Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Butuh sandaran


__ADS_3

"Maaf..." ucap Akila dengan nada yang bergetar.


Delvano yang mendengar permintaan maaf istrinya sama sekali tidak menanggapinya dan langsung melenggang pergi begitu saja tanpa memakan sarapannya terlebih dahulu.


Setelah kepergian Delvano dari sana, Akila lantas luruh begitu saja ke lantai sambil menatap kepergian suaminya dengan tatapan yang nanar.


Rasa sakit di jari tangannya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit yang kini semakin melebar di hatinya.


"Apakah aku ini sebuah barang bagi mu mas?" ucap Akila sambil menatap kosong ke arah depan menatap bekas kepergian Delvano.


Air mata Akila menetes begitu saja ketika melihat jari tangannya yang terluka akibat gigitan dari Delvano tadi, ditatapnya dengan sendu jari tangannya kemudian terisak dalam tangisnya.


"Akankah aku bahagia ketika mengikuti kata hatiku? Elbara bahkan menawarkan kebebasan, tapi aku malah dengan bodohnya memilih Delvano dan berharap bahwa pria itu suatu saat akan berubah menjadi lebih baik, namun nyatanya segala impian ku telah pupus ketika kian hari sikap suami ku tetaplah sama, Delvano yang dulu dengan Delvano yang sekarang tetaplah sama..." ucap Akila dengan nada yang terisak tak kuasa menahan air matanya yang mengalir begitu saja membasahi pipinya.


**


Ruangan kantor Elbara di Hotel Star


Arga yang tengah menyiapkan beberapa dokumen di meja Elbara, lantas di kejutkan akan kehadiran Elbara yang tiba tiba memasuki ruangan kerjanya.


"Tuan..." panggil Arga ketika melihat kedatangan Elbara barusan.


Elbara yang mendengar panggilan tersebut, lantas langsung menoleh ke arah Arga sekilas.


"Ada apa dengan lingkaran hitam di sekitaran mata mu itu? apa kau semalam habis meronda?" tanya Elbara dengan nada yang santai, tanpa menyadari sama sekali bahwa Arga begini juga karena ulah dari Elbara dan juga Viona yang selalu saja mengganggu waktu tenang Arga.


"Iya tuan, saya semalaman mencari suami orang yang hilang hampir di seluruh Ibu kota namun tidak kunjung bertemu juga." ucap Arga sambil menahan rasa kesalnya agar tidak meledak begitu saja, mengingat Elbara adalah bosnya saat ini. Sungguh tidak mungkin bukan jika Arga meluapkan kekecewaannya pada Elbara? yang ada nanti malah ia yang kena pecat oleh Elbara.


"Kau menyindir ku Ar?" ucap Elbara dengan nada yang menelisik karena ia tahu bahwa Arga tengah kesal kepadanya saat ini.

__ADS_1


"Tentu saja tidak tuan hahaha..." ucap Arga sambil tertawa dengan tiba tiba yang lantas membuat Elbara mengernyit dengan bingung.


"Terserah apa katamu!" ucap Elbara dengan memutar bola matanya jengah.


Sebuah deringan ponsel milik Elbara mendadak membuyarkan pembicaraan keduanya, membuat Elbara lantas langsung mengambil ponselnya dan mengusap ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.


"Halo" ucap Elbara.


"El..." ucap suara di seberang sana dengan nada suara yang serak seperti habis menangis, membuat Elbara, lantas bangkit dari posisi sandarannya dengan tatapan yang terkejut ketika ia mendengar suara yang tak asing pada pendengarannya.


"Akila" ucap Elbara kemudian yang lantas membuat Arga yang berada di hadapannya ikut menatap dengan penasaran ke arah Elbara.


Elbara yang melihat Arga masih berdiri di depannya, lantas langsung mengisyaratkan Arga agar keluar dari sana dan memberinya ruang untuk berbicara. Arga yang melihat kode tersebut, lantas langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Elbara.


"Ada apa dengan nada suara mu Ki? apakah terjadi sesuatu?" tanya Elbara kemudian dengan penasaran.


