Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Part 17


__ADS_3

Hampir jam empat sore ketika Reihan dan Lani baru saja sampai di depan halaman rumahnya. Sementara di halaman sudah terparkir motor teman-temannya yang ternyata sudah datang dari tadi.


Sambil berpegangan tangan, mereka memasuki pintu rumah dan disambut dengan celoteh teman-temannya.


"Kalian berdua kemana saja, sih? Ditunggu dari tadi tidak muncul-muncul, ditelepon malah tidak diangkat. Memangnya, kalian habis dari mana?" tanya Rifal agak kesal.


"Jangan-jangan, kalian pergi pacaran dulu ya?" tanya Raka yang sepertinya membuat Mutia yang sedari tadi ikut bergabung bersama mereka terlihat sedikit cemburu.


"Jangan digoda terus. Lan, ayo sini," panggil Iva yang lagi asyik duduk di sofa tamu.


"Jangan di sini, kita ke basecamp saja," ajak Reihan sambil pergi menuju basecamp di samping rumah mereka.


Tak lama kemudian, ibunya Reihan datang sambil membawa aneka kue dan minuman. "Nih, buat kalian. Tante bisa minta tolong tidak?"


"Minta tolong apa, Tante?"


"Tolong jaga Mutia. Hari senin nanti dia sudah masuk ke sekolah kalian. Tante harap, kalian mau menjaga dia dan berteman sama dia. Satu hal lagi, kalau Reihan cuek sama dia, lapor saja ke Tante, oke?" ucap wanita itu sambil berdiri di samping Mutia.


Teman-temannya hanya bisa mengangguk pelan, mereka bingung mau jawab apa. Sementara Lani, turut mengiyakan perkataan wanita itu tanpa curiga sedikitpun.


Ternyata, Mutia sangat cepat akrab dengan mereka. Terlihat dengan jelas ketika mereka bercengkrama, seakan mereka sudah saling mengenal sejak lama. "Hai, boleh aku ikut bergabung?" tanya Mutia yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Lani dan Reihan yang sedang duduk bersama.


"Boleh," jawab Lani dengan senyum.


"Perkenalkan, namaku Mutia. Kamu pasti Lani, kan, pacarnya Reihan?" Lani hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya sekedar mengiyakan.


"Reihan sudah cerita tentang aku belum?" tanya Mutia sambil duduk di samping Reihan.


"Belum."


"Kamu kenapa tidak cerita tentang masa kecil kita dulu? Kamu ingat tidak waktu si Hary mau menggangguku, kamu mati-matian membelaku walau akhirnya kamu dihajar sama dia, ingat tidak?" tanyanya pada Reihan. Yang ditanya hanya mengangguk, sedangkan Lani hanya tersenyum mendengar cerita Mutia.


Begitu banyak kisah yang diceritakan Mutia sampai membuat Reihan menjadi bosan. "Sebentar, ya. Kami berdua pergi dulu, ada yang ingin aku bicarakan dengan pacarku," ucap Reihan sambil meraih tangan Lani dan meninggalkan Mutia sendiri. Tampak ekspresi marah dan jengkel terlihat di wajahnya. Walau begitu, dia dengan mudah bisa menutupi ekspresi marahnya itu.


"Kita mau ke mana?"


"Aku akan memperkenalkanmu sama mama."


"Tapi, aku..."


"Jangan takut, ada aku kok," ucap Reihan berusaha menenangkan kekasihnya itu.

__ADS_1


Di dalam rumah yang megah dan mewah, Lani duduk terdiam di kursi sofa yang berjejer rapi. Lani menatap sekitar, sejurus dia menghela napas. "Ruang tamu ini sama besarnya dengan rumahku," batinnya dalam hati.


Tak lama kemudian, Reihan muncul bersama ibunya. Dengan senyum, Lani menjabat tangan wanita itu sambil memperkenalkan diri. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan polesan bedak dan pemerah bibir yang tidak terlalu mencolok.


