Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Wanita gila


__ADS_3

"Kalian tahu? kemarin aku bertemu dengan seseorang di Dufan dan dia mengatakan bahwa dia baru saja bercerai dengan istrinya. Kalian tahu apa yang menjadi plot twist dari cerita ini?" ucap Vanya sengaja menjeda ucapannya agar membuat rasa penasaran teman temannya semakin memuncak.


"Apaan?" ucap yang lainnya hampir secara bersamaan karena penasaran akan siapa yang di maksud oleh Vanya kali ini.


"Ternyata istrinya salah satu di antara kita, ada yang bisa tebak siapa?" ucap Vanya sambil menatap satu persatu teman temannya yang ada di sana, termasuk dengan Viona yang kini raut wajahnya sudah berubah masam semenjak pembahasan ini berlangsung.


"Sialan! lagi pula apa sih yang di lakukan Elbara hingga sampai ke Dufan?" ucap Viona dalam hati sambil terdiam di tempat, perasaannya kali ini benar benar tidak enak, meski Vanya tidak langsung mengatakan itu adalah dirinya tapi Viona yakin seseorang yang di maksud oleh Vanya barusan adalah dirinya.


Beberapa orang yang ada di sana nampak saling pandang satu sama lain sibuk menerka siapa yang baru saja bercerai di antara mereka.


"Apa kau Rin orangnya?" tanya Salsa kepada Rina.


"Enak saja aku, hubungan ku dan suami masih langgeng asal kalian tahu ya, jadi tidak ada alasan untuk ku bercerai." ucap Rina dengan nada yang ketus, membuat yang lainnya kembali berbisik bisik sekaligus menebak siapa yang di maksud oleh Vanya saat ini.


Vanya yang melihat Viona hanya terdiam lantas tersenyum seketika, entah mengapa melihat Viona seperti itu benar benar membuat hatinya bahagia.


"Jika di antara kalian tidak ada yang mengaku maka aku akan membuka clue selanjutnya." ucap Vanya dengan bahagia.


"Masih ada clue lagi?" tanya Viona sedikit tersentak ketika mendengar ucapan dari Vanya barusan, hingga membuat teman temannya di sana langsung menoleh seketika ke arah Viona.


Vanya yang mendengar tanggapan Viona lantas langsung tersenyum seketika sambil mengangguk, seakan menikmati penderitaan Viona saat ini.


"Yap dan cluenya, kalian tahu bukan istri dari pembawa berita Delvano Sebastian yang beritanya lagi viral kemarin? siapa sangka aku malah melihat istrinya jalan berdua dengan mantan suami teman kita di Dufan, ketika aku datang untuk menyapa.. dia malah membahas tentang perceraiannya, bukankah ini gila?" ucap Vanya kemudian yang lantas membuat mereka langsung berbisik bisik seakan penasaran dengan siapa orang yang kini tengah di maksud oleh Vanya.


Byur


Guyuran air minum mendarat tepat di tubuh Vanya, membuat baju bagian depan miliknya langsung basah terkena air yang di tuangkan dengan sengaja oleh Viona barusan.

__ADS_1


"Apa apaan kau?" pekik Vanya sambil bangkit dari posisinya dan mencoba mengebaskan pakaiannya yang basah karena terkena guyuran air minum dari Viona.


"Aku tidak sengaja melakukannya, lagi pula bergosip tentang seseorang itu tidak bagus jadi tangan ku yang pengertian ini reflek ingin membersihkannya." ucap Viona dengan nada yang santai namun berhasil membuat Vanya melotot ketika mendengar jawaban dari Viona barusan.


"Dasar wanita gila, pantas saja Elbara menceraikan mu dan memilih wanita itu. Asal kau tahu... walau kau berdandan dengan menor sekalipun kau tidak akan bisa menyainginya." ucap Vanya tidak mau kalah membuat yang lain langsung terkejut seketika di saat mengetahui fakta bahwa yang mereka bicarakan sedari tadi adalah Viona.


"Kau ular! kemari kau..." pekik Viona sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Vanya dan langsung menjambak rambut Vanya dengan kasar.


Pada akhirnya pertengkaran antara keduanya tidak lagi bisa di hindarkan, baik Vanya dan Viona kini bahkan sudah menjadi bahan tontonan para pengunjung Resto lainnya. Sementara teman temannya yang juga sedang berada di sana langsung ikut memisahkan keduanya agar tidak terus berlanjut.


