
Kediaman Viona
Di dalam kamarnya, Viona terlihat masuk dengan langkah kaki yang kesal. Bayangan bagaimana interaksi antara Elbara dan juga Akila masih membekas dengan jelas di ingatannya.
Aaaaaa
Prang...
Viona menyapu semua barang barang yang ada di meja riasnya dengan penuh amarah, tidak hanya sampai di situ, Viona kemudian melanjutkan aksinya dengan menarik selimut dan juga sprei di ranjangnya kemudian melemparnya ke sembarang arah.
"Benar benar menyebalkan! Aaaaa.... kau El tunggu saja pembalasan ku!" teriak Viona dengan nada yang penuh amarah.
**
Sedangkan beberapa maid yang mendengar keributan di dalam kamar Viona, lantas terlihat sudah berjajar dengan penuh khawatir di depan kamar Viona.
Mereka benar benar bingung akan apa yang harus mereka lakukan saat ini, kepala maid tidak lagi berani menghubungi Arga ataupun Elbara karena status Elbara dan juga Viona yang bukan lagi suami istri.
"Apa yang harus kita lakukan? kalau nyonya melakukan sesuatu bagaimana?" ucap salah seorang maid dengan raut wajah yang khawatir.
"Suaranya sudah hening saat ini, aku yakin tadi nyonya hanya emosi saja dan melakukan kebiasaan buruknya melempar beberapa barang, sebaiknya kita bubar saja dan kembali bekerja, aku yakin sebentar lagi nyonya akan keluar untuk makan siang." ucap kepala maid memberikan perintah yang lantas di balas lainnya dengan anggukan kepala, kemudian satu persatu mulai melangkahkan kakinya berlalu pergi meninggalkan kamar Viona.
Kini di depan kamar Viona hanya tinggal kepala maid seorang diri menatap dengan tatapan yang lurus ke arah pintu kamar Viona.
__ADS_1
"Semoga saja nyonya tidak melakukan sesuatu yang berbahaya di dalam sana." ucap kepala maid tersebut kemudian berlalu pergi menyusul beberapa maid lainnya yang sudah lebih dulu turun beberapa saat yang lalu.
***
Perusahaan SB Company
"Selamat pagi semuanya, saya minta maaf karena tiba tiba mengumpulkan kalian dan membuat keributan di pagi hari. Tujuan saya mengadakan rapat dadakan kali ini adalah untuk mengumumkan kepada semuanya bahwa mulai hari ini kursi kepemimpinan akan saya serahkan sepenuhnya kepada putra saya Delvano sebastian." ucap Sarah dengan raut wajah yang bahagia sambil mempersilahkan Delvano masuk ke dalam ruang rapat.
Begitu mendengar pengumuman dari Sarah, kebisingan mulai terdengar menggema di ruangan tersebut, mengikuti setiap langkah kaki Delvano yang terlihat mulai masuk dan berjalan mendekat ke arah ibunya.
"Katanya pejabat tertinggi perusahaan, tapi tingkahnya udah kayak pasar pindah yang tidak tahu tempat dan terus saja menggunjing orang di hadapannya." ucap Delvano dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya dengan sesekali menatap sinis ke arah mereka.
Delvano terlihat memberikan hormat kepada para pemegang saham ketika sampai tepat di sebelah ibunya.
"Saya tahu saya banyak menimbulkan masalah belakangan ini, saya harap bapak bapak semua bisa membimbing dan membantu saya dalam mengelola perusahaan menjadi lebih baik lagi." ucap Delvano sambil memasang wajah tersenyum yang di paksakan kepada para pemegang saham yang menghadiri rapat kala itu.
Mendengar ucapan dari Sarah barusan, salah seorang dari mereka nampak mulai mengangkat tangan mereka.
"Bukankah ini terlalu cepat? sedangkan pemberitaan di luaran sana masih beredar dengan luas, bagaimana jika para klien penting kita melihat dan menjadikan ini sebagai sebuah masalah baru?" ucap salah seorang pemegang saham di ruangan tersebut.
