
Kantor polisi
Arga dan juga Akila yang baru saja tiba di kantor polisi langsung melangkahkan kakinya dengan bergegas memasuki area kantor polisi, di area depan seseorang berpakaian setelan jas yang rapi terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah Arga dan juga Akila.
"Apakah dia orangnya?" tanya seseorang tersebut yang ternyata adalah Rehan.
"Ya, bagaimana perkembangan kasusnya?" ucap Arga dengan raut wajah yabg penasaran.
Sedangkan Akila yang mendengarkan percakapan antara Arga dan juga Rehan, hanya bisa menyimak saja tanpa ikut bergabung atau memberikan solusi, karena ia yakin dua orang di hadapannya adalah orang orang yang lebih bisa di andalkan dalam keadaan mendesak seperti ini.
"Belum sampai pada pengadilan, aku rasa masih sempat, aku akan memberikan bukti yang kau bawa, sedangkan kau antarkan dia ke ruang interogasi untuk memberikan kesaksian." ucap Rehan membagi tugas yang lantas langsung di balas Arga dengan anggukan kepala.
Pada akhirnya baik Arga maupun Rehan lantas langsung berpisah dan mulai melaksanakan tugas mereka masing masing, sedangkan Akila mengikuti langkah kaki Arga yang membawanya ke tempat interogasi untuk memberikan keterangan tentang kejadian kemarin yang mungkin saja akan bisa mengurangi atau bahkan membebaskan Elbara dari tuntutan Delvano.
**
Ruangan interogasi
Satu persatu pertanyaan Akila jawab dengan seadanya tanpa di tutup tutupi atau di tambahi oleh Akila. Akila mencoba semampunya membantu Elbara agar bisa lolos dari tuduhan ini.
Selama bermenit menit Akila berada di ruang interogasi untuk menjawab satu persatu pertanyaan dari pihak kepolisian, hingga kemudian setelah satu jam lebih barulah Akila di perbolehkan untuk pulang.
Akila menghela nafasnya dengan panjang karena anehnya ia malah merasa sama sekali tidak membantu apapun untuk Elbara, padahal Elbara selalu saja ada di saat saat ia membutuhkan, mengapa jika ada kesempatan Akila malah tidak bisa melakukan apa apa untuk Elbara.
"Apa kamu akan terus memasang wajah di tekuk seperti itu?" ucap sebuah suara yang tidak asing di pendengaran Akila.
__ADS_1
Akila yang hapal betul dengan suara tersebut, lantas langsung mendongakkan kepala dan menatap ke arah sumber suara untuk memastikan ini bukanlah hanya sebuah halusinasinya saja. Seulas senyum mendadak terlukis dengan indahnya pada raut wajah Akila, ketika melihat sosok Elbara tengah berdiri menantinya di lorong kantor polisi dengan senyum yang mengembang ke arahnya, membuat Akila langsung ikut tersenyum juga ketika melihat Elbara.
Akila yang senang bukan main melihat Elbara sudah bisa bebas, lantas langsung melangkahkan kakinya dengan bergegas mendekat ke arah Elbara dan memeluknya dengan erat seakan tidak ingin melepaskan laki laki itu dari genggamannya.
"Maafkan aku ya? aku pasti membuat mu cemas bukan?" ucap Elbara sambil mengelus puncak kepala Akila dengan lembut.
Akila yang mendengar permintaan maaf Elbara, lantas langsung mendongakkan kepalanya ke arah Elbara kemudian menggeleng dengan perlahan dan kembali menenggelamkan kepalanya pada dada bidang milik Elbara.
"Dasar" ucap Elbara sambil tersenyum dengan bahagia melihat tingkah Akila yang menggemaskan menurutnya.
***
SB Company
Setelah mengetuk pintu ruangan Delvano, Rani terlihat melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Delvano dengan langkah kaki yang terburu buru.
