muda di tv.


"Iya udah mama akan kupasin ya buat kamu."


April pun segera mengambil mangga yang masih ia simpan dalam lemari itu.


"Iya Ma, makasih ya, Anabel ke kamar dulu ya Ma, karena badan Anabel kagak enak," Anabel pun segera ke kamarnya, untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Setelah mengupas mangga, April pun segera ke kamar Anabel untuk memberikan mangga tersebut.


"Ini makan ya, Bel." setelahnya April menutup kembali pintu kamar itu.


********


Ana sangat tak sabar untuk menemui Anabel dan memberitahu jika ia juga hamil. Sebelumnya Ana mampir sebentar ke supermarket untuk membeli beberapa buah untuk di bawa ke sana, sebagai oleh


oleh.


Setelah di rasa cukup memilih, Ana pun segera ke kasir untuk membayarnya dan ke rumah Anabel.


"Assalamualaikum." Ana mengetuk pintu rumah Anabel beberapa kali.


"Waalaikumussalam, kamu?" April terkejut dengan kedatangan Ana.


"Untuk apa kamu ke sini?" ujar April.


"Saya mau ketemu Anabel dan anak anak, boleh kan? ini aku sudah membawakan buah buahan untuk mereka, baik kan aku? kenapa sih tante itu begitu membenciku?? salahku apa?" ucap Ana,


masuk begitu saja dalam rumah itu.


"Loh, tunggu... kok kamu masuk begitu saja dalam rumah ini? saya kan belum izinkan kamu masuk?" April mengejar langkah Ana yang terus masuk ke dalam rumah itu.


"Saya kan mau ketemu Anabel dan anak anak." Ana terus masuk ke dalam rumah itu, seakan tak peduli dengan apa yang di katakan oleh April.


"Tunggu, biar saya panggilkan Anabel." April mencoba mencegah langkah Ana.


"Baik, saya tunggu di sini. Saya juga ingin memberikan kabar gembira buat kalian." Ana kemudian berjalan ke sofa, menunggu April memanggilkan Anabel.


"Baik, tunggu di sini ya. Saya panggilkan dulu." April pun segera ke atas memanggilkan Anabel. mata Ana menatap sekitar, terus melihat lihat isi rumah tersebut.


Sesekali ia berkata lirih, "humm, setelah menikah kan aku ingin tinggal di rumah ini seharusnya, malah sekarang aku ngontrak. Beruntung banget jadi Anabel."


"Ana..." panggil Anabel.


"ada apa ke sini?" Anabel terus mengawasi tiap gerak gerik Ana.


"Aku ke sini ingin menjenguk kamu dan anak anak. Boleh kan? aku kan ibu tiri mereka." Ana yang kemudian berdiri dan berjalan ke arah Anabel.

__ADS_1


April ingin sekali turut membalas ucapan Ana, hanya saja ia tak ingin menciptakan keributan terlebih kondisi Anabel sedang hamil seperti ini. April lebih memilih menghubungi Ferdi, satu satunya solusi terbaik. April pun segera memegang handphonenya dan menjauh sedikit dari mereka untuk menghubungi Ferdi.


Setelah mengirim pesan singkat dan menelfon Ferdi, April segera kembali ke tempat semula.


"Iya sudah, silahkan duduk. Anak anak masih tidur, karena ini hari minggu. Jadi aku kasihan kalau bangunkan mereka kecuali mereka bangun sendiri." Anabel pun berjalan ke arah sofa untuk mendudukkan dirinya.


"Ohya mau minum apa?" tanya Anabel yang bersiap akan berdiri kembali.


"Humm, sirup juga boleh, atau air putih saja."


"Baik biar saya buatkan."


Anabel pun segera berdiri dan berlalu ke dapur untuk membuatkannya. Sedangkan April memang sengaja tak mencegah Anabel yang ingin membuatkan sirup untuk Ana, karena April pun ingin berbicara pada Ana.


"Saya mau bicara sama kamu." April terus menatap ke arah mata Ana, seakan mengunci pergerakannya.


"Mau bicara apa? " tanya Ana yang segera memalingkan mukanya untuk menghindari tatapan April.


"Saya ke sini untuk bertamu loh, bukan buat ribut." jelas Ana kembali ke April.


"Iya saya tau, saya juga gak ingin ribut sama kamu. Saya cuman merasa aneh, kenapa kamu tiba tiba datang ke sini setelah sekian minggu menikah dengan Ferdi, kamu ke sini. Untuk apa? saya


kok merasa aneh ya ....." April menatap kembali ke arah Ana, seakan mengunci pergerakannya kembali.


"Tante ... saya kan sudah bilang, saya ke sini ingin bertemu Anabel sebagai sahabat saya dan bertemu ketiga anaknya yang selama ini merindukan dan menyayangiku. Lalu apa salahnya aku ke sini untuk bertemu mereka? aku yakin anak anak juga rindu aku tentunya juga Anabel kan? Ah, masa' iya gak rindu dengan aku, sahabatnya." perkataan Ana


semakin membuat April menahan emosinya.


pertanyaan saya!!" tegas April dengan terus menatap ke arah Ana.


