Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Part 16


__ADS_3

Suasana meriah dengan tepukan tangan mewarnai penerimaan trophi kemenangan. Dengan di wakili Reihan, trophi itu berpindah tangan. Dengan semangat, Reihan mengangkat trophi itu tinggi-tinggi dan disambut gemuruh tepuk tangan dan siulan yang meriah. Senyum kepuasan terlihat di sudut wajah Reihan dan teman-temannya. Setelah beberapa bulan berkutat dengan latihan yang melelahkan, kini mereka dengan bangga bisa mengangkat kepala dan mempersembahkan satu kebanggaan pada sekolah mereka.


Setelah sesi pemotretan dengan kepala sekolah dan pelatih selesai, Reihan kemudian menemui Lani yang sedang berdiri di sisi lapangan. Dengan senyum kebahagiaan, Reihan berjalan mendekat dan segera memeluk kekasihnya itu. Tanpa mereka sadari, ada beberapa pasang mata yang melihat mereka. Adrian, yang sedari tadi memandangi Lani, tak kuasa menyaksikan pemandangan itu dan perlahan memalingkan wajahnya dan berbalik melangkah pergi. Sementara di tempat lain, Ibunya dan Mutia juga meyaksikan kejadian itu.


"Selamat ya," ucap Lani penuh kebanggaan.


"Apa cuma itu? Aku ingin hadiahku."


"Hadiah apa?"


Reihan kemudian menggenggam tangannya dan pergi meninggalkan kerumunan orang-orang. Sambil bergandengan tangan, mereka menerobos kerumunan itu dan pergi ke salah satu kelas yang masih terbuka.


Dengan mesra, Reihan mempersilakan kekasihnya itu duduk di salah satu bangku panjang yang tergeletak di sudut kelas. Tanpa malu-malu, Reihan kemudian membaringkan tubuhnya di atas bangku panjang itu dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan Lani. Sontak saja, Lani terkejut. "Kamu mau apa?" tanya Lani dengan rona wajah yang mulai memerah.


"Aku capek, biarkan aku berbaring sebentar dipangkuanmu," jawabnya sambil menutup kedua matanya.


"Nanti kalau dilihat orang, bagaimana?" tanya Lani cemas.


"Tidak ada yang melihat, kok. Sebentar saja, kalau capekku sudah hilang, kita langsung pergi dari sini," katanya sambil memainkan jemari tangan kiri kekasihnya itu.


Lani hanya tersenyum melihat tingkah Reihan yang manja. Tatapan Lani tertuju pada seraut wajah yang kini di pangkuannya. Sosok wajah itu begitu menawan dengan sisa peluh di dahinya. Sambil sesekali merapikan rambut lelaki itu yang masih basah karena keringat, Lani menatap wajah itu, wajah yang membuatnya merasa damai.


"Apa aku seganteng itu sampai-sampai kamu terus menatapku seperti itu?" tanya Reihan tiba-tiba. Sontak saja pertanyaan Reihan membuat Lani tersipu malu sambil memalingkan pandangannya ke tempat lain.


"Kenapa menoleh ke tempat lain? Aku suka kamu mengelus rambutku. Aku suka dengan tatapanmu yang memandang wajahku," ucap Reihan masih dengan mata yang terpejam seakan dia tahu kalau Lani sedang menatap ke tempat lain.


"Kamu boleh melihat wajahku sepuasnya, aku tidak masalah, kok," ucapnya dengan senyum di bibirnya.


Lani hanya tersenyum. Dengan lembut, Lani membelai rambut kekasihnya itu perlahan sambil sesekali jemari lentiknya mengelus kening Reihan yang tebal. Hingga tanpa sadar, Reihan sudah tertidur pulas di pangkuannya.


*****


"Lihat Reihan, tidak?" tanya Raka pada beberapa anak yang sedang berkumpul.


"Tidak lihat, Kak," jawab anak-anak itu kompak.


