Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Ketika Cinta Harus Memilih - Anabel Menangis


__ADS_3

"Nah itu mereka sudah datang Pa." ucap April kepada Hery, melihat kedatangan Ferdi juga Anabel.


"Yuk makan Fer , Bel." ucap April.


"Eh iya Ma." ucap Anabel juga Ferdi yang kemudian duduk di kursi tersebut, berdekatan.


"Ayo makan." ucap April sekali lagi.


"Bel, kamu kenapa? "tanya April.


"Memangnya aku kenapa Ma?" tanya Anabel.


"Wajah kamu seperti habis nangis ? apa benar? apa yang sudah Ferdi lakukan ke kamu? bicara sama Mama." ucap April.


"Enggak kok Ma, Anabel gak kenapa napa. Ferdi juga gak melakukan apapun kok ke Anabel. Mama tenang aja ya.," ucap Anabel berusaha menenangkan April dengan menggemgam tangannya.


"Hemm baiklah, mama berusaha percaya. Awas aja sampai Ferdi menyakitimu , Mama gak akan biarkan itu. Mama gak akan membiarkan anak mama tersakiti. dan Mama akan buat perhitungan." ucap April dengan melirik ke arah Ferdi.


"Iya Ma. Mama tenang ya." ucap Anabel yang masih berusaha menenangkan April dan setelahnya Anabel melepaskan genggaman tangannya dari April dan mulai mengambil lauk untuk makan, untuk mengalihkan perhatian April dan semua orang di sana.


"Mas, mau lauk apa? biar Anabel ambilkan." tanya Anabel ke Ferdi.


"Hemm, mas mau ini dan itu." ucap Ferdi dengan menunjuk.


"Ini Mas." ucap Anabel dengan memberikan piring tersebut, setelah ia menyiapkan lauk pauk untuk Ferdi.


Mereka pun memulai makan..


"Hiks." tanpa sadar Anabel menangis yang membuat perhatian semua orang di sana teralihkan.


"Bel kamu nangis? kenapa sayang?" ucap April, dengan meletakkan sendok nya di piring tersebut.


Sedangkan Anabel tidak menjawab, kecuali ia hanya mampu menangis dan berusaha mengusap air matanya.


"Bel, kamu jujur ke mama. Kamu kenapa, ceritalah. " ucap April sekali lagi dengan menggemgam tangan Anabel.


"Apa ini ada hubungannya dengan Ferdi? jujur ke Mama , Bel." tanya April. sedangkan Anabel hanya mampu menggeleng tanpa kata.


"Fer apa ini ada hubungan denganmu yang membuat Anabel menangis ? jujur ke Mama Fer. Jika iya, kamu keterlaluan dan Mama pasti sangat kecewa denganmu." ucap April kepada Ferdi.


"Iya Ma, ini karena Ferdi." ucap Ferdi yang membuat semua orang di sana cukup terkejut.


"Maksud mu Fer?" tanya April.


"Ferdi, yang sudah membuat Anabel menangis. Ferdi tanpa sadar menyebut dan memanggil nama itu Ma kepada Anabel. maafin Ferdi Ma. " ucap Ferdi, penuh sesal.


*Pranggg ( bunyi sendok yang di banting )


Setelah membanting sendok makannya, April pun mulai berbicara..


"Mama kecewa denganmu Fer, kamu keterlaluan. Mama sangat kecewa denganmu. Mama gak tau harus ngomong apalagi denganmu. ucap April mengungkapkan kekecewaannya dengan beberapa kali menggelengkan kepalanya.


"Mama gak habis fikir kenapa mama punya menantu sepertimu , haruskah mama menyesal Fer? atau tidak? Tapi Mama sangat kecewa denganmu." lanjut Anabel, yang kemudian berdiri.


"Ayo Bel , kita pergi dari sini. Kita makan di tempat lain bareng mama." ucap April mengajak Anabel pergi dari tempat tersebut.


"Tunggu Ma, Bel tolong dengarkan Ferdi dulu. Jangan seperti ini." ucap Ferdi berusaha mencegah kepergian mereka.


"Iya Ma, dengarkan dulu Ferdi ngomong apa." ucap Hery.


"Sudahlah Pa, Mama capek dengan mantu Mama ini." ucap April.


"Ma tolong dengarkan Ferdi dulu." ucap Hery sekali lagi.


"Pa, sudahlah. Lebih baik Papa fokus ke kesehatan Papa, jangan terlalu memikirkan permasalahan ini." ucap April


"Dengarkan dulu Ma." ucap Hery, menyekal tangan Hery.


"Oke baik, ayo Fer.. bicaralah." ucap April.


"Ayo Fer, bicaralah." ucap April sekali lagi. Namun Ferdi hanya mampu diam tanpa kata, terlalu lelah untuk menjelaskan. Ferdi berusaha menenangkan dirinya sendiri.


"Baik itu Papa lihat sendiri, menantu kita gak bisa membuka suara kan Pa? jadi cukup jelas , Mama juga tau permasalahannya dengan sangat jelas dan Mama gak butuh sama sekali penjelasan Ferdi." ucap April.


"Cukup Ma, Pa. Kalian. bertengkar di hFapan anakku, di hadapan Bulan, Bintang dan David? apa kalian pernah mikirin gimana psikologis anakku ini ? Tolong jangan bertengkar lagi di sini. Jika kalian gak bisa diam dan daripada suasana seperti ini. Lebih baik Anabel sama Mama pergi dari tempat ini, seperti kata mama. " ucap Anabel dengan menahan tangis dan emosinya.


"Bulan, Bintang , David kalian makan di sini ya sama Papa dan Kakek. Bunda sama nenek mau makan di tempat lain ya." ucap Anabel mencoba menenangkan keadaan yang ada.


"Iya Bundaaa." ucap Bulan, Bintang juga David.


"Iya nak, sama Papa di sini ya." ucap Ferdi ketiga anaknya.


"Iya , sama kakek juga ya." ucap Hery ketiga cucunya.


"Yaudah, Bel kita pergi dari sini. Mama bisa pusing lama lama di sini. Kita makan di luar aja, yuk Bel. Karena mama gak nafsu makan di sini." ucap April yang melirik ke arah Ferdi, dan kemudian menggegam tangan Anabel untuk segera pergi dari sana.


Setelah kepergian April dan Anabel, Hery mulai membuka suara..


"Fer, tolong jujur ke Papa. Apa yang sebenarnya sudah kamu katakan ke Anabel hingga Anabel dan April seperti itu ? mereka sangat kecewa sepertinya, Papa lihat." ucap Hery.


"Iya Pa, maafin Ferdi ." ucap Ferdi.


"Kenapa? boleh cerita ke Papa ?" " ucap Hery.


"Boleh Pa. Ferdi menyesal tanpa sadar menyebut nama Ana ketika Anabel memanggil Ferdi, begitupun tadi ketika Mama memanggil Ferdi. Sebab itu, Mama tau juga Pa. " ucap Ferdi.


"Yaa Allah, apa yang kamu lakukan nak? " ucap Hery yang mulai menegang dadanya, namun Ferdi seakan masih tak sadar.


"Tapi Ferdi tak seperti yang Mama juga Anabel sangka Pa. Ferdi memang tadi melihat Ana dan Mama juga Anabel menyangka Ferdi terus menerus mengingat Ana, sahabat Anabel yang sudah meninggal.


Mama dan Anabel gak mau mendengarkan penjelasan Ferdi." ucap Ferdi penuh sesal. Namun tanpa ia sadar Hery telah tidak sadarkan diri.


"Eyaaaank, kakeeeee." ucap Bulan, Bintang juga David.


Ferdi pun segera menoleh mendengar ketiga anaknya menjerit memanggil nama kakeknya, dan Ferdi cukup terkejut Hery telah jatuh pingsan.


"Papa..." ucap Ferdi berteriak karena melihat Ferdi jatuh pingsan.


Bertepatan saat itu, Bu Nila dan pak Anang yang telah kembali.


"Yaa Allah Ferdi ini kenapa Pak Hery?" tanya Bu Nila dan Pak Anang bersamaan yang terkejut dengan kondisi Pak Hery yang telah jatuh pingsan.


"Aku gak tau Bu, mungkin ini salahku." ucap Ferdi penuh sesal dan menahan tangis.


"Yaudah kita bawa Pak Hery ke rumah sakit, kamu hubungin Anabel sama April ya." ucap Bu Nila.


"Iya biar kami yang bawa ke rumah sakit Fer." ucap Pak Anang.


"Iya Pa, kita bawa ke rumah sakit dulu karena yang terpenting kondisi Pak Hery harus terselamatkan. Nanti kalau sudah sampai di rumah sakit atau di mobil, Ferdi kasih tau Anabel dan April Bu, Pak." ucap Ferdi kepada Bu Nila dan Pak Anang.


"Iya sudah gitu aja Fer, yang penting tetap kasih tau mereka, bagaimanapun mereka keluarganya berhak tau kondisi Pak Hery. Lebih cepat lebih baik. " ucap Bu Nila.


Dan Kemudian mereka bertiga membawa Hery segera ke rumah sakit.


Setelah sesampainya di rumah sakit..


"Ini kenapa Bu , pak? tanya perawat tersebut.


"Pingsan dok." ucap Ferdi.


"Yasudah kita segera bawa ke ruang IGD dan periksa kondisinya." ucap perawat tersebut yang segera membawa Pak Hery ke IGD , yang di ikuti oleh Pak Anang, Bu Nila juga Ferdi.


Setelah Hery di masuk ke ruang IGD , Bu Nila dan Pak Anang meminta Ferdi segera menghubungi Anabel juga April.


"Fer, sekarang Pak Hery sudah masuk ruang IGD, lebih baik kamu hubungin Anabel juga April ya." ucap Bu Nila.


"Iya Bu." ucap Ferdi yang segera menghubungi April dan" Anabel.


"Gimana Fer ,sudah? " tanya pak Anang, saat Ferdi meletakkan handphonenya kembali.


"Iya Pa sudah, katanya mereka akan segera ke sini." ucap Ferdi.


"Alhamdulillah syukurlah" ucap Pak Anang dan Bu Nila.


***


Hemm Pak Hery masuk rumah sakit karena Ferdi? lalu bagaimana tanggapan April bila tau Ferdi lah penyebabnya?? dan bagaimana respon Anabel juga?


