
Lima menit setelah kepergian Elbara dari pondokan tersebut, mobil patroli polisi mulai berdatangan dan langsung menggerebek pondokan tersebut sesuai dengan sinyal terakhir Akila dan juga tambahan laporan dari Elbara yang mengatakan bahwa seorang pembunuh tengah bersembunyi di pondokan itu.
Polisi yang menemukan Delvano tengah terduduk lemas di lantai, lantas langsung menggelandangnya menuju ke kantor polisi untuk di mintai keterangan. Delvano yang memang sudah kehilangan kesadarannya sekitar 50 persen, hanya bisa mengikuti arah tarikan beberapa polisi yang membawanya menuju ke arah kantor polisi.
Delvano terduduk dengan tenang di dalam mobil patroli sambil menatap ke arah kaca jendela dan memegangi area dadanya yang terasa nyeri. Entah mengapa Delvano merasa ajalnya sudah kian dekat dan Delvano yakin apa yang ia rasakan sekarang juga sedang di rasakan oleh Akila. Seulas senyum terbit dari wajah Delvano ketika apa yang ia inginkan perlahan lahan akan segera terwujud.
"Kita akan bertemu di atas sana Ki... kita.. akan bertemu sebentar lagi..." ucap Delvano dalam hati.
Uhuk uhuk
Delvano memegangi area dadanya yang semakin nyeri dan juga sakit, sambil memposisikan dirinya seenak mungkin perlahan lahan mata Delvano mulai terpejam, satu nama yang terucap untuk terakhir kalinya di mulut Delvano adalah "Akila". Hingga selang beberapa detik tangan Delvano yang memegangi dengan erat area dadanya perlahan lahan mulai turun dan melemas, tepat setelah Delvano memuntahkan beberapa darah segar dari mulutnya.
Mobil patroli yang membawa Delvano terus melaju ke arah kantor polisi, tanpa mengetahui bahwa tawanan yang mereka bawa sedari tadi telah meninggal dunia karena racun yang di minumnya. Delvano mengakhiri hidupnya sama dengan cerita yang terkandung dalam Simfoni favoritnya, di mana sang seniman yang berbakat dengan imajinasi yang hidup, meracuni dirinya sendiri denganĀ opium dalam lembah keputusasaan karena cinta yang tidak ada harapan dan tidak terbalaskan.
Niat hati Delvano ingin merubah cerita dalam Simfoni tersebut dengan ikut memberikan Akila racun tapi gagal karena Elbara membawanya pergi, tanpa Delvano tahu apakah racun yang ia berikan kepada Akila benar benar bekerja atau tidak. Yang Delvano tahu dan menjadi patokannya, hanyalah apa yang ia rasakan dalam dirinya setelah meminum racun tersebut pasti akan sama dengan apa yang di rasakan oleh Akila.
****
__ADS_1
Satu tahun kemudian
Di sebuah ballroom hotel, dari arah pintu masuk ballroom terlihat Elbara tengah berdiri dengan gagahnya memakai setelan tuxedo yang menambah kharisma dan ketampanannya semakin terlihat. Sedangkan seorang wanita yang kini mengenakan gaun pengantin dengan model duyung terlihat anggun di gendongan Elbara.
Dengan langkah yang perlahan Elbara membawa Akila yang ada di gendongannya menuju ke arah Altar pernikahan. Setelah keduanya melaksanakan akad mereka kemarin, keduanya kemudian memutuskan untuk mengadakan resepsi pernikahan di sebuah ballroom hotel.
Kalian pasti bertanya tanya bukan, mengapa Elbara menggendong Akila di pesta pernikahannya? jawabannya adalah setelah Akila di berikan racun oleh Delvano satu tahun yang lalu, Elbara berusaha mati matian untuk menyelamatkan Akila dengan berbagai cara. Elbara bahkan sampai mendatangkan ahli obat obatan dan juga dokter ternama di dunia demi untuk menyembuhkan Akila.
Semua racun yang ada di tubuh Akila berhasil di keluarkan, hanya saja karena sebagian cairan racun sudah terlanjur masuk dan merusak kerja saraf pada Akila, sehingga hal tersebut berdampak pada kaki Akila yang mengalami penurunan fungsi saraf atau yang sering kita sebut kelumpuhan. Walau ini bukanlah kelumpuhan permanen, namun sangat sulit untuk bisa kembali ke keadaan normal seperti sedia kala.
