
Lani baru saja terbangun saat jam menunjukan pukul lima pagi. Setelah selesai sholat subuh, Lani mulai menyiapkan sarapan.
"Ma, ayo kita sarapan," panggil Lani sambil mengetuk pintu kamar ibunya.
"Mama kenapa? Mama sakit?" tanya Lani khawatir ketika melihat wajah ibunya yang terlihat pucat.
"Tidak usah khawatir, mungkin Mama lagi masuk angin."
"Kalau begitu, Lani tidak usah ke sekolah dulu, Lani akan menemani Mama di rumah."
"Tidak usah, kamu ke sekolah saja. Sebentar lagi sudah ujian awal semester, jadi kamu harus ke sekolah. Mama tidak apa-apa, kok," ucap ibunya mencoba menenangkannya.
"Tapi, Ma..."
"Ayo, cepat sarapan. Kalau tidak kamu bisa terlambat."
Melihat kondisi ibunya yang sakit seperti itu, membuat Lani menjadi khawatir, tapi ibunya bersikeras agar dia tetap pergi ke sekolah.
"Aku ke sekolah dulu, Ma. Mama tidak apa-apa kan aku tinggal sendiri?" tanya Lani sedikit khawatir.
"Jangan khawatir, percaya deh sama Mama."
Walaupun dia khawatir dengan keadaan ibunya, tapi dia harus tetap ke sekolah. Dan rasa khawatir itu telah membuat dia menjadi gelisah.
"Kamu kenapa? Dari tadi aku lihat kamu sepertinya gelisah?" tanya Iva penasaran saat mereka baru saja naik angkot.
"Ibuku sedang sakit, aku khawatir karena tidak ada yang menemaninya di rumah," ucapnya sedih.
"Jangan khawatir. Sebaiknya, kamu berdoa saja semoga pulang nanti ibumu sudah sembuh," ucap Iva mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Amin. Terima kasih, Va."
Setibanya di sekolah, Raka sudah menunggu mereka. Kebiasaan yang sering dilakukan Reihan saat masih bersamanya dulu, tapi itu sudah tidak lagi karena setiap hari, Reihan terlihat datang dan pulang sekolah bersama Mutia dan itu sudah menjadi pemandangan biasa baginya.
"Sana, temui Raka, kasihan dia pasti sudah menunggumu dari tadi."
"Tidak perlu, kita kan bisa jalan sama-sama."
"Sudah, sana aku tidak mau jadi obat nyamuk," canda Lani sambil pergi meninggalkannya.
"Hai, selamat pagi." Sontak saja Lani terkejut mendengar sapaan itu yang ternyata adalah Adrian yang sudah berjalan di sampingnya.
"Pagi. Kebetulan, aku baru saja mau cek motor kamu," ucap Lani sambil menunjuk ke arah pos satpam.
"Tidak usah, tuh," ucap Reihan sambil menunjuk sebuah motor yang sudah terparkir di halaman parkiran.
"Terima kasih, ya," ucap Adrian dengan senyum.
"Untuk apa? Perasaan dari kemarin kamu bilang terima kasih terus."
"Untuk semuanya, terima kasih," ucap Adrian dengan senyum di bibirnya.
"Sekali lagi bilang terima kasih, kamu akan aku tinggal," ancam Lani dengan wajah kesal yang di buat-buat.
"Iya, iya," ucap Adrian sambil tertawa kecil.
Tanpa mereka berdua sadari, keakraban mereka menarik perhatian semua orang, termasuk Reihan dan juga sahabatnya.
"Apa aku tidak salah lihat?" tanya Ian seakan tidak percaya dengan penglihatannya barusan.
"Sejak kapan Lani sedekat itu sama Adrian?" tanya Rifal tak kalah kaget.
Tak hanya mereka, Riana juga merasa heran dengan kedekatan kakak sepupunya itu dengan gadis yang paling dibencinya.
