
"Kau mengatakan agar aku tetap tenang bahkan setelah menerima berkas perceraian dari mu El? kau jangan gila El!" pekik Viona yang lantas membuat Elbara langsung menatap ke arahnya dengan tatapan yang tidak bisa terbaca.
"Bukankah itu bagus?" ucap Elbara dengan nada yang santai, membuat raut wajah Viona lantas berubah seketika.
"Ap... apa maksud ucapan mu El?" tanya Viona dengan nada yang kebingungan ketika mendengar ucapan santai dari Elbara barusan.
"Bukankah itu yang kamu inginkan Vio? aku hanya melakukan sesuai dengan apa yang kau inginkan, lalu di mana letak kesalahan ku?" ucap Elbara dengan nada yang sinis.
"Aku... aku hanya terbawa emosi waktu itu El, kamu tidak bisa dong seenaknya begitu, sebagai seorang suami kamu harusnya membujuk istrinya bukan malah menuruti perkataan yang terlintas begitu saja dari sang istri." ucap Viona dengan nada yang tidak terima jika Elbara menyudutkannya.
"Bukankah sudah ku katakan secara berulang kali, apa yang sudah di ucapkan tidak akan bisa di tarik kembali! lalu apa ini Vio? kau ingin bermain main dengan kata kata?" ucap Elbara lagi dengan nada yang ketus membuat Viona lantas terdiam seketika.
Viona tidak bisa lagi membantah kata kata Elbara karena memang perceraian ini di mulai karena ucapannya kala itu. Viona sendiri tidak pernah berpikir bahwa Elbara akan benar benar menuruti ucapannya tanpa kembali berdiskusi dengannya terlebih dahulu.
"Aku tidak bisa hanya pasrah dan menunggu sidang itu berlangsung, aku tidak ingin bercerai dengan Elbara... aku tidak menginginkannya! ayo berpikir Viona... berpikirlah." ucap Viona dalam hati sambil menggigit bibir bagian bawahnya mencoba berpikir apakah ada cara untuk menggagalkan perceraian ini.
Viona yang terus berusaha memutar otaknya, lantas mulai terbesit suatu rencana yang mungkin saja akan berhasil.
"Tidak ada salahnya jika di coba bukan?" ucap Viona dalam hati.
"Kita sudahi saja pembicaraan ini Vio, kita bukan lagi anak anak... untuk apa kita bertengkar hanya karena masalah seperti ini, sebaiknya kamu pulang saja ke rumah, jika kamu sudah tenang baru kita bicarakan lagi." ucap Elbara hendak menyudahi pertikaian ini, tanpa menyadari bahwa Viona telah melangkahkan kakinya mendekat ke arah botol anggur milik Elbara yang tersusun rapi di atas almari kaca.
Viona yang sudah gelap mata, lantas langsung mengambil botol anggur tersebut dan membenturkannya dengan keras ke tembok hingga pecah dan menjadi beberapa bagian.
Cetar...
__ADS_1
Elbara dan juga Arga yang mendengar suara pecahan botol tersebut, langsung dengan spontan menoleh ke arah sumber suara. Ada sedikit perasaan terkejut dalam diri Elbara ketika ia melihat botol anggur yang sudah pecah berada di tangan Viona saat ini.
"Apa yang akan kamu lakukan Vio? letakkan serpihan botol itu sekarang juga..." ucap Elbara memberikan arahan agar Viona meletakkan serpihan botol tersebut.
"Jika kamu tidak bersedia membatalkannya maka lebih baik aku mati El.." ucap Viona dengan bibir yang bergetar seperti sedang menahan isak tangisnya agar tidak keluar.
"Jangan gila kamu..." teriak Elbara dengan nada yang kesal sekaligus tak habis pikir akan jalan yang akan di tempuh oleh Viona.
"Ya aku memang sudah gila El... aku sudah benar benar gila karena mu!" jawab Viona sambil tertawa dengan nada yang keras, membuat Elbara lantas menatap tidak percaya kepada Viona saat ini.