"Betul itu betul!" pekik yang lainnya seakan membenarkan ucapan barusan.
Sedangkan Delvano yang mendengar perkataan protes tersebut, hanya bisa tersenyum sinis menatap ke arah satu persatu para pemegang saham di perusahaan ini.
__ADS_1
"Aku rasa kalian mengkhawatirkan yang tidak perlu, bukankah kita harusnya melakukan kerja nyata daripada hanya memikirkan sebuah rumor yang beredar di luaran sana. Dari pada kita meributkan hal yang tidak penting bagaimana kalau kita kembali meninjau tentang perusahaan, asalkan kalian tahu saya sudah mengecek beberapa data laporan bulanan bahkan tahunan perusahaan yang menurut saya banyak sekali yang mencurigakan. Jika kalian ingin membuktikan kerja nyata saya, apa kalian ingin saya membukanya juga di rapat kali ini?" ucap Delvano dengan tersenyum sinis.
Beberapa pemegang saham yang mendengar ucapan dari Delvano barusan lantas langsung terdiam seketika. Terlihat jelas gurat kekhawatiran pada wajah masing masing pemegang saham yang datang pada acara rapat kali itu, membuat Sarah lantas langsung tersenyum dengan puas ketika melihat para pemegang saham terdiam tak bisa menanggapi lagi.
Kebobrokan para pemegang saham dan juga antek anteknya di perusahaan ini bukannya Sarah tidak mengetahuinya, Sarah sengaja mendiamkan mereka karena ingin melihat apa yang akan di lakukan Delvano jika mengetahui segalanya.
"Tidak buruk juga" ucap Sarah dalam hati sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling melihat reaksi mereka akan ucapan dari Delvano barusan.
"Baiklah... aku rasa rapat kali ini cukup sampai di sini. Aku harap kalian bisa menjaga putra ku layaknya putra kalian masing masing." ucap Sarah hendak mengakhiri rapat tersebut namun di tahan oleh Delvano yang ingin mengucapkan sesuatu.
"Ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan kepada kalian, aku akan membentuk sebuah divisi baru yang mungkin akan membuat kalian senang nantinya. Terima kasih banyak atas kehadiran kalian dalam rapat dadakan kali ini, selamat pagi." ucap Delvano yang lagi lagi lantas mengejutkan para pemegang saham ketika mendengar ucapan yang keluar dari mulut Delvano baru saja.
Setelah puas membuat gempar seluruh para pemegang saham, Delvano kemudian lantas melangkahkan kakinya keluar dari ruangan rapat tersebut dan membiarkan kebisingan melanda ruangan rapat karena pengumuman yang baru saja ia katakan.
***
Sementara itu keesokan harinya
Viona sedari tadi terlihat tengah mengikuti mobil Elbara secara diam diam, Viona benar benar penasaran kemana Elbara dan juga Akila tinggal saat ini. Hingga beberapa menit mengemudi mobil milik Elbara mulai memasuki area parkiran sebuah Apartment mewah yang masih terletak di ibu kota.
Viona yang melihat Elbara masuk lantas mulai memarkirkan mobilnya tidak jauh dari lobi Apartment tersebut. Ditatapnya punggung Elbara dan juga Akila yang terlihat mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam lobi hingga menghilang dalam pandangannya.
"Ah di sini rupanya? kenapa aku sama sekali tidak tahu jika Elbara membeli Apartment mewah di daerah ini... selama menjadi istrinya ternyata banyak sekali yang di sembunyikan oleh pria itu, pantas saja ia sama sekali tidak keberatan ketika aku meminta harta gono gini yang ternyata tidak ada satu persennya pun dari kekayaannya. Gila... aku benar benar bodoh karena telah melepaskan tambang emas seperti Elbara!" ucap Viona dengan nada yang kesal sambil masih menatap lurus ke arah Apartment tersebut.
__ADS_1
"Baiklah El... jika kamu memilih jalan yang ini maka aku juga akan memilih jalan ku sendiri..." ucap Viona lagi kemudian melajukan mobilnya meninggalkan pelataran Apartment mewah tersebut.
Bersambung