Mungkinkah Anabel dan April akan tau?


Mungkinkah Ferdi akan jujur?


Atau Bulan , Bintang juga David yang memberitahu ?


Lalu apakah April dan Anabel akan kecewa dengan Ferdi bila tau ??


 


\======================


 


Ketika Cinta Harus Memilih - Pov Anabel


Pov Anabel.


Pada akhirnya aku memilih makan di luar bersama Mama daripada harus di tempat tadi dan harus mendengarkan pertengkaran itu terus menerus, jujur aku lelah.


"Bel , mau pesan apa?" tanya Mama, membubarkan lamunanku.


"Iya Ma, aku pesan nasi goreng aja ya." ucapku pada Mama. Karena jujur aku sama sekali gak nafsu untuk makan, tapi aku juga gak ingin mengecewakan mama.


"Okeee. Mama pesan hamburger aja." ucap April.


"Ohya minumnya pesan apa?" tanya April.


"Es jeruk aja Ma." ucapku.


"Mama sama deh es jeruk aja." ucap April.


Aku dan Mama pun mulai makan dan saat kami tengah makan, hp ku berbunyi beberapa kali. Sebenarnya aku sudah berusaha mengabaikan panggilan itu karena ku fikir tidak terlalu penting toh aku sama Mama juga lagi makan. Sedang tak ingin makan kami terganggu terlebih hatiku sedang tak mood.


Dan handphone ku berbunyi kembali, pada akhirnya aku memutuskan untuk mengangkatnya, ah mungkin penting.


Sebelum aku mengangkat handphone tersebut, aku melirik Mama sebentar yang sepertinya seakan tak peduli tentang hal itu.


"Assalamualaikum, Iya Hallo." ucapku kepada seseorang di sebrang telfon sana.


"Apa? Papa pingsan Mas?" tanyaku terkejut yang mendengar kabar Papa jatuh pingsan.


"Bel apa? Papa pingsan? bagaimana bisa? tanya April yang mulai teralihkan.


"Siniii serahkan handphonenya sama Mama." ucap April.


"Tapi Ma..." ucapku takut, takut mereka bertengkar kembali.


"Gak papa sini, serahkan handphone itu sama Mama . Mama gak akan ajak bertengkar, Mama hanya ingin tau kabar Papa saja." ucap April yang seakan tau isi hati Anabel.


"Iya Ma, ini." ucapku menyerahkan handphone itu kepada Mama.


"Hallo Fer, Papa pingsan di rumah sakit? bagaimana bisa?" ucap April.


"Yasudah Mama akan ke sana. Alamat rumah sakitnya di mana dan ruang kamarnya? kirim lewat chat ya fer." ucap April yang kemudian mematikan handphone tersebut.


"Ini Brl, nanti Ferdi chat alamatnya. Kita segera ke sana ke rumah sakit Santosa. Nanti ruang kamarnya nyusul di beritahu Ferdi." ucap April yang kemudian berdiri dan ke arah kasir untuk membayar pembayaran makanan dan minuman yang telah ia pesan.


"Berapa mbak?" tanya April ke pelayan restoran.


"segini Bu." ucap pelayan tersebut menyerahkan note pembayaran.


"Oke , ini." ucap April menyerahkan beberapa uang tersebut.


"Makasih Bu, semoga puas dengan pelayanan kami. Jangan lupa datang kembali ya Bu." ucap pelayan tersebut, sedangkan April pun mengangguk dan segera berlalu dari tempat tersebut.


"Ayo Bel, kita segera ke rumah sakit list keadaan Papa. Jujur Mama sangat cemas dengan Papamu." ucap April.


"Iya Ma." ucap Anabel.


Dan mereka pun segera masuk ke dalam mobil, meninggalkan restoran tersebut dan menuju ke rumah sakit tersebut.


Setelah hampir perjalanan satu jam , mereka pun sampai di rumah sakit tersebut.


"Ayo Bel, kita masuk . Tanya ruangan Papa , tunjukkan seperti chat Ferdi apa benar ruangan itu. Nanti kita bisa cari sendiri ruangan itu." ucap April.


"Iya Ma." ucap Anabel yang segera berlalu dan menanyakan tentang ruangan papanya.


"Bu, Maaf mau bertanya apa benar ruangan ini?" ucap Anabel dengan menunjukkan hp tersebut.


"Iya benar Bu, silahkan. Mau kami antar atau cari sendiri Bu?" tanya perawat tersebut.


"Tidak usah Bu, biar kami sendiri ke sana." ucap Anabel ke perawat tersebut.


"Oooh baiklah Bu . Jadi dari sini ke situ..." ucap perawat tersebut menunjukkan arah ruangan Pak Hery.


"Terimakasih Bu." ucap Anabel.


"Iya sama sama." ucap perawat tersebut.


Anabel pun segera menghampiri April.


"Ma, yuk kita ke ruang Papa." ucap Anabel.


"Iya nak, jadi benar itu ruangan Papa ya? Yaudah yuk kita ke ruang Papa." ucap April, yang bersegera ke ruangan Pak Hery.


"Pa." ucap Anabel dan April saat masuk ke ruangan Hery.


"Bel, Ma sudah datang." ucap Ferdi , yang melihat kedatangan mereka.


"Gimana keadaan Papa Fer?" tanya April.


"Iya Mas, gimana keadaan Papa?" tanya Anabel juga.


"Papa masih gak sadarkan diri Ma." ucap Ferdi, sedih.


"Ya Tuhan, tapi bagaimana kok bisa Papa seperti ini Fer?" ucap April.


"Fer jawab Mama." ucap April.


Pembicaraan mereka pun terhenti dengan kedatangan perawat tersebut..


 


\=====================


 


Ketika Cinta Harus Memilih - Pak Hery Terkena Serangan Jantung


"Maaf Pak , Bu sebentar lagi dokter Gunawan akan ke sini untuk memeriksa kondisi Pak Hery." ucap perawat tersebut.


"Iya, baiklah. Terimakasih." jawab April.


Tak lama kemudian, Dokter Gunawan pun datang, memeriksa kondisi Pak Hery.


"Saya periksa dulu ya Bu, kondisi Pak Hery." ucap Dokter tersebut.


"Iya Pa, silahkan." ucap April, dan dokter pun memeriksanya.


Setelah dokter tersebut memeriksa, April menanyakan kondisi Pak Hery, suaminya.


"Bagaimana Dok, kondisi suami saya!" ucap April.


"Begini Bu, Pak Hery terkena serangan jantung. Jadi saya minta Pak Hery jangan terlalu banyak pikiran dan kecapean. Karena jika tidak akan seperti ini." ucap dokter Gunawan.


"Ya Tuhan, Papa.." ucap April lemah, melihat kondisi suaminya seperti ini .


"Papa.." ucap Anabel yang memeluk Pak Hery papanya.


"Tenang Bu, saat ini tolong biarkan Pak Hery isrtihat dulu ya. Jadi saya minta mungkin setelah ini lebih baik keluar dulu dari ruangan Pak Hery agar pak Hery bisa beristirahat." ucap dokter Gunawan.


"Iya dok, terimakasih. Kami nanti akan keluar." ucap April. dan Dokter tersebut pun segera berlalu dari ruangan tersebut.


Sedangkan Anabel juga April menangis setelahnya.


"Yaudah Bel, yuk kita ke luar biarkan Papa istirahat." ucap April.


"Iya Ma." ucap Anabel . Dan mereka pun segera meninggalkan ruangan tersebut.


"Loh kenapa keluar Ma, Bel? tanya Ferdi yang sudah menunggu di luar sejak tadi bersama Bu Nila dan pak Anang.


"Iya sama dokter di suruh segera keluar agar Papa bisa segera beristirahat." ucap April.


"Oooh begitu ya. Ya bener juga, Papa butuh istirahat saat ini." ucap Ferdi.


"Yaudah yuk kita duduk di sana aja, jangan terlalu dekat pas ruangan Papa takutnya nanti kita sedang mengobrol berisik dan meganggu isrtihat Papa." ucap April.


"Iya bener juga Bu, yuk." ucap Bu Nila.


Dan mereka pun segera duduk di kursi tersebut.


"Fer, Mama mau nanya, sebenarnya Papa ini kenapa? kok bisa seperti ini? Mama gak ngerti apa yang terjadi sebenarnya, bisa kamu jelaskan ke Mama. Tolong jelaskan ke Mama." ucap April. Sedangkan Anabel yang sedang melamun pun konsentrasinya buyar karena ucapan April tentang Papanya.


"Iya Mas, Papa sebenarnya ini kenapa?" tolong jelaskan ke Anabel Mas." ucap Anabel.


"Iya Fer, Mama tau Papa selama ini ada sakit jantungnya dan bisa kumat kapan saja. Tapi gak mungkin Papa tiba tiba begini, tanpa penyebab yang jelas." ucap April yang masih tak mengerti mengenai kondisi suaminya, Hery. Sedangkan Ferdi bingung harus menjawab apa, jujur ia takut apabila menjawab yang sebenarnya dan itu akan membuat pertengkaran kembali, membuat April juga Anabel kecewa dan marah kepadanya. Dan Ferdi tidak ingin itu terjadi.


"Fer, jawab." ucap April.


"Iya nak, jawab saja yang sejujurnya." ucap Bu Nila.


"Atau biar Ibu aja ya yang menjelaskan. Mungkin Ferdi terlalu syok." ucap Bu Nila.


"Yaudah gak papa, tolong jelaskan ke Bu Nila." ucap April.


"Iya Bu, jadi tadi itu, saya baru balik sama Pak Anang dan saya lihat di sana Ferdi bersama Bulan, Bintang juga David. Ketika saya menoleh ke arah samping, ternyata Pak Hery sudah jatuh pingsan. Ibu juga gak paham kenapa Pak Hery bisa jatuh pingsan. Terus kami akhirnya membawa Pak Hery ke rumah sakit Bu." ucap Bu Nila.


"Kamu sudah tanya Ferdi kenapa? karena Ferdi kan di sana, tentu Ferdi tau dan tak mungkin tak tau bila Ferdi tak ingin mengaku kita tanya anak anak saya, bagaimana?." ucap April.


