
Beberapa menit kemudian Ana pun telah sampai di rumah sakit.
"Annabel, Ferdi, Tante April..." panggil Ana dan mereka pun segera menoleh ke arah Ana.
"Dina..." lirih Anabel.
"Ooh maaf maksudku Ana?" ucap Anabel kembali.
"Kau..." ucap April.
"Ana..??" ucap Ferdi, yang tak mengerti mengapa perasaannya tak menentu.
"Iya ini aku Ana, Fer..., Bel, Tante April Dan kita bertemu kembali" ucap Ana.
"Ana kenapa kamu tega menghancurkan rumah tanggaku dengan Mas Ferdi.." lirih Anabel.
"Jujur aku senang kamu hidup kembali dan aku harap bisa berteman denganmu tapi kamu berubah, kamu kenapa An seperti ini? kenapa kamu tega menghancurkan rumah tanggaku, hiks" lirih
Anabel. Sedangkan Ana hanya diam saja..
April tak sanggup melihat anaknya yang terus menerus menangis hingga April pun mulai membuka suara.
"Hemm, yasudah silahkan masuk, jenguk Bulan ada di dalam, hanya sebentar ya. Setelah itu kamu boleh pulang." ucap April.
"Loh tunggu, kalian memanggilku ke sini bukan untuk menikahkanku dengan Ferdi?" tanya Ana.
"Ana, ana.. Bukanlah, Kami memanggilmu ke sini untuk menjenguk Bulan bukan untuk menikahkanmu dengan Ferdi." ucap April.
"Iya, kamu harusnya paham soal itu Anabel.
Kami hanya ingin kamu menjenguk Bulan
tak lebih." ucap Anabel.
"Baiklah, kita lihat nanti Bulan akan sulit melepaskanku atau tidak..." ucap Anna yang segera masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Tante Dina.." ucap Bulan yang mulai sadar dan melihat kedatangan Dina.
"Sayang..." ucap Dina yang segera memeluk Bulan.
"Tante, Bulan mohon Tante jangan pergi lagi. Tante tetap di sini ya sama Bulan." ucap Bulan.
"Humm, Tante gak bisa sayang. Karena mereka tidak menyukai kehadiran Tante di sini." ucap Dina.
"Tapi kenapa Tante ?" tanya Bulan.
"Gak bisa sayang, maaf ya.." ucap Dina.
"Kamu nanti bisa tanya ke Ayah atau Bunda ya. Intinya Tante gak bisa lama di sini. Tante hanya bisa menjenguk kamu saja." ucap Dina.
"Baik tante, Bulan padahal masih rindu Tante ." lirih Bulan.
"Tante juga masih rindu Bulan pastinya, tapi terkadang keadaan membuat kita harus terpisah seperti ini." lirih Dina yang segera melepaskan genggaman tangannya kepada Bulan.
"Dina...waktu jengukmu sudah selesai, dan kamu boleh pulang sekarang." ucap April yang tiba tiba
membuka ruangan kamar inap Bulan.
"Enggak, Tante cantik, gak boleh pergi dari ruangan ini. Tante Dina harus tetap di sini " ucap Bulan.
__ADS_1
"Humm, baiklah Tante di sini dulu ya.." ucap Dina.
"Pergilah Dina, tak ada yang mengharapkan kehadiranmu di sini. Kamu di sini untuk menjenguk anak anak gak lebih. Kamu harus ingat itu." ucap April kembali.
"Tolong eyank, jangan usir Tante, Tante ke sini untuk menjenguk Bulan kan? dan Tante mau kan di sini menceritakan Bulan dongeng hingga tertidur. Please Tante." ucap Bulan.
"Baiklah sayang..." ucap Dina.
"Oke, kamu boleh di sini hingga Bulan tertidur setelahnya kamu harus pergi dari sini." ucap April yang kemudian meninggalkan ruangan tersebut.
*********
"Humm Bulan sudah tertidur, aku pamit pulang ya." ucap Dina.
"Ya, pulanglah.." ucap April, dengan nada ketusnya.
"Bentar, terimakasih ya Din uda mau menemani anakku dan mendogenginya." ucap Ferdi.
"Iya sama sama, aku senang kok bisa menemaninya." ucap Dina.
"Aku pamit pulang dulu ya.." ucap Dina, berpamitan.
"Iya Din hati hati ya, sekali lagi terimakasih.. Apa mau aku antar Din?" tanya Ferdi.
"Tidak perlu, terimakasih. Aku bisa pulang sendiri kok." ucap Dina Dan ia pun segera pergi dari ruangan tersebut.
********
Keesokannya....
"Tante Dina di mana?" tanya Bulan.
"Bulan tidak mau makan, kalau ndak di suapi Tante Dina." ucap Bulan Kembali, saat Anabel akan menyuapi Bulan makan tapi Bulan gak mau.
"Makan ya.." ucap Anabel kembali.
"Bagaimana kalau mas telfon kan Dina biar ke sini, menyuapi Bulan makan?" tanya Ferdi.
