
Sejujurnya Ana merasa sedih dengan
kalimat yang baru saja Syakira lontarkan padanya, seakan menyadarkan ia dari
kenyataan yang ada, hatinya tercubit karena ia belum bisa menjadi ibu yang baik
bagi Syakira dan harus membuat Syakira merasakan kesulitan dan kesusahan yang
harus di tanggungnya.
Sebelum menjawab pernyataan Syakira,
untuk sejenak Ana mengambil nafas dan menghembuskan perlahan beberapa kali,
untuk menenangkan hatinya yang tengah di liputi emosi yang tak kuasa ia pendam
lagi rasanya dan tangis yang siap tumpah kapan saja.
Setelah merasa dirinya cukup tenang,
Ana pun mulai menjawab kembali pernyataan Syakira yang tadi di lontarkannya.
"Sayang, bunda tau.. bunda minta
maaf, maaf gak bisa menuhi kebutuhan Syakira seperti seharusnya hingga Syakira
terpaksa harus tidak di perbolehkan ikut ujian dan masuk sekolah kembali,
maafkan bunda ya. Maaf karena bunda Syakira harus bekerja dan merasakan
kesulitan yang tak seharusnya kamu rasakan di usia anak Sepertimu, maafkan
bunda. Bunda hanya ingin Syakira fokus belajar bukan bekerja sebenarnya, tapi
bunda sendiri lupa atas kenyataan yang ada bila keadaan kita seperti ini dan
mungkin kamu harus ikut bunda bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita dan bisa
melanjutkan sekolah kembali, tapi sungguh bunda tidak ingin melihat kamu
bekerja kepayahan seperti ini.
Bunda ingin kamu seperti anak lain
yang fokus belajar sayang, bukan bekerja seperti ini.
Maafkan bunda ya, maaf..maaf bunda
belum bisa menjadi ibu yang terbaik untukmu." ujar Ana yang perlahan tak
mampu lagi menahan tangisnya.
"Bunda, ini bukan salah bunda.
Bunda gak harus minta maaf kepada Syakira seperti ini. Kita harus berjuang dan
bekerja sama sama bunda untuk memenuhi kebutuhan kita dan Syakira gak papa,
karena semenjak kecil Syakira juga sudah tau dan menyadari bagaimana kondisi
kita." ucap Syakira, yang berhenti sejenak untuk mengambil nafas.
"Bunda, Syakira gak papa Syakira
gak bisa bermain seperti teman teman Syakira asalkan Syakira bisa bantu bunda
bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita dan jika bisa Syakira juga ingin dan bisa
melanjutkan sekolah karena dengan begitu, bila kelak Syakira jadi orang
berhasil bisa membahagiakan Bunda." ujar Syakira kembali dengan berusaha
tersenyum di tengah tangisnya.
"Sayang,... terimakasih sudah mau
memahami dan mengerti kondisi bunda." ujar Ana yang segera memeluk
Syakira.
"Sama sama Bunda, kita berjuang
bareng ya Bunda." ujar Syakira yang memeluk Ana kembali.
Sebelum melanjutkan ucapannya, Ana
menarik nafas sejenak, untuk mencari pasokan oksigen agar sesak yang ia rasakan
perlahan mereda.
Terlebih kalimat selanjutnya yang akan
ia ucapkan pada Syakira, sejujurnya bukan hal mudah untuk ia lontarkan dan
jalani nantinya.
"Sayang, bunda janji akan
bahagiakan kamu. Dan bunda janji bagaimana jika dalam waktu dekat ini kita ke
kota untuk bertemu ayah?" ujar Ana kembali.
"Enggak, Syakira gak mau Bunda.
Buat Syakira ayah sudah mati, mati di hati Syakira, karena ayah keadaan kita
harus seperti ini.
Syakira tidak ingin bertemu ayah, buat
__ADS_1
apa? toh selama ini ayah juga tidak pernah peduli dengan kita dan memenuhi
kebutuhan kita kan?" ujar Syakira, yang tanpa sadar membuat hati Ana
seakan tercubit dan teriris.
"Sayang..." Ana pun memeluk
Syakira, karena ia tak kuasa berkata kata untuk mengucapkan sesuatu, membalas
perkataan Syakira.
Begitupun Syakira segera memeluk Ana
kembali.
Ana memilih memeluk Syakira agar
Syakira tak mengetahui ia menangis,
tanpa Syakira tau, Ana menangis dalam
diam, dalam pelukan Syakira.
Ana bingung, jujur ia harus berkata
apa pada Syakira, karena ia tak mungkin menjelaskan segalanya pada Syakira.
Baginya Syakira masih terlalu kecil
untuk memahami segalanya.
Syakira masih terlalu kecil baginya,
untuk mengetahui segalanya.
Ana takut mental dan hati Syakira
terguncang, tak kuat ketika mengetahui Kenyataan yang sebenarnya.
Sejujurnya Ana, ingin memberitahukan
kepada Syakira mengenai kesalahan yang pernah ia lakukan agar Syakira bisa
belajar dari kesalahan yang pernah ia perbuat dan agar Syakira tak seperti
dirinya, yang salah dalam mengambil tindakan dan keputusan.