"Iya Bu , saya sudah tanya Ferdi tapi Ferdi belum bisa menjawabnya mungkin terlalu syok. Karena Ferdi juga menjerit melihat Pak Hery seperti itu Bu. Saya saksinya Bu, ya kan Pak? " ucap Bu Nila.


"Lagipula tak mungkin Ferdi melakukan hal buruk kepada Pak Hery, Ibu sendiri sudah kenal Ferdi kan, mantu ibu ini.


Mungkin Ferdi pernah salah kala itu mencintai Ana, tapi itu sudah berlalu kan Bu? dan Ana juga sudah meninggal. Dan bukan berarti Ferdi berhak di tuduh seperti ini Pak, Bu. Tolong jangan tuduh Ferdi seperti ini. Ferdi anak saya, dan saya kenal anak saya tidak mungkin melakukan hal itu." ucap Bu Nila yang mulai tersulut emosi.


"Bu Nila, Bu Nila.. apa kamu tau apa yang di lakukan Ferdi anakmu? " tanya April.


"Apa Bu, memang?" tanya Bu Nila.


"Kamu bilang sudah berlalu ya Ferdi yang menyimpan perasaan ke Ana ? nyatanya hingga kini Ferdi masih menyimpan perasaannya dengan Ana. Berulangkali Ferdi menyebut nama Ana, baik kepada saya atau Anabel istrinya, hingga kami benar benar sangat kecewa kepada Ferdi. Dan yang saya takutkan, Ferdi mengatakan juga kepada Pak Hery sementara Hery, suami saya ini ada sakit jantungnya yang bisa kapan aja kumat bila ia terkejut dan terlalu syok dengan berita yang di dengarnya." ucap April mencoba menjelaskan.


"Paham kan Bu Nila? Pak Anang?" tanya April.


"Iya Bu, kami paham." ucap Bu Nila.


"Ma, boleh saya berbicara sesuatu di sini? sebelumnya maaf mungkin aku akan buat banyak hati kecewa padaku." ucap Ferdi.


"Apa Fer? iya silahkan. Kecewa takkan mungkin bisa di hindari Fer, bila kejujuran di ungkapkan terlebih setelah kebohongan." ucap April.


"Saya minta maaf sebelumnya, mungkin ungkapan kejujuran saya akan membuat kalian kecewa.


Tapi saya tidak ingin ada kebohongan di antara kita.


Sebenarnya, saya lah mungkin bisa di bilang penyebab Pak Hery seperti ini. Saya benar benar minta maaf." ucap Ferdi yang berusaha mencari pasokan oksigen untuk bernafas.


"Apa?" ucap April yang terkejut dan langsung berdiri.


"Apa maksud Fer? ucap April mengulangi pertanyaannya.


"Tolong jelaskan ke Mama." ucap April kembali.


"Iya Ma, Ferdi yang sudah membuat Pak Hery jatuh pingsan seperti ini. Ferdi yang sudah membuat sakit jantung Papa Kumat. Ferdi benar benar minta maaf dan sudah buat kalian kecewa. Maaf." ucap Ferdi penuh sesal.


"Mas, jadi kamu yang uda buat Papa seperti ini? tega kamu Mas, tega." ucap Anabel yang menahan tangis juga emosinya.


"Jadi.. kamu ? kamu penyebab suami saya seperti ini?" tanya April. Sedangkan Ferdi hanya menunduk.


"Jawab Ferdi, apa yang sudah kamu katakan kepada Papa?" ucap April kepada Ferdi yang masih menunduk.


"Iya Ma, maaf tanpa sadar Ferdi cerita kepada Papa tentang apa yang sudah buat kalian kecewa sama Ferdi." ucap Ferdi.


"Ya Tuhan, Astagaaa Ferdi. Kamu sendiri tau Papa ada sakit jantungnya, dan bisa kumat. Lalu kenapa kamu mengatakan itu pada Papa sih Fer? Mama benar benar tak habis fikir denganmu dan sangat kecewa sama kamu." ucap April.


"Iya Mas, aku benar benar tak habis fikir denganmu , kamu tega." ucap Anabel.


"Papa nanya Ma, Bel dan Ferdi tanpa sadar cerita begitu saja. Karena Ferdi gak tau harus cerita dengan siapa? sedangkan kalian sendiri sudah tak ingin mendengarkan penjelasan Ferdi." ucap Ferdi, lemah.


"Ya Tuhan Astagaaa Ferdi., apa yang kamu lakukan" ucap April yang tak bisa berkata kata.


"Mas, aku kecewa sama kamu. Jika terjadi apa apa pada Papa, awas kamu mas. Aku tidak akan pernah maafin kamu." ucap Anabel yang sudah di liputi emosi.


"Sabar Bel, tenang.. dudukkan dirimu." ucap April berusaha menenangkan Anabel dan memeluknya.


"Sudah begini saja, Mama harap ini umtuk pertama dan terakhirnya kamu seperti ini, membuat kami kecewa. Mama harap kamu tidak mengulanginya lagi." ucap April dengan menatap tajam ke arah Ferdi ..di tengah pembicaraan mereka, beberapa dokter juga perawat masuk ke dalam IGD ke kamar pak Hery dan mendorong nya ke luar ruangan IGD, yang membuat keluarga Anabel bertanya tanya dan begitu terkejut.


 


\======================


 


Ketika Cinta Harus Memilih - Pak Hery Kritis


Sesampainya di ruang ICU setelah pak Hery di masukkan ke dalam kamarnya, dokter juga perawat pun akan kembali ke ruangan mereka masing masing.


"Dok, suster, maaf ada apa dengan suami saya? mengapa bisa seperti ini?" ucap April.


"Iya Bu, tadi kami memeriksanya dan kondisinya drop oleh sebab itu kami harus membawanya ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan intensif. Yasudah Bu saya permisi dulu ya." ucap perawat tersebut dan berlalu pergi.


"Ya Tuhan, Papa." ucap April menangis dan sesekali melirik ke arah Ferdi tanpa kata.


April segera berdiri ketika melihat seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Dok, maaf apa dokter juga yang menangani suami saya? Hery?" ucap April.


"Hery? oooh keluarga pak Hery ya?" ucap dokter tersebut.


"Baik bu, begini..saat ini mungkin kondisi pak Hery kritis, doakan ya Bu semoga segera sadar. Dan saya harap jangan bertengkar di hadapan Pak Hery lagi karena itu akan mempengaruhi kondisinya Pak, Bu.


Maaf sebelumnya, seperti tadi ketika perawat ingin memberitahukan kondisi Pak Hery tapi maaf kalian sibuk bertengkar hingga perawat mengambil keputusan sendiri untuk segera menangani pak Hery.


"Baik dok, kami minta maaf. Kami berjanji tidak akan bertengkar kembali dan saya juga berharap semoga suami saya Hmmmmmmnm dulu kondisinya segera membaik, Aamiin semoga." ucap April


.


" Aamiin Bu, Insya Allah. banyak banyak doa dan percaya kepada Tuhan ya Bu . Saya juga berharap semoga seperti itu. Jika keadaannya semakin membaik maka akan boleh segera pulang. Jadi untuk saat ini harus di opname dulu .Yasudah Bu, saya permisi ya." ucap dokter tersebut.


Setelah kepergian dokter tersebut, April segera duduk kembali di dekat Anabel.

__ADS_1


April menumpahkan air matanya untuk kali ini, karena ia sangat sedih melihat kondisi suaminya sesekali April melirik ke arah Ferdi seperti tak suka. April mencoba menahan gejolak amarahnya.


"Eyank, benar apa yang di katakan dokter tadi, kita harus banyak banyak doa untuk Opa supaya cepat sembuh. Tolong eyankkkk jangan bertengkar lagi. Kasian opa pasti sangat sedih , jika tau. Seperti tadi.." ucap Bulan, seakan mewakili perasaan mereka masing masing


"Iya cucu Oma, Oma janji kita gak akan bertengkar kembali ya dan kita doakan Opa, okee." ucap April dengan berusaha tersenyum ke cucunya walau hatinya sendiri saat ini sedang sangat kacau.


"Iya Ma,kita doakan Papa daripada bertengkar terus. Kasian Papa juga, Papa juga pasti sedih mendengar kita berantem terus." ucap Anabel.


"Iya Bel, kita doakan Papa. Tapi ini semua juga karena suamimu. Tapi yasudalah." ucap April dengan melirik ke arah Ferdi.


"Ma, sudah . Cukup Anabel mohon." ucap Anabel.


"Iya ya." ucap April.


Hingga hampir seharian mereka menunggu di ruang Aiciu itu, namun keadaan Pak Hery tiada menunjukkan ke arah lebih baik.


"Ini sudah Malam Bel, kamu balik aja ya ke hotel bersama anak anak, biar di antar Ferdi." ucap April.


"Tapi Ma, bagaimana dengan Mama? tadi kan Pak Anang sama Bu Nila pulang duluan. Berarti Mama nanti sendirian dong di sini? ucap Anabel kembali.


"Mama gak papa sendirian di sini." ucap April mencoba meyakinkan Anabel.


"Ya tadi kan Bu Nila meminta pulang kembali ke hotel karena suaminya sedang tidak enak badan Bel. Uda Mama gak papa. jangan terlalu khawatir ya. Kamu harus khawatirkan juga perhatikan kondisi kesehatan mu." ucap April.


"Iya Ma, Anabel pasti jaga kesehatan Anbel, tapi Mama juga." ucap Anabel kembali.


"Iya nak, itu pasti. Tapi saat ini Mama harus di sini dulu karena Papamu sangat membutuhkan Mama. Doakan Papamu sehat pulih agar Mama pun bisa segera lembutkan ke hotel dan pulang dari rumah sakit ini." ucap April .


"Iya Ma, kita semua pasti doakan Papa. Buat kesembuhan dan kesehatan Papa. ,Bukan hanya Papa , tapi untuk Mama juga." ucap Anabel kembali.


"Yaudah Ma, Anabel pamit dulu ya. Mama hati hati dan jaga kesehatan. Besok Anabel ke sini gantiin Mama ya. Tapi jujur ninggalin Mama seperti saat ini, Anabel gak tega terlebih ini Afnan uda sangat malam Ma." ucap Anabel.