"Tapi Mas..." ucap Anabel.
"Tidak perlu Ferdi, cukup Anabel menyuapinya, dan mama yakin Bulan Juga akan mau makan kok." ucap April.
"Enggak Bulan gak mau makan kalau bukan tante cantik yang menyuapi." ucap Bulan.
"Mama dengar sendiri kan? sudahlah Ma, kita telfonkan Dina ya. Jangan terlalu mengedepankan ego. Ma, Ferdi mohon.
Demi anak anak... Lagipula Dina ke sini hanya menyuapi Bulan makan, gak lebih. Setelah itu pulang kok. Yang terpenting Bulan mau makan karena yang terpenting saat ini kesehatan Bulan." ucap Ferdi.
"Baiklah, terserah kamu saja Fer.. Tapi Mama sebenarnya tak setuju, ia sekarang dia ke sini nanti pulang, lama lama jika kalian saling nyaman apalagi anak anak, bagaimana jika tiba tiba pernikahan itu benar benar terjadi?" tanya April.
"Ferdi janji dan pastikan pernikahan itu tidak benar benar terjadi." ucap Ferdi.
"Terserah kamu lah.." ucap April kembali.
"Bel, menurutmu bagaimana?" tanya Ferdi.
"Jujur kalau aku sebenarnya sama seperti Mama pendapatku. Yang aku takutkan ini akan membuat kalian semakin dekat begitupun anak anak, dan setelah itu bukan berarti tak menutup kemungkinan kalian akan menikah kan?" ucap Anabel.
"Terus bagaimana? saya terserah kalian saja. Tapi lihatlah kondisi Bulan dan permintaannya. Tapi kalau kalian masih mau dengan ego kalian masing masing, ya silahkan." ucap Ferdi yang terlihat putus asa dan pasrah.
__ADS_1
"Yasudah telfonkan Ana. Kami tunggu.." ucap April.
"Iya Mas..." ucap Anabel kembali.
"Yasudah Mas telfonkan Ana ya.." ucap Ferdi yang segera menelfon Ana.
"Iya sebentar lagi Ana ke sini.." ucap Ferdi.
"Giliran di minta ke sini cepat ya dia, yasudah kami tunggu." ucap April.
Beberapa menit kemudian, Ana pun datang dan segera memasuki ruangan kamar inap Bulan.
"Tunggu.." cegah April saat Ana akan memasuki ruangan tersebut.
"Ada apa Tante...?" tanya Ana.
"Kamu ingat ya, di sini kamu hanya sebentar dan jangan pernah berfikiran atau berharap akan menikahi Ferdi, mantuku apalagi mengambil hati anak anakku karena kamu harusnya sadar posisimu
di sini." ucap April kembali..
Sedangkan Ana sengaja hanya mengangguk dan tidak merespon ucapan April, kemudian ia berlalu memasuki ruangan tersebut.
"Halo sayang kok gak mau makan? makan ya..." ucap Ana
"Minta suap Tante..." ucap Bulan.
"Iya Tante suapin ya.." ucap Ana, yang mulai menyuapi Bulan.
"Alhamdulillah sudah habis..sekarang minum obatnya ya." ucap Ana yang mengambil obat untuk
Bulan minum, dan Bulan pun segera meminum obat tersebut.
"Sekarang istirahat ya..." ucap Ana, yang segera menyelimuti Bulan dan menciumnya. Setelahnya Ana pun keluar ruangan.
"Humm, sudah... aku pamit pulang dulu ya." ucap Ana kepada April, Anabel dan Ferdi saat ia telah keluar dari ruangan tersebut.
"Iya hati hati ya, mau aku antar?....." ucap Ferdi.
"Tidak perlu Fer, dia bisa pulang sendiri." ucap April.
"Benar, tidak usah aku bisa pamit pulang sendiri." ucap Ana dan ia pun kembali pulang.
"Kenapa rasanya sesakit ini di benci oleh mereka?
Apa aku harus membatalkan rencanaku?
Tapi... mereka harus membayar air mata
dan rasa sakitku ini.." ucap Ana lirih dan meninggalkan tempat tersebut.
"Fer saran mama besok tidak perlu kamu jemput Ana lagi. Mama hanya tidak ingin sesuatu yang tidak di inginkan terjadi kembali." ucap April memperingati Ferdi.
Sedangkan Ferdi hanya mengangguk dan Anabel hanya mampu termenung dalam diam dan sesekali mengusap bulir bulir air matanya.
Sungguh ia tak bisa membayangkan akan di madu oleh suaminya dan mantan sahabatnya seseorang yang pernah ia rindukan..
Sungguh Anabel benar benar menyesal pernah merindukan dan menyayangi sosok Ana menjadi sahabatnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
NB : Tolong jangan komen negatif ya tentang cerita ini yang bikin author down.
saya pastikan ini akan happy ending hanya saja aku harus menyelesaikan dulu konfliknya..