"Sejak kapan Kakak mulai dekat dengan Lani?" tanya Riana penasaran saat dia datang ke kelas Adrian.
"Kenapa? Apa Kakak harus ijin dulu ke kamu untuk dekat dengan seseorang?"
"Kakak boleh dekat dengan gadis manapun, tapi kenapa harus Lani?" ucapnya sedikit emosi.
__ADS_1
"Karena Kakak mencintai dia, puas," jawaban Adrian sontak saja membuat Riana kaget. Selama ini, dia pikir Adrian hanya main-main dengan perasaannya pada Lani, tapi dia tidak menyangka kalau Adrian benar-benar mencintai gadis itu.
"Kakak bercanda, kan? Kakak tahu kalau dia itu baru putus sama Reihan dan sekarang Kakak dekat dengan dia. Kakak hanya ingin membuat Reihan cemburu, iya, kan?"
"Sudahlah, percuma juga Kakak jelaskan panjang lebar ke kamu. Intinya, mulai sekarang Kakak tidak ingin kamu mengganggu Lani lagi kalau tidak, Kakak tidak akan pernah memaafkanmu, paham!"
Riana sangat kecewa dengan keputusan Adrian. Terlebih lagi, dia semakin benci dengan Lani karena sudah berhasil merebut dua orang yang sangat disayanginya.
"Rei, kenapa kamu melamun?" tanya Raka ketika melihat Reihan duduk termenung seakan sedang memikirkan sesuatu.
"Rei," panggil Raka yang sontak saja membuat Reihan terkejut.
"Kenapa? Aku tidak tuli," ucap Reihan sedikit kesal.
"Kamu kenapa, sih? Aku panggil dari tadi kok tidak dengar, kamu lagi memikirkan apa?"
Reihan tidak menjawab. Pikirannya seakan buntu. Dia masih teringat saat melihat Lani dan Adrian tadi. Dan perasaan cemburu kini sedang manghantuinya. Betapa hatinya sakit melihat kedekatan mereka.
"Sejak kapan mereka jadi sedekat itu?" batin Reihan penasaran.
Belum hilang rasa penasarannya, tiba-tiba saja Adrian masuk ke kelas mereka dan berdiri di depan tempat duduk Lani.
"Ayo, kita ke perpustakaan," ajak Adrian pada Lani.
"Ayo," jawab Lani mengiyakan. Mereka berdua kemudian keluar dari kelas dengan tatapan anak-anak yang heran kepada mereka.
Bukan hanya Reihan, tapi Iva juga kaget dengan kedekatan mereka.
"Lan, kamu mau ke mana?" teriak Iva yang melihat Lani pergi dengan Adrian.
"Aku ke perpustakaan sebentar."
Pemandangan yang sungguh membuat Reihan sakit hati. Rasa cemburu yang terlalu dalam membuat dia lupa kalau hubungan mereka sudah berakhir.
"Ada apa, kok tiba-tiba ajak aku ke perpustakaan?"
"Temani aku cari buku. Bisa, kan?"
"Aku tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi dan aku masih ingin hidup lebih lama karena ada seseorang yang ingin aku bahagiakan," ucapnya serius.
Lani paham dengan arti ucapan Adrian, tapi dia berusaha untuk tidak menanggapinya dengan serius.
"Tidak usah pikirkan kebahagiaan orang lain, pikirkan saja kebahagiaanmu."
"Aku akan bahagia bila orang yang aku sayang juga bahagia," ucap Adrian dengan wajah yang serius.
"Sudah, ah. Cepat cari bukunya, nanti kita dimarahi sama guru piket," ucap Lani mencoba mengalihkan pembicaraan
"Pinjam buku sebanyak ini, memang ada tugas apa?" tanya Lani penasaran.
"Tidak ada."
"Lalu, buat apa buku sebanyak ini?"
"Buat aku belajar. Sudah lama aku tidak serius belajar, sekarang aku punya impian kalau aku ingin lulus dengan nilai baik dan aku tidak ingin membuatmu kecewa kalau sampai aku tidak lulus," jelasnya dengan serius.