"Bisakah kita bertemu, aku... aku benar benar tidak tahu lagi harus bagaimana saat ini." ucap Akila dengan nada yang lirih.


"Taman terbuka hijau, bisakah kamu ke sana?" tanya Akila dengan nada yang ragu ragu.


"Tentu saja" ucap Elbara.


Setelah pembicaraan singkat tersebut panggilan telpon keduanya lantas terputus begitu saja, membuat Elbara menatap ke arah layar ponselnya.


"Apakah Delvano membanting kembali ponselnya?" ucap Elbara bertanya tanya ketika melihat Akila melakukan panggilan melalui telpon rumahnya.


Elbara yang tidak mau berpikir terlalu lama, lantas langsung bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kantornya.


"Tuan anda mau ke mana?" tanya Arga ketika berpapasan dengan Elbara di lorong kantornya.

__ADS_1


"Aku akan pergi sebentar, hari ini agenda ku kosong bukan? telpon saja aku jika ada sesuatu yang penting." ucap Elbara sambil terus melangkahkan kakinya melewati Arga begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Arga terlebih dahulu.


"Mau kemana lagi dia? waduh alamat istrinya meneror aku nih..." ucap Arga sambil menatap kepergian Elbara hingga menghilang dari pandangannya.


***


Taman terbuka hijau


Setelah memarkirkan mobilnya, Elbara langsung melangkahkan kakinya memasuki area taman dengan langkah yang bergegas. Hingga kemudian langkah Elbara, lantas terhenti ketika melihat Akila tengah duduk di bangku taman menatap ke arah sungai buatan dengan tatapan yang termenung kosong ke arah depan.


"Apa kamu sudah lama di sini?" tanya Elbara kemudian sambil mendudukkan dirinya di sebelah Akila.


Akila yang mendengar suara Elbara, lantas langsung mendongak menatap ke arah Elbara sambil tersenyum dengan tipis. Akila benar benar terlihat kacau saat itu dengan mata yang sembap dan berkaca kaca.


"Apa ada sesuatu yang terjadi Ki?" tanya Elbara ketika melihat penampilan Akila yang seperti itu.


"Bolehkah aku meminjam bahu mu sebentar saja? ku mohon..." ucap Akila kemudian.


"Kemarilah Ki... bahu ku selalu terbuka lebar untuk mu." ucap Elbara kemudian yang lantas di balas Akila dengan anggukan kepala.


"Terima kasih" ucap Akila sambil menyandarkan kepala pada bahu Elbara dan melingkarkan kedua tangannya dengan erat pada lengan Elbara.


Elbara yang tahu Akila sedang tidak baik baik saja, lantas dengan spontan mengusap rambut Akila dengan lembut dan memposisikan kepalanya miring ke arah bahunya.


"Menangis lah Ki... aku akan menjagamu di sini... menangis lah sepuas hati mu." ucap Elbara sambil menghentikan telapak tangannya tepat di wajah Akila seakan hendak menutupi wajah Akila jika memang ia ingin menumpahkan air matanya.


Mendapat perlakuan tersebut Akila langsung menangis sejadi jadinya, semua air matanya jatuh satu persatu membasahi pipinya. Akila butuh tempat untuk bersandar dan Elbara adalah tempat yang tepat karena hanya Elbara yang selalu ada untuknya.


Dengan sesenggukan Akila memeluk erat bahu Elbara sambil terus menangis lagi dan lagi. Hingga kemudian Elbara yang juga seperti ikut merasakan rasa sakit Akila, lantas langsung menarik tubuh Akila dan membawanya ke pelukan Elbara. Didekapnya dengan erat tubuh wanita itu ke dalam pelukannya, Akila adalah satu satunya wanita yang bisa membuat hati Elbara seakan porak poranda tanpa arah dan tujuan.

__ADS_1


Akila telah berhasil masuk ke dalam pintu hati Elbara tanpa harus melakukan sesuatu apapun untuk memancing Elbara agar memberikan kunci untuk masuk ke dalam hatinya.


Bersambung


__ADS_2