"Kemana sih tuh anak, Lani juga tidak kelihatan," lirih Raka agak kesal.


"Bagaimana, sudah ketemu?" tanya Iva yang juga sedang mencari mereka.


"Belum. Bagaimana nih, mamanya juga sudah menunggu dari tadi."


Hampir setengah jam mereka berkeliling mencari Reihan dan Lani yang seperti hilang ditelan bumi.


"Maaf, Tante. Tunggu sebentar lagi, mungkin Reihan lagi istirahat di suatu tempat. Teman-teman juga masih mencari dia," ucap Rifal pada ibunya Reihan yang sedang duduk ditemani Mutia.


"Iya, tidak apa-apa. Tante akan tunggu."


"Parah si Reihan, sembunyi di mana nih anak, tapi aku penasaran sama cewek yang datang bersama mamanya Reihan. Kira-kira itu siapa, ya? Cewek itu cantik juga," ucap Ian penasaran.


"Mana aku tahu. Lebih baik kita cari Reihan, kasihan mamanya sudah menunggu dari tadi," kata Rendi sambil matanya menyusuri setiap lorong.


"Hei, kenapa kalian di situ? Lagi cari siapa?" tanya Reihan seakan tak punya dosa.


Tiba-tiba saja Reihan dan Lani muncul dari tikungan lorong kelas. Melihat kedua orang yang sedari tadi dicari-cari membuat mereka mendengus jengkel.


"Kalian berdua pergi kemana, sih? Sudah hampir satu jam kita mencari kalian. Sana, temui mama kamu, kasihan mama kamu sudah menunggu dari tadi," ucap Raka sedikit kesal.


"Apa kamu bilang? Mamaku ada di sini?" tanya Reihan sedikit kaget.


"Iya, sudah dari tadi malah sebelum pertandingan dimulai, tapi mama kamu tidak datang sendiri, mama kamu datang sama cewek cantik. Memangnya, cewek itu siapanya kamu?" tanya Raka pelan agar tidak terdenger oleh Lani yang berjalan di belakang bersama Iva.

__ADS_1


Mendengar perkataan Raka membuat Reihan sedikit khawatir. Sambil terus berjalan, pikiran Reihan masih tertuju pada ibunya. "Kenapa mama datang ke sini? Ajak Mutia segala," batinnya dalam hati.


"Tuh Tante, Reihan sudah datang," ucap Rifal sambil menunjuk ke arah Reihan yang baru muncul.


"Dari mana saja kamu? Mama sama Mutia sudah menunggu dari tadi," ucap ibunya kesal.


"Mama kenapa datang ke sini?"


"Bukannya senang Mamanya datang malah bertanya seperti itu? Kamu tidak suka Mama datang ke sini? Kasihan Mutia di rumah sendirian, makanya Mama ajak ke sini sekalian bisa lihat-lihat sekolah ini," jelas ibunya panjang lebar.


"Selamat, ya, kalian hebat. Tante bangga sama kalian. Bagaimana kalau besok kita buat acara kecil-kecilan di rumah Tante buat merayakan kemenangan kalian?" tawar wanita itu pada teman-teman anaknya.


"Boleh juga, Tante. Reihan juga sudah mengajak kita sebelumnya, kok. Iya kan, Rei?" Yang ditanya hanya senyum kecut dan mengangguk pelan.


"Ya, sudah. Kalau begitu, besok sore Tante tunggu di rumah. Kalian boleh mengajak teman kalian, kok."


"Siap, Tante."


"Rei, ayo, Mama ingin bicara sebentar sama kamu," ucap ibunya sambil pergi bersama Mutia.


Sementara Lani hanya bisa menatap kekasihnya itu yang berjalan mengikuti ibunya dari belakang. "Kamu tunggu aku di sini, aku tidak akan lama, kok," ucap Reihan pada Lani sebelum dia pergi mengikuti ibunya.