Delvano yang mendengar panggilan dari Rani, lantas langsung menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah Rani dengan raut wajah yang penasaran akan berita apa yang kini akan di sampaikan oleh Rani. Rani yang tahu bosnya sebentar lagi pasti akan marah, terlihat mulai menarik nafasnya dalam dalam sambil bersiap terkena semprotan dari Delvano sebentar lagi.
"Pak, laporan penganiayaan anda di tangguhkan dan pak Elbara di bebaskan dari semua tuduhan." ucap Rani memberikan laporan kepada Delvano.
Bruk...
Suara Delvano yang menggebrak mejanya ketika mendengar ucapan dari Rani, membuat Rani yang berada di sana terkejut bukan main ketika mendengar suara gebrakan tersebut. Rani kini bahkan tidak berani untuk mendongak dan menatap ke arah manik mata Delvano karena takut akan bosnya tersebut.
Sedangkan Delvano yang kesal akan berita yang baru saja di terimanya, lantas langsung bangkit dari kursinya dan menendang kursinya dengan kesal karena lagi lagi Elbara berhasil menggagalkan rencananya untuk mendapatkan kembali Akila dan membuatnya berada di sisinya kembali.
__ADS_1
"Argh... benar benar sialan kau El!" teriak Delvano dengan kesal.
Delvano kini bahkan tidak tahu lagi harus bertindak bagaimana untuk memisahkan Elbara dan juga Akila karena keduanya selalu saja bersama seperti perangko dan selalu saja menempel. Delvano tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, namun Delvano tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk memisahkan keduanya saat ini.
Delvano yang melampiaskan kemarahannya dengan menendang kursi kebesarannya, lantas langsung berbalik badan dan semakin di buat kesal ketika melihat wajah Rani yang masih melihatnya melampiaskan kemarahannya sedari tadi.
"Apa yang masih kau lakukan di sini? pergi!" teriak Delvano kemudian sambil menunjuk ke arah pintu keluar.
Rani yang mendengar teriakan tersebut, tentu saja langsung berlalu pergi meninggalkan ruangan Delvano dengan langkah yang terburu buru, tanpa berani lagi melihat ke belakang atau Delvano akan kembali marah jika melihatnya masih berada di ruangan Delvano.
"Argh benar benar sialan!" teriak Delvano lagi dengan nada yang frustasi.
Sebuah deringan ponsel miliknya, kemudian lantas membuyarkan segala kekesalan Delvano. Delvano mengambil ponselnya dengan kasar ketika mendengar benda pipih tersebut terus berbunyi tanpa henti, membuat kepalanya terasa penuh dan seperti hendak meledak.
Sebuah nomor asing terpampang jelas pada layar ponsel miliknya, membuat Delvano langsung menggeser benda pipih tersebut karena merasa panggilan telpon tersebut tidaklah penting.
Hanya saja bukannya berhenti, semakin Delvano membiarkannya nomor asing itu terus saja menghubunginya berkali kali, membuat Delvano semakin di buat kesal akan suara deringan ponsel miliknya tersebut.
"Halo" teriak Delvano dengan nada yang kesal tepat setelah dirinya menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Ada apa dengan nada suara mu itu? kenapa kau terdengar sangat marah? apa karena kau tidak berhasil memenjarakan Elbara?" ucap sebuah suara di seberang sana membuat Delvano langsung melotot ketika mendengar ucapan dari penelpon tersebut.
"Siapa kau? jangan bermain main dengan ku?" pekik Delvano dengan nada meninggi.
"Ckckck ayolah kau tidak mungkin melupakan ku? kau tahu? semua ini adalah akibat kau yang dengan angkuhnya menolak bekerja sama dengan ku? kau pikir... kau bisa melawan Elbara seorang diri? jawabannya tentu adalah tidak? karena semakin kau ingin menjatuhkannya maka pria itu akan semakin membuat keadaan berbalik padamu!" ucapnya lagi yang lantas membuat Delvano tersenyum dengan sinis ketika langsung mengetahui siapa penelpon dengan nomor asing di ponselnya.
__ADS_1
"Viona.... kau kira aku tidak bisa mengenali suara mu?" ucap Delvano kemudian.
Bersambung