"Kalian sudah pacaran berapa lama?" tanya ibunya penasaran.


"Baru dua bulanan, Tante."


"Oh, baru dua bulan, toh."


"Orang tua kamu, kerja di mana?"


Lani tidak menyahut. Jantungnya berdegup kencang. "Ayahku sudah tidak ada. Sementara ibu, hanya bekerja di warung," jawabnya sedikit gemetar.


"Oh, jadi begitu."


Sejenak Ibunya terdiam, entah apa yang sedang dipikirkannya. Tatapannya mengarah tajam ke arah Reihan. "Ya, sudah. Kamu pergi dulu ke basecamp, Tante ingin bicara sebentar dengan Reihan."


"Baik, Tante. Permisi," ucap Lani sambil melangkah keluar. sementara Reihan masih berdiri di samping ibunya.


"Duduk." Perintah ibunya dengan ekspresi wajah yang terlihat serius.


"Selama ini, Mama tidak pernah minta yang macam-macam sama kamu. Kamu tahu kenapa Mutia tinggal di sini? Itu karena kalian berdua sudah dijodohkan."


"Kamu itu sudah dijodohkan dengan Mutia sejak kalian masih kecil. Mama selama ini tidak pernah menanyakan soal pacar ke kamu karena Mama yakin, kamu tidak akan pacaran tanpa seizin Mama," ucap ibunya dengan nada suara yang mulai meninggi.


"Dan di depan banyak orang, kamu memeluk gadis itu. Apa kamu pikir Mama tidak melihat tingkahmu itu? Dan kamu membuat Mama harus menunggu hampir satu jam hanya karena kalian sedang pacaran. Kamu harusnya sadar, gadis itu tidak pantas buat kamu, dia hanya gadis miskin."


"Cukup, Ma. Selama ini Reihan tidak pernah membantah apapun perintah Mama. Namun kali ini, Reihan tidak bisa, Ma. Reihan mencintai Lani," ucapnya dengan mata yang mulai memerah.


"Lebih baik kamu selesaikan urusanmu dengan gadis itu. Mama tidak mau dengar alasan apapun," ucap ibunya sambil pergi meninggalkan Reihan yang masih duduk terpaku.


Reihan terdiam. Air mata yang coba dia tahan, akhirnya jatuh. Sekuat apapun tembok pertahanannya, akhirnya runtuh. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Sekilas, terbayang wajah Lani di pelupuk matanya. Akankah dia harus menyimpan dan menanggungnya seorang diri.


Kini, dia seakan berdiri diantara dua tebing yang curam. Dia tidak ingin menyakiti orang yang dicintainya dan dia juga tidak ingin melukai orang yang disayanginya. Pikirannya kacau, entah apa yang akan dia lakukan.


Sementara di dalam basecamp, Lani sedang bercanda dengan teman-temannya, walaupun pikirannya tertuju ke tempat lain.


"Kamu kenapa?" tanya Iva penasaran karena sikap sahabatnya itu seakan mencemaskan sesuatu.


"Tidak, kok. Aku hanya ... " Melihat Reihan muncul dari balik pintu membuat dia menghentikan ucapannya dan segera menemui kekasihnya itu. "Bagaimana? Apa kata Mama kamu tentang aku?" tanya Lani penasaran.

__ADS_1


"Katanya, kamu cantik," jawab Reihan berbohong. Mendengar jawaban Reihan membuat Lani sedikit lega. Dia takut kalau dia akan ditolak oleh Ibunya kekasihnya itu.


Hari mulai malam dan mereka segera pamit pulang. Selama perjalanan, Reihan banyak diam. Pikirannya bingung, hatinya mulai kalut tatkala membayangkan jika Lani harus merasakan kecewa dan sakit hati karena dirinya.


Bagaimana dengan janjinya untuk selalu menjaga dan melindungi Lani yang kini harus kandas karena perjodohan yang sama sekali tidak diketahuinya.