"Siapa cewek tadi?" Tiba-tiba ibunya bertanya dengan wajah serius.


"Cewek yang mana, Ma?"


"Cewek yang kamu peluk di sisi lapangan tadi?"


"Dia pacar Reihan, Ma," jawab Reihan spontan dengan perasaan was-was.


"Ya, sudah. Kalau begitu, besok ajak dia datang ke rumah, Mama mau kenalan sama dia."


"Benar, Ma. Mama tidak bohong, kan?" tanya Reihan seakan tidak percaya.


"Bagaimana, Mama kamu sudah pulang?" tanya Raka ketika melihat Reihan datang.


"Sudah, mana Lani?" jawab Reihan sambil mencari kekasihnya itu.


"Lagi ke kantin bersama Iva. Eh, cewek yang tadi sama mama kamu itu siapa?" tanya Ian penasaran.


Reihan tidak langsung menjawab, hanya helaan nafas panjang yang terdengar seperti orang yang gelisah. "Namanya Mutia, dia temanku waktu kecil dulu. Untuk sementara, dia akan tinggal di rumahku dan akan sekolah di sini."


"Apa? Tinggal di rumahmu? Wah, bisa bahaya nih."


"Bahaya kenapa?"


"Ya jelas bahayalah. Dia itukan cantik, tinggal serumah sama kamu, hati-hati nanti jatuh cinta, loh."


"Bicara apa, sih. Kamu kira aku akan berpaling dari Lani hanya karena gadis lain?"


"Bukan begitu sih, tapi aku ingatkan ya, jangan coba-coba menyakiti Lani kalau tidak, aku akan marah sama kamu," ancam Raka dan diamini teman-temannya yang lain.


"Lagi membicarakan apa? Kelihatannya  sangat serius?" tanya Iva yang baru saja datang.


"Tidak, kok. Kita sedang membicarakan tentang acara besok," jawab Ian berbohong.


"Bagaimana, besok kita jemput, ya? Kita sama-sama ke rumah Reihan," ucap Raka pada kedua gadis itu. Mereka berdua hanya terdiam seakan mereka malu untuk hadir di acara itu.


"Kalian harus datang, aku dan Raka yang akan menjemput kalian," ucap Reihan seakan ingin mempertegas kesungguhan ucapannya.


Lani terlihat murung. Dia merasa kurang percaya diri untuk datang ke rumah Reihan. Apalagi, ketika melihat gadis cantik yang datang bersama ibunya Reihan membuat dia seakan merasakan sesuatu.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Reihan ketika mereka baru saja sampai di depan gang rumahnya.


"Apa aku juga harus datang?" tanya Lani ragu-ragu.


"Masa pacarku tidak ingin ke rumahku? Kamu tahu, mamaku ingin kamu datang. Katanya sih, mau kenalan sama pacar anaknya," jelasnya dengan senyum.


"Apa itu benar? Kamu tidak berbohong, kan?" tanya Lani seakan tidak percaya.


"Kenapa aku harus berbohong sama kamu? Masuklah, tidak enak dilihat orang. Besok, aku jemput kamu jam dua. Kita jalan-jalan dulu, setelah itu baru kita ke rumahku, oke?" ucap Reihan dengan senyum.


"Baiklah," ucap Lani sambil melangkahkan kaki meninggalkan Reihan yang masih memandanginya.


*****


Reihan sudah menunggu di depan gang sejak hampir jam dua tadi. Tak lama kemudian, Lani muncul dengan balutan gaun selutut berwarna peach dengan rambut yang diikat kuncir dengan jepitan rambut yang disematkan di ikatan rambutnya. Lani terlihat anggun dan manis dengan balutan gaun yang dikenakannya itu. "Wah, pacarku sangat cantik," puji Reihan ketika melihat Lani sudah berdiri di depannya.


"Apa penampilanku berlebihan?"


"Iya, sih," jawab Reihan yang membuat Lani menjadi minder.