"Semangat, ya. Aku senang kamu mau berubah," ucap Lani dengan senyum di bibirnya.
"Terima kasih, itu semua karena kamu," jawab Adrian yang membuat Lani tertunduk malu.
Tiba-tiba saja langkah mereka terhenti karena Reihan sudah berdiri di depan mereka. Bukan itu saja, Reihan perlahan mendekati Lani dan menarik tangannya untuk segera pergi dari tempat itu.
"Kamu mau apa?" tanya Lani sambil berusaha melepaskan tangannya.
"Sejak kapan kamu dekat dengan ****** itu, hah?" teriak Reihan yang sontak saja membuat Lani terkejut.
"Itu urusanku, dan Adrian itu bukan ******," jawab Lani sambil berusaha melepaskan cengkraman tangannya.
"Oh, jadi kamu suka sama ****** itu?" tanya Reihan dengan emosi.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih? Lepaskan tanganku, sakit," ucap Lani sambil memegang tangannya yang mulai terasa sakit karena cengkraman Reihan.
"Lepaskan dia." Tiba-tiba saja Adrian datang dan melepaskan tangan Reihan dan berdiri pas di depannya dan Lani dibiarkan berdiri di belakangnya.
"Kalau kedekatan kami jadi masalah buat kamu, bicara padaku jangan perlakukan Lani seperti ini," ucap Adrian tegas.
"Jangan ikut campur," jawab Reihan sinis.
"Sudahlah, kita pergi dari sini," ucap Lani sambil menarik tangan Adrian untuk segera pergi dari tempat itu.
"Aku tidak menyangka, ternyata kamu bisa berubah secepat itu," ucap Reihan sinis pada Lani.
"Rei, sudahlah. Tidak enak kita dilihat sama anak-anak," ucap Raka yang baru saja datang.
Pertengkaran mereka sudah menarik perhatian anak-anak yang ada di tempat itu. Terlebih lagi, Mutia yang merasa cemburu karena melihat Reihan yang ternyata masih menyukai Lani.
"Tangan kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Adrian sambil melihat pergelangan tangan Lani yang memerah.
"Tidak apa-apa. Maaf, aku tidak menyangka akan terjadi seperti ini," ucap Lani dengan wajah sedih.
"Tidak masalah, aku yang harusnya minta maaf. Kalau tadi aku tidak mengajakmu, mungkin Reihan tidak akan semarah itu. Aku mengerti perasaannya, mungkin dia masih mencintaimu," jelas Adrian.
"Walaupun itu benar, aku tidak mungkin bisa kembali padanya. Aku sudah berjanji pada ibunya untuk menjauhinya dan aku akan berusaha untuk melepaskan dia." Tanpa sadar, Lani sudah membuka isi hatinya dengan tetesan air mata yang perlahan mulai jatuh di pelupuk matanya.
"Maaf, maksudku..."
"Tidak masalah. Aku paham perasaanmu, walau aku tahu mungkin saja aku tidak punya kesempatan untuk mendapatkan sedikit saja cintamu, tapi aku siap menjadi tempat pelarianmu. Aku tidak masalah jika kamu hanya pura-pura mencintaiku. Aku tidak peduli dengan orang-orang yang akan mencibirku karena mencintaimu, karena aku benar-benar sayang padamu," ucap Adrian lembut sambil menghapus air mata Lani yang perlahan jatuh di pipinya.
"Aku tidak masalah walau hatimu masih mencintai Reihan, asalkan kamu selalu ada disisiku, maka aku akan membohongi hatiku dan meyakinkan diriku kalau kamu mencintaiku," ucap Adrian sungguh-sungguh.
"Aku akan selalu menunggu hingga kamu benar-benar mencintaiku," lanjutnya dengan senyum.