Mungkinkah dia sanggup melihat Lani yang harus menitikkan air mata karena dirinya? Perlahan, Reihan melingkarkan tangan kekasihnya itu di pinggangnya seakan dia ingin mengisyaratkan, agar Lani tidak melepaskan dirinya. Dia ingin, Lani memperjuangkan cintanya dan dia pasti akan tetap memperjuangkan cintanya untuk Lani.


*****


"Rei, ayo sarapan," panggil ibunya dari bawah.


Tak lama kemudian, Reihan sudah terlihat turun dari tangga. Dengan pakaian sekolah yang sudah lengkap, dia kemudian pamit pada kedua orang tuanya. "Pa, Ma, aku pergi dulu," ucapnya sambil pergi meninggalkan ruang makan dan menuju halaman di mana motornya terparkir.


"Rei, sarapan dulu. Tunggu Mutia dong, Rei ...," teriak ibunya yang sama sekali tidak digubrisnya.


"Anak itu kenapa?" tanya ayahnya penasaran.


Ibunya hanya terdiam. Melihat sikap anaknya seperti itu membuat hatinya sedikit kecewa.


"Tidak apa-apa, Tante. Nanti Mutia ke sekolah naik taksi saja, tidak masalah, kok."


"Tidak usah, biar Mang Diman saja yang antar kamu ke sekolah. Kamu yang sabar ya, nanti Tante akan bujuk Reihan biar kalian bisa sama-sama ke sekolah."


Lani dan Iva baru saja turun dari angkot ketika Reihan baru saja memarkirkan motornya. Melihat Lani, sontak saja Reihan mendekatinya dan mengambil tas yang tergantung di bahu Lani dan membawanya. Lani hanya tersenyum melihat kebiasaan kekasihnya itu dan memilih berjalan di sampingnya. Entah mengapa, Lani merasa aman dan nyaman jika berada di sisi kekasihnya itu.


"Dasar, kebiasaan kamu," ucap Iva ketika melihat Reihan membawa tas sahabatnya itu.


"Kenapa? cemburu?" tanya Reihan mengejek.


"Tuh, pacar kamu sudah menunggu," lanjutnya sambil memandang ke arah parkiran di mana Raka sudah menunggu dari tadi.


Bel masuk berbunyi. Murid-murid yang sedari tadi di luar, perlahan mulai masuk ke kelas mereka masing-masing. Suasana yang awalnya gaduh kini mulai terlihat hening. Satu persatu, guru mata pelajaran di jam pertama sudah mulai hadir di dalam kelas untuk menunaikan tugasnya. Terkecuali, kelas Reihan yang masih gaduh karena belum hadirnya guru.


"Bu Mira, kebiasaan selalu terlambat," tukas salah satu murid yang mengeluh karena wali kelasnya itu belum juga datang.


Tak sampai lima menit, Bu Mira sudah datang dengan seorang gadis cantik yang mengikutinya dari belakang.


Setelah melontarkan berbagai alasan perihal keterlambatannya, Bu Mira mulai memperkenalkan gadis yang sedari tadi berdiri di sampingnya.


"Hai, perkenalkan. Namaku Mutiara Putri Wijaya, teman-teman boleh memanggilku Mutia, salam kenal," ucap gadis itu dengan senyum yang terpancar dari bibirnya. Wajahnya yang cantik sontak saja menarik perhatian cowok-cowok yang ada di kelas itu, terkecuali Reihan dan Raka.

__ADS_1


"Sekarang kamu boleh duduk," ucap Bu Mira sambil menunjukan tempat duduknya.


Melihat Mutia, ekspresi wajah Reihan berubah. Entah kenapa dia tidak menyukai gadis itu. Sementara Mutia, melayangkan senyumnya untuk Lani dan Iva. Entah, apa makna dari senyumannya itu.


__ADS_2