"Kelebihan cantik," lanjutnya dengan  tawa kecil yang membuat Lani malu sendiri.


"Kita mau ke mana?" tanya Lani penasaran.


"Sudah, ikut saja."


Setelah menempuh perjalanan hampir lima belas menit, mereka akhirnya tiba di sebuah wahana bermain yang terbilang cukup ternama di kota itu.


Dengan takjub, Lani memandang aneka wahana yang menurutnya sangat ekstrim.


"Kamu mau coba yang mana?"


"Maksud kamu, kita naik itu?" tanya Lani sambil menunjuk ke bianglala yang terlihat besar dan tinggi.


"Kamu mau kita naik itu?"


"Aku tidak mau, aku takut ketinggian," jawab Lani spontan sambil berjalan pergi dari tempat itu.


"Yah, aku pikir kamu akan suka jika aku ajak ke sini, eh, tahunya kamu tidak suka," ucap Reihan sedikit kecewa.


Melihat Reihan yang kecewa karena dia salah memilih tempat untuk berkencan, membuat Lani jadi merasa bersalah. "Aku minta maaf, kalau kamu kecewa soalnya aku takut ketinggian, maaf," ucap Lani sambil menundukkan wajahnya.


"Ya sudah, kita foto-foto saja," ucap Reihan sambil mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.


Selesai foto-foto, mereka kemudian memilih duduk di kursi taman. Dari taman itu, mereka bisa melihat bianglala yang berputar.


"Kamu sering ke sini?" tanya Lani sambil menyantap pop corn yang tadi dibeli.


"Dulu, waktu masih bocah," jawab Reihan dengan santainya.


"Aku saja sudah sebesar ini, baru lihat itu secara langsung," ucapnya sambil menunjuk ke arah bianglala yang masih berputar.


"Aku kampungan, ya? Orang kampung saja pasti sudah pernah naik itu," ucapnya dengan senyum yang dipaksakan.


"Dari kecil, aku hanya tinggal berdua dengan ibu. Aku sudah biasa sendirian ditinggal ibu pergi kerja, jadi aku hanya di rumah dan hanya bisa melihat wahana seperti itu dari layar tv. Walau pernah merengek sama ibu ingin diajak ke tempat bermain, tapi ibu tidak punya waktu," ucapnya dengan wajah yang terlihat sedih.


"Berkat kamu aku jadi bisa lihat bianglala. Kamu tahu, sebenarnya aku ingin sekali mencoba naik itu, tapi entah kenapa sekarang aku malah jadi takut," ucapnya sambil senyum sendiri.


Reihan hanya bisa menatap wajah kekasihnya yang sedari tadi tanpa sadar terus mengoceh hingga membuat Reihan kadang tersenyum sendiri. Baru kali ini, Lani begitu terbuka dengan cerita masa kecilnya, rasa takutnya dan tentu saja perasaannya.


"Rei, apa aku pantas untuk menjadi seseorang yang kamu cintai?" Tiba-tiba saja Lani melontarkan pertanyaan yang membuat Reihan terkejut.

__ADS_1


Reihan terdiam. Perlahan, dia meraih tangan kekasihnya itu dan menggenggamnya erat. "Kamu adalah cinta pertama dan kekasih pertama dalam hidupku. Mungkin kamu tidak percaya, tapi itu kenyataannya. Aku tidak pernah jatuh cinta pada gadis manapun, tapi sejak kamu hadir di kelas waktu itu, aku langsung suka sama kamu," ucap Reihan serius.


Lani tersenyum. Entah apa arti senyumannya itu. Yang jelas, hati dan cintanya sudah terpaut pada sosok yang kini duduk di sampingnya. Walau mungkin saja, banyak halang dan rintang yang menunggu mereka. Dalam hati kecilnya dia berjanji, selamanya dia akan mempertahankan cintanya untuk Reihan terkecuali jika Reihan sudah tidak lagi menginginkannya.


__ADS_2