Lani terdiam. Semua ucapan Adrian menusuk hatinya. Mungkinkah seorang Adrian benar-benar tulus mencintainya? Apa mungkin semua ucapan yang pernah dikatakan Adrian waktu itu juga adalah kebenaran dari hatinya? Lani tertunduk. Entah apa yang harus dia lakukan. Dia bingung dengan perasaannya.
Reihan, orang yang pernah mengisi hatinya dengan cinta dan membuat dia mengenal cinta, walau akhirnya cinta itu harus kandas dan membuat dia terluka. Sementara Adrian, seseorang yang pernah menyakitinya karena terobsesi dengan cintanya dan kini telah menawarkan sejuta cinta untuknya, walau sebenarnya cintanya masih terlalu besar untuk Reihan.
"Ayo, aku antar kamu ke kelas," ucapan Adrian membuyarkan lamunannya.
"Tidak usah, lebih baik kamu balik saja ke kelasmu, aku tidak ingin kamu..." Belum sempat Lani menyelesaikan perkataannya, Adrian sudah menarik tangannya dan berjalan menuju ke kelasnya.
"Masuklah," ucap Adrian ketika berdiri di depan pintu kelasnya.
"Sebentar pulang sekolah aku tunggu, oke," ucap Adrian dengan senyum dan tentu saja Lani mengangguk mengiyakan ucapannya itu.
Semua mata tertuju ke arahnya. Suara cibiran dan bisik-bisik mulai terdengar, tapi dia berusaha untuk tidak memperdulikan.
"Kamu punya hubungan apa sama Adrian?" Iva yang tak kalah penasaran mencoba untuk bertanya.
"Kami berteman," jawab Lani datar.
"Teman? Apa kamu lupa perlakuan dia ke kamu waktu itu?"
"Aku sudah memaafkannya,"
"Maaf? Jangan bilang kalau kamu mendekati Adrian hanya karena ingin menyakiti Reihan, itu tidak benar, kan?" tanya Iva yang sontak saja membuat Lani meradang.
"Aku mau berteman dengan siapapun, itu urusanku. Kenapa kamu tidak suka aku dekat dengan Adrian? Apa karena aku miskin jadi tidak boleh berteman dengan dia yang notabene adalah orang yang kaya raya?" jawab Lani dengan emosi.
"Apa suatu hubungan akan berjalan baik kalau keduanya sama-sama orang kaya?" lanjutnya dengan wajah yang memerah.
"Bukan begitu maksudku," ucap Iva dengan rasa bersalah.
"Kenapa kalian bertengkar? Sudahlah. Jangan karena hal sepele, persahabatan kalian jadi hancur," ucap Raka mencoba untuk menenangkan mereka.
"Apa kamu juga ingin menyalahkanku? Aku pikir, kalian mengerti perasaanku. Kalian tidak suka aku dekat dengan Adrian, tapi kenapa kalian tidak mengatakan apapun ketika Reihan dekat dengan Mutia," ucapan Lani seakan menohok mereka. Iva dan Raka terdiam. Sedangkan Reihan yang mendengar perkataan Lani hanya bisa mengepalkan tangannya karena menahan amarah.
"Dasar perempuan tidak tahu malu. Aku tidak akan membiarkanmu dekat dengan Kak Adrian," batin Riana ketika melihat pertengkaran mereka.
Lani berusaha menahan tangisnya. Dia tidak ingin terlihat lemah. Sudah cukup perasaannya diaduk-aduk karena menahan cemburu. Selama ini, dia berusaha menahan cemburu ketika melihat Mutia yang tak henti mendekati Reihan dan bersikap manja padanya. Sudah cukup dia dihina karena kemiskinannya. Dia tidak akan peduli dengan mulut nyinyir yang membicarakannya karena dekat dengan Adrian, karena kali ini dia tidak akan mengalah lagi.
__ADS_1
Dan satu hal yang membuat dia akan menerima Adrian, karena Adrian benar-benar tulus mencintainya. Walau dia sadar, di hatinya rasa itu belum ada.