"Sebaiknya kau pulang saja Vio, mungkin saat ini itu yang terbaik." ucap Salsa ketika berhasil memisahkan keduanya dari aksi cakar cakaran mereka.


"Lepaskan aku! kau pun sama dengan dia... dasar ular, baik hanya di depan saja tapi hati kalian semuanya busuk!" ucap Viona dengan nada yang kesal sambil menatap ke arah satu persatu teman temannya yang sama sekali tidak pernah menunjukkan rasa simpati akan keadaannya.


Viona yang sudah muak berada di sana lantas langsung melangkahkan kakinya pergi dari sana. Viona benar benar tidak menyangka bahwa tidak ada yang pernah tulus berteman dengannya. Di saat saat terpuruk seperti ini lah, Viona baru mengetahui mana teman yang benar benar tulus dan mana teman yang hanya memanfaatkannya saja selama ini.


Baik Vanya, Salsa dan yang lainnya hanya menatap kepergian Viona dengan tatapan yang tidak bisa terbaca.


"Aman, lumayan lah tidak ada yang perlu kalian khawatirkan selain bajuku yang basah dan lengket karena ulah wanita gila itu." ucap Vanya dengan nada yang menyindir.


"Sudah sudah sebaiknya kita lanjutkan saja acara kita." ucap Salsa kemudian yang langsung di balas yang lainnya dengan anggukan kepala tanda setuju.


****


Kediaman Delvano


Delvano yang baru saja datang dari pengadilan, lantas langsung di sambut dengan Rafi yang terlihat sudah berdiri menanti kedatangan Delvano lengkap dengan beberapa koper dan barang barang bawaan lainnya milik Delvano.

__ADS_1


"Apa kau tidak akan memberi ku jeda hanya untuk beristirahat sebentar?" ucap Delvano dengan nada yang dingin sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Rafi.


"Maaf tuan saya hanya menjalankan perintah." ucap Rafi dengan nada bicara yang datar.


"Kau lama lama menyebalkan juga ya?" ucap Delvano sambil berdecak kesal karena tingkah Rafi yang malah mirip seperti robot ketimbang asisten ibunya.


"Mari tuan saya akan mengantar anda ke bandara." ucap Rafi kemudian seakan acuh tak acuh dan tidak menanggapi dengan serius ucapan Delvano barusan.


Delvano yang mendengar hal tersebut hanya bisa menghela nafasnya panjang dan mengikuti langkah kaki Rafi yang menuntunnya untuk masuk ke dalam mobil.


Dengan langkah yang malas Delvano mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil, sedangkan Rafi sibuk memasukkan barang barang miliknya di bagasi.


Ketika Rafi baru saja menyelesaikan tugasnya dan hendak masuk ke dalam, Delvano lantas membuka suaranya sehingga langsung menghentikan langkah kaki Rafi yang hendak masuk ke dalam.


"Apa kau sudah membawa laptop milik ku? di sana berisi beberapa berkas penting tentang perusahaan cabang di sana." ucap Delvano dengan nada yang datar, membuat Rafi lantas langsung terdiam dan mencoba mengingat ingat akan laptop yang di maksud oleh Delvano.


"Benarkah? saya sama sekali tidak mengetahuinya." ucap Rafi sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kau bagaimana sih? sebaiknya kau ambil saja dulu letaknya ada di ruangan kerja ku biar aku menunggu mu di sini." ucap Delvano kemudian.


"Tidakkah sebaiknya nanti saya yang akan mengurusnya tuan? jika hanya sekedar informasi perusahaan cabang saya bisa memberikannya kepada anda." ucap Rafi lagi.


"Laptop itu berisi data data perusahaan, apa kau yakin bisa memberikannya? Sudahlah dari pada banyak tanya sebaiknya kau pergi ambil sana." ucap Delvano memberikan perintah.


"Baik tuan" ucap Rafi pada akhirnya.


Rafi kemudian lantas melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam untuk mengambil laptop yang di maksud oleh Delvano barusan.

__ADS_1


Sedangkan Delvano yang melihat kepergian Rafi dari sana, terlihat mulai memasang senyum menyeringai sambil menatap ke arah kunci mobil yang di biarkan tergeletak di dashboard mobil oleh Rafi.


Bersambung


__ADS_2