Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Jalan keluar terbaik


__ADS_3

Keesokan harinya Kediaman Delvano


Seharian ini Delvano benar benar tampak seperti orang gila, ia tidak tahu harus berbuat apa di saat seperti ini. Dulu jika Akila kabur, Delvano pasti akan menggunakan Lina agar memancing Akila untuk keluar dari tempat persembunyiannya.


Namun untuk saat ini semuanya telah berbeda, tidak hanya Akila satu satunya kartu AS yang ia miliki pun yaitu Lina ibu Akila ikut lepas dari genggamannya, membuat Delvano menjadi semakin di buat frustasi akan hal tersebut.


"Ah sial!" teriak Delvano berulang kali menggema memenuhi ruang kerjanya.


Deringan ponsel kembali terdengar memenuhi ruangan tersebut, ini bahkan sudah kesekian kalinya ponsel milik Delvano berbunyi namun tidak ada satupun yang Delvano angkat sedari kemarin.


Delvano yang mulai kesal akan suara ponsel miliknya yang terus saja berbunyi sedari tadi, lantas langsung melemparnya ke sembarang arah hingga membentur ke dinding dan menjadi beberapa bagian.


"Berisik! kalian wartawan hanya bisa mencari berita saja tanpa memperdulikan orang yang terus terusan kalian teror untuk mencari sebuah informasi yang menarik bagi kalian!" teriak Delvano dengan nada yang meninggi saking kesalnya.


Di saat rasa frustasi kian menutupi hatinya, suara pintu ruang kerja yang di buka secara perlahan oleh seseorang, lantas membuat Delvano langsung dengan spontan tersenyum sinis ketika ia mengetahui dengan jelas siapa sosok yang datang berkunjung ke rumahnya saat ini.


Delvano yang melihat sosok ibunya berjalan mendekat ke arahnya, lantas langsung bangkit berdiri dan memberikan salam kepada Sarah.


"Mengapa mama tidak bilang jika akan datang ke sini?" ucap Delvano dengan bada yang sekedar basa basi kepada Sarah.


"Mama rasa kondisi rumah mu sekarang sudah menggambarkan bagaimana kacaunya keadaan mu saat ini." ucap Sarah dengan nada yang sinis, sedangkan Delvano yang mendengar ucapan ibunya hanya bisa diam saja karena memang itulah kenyataannya.


Melihat Delvano hanya diam saja, membuat Sarah lantas menghela nafasnya dengan panjang. Sarah tahu pasti saat ini Delvano tengah down, apalagi mengingat pemberitaan di luar sana terang terangan menyudutkannya saat ini.


"Raf bawa ke mari dokumennya." ucap Sarah meminta sebuah dokumen kepada Rafi yang sedari tadi terlihat berdiri tak jauh di belakang Sarah saat ini.


Rafi yang mendengar perintah tersebut, lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Sarah dan menyerahkan dokumen tersebut kepada Delvano.

__ADS_1


"Tanda tangani berkas ini sekarang juga." ucap Sarah memberikan perintah kepada Delvano.


Delvano yang mendengar ucapan ibunya, tentu saja penasaran dengan berkas yang di berikan oleh Rafi dan langsung dengan spontan membaca berkas tersebut.


"Apa apaan ini ma? kenapa mama dan juga Akila kompak sekali menyuruh ku menandatangani berkas perceraian? apakah kalian berdua tengah bersekongkol saat ini?" ucap Delvano dengan nada yang kesal sambil menggeser dokumen tersebut seakan enggan untuk menandatanganinya.


"Akila juga mengirimnya? bagus... itu artinya minggu ini kamu hanya tinggal datang ke pengadilan untuk sidang perceraian mu." ucap Sarah dengan santainya tapi malah membuat Delvano naik darah ketika mendengarnya.


"Delvano tidak mau ma! sampai kapan pun aku tidak akan mau bercerai dengan Akila." teriak Delvano memberikan protes dengan nada suara yang meninggi.