Elbara yang melihat Viona sudah mulai tidak stabil, lantas memberikan kode kepada Arga agar mulai bergerak secara perlahan mendekat ke arah Viona, sedangkan dirinya akan mencoba untuk mengalihkan perhatian Viona agar tidak fokus kepada Arga saat ini.
"Kita bicarakan ini baik baik oke... turunkan botol itu sekarang..." ucap Elbara kali ini dengan nada yang lembut.
Sedangkan Viona yang mendengar ucapan Elbara yang mulai melembut, lantas ingin terus bermain main dan malah dengan beraninya menaruh botol yang bentuknya sudah tidak utuh tersebut tepat di atas nadinya.
**
Sementara itu Arga yang posisinya sudah berada tepat di dekat Viona, lantas memberikan kode kepada Elbara agar memberinya waktu untuk melakukan eksekusi. Hingga di hitungan ketiga Arga mulai menampis tangan Viona yang memegang botol tersebut dengan sekali hentakan.
Viona yang terkejut akan gerakan yang tiba tiba dari Arga, lantas tanpa sadar menggores tangannya sendiri.
Cras...
Darah segar menetes begitu saja dari tangan Viona, membuat Elbara lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Viona dan membalut tangan Viona dengan dasi yang ia kenakan saat ini.
__ADS_1
Elbara yang melihat darah tetap merembes walau ia sudah membalut tangan Viona dengan dasi, lantas langsung dengan spontan menggendong Viona ala bridal style dan membawanya ke Rumah Sakit.
"Bereskan semua kekacauan di sini, aku akan ke Rumah Sakit." ucap Elbara memberikan perintah kemudian berlalu pergi dari ruangannya.
"Baik tuan" ucap Arga dengan nada yang sedikit mengambang karena merasa bersalah akan tindakan yang ia lakukan barusan malah membuat goresan di tangan Viona.
"Ah bodoh kau Ar... mengapa sampai ke gores sih? harusnya kau kan bisa lebih hati hati tadi, argh entahlah di hukum di hukum deh..." ucap Arga sambil menampar pipinya dengan pelan secara berulang kali setelah kepergian Elbara dan juga Viona dari ruangan tersebut.
***
Malam harinya
Akila yang sedari tadi menunggu kedatangan Elbara, sayangnya hingga malam menjelang sosok Elbara tak kunjung datang juga menghampirinya.
Akila benar benar merasa frustasi ketika Elbara tak kunjung terlihat juga. Ditatapnya pintu kamar hotel dengan pandangan yang sendu, inilah yang Akila takutkan saling mencinta bukan berarti memiliki, menaruh harap bukan berarti akan menjadi kenyataan.
Sejak awal pertemuannya dengan Elbara, Akila sebisa mungkin menjaga hatinya agar tidak jatuh terlalu dalam pada sosok Elbara. Namun sayangnya semakin keduanya sering bertemu semakin perasaan itu terpatri cukup dalam di hati Akila.
Akila paham betul mencintai Elbara adalah sebuah kesalahan, hanya saja tidak bolehkah kali ini saja dirinya bersikap untuk egois?
Akila termenung menatap ke arah pintu masuk dengan tatapan yang sendu, helaan nafas bahkan sudah terdengar berkali kali dari mulut Akila hingga saat ini.
Akila tersenyum tanpa alasan yang jelas sambil kembali menghela nafasnya panjang.
"Sepertinya memang aku yang terlalu serakah dan menginginkan hal yang lebih. Sadarlah Akila... bangun! terbebas dari Delvano itu sudah sebuah karunia yang indah, jangan sampai kamu menjadi lebih serakah lagi dengan menginginkan suami orang menjadi pendamping hidup mu." ucap Akila dengan nada yang lirih pada diri sendiri mencoba untuk menyadarkan dirinya.
__ADS_1
Cklek...
Bersambung