Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Resmi bercerai


__ADS_3

Pengadilan


Dari dalam ruang pengadilan terlihat Elbara dan juga Viona berjalan keluar dari ruang pengadilan.


Elbara melangkahkan kakinya dengan santai keluar dari ruangan tersebut sambil membawa map yang berisi Sertifikat Cerai yang menandakan antara Elbara dan juga Viona kini telah resmi bercerai.


Viona yang sebenarnya tidak ingin melakukan hal ini, lantas mencebikkan bibirnya mulai dari awal persidangan hingga persidangan berakhir.


"Jika bukan karena harta gono gini yang di tawarkan oleh Elbara, aku tidak akan pernah ingin bercerai dengannya. Huh benar benar menyebalkan!" ucap Viona dalam hati sambil terus menatap punggung Elbara yang kini tengah berjalan di hadapannya.


Elbara yang teringat sesuatu lantas menghentikan langkah kakinya dan berbalik badan menatap ke arah Viona, membuat Viona menjadi kebingungan akan gerakan mantan suaminya itu.


"Arga akan datang ke mansion untuk membereskan beberapa pakaian ku, sedangkan untuk yang lainnya termasuk perabot dan fasilitas di dalam mansion kamu boleh memilikinya." ucap Elbara kemudian kembali meneruskan langkah kakinya.


Viona yang melihat kepergian Elbara dari sana, lantas langsung menggenggam tangan Elbara berusaha menghentikan langkah kaki pria itu yang kini sudah berstatus menjadi mantan suaminya.


"Apakah kita tidak bisa memulainya kembali El, aku.. aku akan berusaha menjadi lebih baik lagi sesuai dengan keinginan mu." ucap Viona dengan nada yang lirih sambil menggenggam tangan Elbara dengan erat.


Elbara yang mendengar permintaan Viona, mulai terlihat melepaskan genggaman tangan Viona dengan perlahan kemudian melepas kacamata hitam yang bertengger di matanya sedari tadi.


"Sebuah hubungan yang di mulai dengan kebohongan tidak akan pernah berakhir dengan baik, aku sudah cukup kecewa karena kamu membohongi ku selama ini dan mengaku sebagai Bunga Senja." ucap Elbara dengan nada yang dingin sambil menatap tajam ke arah Viona.


Viona yang mendengar nada dingin Elbara langsung menciut seketika, awalnya Viona juga tidak berniat untuk membohongi Elbara hingga sekarang. Hanya saja rasa sukanya kepada Elbara kala itu membuat Viona terus menerus bungkam dan memupuk kebohongan semakin besar.


"Aku... aku tadinya juga tidak berniat membohongi mu, semua ini ku lakukan karena aku mencintai mu El, apakah itu salah?" ucap Viona dengan nada yang memelas berharap Elbara akan luluh ketika melihatnya.


"Tentu saja, semenjak awal perasaan ku bukanlah milik mu, bukankah selama dua tahun belakangan ini sudah membuktikan segalanya? rasa cinta satu orang tidak akan cukup jika harus di bagi kepada pasangannya walau sebesar apapun perasaan itu." ucap Elbara lagi.


"Tapi El..." ucap Viona namun terhenti karena Elbara memotong ucapannya.


"Sebaiknya kamu introspeksi diri dan menjadi lebih baik lagi, aku yakin kamu akan menemukan cinta sejati mu." ucap Elbara kemudian berlalu pergi meninggalkan Viona seorang diri di sana.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah menemukannya El, karena rasa ku untuk mu sudah terlanjur terpatri baik dulu hingga saat ini." ucap Viona dengan nada yang lirih sambil menatap kepergian Elbara dari hadapannya.


***


Parkiran


Elbara membuka pintu mobilnya secara perlahan dan mulai masuk ke dalam.


"Apa kamu sudah menunggu lama?" tanya Elbara ketika melihat ke sebelah dan mendapati Akila terlihat mengerjapkan matanya, sepertinya Akila tertidur selama persidangan ketika menunggu Elbara di dalam mobil.


"Lumayan, waktu satu jam bukankah waktu yang sangat lama untuk menunggu?" ucap Akila sambil menguap karena masih mengantuk.