"Gak papa Bel.Tenang saja ya. Mama


insya Allah Baik baik saja. Nah, begitu saja mama setuju. Gantian aja, besok Anabel ke sini, setelah mengantar anak anak sekolah Ferdi juga pulang kerja boleh ke sini. Mama pulang dulu kalau besok kamu ke sini ya Bel. Mama mau mandi, beres beres, nyiapin pakaian Papa apa yang perlu di bawa atau di cuci .Ya meski mama tau mandi di sini bisa aja tapi kurang nyaman, kotor kamar mandi nya. Juga nyuci di sini bisa aja tapi nyucinya di kamar mandi, dan tidak terlalu lama karena pasti banyak yang ngantri kamar mandinya. Jadi mama lebih sreg di rumah saja." ucap April


"Iya ya Ma, enak di rumah saja memang kalau begitu." ucap Anabel.


"Yaudah Ma, kami pamit dulu ya. Mama tetap perhatikan kesehatan Mama ya. Jangan terlalu kelelahan ya Ma, kalau mama sakit siapa yang merawat papa dan kami juga pasti akan sedih melihat Mama sakit. Besok kami ke sini lagi ya ma."ucap Anabel.


"Iya Bel, hati hati. Jaga kesehatan mu juga. Titip cucu Oma ya." ucap April.


"Iya Ma. Jangan sedih terus ya Ma." ucap Anabel menghapus air mata April dan mencium tangan April untuk pamit.


"Mas besok kita ke sana ya, antar aku pagi pagi ke sini ya." ucap Anabel kepada Ferdi, setelah mereka sampai di mobil.


"Iya Bel." ucap Ferdi yang melanjutkan perjalanan tersebut.


 


\===========================


 


Ketika Cinta Harus Memilih - Menjenguk Hery


Sesampainya di hotel Anabel meminta anak anaknya untuk segera makan dan beristirahat.


"Bulan, Bintang , David. Tadi Mama sudah beli makanan, kalian bersih bersih dulu ya terus makan dan segera isrtihat." ucap Anabel kepada ketiga anaknya.


"Iya Ma, Besok kami boleh nengok Opa ke rumah sakit?" tanya Bulan.


"Boleh, tapi sekarang isrtihat cepat supaya besok bisa jenguk Opa." ucap Anabel.


"Okeee shiapp Bundaaa." ucap ketiga anak Anabel.


Anabel pun segera membersihkan dirinya, bersiap dan berganti pakaian. Setelah Anabel membangunkan Afnan untuk menyuapinya juga menidurkan Afnan lalu Anabel pun makan untuk dirinya sendiri.


Setelah Mereka semua selesai makan, Anabel segera membereskannya dan segera istirahat karena jujur ia sudah cukup lelah hari ini fisik maupun hatinya.


"Bulan, Bintang, David ingat pesan Bunda segera istirahat ya agar besok ke rumah sakit juga ." ucap Anabel mengingatkan ketiga anaknya sebelum ia masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.


"Iya Bundaaaa, siapppppp." ucap Bulan, Bintang juga David yang sedang bermain.


**


Sedangkan Anabel di dalam kamar , kembali termenung dan terisak mengingat semua yang terjadi tadi. Jujur hati ataupun fisiknya sangat lelah tanpa sadar Anabel pun mulai menangis dan bulir demi bulir air mata membasahi pipinya.


"Ya Allah." lirih Anabel, dalam diam dengan mengigit bibirnya yang mulai mengeluarkan darah.


Hatinya terlalu lelah untuk menerjemahkan apa yang terjadi baik tentang Ana ataupun tentang keadaan Papanya.


Besok pagi pagi sekali, ia berjanji akan segera ke rumah sakit untuk menjenguk dan merawat Papa nya.


Untuk menggantikan April menjaga Papanya.


Sebelum memejamkan matanya, Anabel mencoba menghubungi April untuk menanyakan kondisi Papanya.


"Ma apa kabar Papa?" tanya Anabel.


"Hemm oke Ma, semoga Papa cepat sadar. Besok Anabel segera ke rumah sakit. Mama juga tetap jaga kesehatan Mama ya." ucap Anabel.


"Assalamualaikum Ma." ucap Anabel mengakhiri pembicaraan telfon tersebut.


Anabel pun setelahnya mencoba memejamkan matanya untuk melupakan rasa sakit, juga lelah nya. Karena Ia sadar masih ada hari esok yang mungkin akan menguras pikiran dan hatinya jauh lebih dalam.


**


Pagi pagi Anabel bangun, dan membersikan segala keperluan rumah, menyiapkan makanan untuk ketiga anaknya yang akan berangkat ke rumah sakit.


"Sayang nih , Bunda uda buatkan nasi goreng untuk kalian. Setelah ini kita ke rumah sakit ya menjengu Opa." ucap Anabel.


"Okeeee Bundaaa shiapppp." ucap ketiga anaknya.


Anabel pun segera membereskan sisa makanan, dan mengganti pakaian Afnan. Tak lupa Anabel membawa Asi di dalam botol susu untuk Afnan selama di perjalanan, juga beberapa cemilan biskuit.


"Bulan, Bintang dan David yaudah yuk kita segera berangkat." ucap Anabel kepada ketiga anaknya. Dan mereka pun segera menaiki mobil.


"Assalamualaikum Ma, gimana keadaan Papa?." tanya Anabel saat telah sampai di rumah sakit, di ruangan Hery Papanya.


"Alhamdulillah Bel, Mama bingung harus ngomong apa. Kata dokter kemungkinan Papa akan segera sadar karena tadi malam Papamu sudah melewati masa kritisnya, mama bersyukur.Tinggal menunggu Papamu sadar saja. Doakan Papamu ya segera sadar." ucap April.


"Yaa Allah Papa, iya Ma. Anabel selalu doakan Papa. Anabel sayang sama Papa.


Anabel gak nyangka liburan kita akan seperti ini. Andai Mas Ferdi gak mengucapkan sesuatu itu pada Papa.. mungkin papa gak akan seperti ini." ucap Anabel kecewa dan sedih.


"Iya andai Ferdi gak berbicara sama papamu, tapi yasudalah. Mama juga kecewa tapi gak mungkin kak kita terus terlarut dalam kekecewaan tersebut." ucap April.


"Ohya Bel, Mama balik dulu ya. Jaga Papa bentar ya. Ohya Afnan kenapa gak kamu titipkan sama Bu Nila saja dan pak Anang? daripada di rumah sakit, kasian Afnan masih kecil takutnya terkena penyakit." ucap April.


"Terus Bulan, Bintang juga David gak ikut Oma aja nih daripada di rumah sakit? Kakek juga belum sadar." ucap April.


"Iya Ma, tadi Anabel ada pikiran begitu tapi Anabel takut kelamaan ke sini nya nanti mama nunggu lama. Jadi Anabel segera ke sini dan Anabel juga takut merepotkan Bu Nila dan Pak Anang. Gak enak Ma, sama mereka. Anabel sering merepotkan mereka Ma." ucap Anabel.


"Lagipula Bu Nila sama Pak Anang tadi telfon Anabel katanya nanti mereka ke sini Ma, mungkin pas baliknya baru aku titipin Bu Nila sama Pak Anang Ma." ucap Anabel Kembali.


"Yaudah sekarang Mama balik dulu ya, tolong jaga Papa tapi tetap perhatikan anak anak ya." ucap Bu April.


"Iya Ma, Mama gak makan dulu?" tanya Anabel.


"Gak usahlah Bel. Mama langsung aja , nanti makan di hotel aja ya. Karena mama juga gak nafsu makan di rumah sakit ini terlebih melihat keadaan Papamu yang belum sadarkan diri juga" ucap April.


"Oke deh Ma, hati hati ya. Yang penting mama jangan lupa makan ya." ucap Anabel.


"Iya nak." ucap April.


"Yaudah nak, Mama pamit dulu ya. Kamu hati hati, jangan lupa makan kalau sudah waktunya makan. Dan kalau ada kabar tentang Papa hubungin Mama ya. Mama harap sih kabar baik, semoga Papamu segera sadar." ucap April..


"Iya Ma, Mama juga hati hati ya dan jaga kesehatan selalu. Anabel pasti kabarin Mama" ucap Anabel.


"Sipp Bel, kita nanti saling kabar kabarin ya, assalamualaikum." ucap April .


"Waalaikumussalam Ma, hati hati." ucap Anabel yang melambaikan tangannya ke April begitupun April yang melambaikan tangannya ke Anabel.


"Hati hati Oma, segera kembali ya kami tunggu." ucap Bulan, Bintang juga David.


"Oke sayang. Dadada ." ucap April dengan melambaikan tangannya setelah mencium ketiga cucunya.


Bunda, kami ke mushola ya mau sholat. " ucap ketiga anaknya.


"Eh, sendirian? jangan, jangan bunda gak izinin." ucap Anabel.


"Tapi Kenapa bunda gak izinin kami? kami ingin mendoakan eyankk supaya cepat sadar" ucap mereka sedih.


"Bukan bunda gak izinkan sayang, tapi bahaya kalau kalian sendirian ke sana." ucap Anabel mencoba memberikan ketiga anaknya penjelasan.


"Tapi bunda, ..kami bertiga ,kami ingin mendoakan eyank supaya cepat sembuh." ucap Bulan menangis.


"Sayang, oke kalian boleh sholat, doakan eyank rapi di kamar ini ya. wudhu nya bisa ambil air dari kamar mandi. " ucap Anabel.


"Bunda juga tadi bawa sajadah ini, bisa pakai sajadah bunda." ucap Anabel tersenyum dan menyerahkan sajadahnya dari dalam tas .


"Al Qur'annya Bunda? tanya David.


"Ini , bunda juga bawa. Jadi gak perlu ke masjid ya. Tolong ngertiin bunda. Bunda harap kalian paham ya." ucap Anabel.


"Iya bunda terimakasih." ucap ketiga anaknya.


Bulan, Bintang juga David pun segera mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat . Sedangkan Anabel menunggu pak Hery dengan menggendong Afnan.


 


\===========================


 


Ketika Cinta Harus Memilih - Terharu


Setelahnya Anabel melihat ketiga anaknya mengaji dan berdoa ketika mereka telah selesai sholat. Anabel cukup terenyuh dan terharu melihatnya.