"Ini adalah satu satunya cara yang terbaik untuk keluar dari masalah mu saat ini. Cepat tanda tangani surat cerai itu dan berhenti sebagai pembawa berita. Untuk saat ini fokuslah pada bisnis keluarga, apa kau mengerti?" ucap Sarah kali ini dengan nada yang tegas seakan tidak ingin di bantah sama sekali.


"Ma... mama tidak mengerti apapun... jadi ku minta..." ucap Delvano namun keburu di potong oleh Sarah yang saat ini mulai tidak sabaran ketika berbicara dengan seseorang yang berkepala batu seperti putranya itu.


"Kamu yang tidak mengerti apapun, untuk saat ini mama kira ini adalah jalan yang terbaik untuk masalah mu itu. Jangan membantah dan lakukan saja perintah ku." ucap Sarah dengan tegas tanpa ingin di bantah sama sekali.


"Jangan lupa untuk datang tepat waktu ke persidangan minggu ini." ucap Sarah tepat di ambang pintu ruang kerja Delvano sebelum pada akhirnya melangkahkan kakinya pergi dari kediaman putranya itu.


"Arggggg.... kurang ajar...." teriak Delvano sambil menyapu semua benda yang ada di meja kerjanya dengan kesal dan penuh amarah.


****


Hotel Star


Sementara itu di kamar hotel President Suit, terlihat Elbara tengah melangkahkan kakinya masuk ke area kamar di mana Akila saat ini tengah asyik menonton serial kartun Doraemon di sana.


Elbara dan Akila memanglah tinggal satu kamar, tapi keduanya tidak pernah tidur seranjang atau melakukan hubungan yang terlarang, walau keduanya sama sama saling menyukai tapi baik Akila dan juga Elbara masih memiliki prinsip dan juga etika yang masih keduanya pegang dengan teguh.

__ADS_1


Seulas senyum terbit dari wajah Elbara, ketika melihat Akila yang tertawa dengan lepas ketika menonton serial kartun robot berbentuk kucing tersebut.


"Apa yang membuat mu tertawa begitu lepas Ki?" tanya Elbara dengan penasaran sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Akila berada saat ini.


"Ah maaf, aku membangunkan mu ya?" ucap Akila ketika mendengar suara Elbara barusan.


"Lumayan" jawab Elbara dengan singkat sambil mengambil duduk di dekat Akila.


"Lihatlah El.. bukankah tingkah Nobita sangat lucu?" ucap Akila kemudian di selingi dengan tawa kecil di akhir kalimatnya, membuat Elbara lantas ikut tersenyum simpul walau sebenarnya ia tidaklah sedang fokus menonton televisi melainkan menatap ke arah Akila.


"Tidakkah kamu bosan terus ada di sini sepanjang hari? jika kamu mau kita bisa keluar jalan jalan mumpung hari ini weekend." ucap Elbara memberikan penawaran kepada Akila.


Akila yang mendapat penawaran tersebut tentu saja bahagia bukan main, hanya saja mendadak raut wajahnya langsung berubah sepersekian detik selanjutnya.


"Sebaiknya tidak usah, aku takut akan asumsi orang jika melihatmu keluar dengan ku saat ini." ucap Akila dengan raut wajah yang sendu.


"Ayolah... mengapa kau harus memikirkan ucapan mereka? yang terpenting itu kita senang udah itu aja... gak usah mikirin omongan mereka." ucap Elbara yang seakan tidak setuju akan ucapan dari Akila barusan.


"Tapi kan..." ucap Akila hendak menyangkal namun suara deringan telpon duduk di kamar hotel tersebut lantas memutus obrolan keduanya.


Kring.... kring....


"Biar aku yang mengangkatnya sebentar." ucap Akila sambil bangkit berdiri dan menuju ke arah telpon duduk yang berada tidak jauh dari posisinya.


Elbara yang mendengar suara telpon di kamar hotel tersebut berbunyi, agak sedikit bingung karena tidak biasanya telpon itu akan berbunyi kecuali ada tamu yang meminta di sambungkan kepada penyewa kamar.


"Mama?" ucap Akila yang terkejut begitu pula dengan Elbara yang sedari tadi tengah memperhatikan Akila.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2