"Aku minta maaf ya, so kemana kita akan pergi sekarang?" ucap Elbara kemudian.


"Bagaimana kalau kita ke Dufan? aku sudah lama sekali ingin pergi ke sana." ucap Akila dengan nada yang memohon.


"Apa kau yakin?" tanya Elbara yang lantas di balas Akila dengan anggukan kepala sambil tersenyum dengan bahagia.


"Ayolah ku mohon, tidak ada salahnya kan kita melepas penat kita sejenak?" ucap Akila lagi mencoba meyakinkan Elbara untuk menuruti permintaannya.


"Hore... Terima kasih banyak..." ucap Akila sambil tersenyum membuat Elbara lantas mengelus puncak kepala Akila sebentar kemudian kembali fokus menatap ke arah jalanan.


****


Di ruang kerja tepatnya di kediaman Delvano


Terlihat Delvano tengah duduk dengan termenung sambil memegang gelas berisi wiski di tangannya.


Di minumnya sekali dua kali wiski tersebut, hingga kemudian tidak ada angin tidak ada hujan Delvano melempar gelas itu dengan kuat hingga membentur dinding dan pecah menjadi beberapa bagian memenuhi lantai ruangan tersebut.


"Benar benar mengesalkan! aku tidak bisa hidup tanpa Akila, bagaimana mungkin aku sanggup berpisah dengannya?" teriaknya dengan kesal sambil mengusap rambutnya dengan kasar ke belakang.

__ADS_1


Hingga deringan ponsel miliknya lantas membuyarkan segala lamunannya.


"Halo" ucap Delvano dengan ketus tepat setelah menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.


"Segalanya sudah di persiapkan tuan, besok tepat setelah sidang putusan perceraian anda, anda bisa langsung berangkat dan terbang ke Singapura." ucap Rafi memberikan laporan kepada Delvano sekaligus mengingatkannya akan agendanya besok.


"Katakan pada mama untuk berhenti mengingatkan ku, aku sudah muak terus terusan mendengarnya sedari kemarin." teriak Delvano dengan nada yang kesal.


"Apakah ada sesuatu yang terjadi tuan?" tanya Rafi ketika mendengar suara teriakan Delvano yang disertai dengan nafas yang berat di panggilan telponnya.


"Tentu saja, jadi aku harap kau berhenti menggangguku seperti ini. Jangan menelpon ku jika tidak ada yang penting, apa kau mengerti?" ucap Delvano dengan nada yang tegas seakan tidak ingin di bantah.


"Tapi tuan..." ucap Rafi namun terpotong karena Delvano mematikan panggilan dari Rafi begitu saja tanpa mendengar terlebih dahulu jawaban dari Rafi barusan.


"Mengapa semua orang menjadi sangat menyebalkan?" ucap Delvano dengan nada yang terdengar kesal.


***


Dufan


Elbara kini tengah terlihat sedang berjongkok sambil menahan mual akibat menaiki wahana Roller Coaster barusan, wajahnya benar benar pucat sedangkan perutnya terasa mual seperti tengah di aduk aduk.


"Apa kamu baik baik saja El?" tanya Akila sambil menyodorkan sebotol air mineral kepada Elbara sedangkan tangan satunya mengusap dengan lembut punggung Elbara.


Elbara menerima botol tersebut tanpa protes dan langsung meminumnya hingga tandas.


"Beri aku jeda lima menit Ki..." pinta Elbara sambil memegangi perutnya yang masih terasa mual.


"Baiklah, santai saja El... katakan padaku jika kamu sudah merasa baikan." ucap Akila dengan raut wajah yang khawatir sekaligus merasa bersalah karena telah mengajak Elbara menaiki wahana tersebut.


Akila yang merasa kasihan kepada Elbara terus mengusap secara perlahan punggung Elbara dengan lembut. Hingga sebuah suara lantas membuat Elbara dan juga Akila dengan spontan langsung menatap ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Elbara?" panggil seseorang yang kini sudah berdiri tepat di hadapan keduanya.


Bersambung


__ADS_2