Setelah kepergian April tak lama kemudian, dokter pun datang memeriksa keadaan Pak Hery.


"Pagi Bu, wah Masya Allah anaknya ya Bu, masih kecil uda sholat ya, mengaji dan berdoa ya. Saya terharu." ucap Dokter tersebut.


"Iya Pak, Alhamdulillah kami ajarkan sejak kecil." ucap Anabel.


"Syukur Alhamdulillah." ucap Anabel.


"Ohya kita periksa dulu ya Bu, keadaan Pak Hery." ucap dokter tersebut.


"Iya dok, silahkan." ucap Anabel. Dan dokter pun memeriksa keadaan Pak Hery.


"Gimana dok keadaan Pak Hery?" tanya Anabel saat dokter telah memeriksa Pak Hery.


"Alhamdulillah, doakan saja semoga Pak Hery segera sadar ya." ucap dokter tersebut.


"Saya pamit ya Bu. Kami harap semoga Pak Hery segera sadar." ucap Dokter tersebut.


"Aamiin , iya dok silahkan." ucap Anabel.


Setelah kepergian dokter tersebut, tak lama kemudian Anabel melihat Papanya tangannya mulai bergerak. Anabel pun terkejut dan segera memanggil dokter.


"Papa." ucap Anabel yang cukup terkejut dengan kesadaran Papanya.


"Eyaaaank sudah sadar ya Bun?" tanya ketiga anaknya.


"Iya sayang, eyank sudah sadar Alhamdulillah." ucap Anabel.


"Ini berkat doa kalian juga, terimakasih ya sayang." ucap Anabel dengan memeluk ketiga anaknya, sedangkan ketiga anaknya segera berlari ke arah eyank nya dan memeluknya.


"Sayang, jangan peluk opa dulu ya terlalu kuat, opa baru sadar. Ohya Bunda panggilan dokter dulu ya. kalian jaga Opa dulu ya." ucap Anabel kepada ketiga anaknya.


"Aku harus segera memanggil dokter." ucap Anabel dan segera memanggil dokter.


Anabel pun segera ke ruang dokter juga perawat.


"Dok, sus , Papa saya sudah sadar." ucap Anabel.


"Baik kami akan segera ke sana ya." ucap suster dan dokter tersebut .


Anabel pun setelahnya kembali ke ruangannya terlebih dahulu untuk menjaga Pak Hery, Papa nya. Tak lama kemudian di ikuti oleh perawat dan dokter tersebut.


"Pa, sebentar lagi perawat sama dokter memeriksa Papa." ucap Anabel menggemgam tangan Papanya.


Tak lama kemudian, dokter dan perawat pun datang.


"Assalamualaikum, bagaimana kabar Pak Hery? sudah sadar ya? Alhamdulillah sangat bersyukur." ucap dokter tersebut.


"Iya dok, tolong periksa Papa saya." ucap Anabel.


"Iya Bu, kami periksa pak Hery dulu ya." ucap dokter tersebut.


"Iya silahkan." ucap Anabel dengan menyingkir dari samping Pak Hery, untuk mempersilahkan dokter tersebut memeriksa Papanya.


"Alhamdulillah Bu, keadaan Pak Hery telah berhasil melewati masa kritisnya dan sudah sadar kembali. Ini kabar baik, tinggal jaga kesehatan Pak Hery, jangan banyak pikiran ya. " ucap dokter tersebut.


"Ini sepertinya juga karena doa anak ibu, karena tadi pas saya ke sini kan anak ibu doakan eyank nya ya." ucap dokter tersebut dengan tersenyum.


"Iya dok, baik terimakasih. Dan iya Alhamdulillah dok, saya juga bersyukur sangat bersyukur memiliki anak seperti mereka." ucap Anabel.


"Yasudah Bu ada yang di tanyakan ? jika tidak saya tulis resep obatnya setelahnya saya permisi dulu ya. Jika ada yang ingin di tanyakan bisa ke ruang perawat atau memencet tombol ini ya." ucap dokter tersebut.


"Tidak dok, tidak ada yang ingin saya tanyakan.Baik dok, terimakasih banyak ya." ucap Anabel.


Setelah kepergian dokter tersebut, Anabel pun segera menelfon April untuk mengabari keadaan Papanya.


"Ma, Papa sudah sadar ." ucap Anabel.


"Iya Ma, baiklah segera ke sini ya Ma. Anabel tunggu. Hati hati Ma." ucap Anabel..


Tak seberapa lama kemudian, April pun telah sampai ke rumah sakit.


"Bel, gimana Papa sudah sadar ya? syukur Alhamdulillah mama senang Bel" ucap April.


"Iya, Ma syukur Alhamdulillah. Ini juga berkat doa anak anak Ma." ucap Anabel dengan memeluk ketiga anaknya.


"Maksud Bel?" tanya April yang tak mengerti maksud dari Anabel.


"Iya tadi anak anak , doakan Papa. Katanya supaya eyank cepat sadar Ma." ucap Anabel dengan tersenyum dan melihat sekilas ke arah ketiga anaknya.


"Masya Allah ma kagum juga terharu ." ucap April.


"Sinii cucu Oma, Oma pengen peluk dan ucapin makasih karena doa kalian Papa sadar


" ucap April.


"Alhamdulillah jika eyank sudah sadar. Kami juga senang." ucap Bulan, Bintang juga David.


"Iya Oma juga senang." ucap April dengan tengan tersenyum dengan masih memeluk ketiga cucunya.


"Ohya Pa, gimana keadaan Papa?" tanya April ke suaminya.


"Papa baik." ucap Hery yang masih kesulitan berbicara dan sesekali meneteskan air matanya seolah menandakan ada kesakitan yang ia tahan.


"Alhamdulillah Papa proses pemulihan Ma. Insya Allah segera membaik, lebih baik jangan ajak Papa ngobrol dulu ya Ma biar Papa istirahat dulu. Kalau perlu kira duduk di depan luar sana , jangan di dalam barangkali takutnya Papa ke bangunan." ucap Anabel.


"Iya kamu benar Bel, baiklah, yuk kita keluar biarkan Papa beristirahat dulu." ucap April lemah menahan gejolak rindu juga kekecewaannya.


"Pa, Mama sama Anabel juga anak anak duduk di depan sana ya. Takutnya Papa ke ganggu ingin istirahat, kalau papa butuh sesuati bisa panggil kami di depan pintu sini. Cukup teriak salah satu nama kita atau kalau Papa gak punya kekuatan berteriak karena habis operasi, Papa bisa menekan tombol ini ya Pa." ucap April menunjukkan ke Hery tentang tombol tersebut.


"Iya Ma, makasih ya tapi tolong jangan pergi tinggalkan ruangan ini. Papa sudah bangun gak ngantuk. Ingin di temani,di sini, Sepii." ucap Hery dengan lemah.


"Hemm baiklah Pa. Papa yakin keadaan Papa sudah baikkan? " tanya April.


"Jangan terlalu di paksa berbicara ya Pa. kalau Papa nanti mau istirahat juga bilang ya Pa, biar kami nanti bisa nunggu di depan supaya tidur Papa nanti ke ganggu mendengar suara gaduh n obrolan kami." ucap April.


"Iya Ma, makasih uda datang ke sini" ucap Hery.


"Itu sudah kewajiban Mama dan kita semua jenguk Papa." ucap April.


"Ohya Bel, tolong kabarin Bu Nila dan pak Anang kalau Papa sudah sadar." ucap April.


"Iya Ma, baiklah." ucap Anabel yang segera merogoh handphonenya dan menghubungi Bu Nila juga pak Anang.


"Iya, Bu sudah sadar, sulit Alhamdulillah." ucap Anabel ke Bu Nila yang telfon di sebrang sana.


"Iya Bu, hati hati." ucap Anabel kembali dan mengakhiri pembicaraan mereka.


"Gimana sudah kamu telfon Bel?" tanya April.


"Sudah Ma." ucap Anabel.


"Syukur Alhamdulillah lah, tunggal nunggu mereka datang karena bagaimanapun mereka masih keluarga." ucap April yang melirik Ferdi.


 


\========================


 


Ketika Cinta Harus Memilih - Hery Sadar


Mereka pun saling mengobrol dan bertukar cerita, tak lama kemudian pembicaraan mereka terhenti dengan kedatangan Bu Nila dan Pak Anang.


"Assalamualaikum." ucap Bu Nila dan pak Anang.


"Waalaikumussalam , silahkan masuk , Bu, pak." ucap Anabel.


"Gimana kabar Bel? Bu April dan Pak Hery juga anak anak?" tanya Bu Nila.


"Alhamdulillah baik, Papa baru sadar. "jawab Anabel.


"Bu Nila dan pak Anang apa kabar juga?" tanya Anabel.


"Alhamdulillah syukur Alhamdulillah. Ibu sama bapak senang mendengar kabar Pak Hery telah sadar, sehat sehat ya Pak dan semoga lekas sembuh." ucap .Bu Nila dan pak Anang.


"Makasih ya sudah datang." ucap Hery .


"Iya sama sama Pak, itu sudah kewajiban kami.," ucap Pak Anang.


"Ohya boleh Gedhong Afnan?" tanya Bu Nila saat mendengar Afnan yang tiba tiba menangis dan tidak tega melihat Anabel riwa riwi terus .


"Boleh Bu Nila. Ohya kalau Bu Nila pamit duluan tolong titip Afnan sama anak anak ikut ya Bu, supaya mereka gak terlalu lama di rumah sakit gak bagus juga." ucap Anabel dengan menyerahkan Afnan untuk dapat gendhong agar tenang dan tidak rewel kembali, karena jujur Anabel lelah riwa riwi terus dengan membiarkan gendhongan ke Afnan.


"Iya Bel sipp." ucap Bu Nila dengan menerima Afnan dari gendhongan Anabel.


Mereka pun melanjutkan obrolan dan cerita mereka masing masing.


Hingga terdengar suara Adzan Dzuhur dan Bu Nila pun pamit untuk kembali ke hotel.


"Bel, ibu pamit pulang dulu ya." ucap Bu Nila.