"Tante perlu ingat, yang meminta saya menikah dengan Ferdi kan atas kemauan Ferdi dan Anabel karena anak anak yang tidak ingin kehilanganku. Lalu salahku di mana? aku tidak pernah memaksa


Ferdi buat menikahiku. Bahkan aku waktu itu telah memberikan pilihan untuk pergi jauh dari kalian kan? tapi kalian sendiri yang ingin aku tetap di


sini," ucap Ana ringan, seakan tanpa beban.


"Kamu..." perkataan April terhenti begitu saja saat Anabel kembali ke ruang tamu dengan membawa sirup yang telah di buatnya.


"Ayo di minum." tawar Anabel, kemudian ia pun duduk di sofa.


"Ah, iya aku mau memberi kabar ke kalian, jika aku....." Ana pun menghentikan perkataannya saat Ferdi tiba tiba datang begitu saja.


"Assalamualaikum Ma,.... Ana...?" Ferdi berusaha menghentikan ucapan Ana.


"Mas Ferdi, kok di sini?" Ana syok dengan kehadiran Ferdi begitu saja.


"Kenapa? bukankah ini rumah saya? Lagipula tadi Mama telfon, mama kangen aku dan ingin aku ke sini. Sekalian jemput kamu.. karena aku gak ingin terjadi keributan lagi yang kamu buat nantinya," tegas Ferdi.


"Mas, aku ini ke sini hanya ingin berkunjung dan memberi kabar gembira buat kalian."

__ADS_1


"Sepertinya mereka tak mengharapkan kehadiranmu." Setelah mengucapkan itu Ferdi berlalu untuk menemui anaknya.


"Tunggu Fer? kenapa kamu berbicara seperti itu


kepada Ana? bukankah dulu kamu sangat mencintainya?" April heran dengan


sikap dan ucapan Ferdi kepada Ana.


"Ferdi menyesal Ma, karena pernikahan ini Ferdi harus jauh dari Anabel juga anak anak Ferdi. Tapi


yasudalah semua sudah terjadi."


"Ferdi ingin ketemu anak anak dulu ya Ma." Ferdi pun segera menaiki tangga ke kamar anaknya.


"Ah, iya Bel. Aku sedang hamil loh, mengandung anak Ferdi," ucap Ana bangga.


"Hamil? kamu hamil?" lirih Anabel.


"Kamu hamil? tak perlu terlalu bangga. Anabel juga hamil."


"Apa? Anabel juga hamil Ma?" Ferdi tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Tante Dina juga hamil sama seperti bunda? yeee nanti dedeknya barengan dong lajur dan besarnya. Bisa main bareng. Asyiiik ..." ucap Bulan bersama Bintang juga David yang sudah bangun.


"Serius Ma? Ferdi bahagia, Alhamdulillah.. Makasih ya sayang uda memberikanku anak lagi." setelah mengucapkan hal itu pada Anabel, Ferdi pun menghampiri Anabel dan mencium dahi Anabel.


"Kamu senang mas aku hamil? bukankah kamu juga akan memiliki anak dari Ana?" lirih Anabel, karena ia tak ingin anak anaknya mendengar perkataannya. Ferdi pun segera memeluk Anabel


dan menghapus bulir bulir air matanya.


Sedangkan Ana hanya mampu menahan rasa


kesalnya melihat mereka berdua.


*********


Kini Ana benar benar menyesal, pernikahan yang ia harapkan dan kehamilan yang ia nantikan bahkan hingga menjebak Ferdi nyatanya tak membuahkan rasa cinta Ferdi kepada anak yang ia kandung.


Bahkan sangat terlihat jelas, bahagianya Ferdi saat tau Anabel hamil, berbeda dengan sikap Ferdi saat tau Ana hamil.


Kini ia benar benar menyesal, pernikahannya dengan Ferdi akan di bawa ke mana? Ana benar benar menyesal dan ingin mengakhiri pernikahannya dengan Ferdi, namun haruskah kini memilih mundur bahkan saat dendamnya belum ia balas, rencana yang sudah ia rencanakan pun


belum ia selesaikan seperti peran yang ingin ia perankan.


Sedangkan di sisi lain memilih bertahan membuat ia kelelahan dan hatinya terus tergores terlebih dengan kondisinya yang tengah hamil saat ini.


Ana pun memikirkan bagaimana nasib anaknya kelak, bila ia memilih mundur dari pernikahan ini?? ........


Andai saja hatinya lebih mengikhlaskan segala peristiwa di masa lalu mungkin hatinya takkan di penuhi dendam dan trauma hingga kini, dan ia pun memilih jalan yang salah.

__ADS_1


Yang pada akhirnya perlahan jalan yang telah ia pilih, menghancurkan dirinya sendiri dan membuat ia kelelahan.


__ADS_2