Karena Ana tak ingin Syakira tumbuh
dalam rasa benci dan dendam.
Sejujurnya Ana pun tak ingin Syakira
membenci ayahnya sendiri,
Namun Ana pun juga tak mungkin
kenyataan yang ada, Ana takut Syakira malu mempunyai ibu seperti dirinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah pembicaraan Ana kala itu dengan Syakira yang berencana mengajaknya ke
kota untuk bertemu ayahnya harus Ana tunda karena Syakira yang tak menginginkan
bertemu ayahnya.
Berulangkali Ana mencoba membujuk dan
memberikan pengertian ke Syakira, namun Syakira tetap tidak menginginkan ke
kota dan bertemu ayahnya.
Syakira juga mengatakan pasti akan
sangat merindukan desa ini.
Hingga Ana pun memutuskan menetap di
desa tersebut dulu dengan ia juga Syakira yang harus bekerja untuk memenuhi
kebutuhan mereka dan agar Syakira bisa menyelesaikan sekolahnya hingga ia lulus
SD kelas 6.
Ana memberikan waktu untuk Syakira
menenangkan dirinya, mencoba memahami keadaan yang ada dan agar Syakira
menyiapkan hati juga mentalnya untuk bertemu ayahnya dan untuk Syakira
menyelesaikan sekolahnya hingga selesai.
Setelahnya Ana berencana akan memberi
Syakira pengertian kembali dan agar mereka segera ke kota untuk bertemu Ferdi
dan meminta pertanggung jawabannya sebagai seorang ayah.
Hingga setelah Syakira lulus SD, Ana
pun mencoba memberikan Syakira pengertian dan mereka pun segera pergi ke kota.
***********
Setelah hampir 6 tahun mondok di
pesantren, Bintang pun berencana untuk melanjutkan pendidikannya di unervesitas
__ADS_1
yang ia inginkan dengan jurusan yang sudah ia pilih.
Begitupun dengan Bulan, setelah lulus
SMA, ia ingin meneruskan kuliahnya.
Sedangkan Afnan kini, ia sudah
beranjak remaja.
David pun saat ini telah menjadi dosen
di salah satu unervesitas ternama.
**************
Bukan hal mudah bagi Ana kembali lagi
ke kota ini, harus berdamai dengan masa lalu dan keadaan yang ada.
Bagaimanapun karena masa kelam itu
terlahirlah Syakira yang kini hidupnya tak menentu dan merasakan kesusahan
seperti dirinya.
Kini ia harus kembali, mempertemukan
Syakira dengan ayahnya, ayah yang tak pernah mengharapkan kehadirannya.
Berat baginya, bagaimana mungkin
memberitahukan Ferdi mengenai keberadaan Syakira, sedangkan Syakira sendiri tak
pernah di akui dan di harapkan oleh ayahnya.
Rasanya hanya menuai kecewa bila ia
harus memohon dan meminta Ferdi untuk mengakui keberadaan Syakira dan
menyayanginya.
Rasanya pun percuma, karena Ferdi
takkan mau mengakuinya.
Ana juga tak ingin akan menambah
kebencian di hati Syakira bila ia tau bagaimana ayahnya yang tak pernah
mengharapkan keberadaannya dan mengakuinya.
Tapi Ana juga tak ingin Ferdi lepas
tanggung jawab dan membiarkan anaknya merasakan kesulitan tiada henti, bukankah
Ferdi harus adil kepada anaknya?
Sungguh bagi Ana tak mengapa bila ia
sendiri tak di anggap oleh Ferdi, asal bukan Syakira, anaknya.
Kini Ana benar benar bingung, ia harus
berjuang untuk apa dan bagaimana...
Ia harus berjuang dari mana karena
rasanya bingung harus memulai dari awal atas pilihan yang sama berat baginya.
Syakira bukan lagi gadis kecil yang
bisa ia bohongi, namun kini Syakira telah tumbuh menjadi gadis remaja yang
sudah cukup memahami dan merasakan keadaan yang selama ini harus ia jalani.
Bukan hal mudah bagi Ana dalam
mengambil setiap keputusan, karena kini ada Syakira yang harus ia pikirkan
bagaimana hatinya dan mentalnya bila mengetahui kenyataan yang rumit ini,
antara dendam dan kebencian masa lalu.
Namun Ana tak mengharapkan sedikit pun
Syakira merasakannya dan berada dalam situasi ini.
Tapi tak ada pilihan selain
mempertemukan Syakira dengan Ferdi, hanya saja Ana ingin menunggu waktu yang
tepat untuk mempertemukan mereka dan mengungkapkan tentang hal ini.
Karena Ana pun kini tak bisa gegabah
dalam mengambil keputusan, ada Syakira yang harus ia pedulikan lebih dari
apapun daripada rasa ego tersebut.
Karena bila ia salah mengambil langkah
dan keputusan, maka hati Syakira akan bisa terluka kapan saja.
Untuk beberapa hari Ana berencana akan
mencari kos kosan dekat sini, setelah ia cukup siap bertemu dengan Ferdi dan
mempertemukan Ferdi dengan Syakira,
__ADS_1
maka ia akan segera menemui Ferdi dan
kembali ke rumah tersebut, bertemu dengan keluarga Ferdi dan Anabel.