"Iya Bu, hati hati. Bulan, Bintang ikut Bu Nila dulu ya besok Bunda ajak ke sini. Kan tadi juga uda lama di sini. Gak bagus anak krc terlalu lama di rumah sakit." ucap Anabel.


"Bu Nila, saya titip David, Bulan , Bintang gak papa kan?" tanya Anabel.


"Iya gak papa Bel, dengan senang hati. Biar nanti kami pulang hotel bareng." ucap Bu Nila.


"Syukurlah, terimakasih ya Bu. Boleh tolong titip Afnan juga ? supaya aku sama mama bisa gantian jaga Papa." ucap Anabel.


"Ohya boleh." ucap Bu Nila.


"Yaudah ibu pamit ke hotel dulu ya." ucap Bu Nila kembali.


"Ibu hati hati , maaf ya Bu merepotkan dan jaga kesehatan ibu selalu juga ya." ucap Anabel ke Bu Nila dengan memberikan Adnan yang di gendhongannya ke Bu Nila.


"Ohya Kalian jangan nakal ya, kasian bu Nila." ucap Anabel kepada ketiga anaknya.


"Siappp Bundaa." ucap David Bulan , dan Bintang.


"Iya Bel, Jangan terlalu keras sama mereka . Ibu gak papa, ibu yakin mereka tak nakal kok. Lagipula kan mereka cucu ibu ." ucap Bu Nila.


"Iya udah Bel, assalamualaikum. Kamu sama mamamu juga jangan lupa makan, tidur jaga kesehatannya." ucap Bu Nila.


"Iya Bu siappp, waalaikumussalam." jawab Anabel.


"Waalaikumussalam Bu hati hati." ucap Bu April dan Pak Hery.


**


Tak terasa Adzan Ashar pun sudah tiba , di tengah obrolan dan pembicaraan mereka..


"Sudah Ashar ya." ucap April pada dirinya sendiri.


"Iya Ma, sudah ashar. Papa masih tidur ya? " tanya Anabel.


"Iya Bel. Ohya Bel , Mama pamit beli makan dulu ya, tolong titip Papa." ucap Bu Nila.


"Iya Ma ,Anabel akan jagain Papa." ucap Anabel.


Tak seberapa lama setelah kepergian April , dokter dan perawat datang kembali memeriksa keadaan pak Hery karena bagaimanapun beliau habis tak sadarkan diri dan harus di kontrol terus keadaannya.


"Bagaimana dok?" tanya Anabel


"Alhamdulillah baik, kondisinya semakin stabil." ucap dokter tersebut setelah memeriksa kondisi Hery.


"Dok, boleh saya pulang? bosan di rumah sakit." ucap Hery.


"Duh, jangan dulu ya Pak. sabar sebentar lagi insya Allah semakin membaik. Jadi untuk sementara waktu bapak harus di rawat di sini dulu supaya mudah mengontrol bapak.." ucap Dokter itu lagi.


"Tapi pak.. "ucap Hery yang ingin membantah


"Pak tolong hotel saya dekat rumah sakit mungkin bisa di rawat di hotel, kan sama di w


rawat nya? bila saya kenapa napa pun bisa segera bawa saya ke rumah sakit ini karena dekat." ucap Hery mencoba membujuk dokter tersebut.


"Maaf Pa, tetap gak bisa,beda perawatan di rumah sakit sama di rumah ataupun hotel


Tetap beda pak meski sama sama di rawat, tapi beda karena alat yang tak memadai, dokter yang tidak 24 jam belum lagi bola ada apa apa harus membutuhkan waktu untuk melakukan perjalanan ke sini meski termasuk dekat hotel bapak dengan rumah sakit ini


." ucap Dokter tersebut.


"Yasudah saya pamit ya Bu , Pak jika tidak ada yang ingin di tanyakan kembali." ucap dokter tersebut dan segera pamit dari ruangan itu karena tidak ingin terlibat pertengkaran, bagaimanapun ini juga untuk kebaikan pasiennya keputusan yang ia ambil.


Tak seberapa lama, setelah kepergian dokter.. April telah kembali ke ruangan tersebut.


"Ma, tadi dokter ke sini cek keadaan Papa." ucap Anabel.


"Terus gimana keadaan Papa Bel?" tanya April.


"Iya Ma, Papa pakai mau minta pulang supaya di rawat di rumah." ucap Anabel antara sedih juga kesal.


"Ya Tuhan Papa jangan dong. Beda di rawat di hotel dan di rumah sakit meski sama sama di rawat.. Ohya terus bagaimana tanggapan dokter tersebut?" tanya April.


"Nah iya Ma, Anabel setuju.. Dokter tadi juga bilang gitu Ma." ucap Anabel.


"Iya Pa, dengerin ucapan dan saran dokter. Untuk proses kesembuhan Papa juga." ucap April.

__ADS_1


Mereka benar benar gak menyangka liburan mereka kali ini berujung menginap di rumah sakit dan melihat kondisi papa nya seperti ini.


***


Hemm, liburan kali ini sangat menyedihkan.. Lalu bagaimana kelanjutannya?


Apakah kepulangan mereka akan tertunda ?


 


\==========================


 


Ketika Cinta Harus Memilih - Hery Pulang Dari Rumah Sakit


Kepulangan mereka pun terpaksa terhenti karena Hery yang harus di rawat beberapa hari di sana.


Selama beberapa hari keadaan masih terus menerus seperti itu sampai Hery telah di nyatakan bisa pulang dari rumah sakit dan kembali di hotel..


Hingga tepat di hari terakhir mereka berlibur, Hari ini mereka paginya sebelum kepulangan mereka akan mengontrolkan keadaan Pak Hery sebelum pulang. Siang nya Ferdi akan daftar cekin untuk pulang nanti malam.


Sedangkan malamnya mereka akan melakukan perjalanan pulang.


Ferdi pun memesan makanan untuk keluarga nya sebelum mereka berangkat ke rumah sakit untuk kontrol keadaan Pak Hery.


Tak lama kemudian makanannya pun tiba dan mereka makan bersama.. Karena mereka kali ini ingin makan di hotel saja terlebih melihat kondisi Pak Hery.


Selesai makan mereka segera ke rumah sakit untuk kontrol terakhir.


Sesampainya di sana mereka mendapatkan nomer urut pertama dan segera di panggil untuk masuk. Anabel, Hery juga April pun segera masuk ke ruangan tersebut setelah nama mereka Hery di panggil.


"Gimana kondisi Papa saya dok?" tanya Anabel.


"Iya dok, gimana kondisi suami saya? " tanya April.


"Alhamdulillah kondisi nya membaik tapi tetap perhatikan pola makannya dan jangan sampai banyak pikiran ya Pak , Bu." ucap Dokter tersebut


"Baik dok, terimakasih." ucap April.


"Ini saya kasih resep obat untuk bapak nanti di minum ya sehari tiga kali..ambil obat ini di apotek ya, memang harus mengantri sabar aja ya." ucap dokter itu kembali.


"Iya Dok, terimakasih banyak sekali lagi. Kami pamit dulu ya Dok." ucap April.


"Iya Bu, silahkan. ingat pesan saya tadi." ucap Dokter tersebut.


"Iya dok." ucap April yang segera keluar dari ruangan tersebut dengan menuntun Hery juga di temani Anabel.


"Alhamdulillah kalau Papa sudah baikkan. kami senang." ucap Anabel dengan masih menuntut Hery.


"Iya Pa Alhamdulillah, pas itu papa jalan masih pakai kursi roda pas pulang dari rumah sakit. Alhamdulillah sekarang uda bisa jalan walau pelan pelan dan masih harus kami tuntun dulu tapi gak papa Uda menunjukkan perubahan signifikan, Alhamdulillah syukur." ucap April.


"Iya Ma, Bel syukur Alhamdulillah. Ini semua juga karena dukungan dan semangat dari kalian." ucap Hery dengan mengemgam tangan April juga Anabel.


"Yaudah yuk antri obat terus pulang." ucap Hery mengingatkan mereka.


"Iya Pa, yuk." ucap April dan Anabel.


Dari kejauhan ada seseorang yang mengamati mereka tanpa mereka sadari..


"Siapa bapak itu..? sepertinya saya kenal. Aku harus mengikutinya. dan kenapa dia bersama Anabel ?" ucap seseorang tersebut..


Setelah mereka pulang, siangnya Ferdi segera mendaftarkan dirinya dan keluarganya untuk cekout untuk nanti malam. Agar malamnya mereka bisa segera pulang.


Saat Ferdi berjalan menuju pendaftaran tak sengaja menabrak seseorang,


" Maaf, maaf." ucap Ferdi.


"Kamu... Ana?" lirih Ferdi terkejut saat orang yang di tabrak menoleh kepadanya ,Meski perempuan itu memakai cadar tapi Ferdi sangat mengenali jika itu Ana.


"Tapi mungkinkah Ana masih hidup?" pertanyaan yang terus Ferdi lontarkan pada dirinya sendiri.


Di tengah kebingungannya tanpa ia safst orang tersebut mulai menjauh darinya.


Ferdi pun tersadar dan langsung mengejar orang tersebut.


"Tunggu. ." ucap Ferdi.


"Tunggu Ana." ucap Ferdi kembali yang segera mengejarnya dan mengemgam tangan tersebut ketika Ferdi sudah sangat dekat.


Seseorang itu pun menoleh kembali tanpa kata, Ferdi semakin yakin itu Ana setelah melihat nya lebih dekat meski Ana masih tertutup cadar. Namun saat Ferdi terlemah menatap wajah tersebut yang terbalut cadar, orang tersebut segera melepaskan genggamannya dan berlari secepat mungkin menjauh. Ferdi pun tersadar dari lamunannya dan Ferdi pun segera mengejarnya namun sayang ia telah kehilangan jejak orang tersebut.


"Ana, Ana." teriak Ferdi di tempat itu saat mencari keberadaan Ana.


Tanpa Ferdi sadari Anabel di belakangnya..


"Mas." usapan Anabel di pundaknya memangg suaminya, Ferdi.


"Anaaaa... Anabel?" ucap Ferdi yang mengira itu Ana dan cukup terkejut ternyata Anabel .


"Ana ? apa Ana masih di sini? jadi kamu melihat Ana kembali?" ucap Anabel, sedangkan Ferdi hanya mampu mengangguk tanpa suara.


