
Setelah perdebatan dengan Viona tadi, Elbara masuk ke dalam mobil dengan langkah yang kesal kemudian menutup pintu mobilnya dengan kasar. Di lepasnya jas yang melekat pada tubuhnya kemudian melemparnya ke kursi penumpang secara sembarangan.
"Ah sial!" teriak Elbara sambil memukul setir mobilnya dengan kesal.
Elbara yang melirik sekilas kaca spionnya semakin di buat kesal ketika melihat noda lipstik yang belepotan memenuhi hampir seluruh dagu dan pipinya. Membuat Elbara dengan spontan langsung membersihkannya secara kasar, hingga sebuah deringan ponsel miliknya lantas menghentikan gerakan tangan Elbara yang tengah membersihkan noda lipstik di wajahnya.
"Halo" ucap Elbara dengan nada yang ketus setelah menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Tuan anda di mana? beberapa klien sudah menanyakan keberadaan anda sedari tadi..." ucap Arga dengan nada yang gelisah.
"Bisakah kau tidak cerewet seperti itu Ar? aku tahu aku telat tapi setidaknya kau cobalah untuk menangani dulu segala hal yang ada di sana biar aku usahakan secepatnya sampai." ucap Elbara dengan nada yang meninggi, membuat Arga lantas terkejut akan teriakan Elbara kemudian dengan spontan menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Baik tuan..." ucap Arga dengan nada yang tergagap karena terkejut akan teriakan Elbara barusan.
Elbara kemudian lantas mengakhiri panggilan teleponnya begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata apapun lagi kepada Arga selain perkataannya yang tadi.
"Ah benar benar mengesalkan!" gerutu Elbara dengan nada yang kesal kemudian melajukan mobilnya begitu saja meninggalkan mansion miliknya menuju ke arah Hotel Star.
**
Kediaman Delvano
Setelah pulang dari Rumah Sakit, Delvano lantas langsung memapah Akila menuju ke arah kamarnya agar bisa beristirahat dan memulihkan keadaannya.
"Aku akan ke Stasiun televisi dulu ada program TV yang di pindah alihkan kepadaku, kamu bisa kan sendirian di sini? atau mau ku panggilkan seseorang untuk merawat mu?" tanya Delvano dengan nada yang lembut.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri." ucap Akila sambil mencoba tersenyum ke arah Delvano.
__ADS_1
"Baiklah, telpon aku jika terjadi apa apa.." ucap Delvano sambil mencium kening Akila sebelum akhirnya melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Akila di kamar itu sendiri.
Akila terus menatap kepergian Delvano hingga menghilang dari pandangannya, setelah Akila memastikan bahwa Delvano sudah pergi barulah Akila kemudian lantas mengambil lipatan kecil kertas yang ia taruh di saku celananya tadi.
Dibukannya secara perlahan kertas yang di berikan oleh Icha kepadanya tadi.
Hubungi aku jika suami mu melakukan tindak KDRT, aku siap membantu mu
083241567XXX Icha
Akila yang membaca pesan yang terdapat dalam secarik kertas tersebut lantas tersenyum. Akila tidak menyangka ternyata masih banyak orang yang perduli dan sayang kepadanya, padahal dulu Akila kira tidak akan ada yang mau menolehkan wajahnya sedikit saja pada Akila ketika ia mengalami segala siksaan dari Delvano.
Akila pernah sekali mencoba percaya pada pihak kepolisian dan mulai mengungkap segalanya, hanya saja kenyataannya polisi tidak pernah menindak lanjutin laporan dirinya atas kasus KDRT yang Akila laporkan hingga saat ini. Tidak hanya sampai di situ saja, Akila yang tak pantang menyerah lantas berusaha pergi ke pengacara dan memberikan semua bukti bukti KDRT yang di lakukan oleh Delvano, namun lagi lagi semua itu sia sia karena gugatan cerainya tidak pernah terjadi dan selalu saja lenyap dan menghilang seakan seperti di telan bumi.
Delvano seakan selalu tahu setiap gerak gerik Akila untuk kabur dari dirinya, hingga pada akhirnya Akila memilih untuk diam dan tidak lagi percaya pada orang orang sekitarnya. Yang ada di benaknya saat ini hanya bisa pasrah akan apapun yang terjadi padanya, namun ternyata setelah sekian lama Akila tenggelam dalam rasa pasrah kepada Sang Pencipta, Elbara dan Icha mendadak muncul dan membangkitkan kembali api kebebasan yang ada dalam diri Akila untuk kembali hidup dan berkobar.
***
Stasiun televisi
Delvano yang baru saja sampai, lantas langsung melangkahkan kakinya menuju ke ruang penyiaran untuk memulai siaran beritanya sebentar lagi.
Dengan perlahan Delvano lantas membuka pintu ruang penyiaran, Delvano agak terkejut ketika ia tepat membuka pintu dan semua orang malah berteriak sambil meniup terompet tepat ke arahnya.
"Kejutan...." teriak semua orang di ruangan tersebut sambil meniup trompet ke arah Delvano.
Delvano yang melihat segalanya tentu saja bingung sekaligus bertanya tanya apa yang sedang di lakukan oleh para kru TV saat ini.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? aku bahkan tidak sedang berulang tahun saat ini?" ucap Delvano dengan tatapan yang bingung menatap semua orang.
"Kau berhasil Van... kau berhasil..." ucap Sasha dengan tersenyum cerah ke arah Delvano begitu pula yang lainnya.
"Apanya yang berhasil?" tanya Delvano kembali karena ia benar benar tidak mengerti akan apa yang tengah di maksud oleh Sasha saat ini.
"Program berita yang kau gantikan kemarin ratingnya naik pesat dan tidak jadi bungkus... kau hebat!" ucap Sasha dengan antusias menceritakannya kepada Delvano.
Delvano yang masih memasang wajah bingung, tangannya lantas di tarik oleh Sasha menuju ke arah meja yang sudah lengkap dengan tumpeng dan juga beberapa makanan lainnya di sana.
"Ayo kita potong tumpengnya sekarang, kita semua di sini sudah lapar menunggu kedatangan mu sejak tadi." ucap Sasha sambil memaksa Delvano untuk segera memotong tumpengnya.
"Betul itu betul..." teriak yang lainnya secara serempak, membuat Delvano mau tidak mau hanya bisa mengikuti ucapan semua orang di ruangan tersebut.
Sementara itu di sudut ruangan penyiaran, terlihat Dani tengah menatap tidak suka ke arah beberapa gerombolan kru dan juga Delvano yang tengah berbahagia atas naiknya rating program tv yang dulu pernah ia bawakan sebelum akhirnya di rebut paksa oleh Delvano.
"Cih... benar benar lebay, baru juga naik sehari... palingan nanti juga kembali turun lebay amat sih..." ucapnya dengan sinis sambil bersendekap dada menatap ke arah Delvano dan juga yang lainnya di sana.
**
Rumah sakit
Elbara yang baru menyelesaikan pertemuannya hingga menjelang sore, lantas langsung melajukan mobilnya menuju ke arah Rumah sakit. Elbara sudah benar benar merindukan Akila saat ini, hingga ia yang sudah tidak sabar lantas melangkahkan kakinya dengan terburu buru melewati lorong lorong Rumah Sakit menuju ke arah ruang perawatan Akila untuk bertemu dengannya.
"Pak tunggu..."teriak seseorang yang lantas menghentikan langkah kaki Elbara yang sedari tadi berjalan dengan langkah yang cepat.
"Dokter..." ucap Elbara agak terkejut ketika berbalik badan dan melihat Icha sudah berdiri di belakangnya.
__ADS_1
Bersambung