Elbara yang tak ingin berputus asa dan menerima takdir, terus memberikan semangat kepada Akila bahwa ia bisa kembali berjalan normal seperti dahulu. Butuh waktu bagi Akila untuk menerima keadaannya sekaligus menerima kembali pinangan Elbara yang sempat tertunda.
Step by step yang di lewati Akila begitu berat, walau sekarang Akila belum sembuh sepenuhnya setidaknya Akila sudah bisa berdiri untuk jangka waktu yang pendek. Namun jika untuk berjalan ataupun berlari, kaki Akila belum mampu sepenuhnya untuk melakukan hal tersebut.
Elbara menurunkan Akila secara perlahan dan mendudukkannya di kursi pelaminan dengan hati hati.
"Katakan padaku jika kamu lelah... jangan memaksakan dirimu ok?" ucap Elbara dengan nada yang berbisik.
__ADS_1
Mendengar ucapan Elbara barusan membuat Akila langsung tersenyum dengan cerah, perlahan lahan Akila mulai bangkit dari kursinya dan berdiri dengan tegak, membuat Elbara yang melihat hal tersebut ikut bangkit dari posisinya dan menatap dengan penuh khawatir ke arah Akila saat ini. Akila yang tahu Elbara tengah khawatir, lantas langsung mengambil posisi sedikit berjinjit namun dengan berpegang erat pada tubuh Elbara.
"Aku bisa El... jika terus terusan duduk, apa yang akan di katakan para tamu undangan? jadi diam lah aku akan mengusahakannya." ucap Akila sambil mengerlingkan matanya ke arah Elbara.
Elbara yang mendengar ucapan Akila barusan, lantas dengan spontan langsung mengelus rambut Akila dengan pelan kemudian tersenyum menatap ke arah Akila dengan manik mata yang berbinar.
"Jangan memaksakan dirimu, katakan padaku jika kamu lelah." ucap Elbara sambil mencubit gemas hidung Akila yang kini sudah berganti status menjadi istri sahnya itu.
"Siap bos" ucap Akila sambil mengangguk dengan mantap.
Tak berapa lama satu persatu tamu undangan mulai melangkahkan kaki mereka untuk bersalaman dengan kedua mempelai atau bahkan bersua foto dengan kedua mempelai. Hari itu menjadi hari paling membahagiakan untuk Elbara dan juga Akila, walau akhir kisah mereka tidak sepenuhnya berakhir dengan happy ending, namun Elbara bersyukur hingga detik ini masih di beri kesempatan untuk bisa terus berada di sisi Akila saat ini. Elbara menerima segala kekurangan dan juga kelebihan yang di miliki oleh Akila, bukankah itu namanya sebuah ikatan cinta? jika kalian tidak bisa menerima kelebihan dan keburukan yang dimiliki setiap pasangan kalian, itu tandanya cinta kalian hanyalah sebuah ilusi yang tercipta karena hadirnya nafsu dan juga keinginan untuk memiliki semata.
...The End...
Ah hampir saja aku melupakan sesuatu, kalian mungkin bertanya tanya di mana Viona setelah pertemuan terakhirnya dengan Delvano yang berakhir ricuh, karena Viona yang mendadak merayu Delvano waktu itu. Transaksi gelap yang terus dilakukan oleh Viona mengundang kecurigaan pihak kepolisian terhadap Viona. Sehingga tak selang beberapa lama, pihak kepolisian memutuskan untuk melakukan penggerebekan di kediaman Viona, dari penggerebekan tersebut di temukan 1 kg sabu sabu dan juga beberapa jenis narkotika lainnya, atas penemuan tersebut Viona resmi di tahan oleh pihak kepolisian.
Memang akhir yang tragis untuk sebagian orang, terutama Delvano dan juga Viona, namun tidak kah kalian berpikir bahwa akhir sebuah cerita selalu di peroleh dari bagaimana mereka memulai kisah itu sendiri?
__ADS_1
Terima kasih telah mengikuti kisah Elbara dan juga Akila, sampai jumpa di novel othor yang selanjutnya, see you....