"Ana keluar kamu, keluar jika kamu di sini dan masih hidup." ucap Anabel.


"Bel, cukup tenangkan dirimu." ucap Ferdi.


"Lalu mana Ana mas? katamu dia di sini? mana? kamu bohong?" tanya Anabel.


"Aku tanya, kamu bohong? kenapa Ana gak ada di sini? bukankah Ana sudah meninggal Mas? jawab.!! " ucap Anabel yang mulai histeris menahan emosi dan tangisnya.


"Benar kan Mas, kamu hanya halusinasi karena kamu terlalu memikirkan Ana. Di pikiranmu selalu Ana padahal Ana sudah meninggal.!! , Apa kamu gak sadar Mas? itu menyakitimu, bukan hanya kamu tapi aku juga dan Ana yang sudah meninggal. Sungguh aku sangat kecewa padamu mas."ucap Anabel kembali.


Anabel pun segera berlalu kembali ke dalam hotel, namun Ferdi mencegah dengan mengemgam tangan Anabel begitu erat.


"Tunggu Bel, tolong maafkan Mas.Tapi sungguh percayalah Mas benar benar melihat Ana." ucap Ferdi.


"Sudahlah Mas, aku gak mau denger lagi apa apa penjelasanmu jujur aku masih sangat kecewa padamu. Ohya satu lagi kita tidurnya masih tetap pisah kamar karena aku masih sangat kecewa padamu." ucap Anabel yang segera berlalu meninggalkan Ferdi karena Amandel tak ingin lagi mendengarkan ucapan kosong Ferdi ataupun memulai pertengkaran kembali.


"arrrgh .....kenapa selalu begini sih? kenapa selalu aku yang melihat Ana? padahal aku tidak sedang halusinasi. Apakah benar aku halusinasi karena terlalu memikirkan Ana? perasaan tidak , hingga detik ini pun aku tidak memikirkan Ana sama sekali" ucap Ferdi yang sudah putus asa dan tanpa sadar ia pun menangis.


 


 


\===================


 


Ketika Cinta Harus Memilih - Pisah Kamar Lagi


Sesampainya Anabel di hotel ia segera akan memasuki kamarnya.


"Bel tunggu." ucap April.


"Iya Ma?" tanya Anabel yang bingung dengan kedatangan April tiba tiba , ia merasa ada sesuatu penting yang ingin Mamanya bicarakan hingga ia di cegah untuk masuk kamar.


"Kamu kok tidur kamar sini lagi? perasaan kamu kan uda baikkan dengan Ferdi? berantem lagi?" tanya April.


"Enggak Ma, gak papa." ucap Anabel.


"Jangan bohong sama Mama. Bel." ucap April.


"Enggak kok Ma." ucap Anabel kembali.


"Bel, tolong jawab jujur untuk kali ini, mama janji gak akan marahi Ferdi suamimu. Mama ingin tau apa yang sedang terjadi kepada anak mama ini. Dan seberapa kuat kamu mencoba membohongi Mss tetap tau itu." ucap April kembali.


"Iya Ma, Anabel habis berantem dengan Ferdi. Ferdi buat Anabel kecewa lagi." ucap Anabel sedih dengan menarik nafasnya, mencoba mencari pasokan oksigen untuk menghilangkan sesak yang ia rasakan.


"Kenapa lagi dia?" tanya April.


"Tadi pas Anabel menghampiri Ferdi, Ferdi memanggil nama Ana Ma. Katanya Ferdi melihat Ana tapi saat ku cari gak ketemu pun keberadaan Ana dan kenapa hanya Ferdi yang bisa melihat keberadaan Ana? kenapa aku tidak Ma? Apa ferdi berbohong?" ucap Anabel lemah.


"Sabar ya Bel. Ferdi benar benar membuat mama kecewa. Yaudah Bel kamu segera istrirahat ya." ucap April.


"Lah kok jadi mama yang emosi ? mama juga sabar ya. Tolong jangan marahi Ferdi , bukannya apa nanti kita bertengkar kembali dan bila papa tau itu akan menggangu kondisi kesehatannya ma." ucap Anabel.


"Iya Mama tau, Mama gak akan marahi ke Ferdi Bel. Tapi jujur mama sangat kecewa dengannya entah harus berapa kali mama bilang agar tak menyakiti mu tapi selama itu pula Ferdi menyakiti kamu." ucap April.


"Sudah Ma. sudah sabar ya." ucap Anabel.


"Iya Bel,yaudah kamu segera istrirahat ya. janga sampai anak anak tau ya kalian tidur di kamar masing masing." ucap April.


"Iya Ma." ucap Anabel yang menutup kamarnya. Begitupu April yang kemudian berlalu.


"Bel, ini Mas bukain pintunya ya." ucap Ferdi setelah ia kembali ke hotel.


"Bel kenapa kamu tidur di kamar ini ? bukan di kamar biasanya? mas kecariaan kamu Bel." ucap Ferdi kembali.


"Bel, Anabel bukain." ucap Ferdi lagi.


"Cukup Fer, sudah..Suaramu hanya akan membangunkan anak anak tidur. Kamu tidur aja di kamar biasanya, biarkan Anabel tidur di sini, menenangkan dirinya sendiri. Jangan buat anak anak bangun mendengarkan suaramu." ucap April sinis dan segera berlalu dari tempat tersebut karena tak ingin tersulut emosi.


"Tapi Ma apa maksud Mama? tanya Ferdi yang berhasil membuat April berhenti berjalan.


"Kamu tau maksud Mama apa Fer. " ucap April kembali melanjutkan jalannya.


***


Sore harinya Ferdi mencari keberadaan Anabel namun ia tak menemukannya hingga Ferdi pun memutuskan untuk bertanya kepada April.


"Ma, Anabel ke mana ya Ma?" tanya Ferdi.


"Loh di kamarnya sebelah itu tidak ada?" ucap April yang juga bingung.


"Tidak ada Ma, kosong tadi aku uda minta suruh cek penjaganya, kamar itu kosong. katanya kemungkinan sedang pergi. Jika iya ke mana Anabel Ma?" tanya Ferdi.


"Hemm, coba ya Mama telfon." ucap April yang segera menelfon Anabel, namun tak ada sahutan dari pemiliknya.


"Gak di angkat Fer, kenapa ya? Humm ke mana ya kira kira?" ucap April bertanya tanya.


"Ke mana ya Ma? apa mungkin Anabel memutuskan pergi karena kecewa dengan Ferdi?" ucap Ferdi.


"Gak mungkin, Anabel bukan tipe seperti itu. Mama kenal Anabel. Anabel anak mama, tentu Mama tau. Sudahlah jangan bahas soal ini saat ini kita harus mencari keberadaan Anabel." ucap April.


"Ohya Fer, menurut mama mungkin Anabel mencoba menenangkan dirinya ke suatu tempat sebelum pulang. Menurut mu gimana? dan kira kira tempat mana yang di tuju itu? kamu tau? mama gak tau masalahnya." ucap April.


"Iya Ma, hemm mungkin ke pantai atau danau karena Anabel suka suara gemericik air." ucap Ferdi.


"Ohya kamu benar Fer, yaudah coba kamu cari danau atau pantai dekat hotel ini. Karena pasti Anabel juga gak mungkin terlalu jauh banget. Gak papa kan pergi sendiri? mama yang jaga cucu Mama. Bulan, Bintang , David juga Afnan. Meski ada Bu Nila tapi mama takut Bu Nila kuwalahan dan Mama pasti merepotkan Bu Nila,ibu kamu. Cukup tadi aja, mama gak enak." ucap April.


"Ohya Ma, Ferdi ingat sepertinya ada di sini dekat restoran, ada pantai atau danau. Ferdi jalan dulu ya Ma, cari Anabel. " ucap Ferdi .


"Iya hati hati Fer." ucap April.


"Assalamualaikum Ma." ucap Ferdi.


"Waalaikumussalam Fer." ucap April.


 


\============================


 


Ketika Cinta Harus Memilih - Anabel Menenangkan Diri


Ferdi pun terus mencari keberadaan Anabel , dan mengakan ke beberapa tiap orang yang ia temui tentang danau atau pantai dekat hotel yang ia tempati.


Beberapa orang menunjukkan tempat berbeda.


Ferdi pun mencari ke beberapa tempat tersebut tapi nihil dan ini tempat terakhir yang ia datangi, bila Anabel tidak ada mungkin Ferdi akan menyerah dan menyalahkan dirinya sendiri karena dia Anabel jadi pergi.


"Ke mana kamu Anabel? kenapa sulit sekali mencari keberadaan mu? " lirih Ferdi kepada dirinya sendiri.


"Arrrgh.. kamu ke mana sayang?" ucap Ferdi putus asa.


"Anabel?" ucap Ferdi pada dirinya sendiri yang tanpa sengaja melihat keberadaan Anabel. Dan Ferdi pun segera menghampiri Anabel.


"Sayang." ucap Ferdi yang mendekati Anabel, namun sepertinya Anabel tidak mendengarnya hingga Ferdi mencoba mendekatinya lagi dan berhenti sesaat saat mendengar Isak tangis Anabel.


"Kenapa Tuhan? kenapa?" lirih Anabel.


"Mengapa harus Ana, sahabatku yang menempati hati Ferdi? kenapa?" lirihnya lagi.


"Mengapa harus kembali? mengapa kisah cintaku serumit ini? kenapa untuk di cintai dan mencintai sesulit ini. Kenapa Tuhan? kenapa sesakit ini? sakit saat tau suami yang ku cintai mencintai sahabatku sendiri.Hiks" lirih Anabel kembali di sertai isak tangisnya yang tak mampu lagi ia bendung.


"Bel." ucap Ferdi dengan mencoba menyentuh tangan Anabel, sedangkan Anabel berhenti sesaat dan mencoba melepaskan tangan Ferdi.


"Kenapa kamu ke sini?" tanya Anabel ke Ferdi tanpa ia menoleh ke Ferdi, Anabel masih tetap di posisinya yang sama.


"Aku mencari kamu Bel, aku tadi lihat kamu gak ada di kamar dan ternyata benar dugaaanku kamu ada di sini. " ucap Ferdi.


"Iya Mas, aku di sini ingin menenangkan diriku." ucap Anabel.


"Kamu kenapa ?" ucap Ferdi dengan memeluk Anabel. Sedangkan Anabel yang di peluk tubuhnya kaku kecuali bulir bulir air matanya yang terus berjatuhan membasahi pipinya bahkan ke tangan Ferdi.


"Mas kamu tau? ketakutan yang dulu coba ku tepis, kini kembali lagi. Aku sesak membayangkan ini akan terjadi kembali. Mengapa sesakit ini Mas?" tanya Anabel.


Sedangkan Ferdi mencoba memeluk Anabel lebih erat ingin melindungi dan memberikan Anabel kenyamanan tak peduli tangannya basah oleh air mata Anabel.


Namun pelukan Ferdi seakan tak membuat air mata Anabel berhenti begitu saja, pada akhirnya Ferdi pun membalikkan tubuh Anabel dan memeluknya sebentar.


Setelahnya Ferdi mencoba mengharapkan wajah Anabel ke dirinya, demo perlahan Ferdi menghapus bulir bulir air mata Anabel.


"Kamu kenapa sayang? Bicara sama Mas ? apa yang kamu takutkan sebenarnya?" ucap Ferdi yang menatap wajah Anabel dan mengusap pipi juga air mata Anabel.


"Bel, tolong cerita dan katakan jujur sama Mas." ucap Ferdi.


Anabel pun melepaskan dirinya sejenak sebelum berbicara dengan Ferdi.


"Mas, bagaimana mungkin aku gak takut? bila kini cintamu sudah terbagi. Bahkan ke orang yang sudah tiada kamu masih mencintainya apalagi jika ia hidup? bagaimana Mas? mungkin posisi ku perlahan akan tergeser olehnya di hatimu termasuk cintaku yang perlahan terkikis oleh keberadaannya.


Bukankah begitu Mas? benar kan yang aku bilang?" ucap Anabel bersamaan air matanya yang masih membasahi pipinya.


"Maafin Mas, tapi Mas janji.. Mas gak akan duakan kamu dan kamu tetap wanita juga istri mas satu satunya di hati Mas." ucap Ferdi.


Sedangkan Anabel menoleh ke arah lain saat Ferdi menyatakan cintanya, karena ia tau pada akhirnya cinta Ferdi telah terbagi . Hatinya terlalu sakit..


"Bel." ucap Ferdi. Sedangkan Anabel segera melepaskan diri dari Ferdi dan menjaga jarak dengannya.


"Cukup Mas, tolong kembalilah.


Aku ingin di sini menenangkan diriku atau aku yang pergi dari sini? " ucap Anabel.


"Baik, kalau kamu gak bisa memilih, aku yang akan pergi dari sini." ucap Anabel.


"Tunggu Bel, jangan biar Mas aja ya yang pergi dari sini." ucap Ferdi.


"Baik silahkan Mas, pergi dari sini." ucap Anabel.


Ferdi pun segera menghampiri Anabel dan memeluknya kembali walau Anabel mencoba memberontak beberapa kali.


"Lepasin Mas, lepasin." ucap Anabel.


"Enggak Bel, enggak.


Mas gak mau lepasin kamu." ucap Ferdi.


"Mohon maafin Mas." ucap Ferdi.


Ferdi pun segera membalikkan tubuh Anabel, mendekatkan wajahnya tepat di wajah Anabel. Untuk sejenak mereka menikmati hembusan satu antara lain, saling menatap dan memahami lewat mata juga hati untuk menumpahkan emosi mereka masing masing yang tak mampu terungkapkan.


Ferdi pun memeluk Anabel lebih erat dan mencium kening, pipi , mata, juga bibir Anabel secara bergantian bercampur dengan air mata Anabel.


"Kringggg tuuuutt."


Handphone Ferdi berbunyi dan membuyarkan semuanya. Anabel pun segera melepaskan diri dari ferdi Dan Ferdi pun segera mengangkat telfon tersebut.


"Maaf ." ucap Ferdi kepada Anabel .


"Mama?" ucap Ferdi berkata lirih, sedangkan Anabel hanya mampu menatap Ferdi.


"Ada apa ya mama telfon?." ucap Ferdi kepada dirinya sendiri.


"Mas, angkat dulu ya." ucap Ferdi kepada Anabel. Sedangkan Anabel hanya mampu mengangguk.


"Iya Ma Alhamdulillah Ferdi sudah bertemu Anabel dan Ferdi saat ini bersama Anabel." ucap Ferdi.


"Oooh baik Ma, kami segera ke sana.


Ferdi akan sampaikan ke Anabel." ucap Ferdi dan mematikan telfon tersebut.


Anabel hanya menatap Ferdi seakan meminta penjelasan. Ferdi yang memahami maksud Anabel pun segera menjelaskannya.


""Mama, menelfon kita agar kita segera kembali. Tadi Mas ke sini karena kecariaan kamu , Mama juga kecariaan kamu.


Kembali ya sekarang kita ke hotel, buat persiapan pulang nanti malam." ucap Ferdi yang berusaha menghampiri Anabel.


Sedangkan Anabel, segera menjauh dari Ferdi dan berjalan sendiri lebih dulu ke hotel.


"Bel, tunggu Mas. Tunggu." ucap Ferdi.


Sedangkan Anabel seakan tak mendengar..


"Tolong Bel, berhenti ya kira jalan bareng supaya Mama , Papa gak curiga terlebih kondisi Papa sekarang gak boleh setress dan banyak pikiran." ucap Ferdi mengingatkan kepada Anabel.


Seketika Anabel pun berhenti dan menunggu Ferdi menghampirinya.


Ferdi pun segera menghampiri Anabel, dan menggemgam tangan Anabel menuju hotel bersama. Tetapi selama perjalanan Anabel hanya diam dan banyak menunduk hingga masuk ke dalam hotel.


 


\==========================


 


Ketika Cinta Harus Memilih - Liburan Sudah Selesai


Setelah sesampainya mereka di hotel..


"Alhamdulillah uda pulang kalian Bel ? Fer?" tanya April.


"Ya Ma, Alhamdulillah kami sudah pulang.


"Syukurlah. Kamu dari mana aja Bel ?" tanya April.


"dari pantai Ma Anabel." ucap Ferdi, sedangkan Anabel hanya diam saja.


"Ya Tuhan ngapain kamu di sana sih Bel? Ohya kalian lekas berberes ya dan berganti pakaian, kira bentar lagi segera makan malam ya terus cekout pergi dari hotel ini." ucap April kepada Ferdi juga Anabel.


"Iya Ma,." ucap Anabel


"Anabel duluan ya Ma. Tubuh Anabel terlalu lelah dan Anabel ingin segera beristirahat bentar saja." ucap Anabel berlalu terlebih dahulu karena tubuhnya sangat lelah.


"Iya Bel." ucap April.


"Bel, tunggu . Kamu kok tidur di kamar ini bukan di kamar samping bareng Mas? kita kan bentar lagi mau pulang Bel, ayolah tidur di kamar bersama Mas ya." ucap Ferdi.


"Mas, maaf Anabel ingin istirahat menenangkan diri Anabel. Anabel gak ingin mengobrol dulu Mas..Di rumah aja nanti ya Mas." ucap Anabel.


"Hemm baiklah Bel." ucap Ferdi yang pada akhirnya mengalah.


**


Malamnya setelah selesai makan, keluarga Anabel segera berberes untuk kepulangan mereka malam ini.


Setelahnya mereka berkumpul untuk berdiskusi sebentar..


Tanpa mereka sadari di sebrang sana ada seseorang yang memperhatikan mereka dan mengucapkan sesuatu..


"Pak Hery ? jadi dia keluarga dari Anabel? Papa nya Anabel? " ucap seseorang tersebut.


"Hemm, baiklah tunggu permainanku. Sebentar lagi dendam ini terbalaskan, kalian akan merasakan seperti yang ku rasakan." ucapnya kembali. Setelah itu ia segera berlalu pergi sebelum ada yang menyadari kehadirannya.


"Yuk pulang, papa naik kursi roda aja ya." ucap Anabel dan segera mengambil kursi roda Pak Hery untuk di naiki oleh Papa nya.


"Gak papa, Papa masih bisa jalan dikit dikit." ucap Pak Hery.


"Iya Pa, mama setuju naik kursi roda aja ya, karena ini perjalanan jauh." ucap April.


"Hemm yasudalah, Papa nurut. " ucap Hery yang segera menaiki kursi roda tersebut. Dan Anabel segera mendorong kursi roda tersebut..


Mereka pun kembali pulang, liburan telah usai..


Mungkin liburan yang di harap bahagia justru sebaliknya , terkadang takdir memang memberikan kita kejutan , apakah akan kuat atau bertahan ?...


***


Lalu bagaimanakah kelanjutan keluarga Anabel terutama hubungan Anabel dan Ferdi setelah pulang dari liburan kali ini?


bagaimana rumah tangga mereka?


siapa seseorang itu ?


seseorang yang ingin membalas dendam ke pak Hery dan keluarganya?


Apa salah Pak Hery sebenarnya hingga seseorang itu begitu dendam dengannya? bukankah keluarga pak Hery sangat terkenal baik, apa mungkin memiliki musuh??


Penasaran? ikuti cerita ini untuk menemukan jawabannya.


Episode selanjutnya...


Seseorang mengetuk pintu rumah Anabel.


"Iya sebentar." ucap April yang segera membukakan pintu tersebut.


"Iya siapa? " tanya Bu April.


"Perkenalkan saya Dina , ingin melamar pekerjaan di rumah ini jadi pembantu atau babysister boleh." ucap Dina penuh senyum.


Tapi Apakah senyum itu sebaik hatinya juga???


**


Lalu siapakah Dina? hemm


apakah ia benar benar seseorang yang mencari dan membutuhkan pekerjaan hingga melamar pekerjaan di rumah Anabel?


atau Dina adalah seseorang bagian rencana untuk membalas dendam Pak Hery??


wowww jika iya bagaimana keluarga Anabel nantinya??..


Hemm penasaran? ikuti cerita ini.. ya


Jangan lupa ikuti Penulisnya ya....


Ditunggu ya... Like dan komennya....

__ADS_1


Terimaksih atas dukungan kalian dengan membaca novel ini....


__ADS_2