
Kediaman Delvano
Bagian dalam rumahnya kini sudah tidak lagi terlihat, begitu kacau dan berantakan. Serpihan beberapa barang yang terbagi hingga bagian bagian terkecil terlihat berserakan hampir memenuhi lantai.
Selama semalaman Delvano melampiaskan kekesalannya pada barang barang yang ada di dalam kediamannya, semua itu Delvano lakukan karena tidak menemukan keberadaan Akila di manapun, membuatnya hilang kendali dan melampiaskannya pada barang barang yang ada di hadapannya.
"Kemana kau pergi Ki..." teriak Delvano dengan nada yang kesal sambil menatap tajam ke arah depan.
Di saat Delvano sudah sampai pada titik frustasi dalam dirinya, suara bel pintu rumah yang berbunyi secara mendadak membuat Delvano langsung menoleh dengan seketika ke arah pintu utama.
"Akila..." ucap Delvano dengan lirih sambil bangkit berdiri dan berlarian menuju ke arah pintu utama.
Cklek...
"Dengan pak Delvano?" tanya seorang kurir pengantar surat tepat ketika melihat pintu di buka oleh Delvano.
"Iya, kenapa?" tanya Delvano dengan nada yang ketus ketika mendengar ucapan dari kurir tersebut.
"Saya ingin memberikan paket atas nama anda, silahkan tanda tangan di sini pak..." ucap kurir tersebut sambil menunjuk ke arah sebuah kertas agar Delvano membubuhkan tanda tangannya di sana.
Delvano yang mendengar ucapan dari kurir tersebut, lantas langsung membubuhkan tanda tangannya di sana kemudian menerima paket tersebut.
"Paket apa ini?" ucap Delvano setelah kepergian kurir tersebut dari hadapannya.
Delvano kemudian lantas membawa paket itu ke dalam dan buru buru membukanya, ketika paket tersebut di buka betapa terkejutnya Delvano ketika melihat berkas berkas perceraiannya terpampang jelas pada selembar kertas yang diterimanya baru saja.
"Apa apaan ini?" ucap Delvano dengan nada yang tertahan ketika membaca setiap detail isi dari berkas tersebut.
Delvano kemudian lantas meremas dengan erat kertas yang ada di tangannya, kemudian melemparnya ke sembarang arah dengan wajah yang penuh amarah.
"Sialan.... berani beraninya Akila mengirimi ku surat cerai seperti ini... apa dia sudah tidak ada takut takutnya dengan ku?" teriak Delvano dengan nada yang kesetanan.
"Argggg" teriaknya lagi sambil menendang meja dengan membabi buta melampiaskan setiap amarah yang ada dalam dirinya.
__ADS_1
***
Hotel Star
Akila terlihat mulai mengerjapkan matanya secara berulang kali dan menyusun kesadarannya kembali setelah terbangun dari tidurnya yang nyenyak semalam, baru kali ini Akila bisa tidur dengan senyaman itu padahal biasanya ia akan selalu terbangun atau bahkan merasa ketakutan di setiap malamnya.
Elbara yang baru saja masuk dengan membawa nampan berisi makanan, lantas tersenyum ketika melihat Akila baru terbangun dari tidurnya.
"Kamu sudah bangun? bagaimana? apa masih ada yang sakit?" tanya Elbara sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Akila dan menaruh nampan tersebut di atas nakas.
Akila yang mendengar pertanyaan dari Elbara barusan hanya bisa menggeleng sekilas kemudian tersenyum.
"Tidak perlu khawatir, luka seperti ini aku sudah sering mendapatkannya.. aku yakin seminggu lagi ia pasti akan berangsur angsur pulih." ucap Akila dengan nada yang lirih sambil menatap ke arah Elbara dengan senyum yang mengembang, seakan berusaha menunjukkan bahwa ia sungguh tidak apa apa.
Elbara yang mendengar jawaban tersebut hanya tersenyum sambil mengusap pelan rambut Akila, Elbara tahu Akila tengah berusaha menenangkannya saat ini. Selama ia bersama dengan Akila, Elbara belum pernah sedikitpun mendengar Akila merintih ataupun mengeluh, jadi bukan berarti senyumannya akan menutupi segala luka yang ia rasakan bukan?
"Makanlah kemudian minum obat mu..." ucap Elbara kemudian sambil mengangkat mangkuk bubur dan bersiap menyuapi Akila.
"Halo" ucap Elbara setelah menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponselnya.
"Halo tuan, anda di mana? nyonya datang ke sini dan mengacaukan seisi kantor mencari keberadaan anda." ucap Arga melaporkan situasinya saat ini di kantor.
"Apa kau tidak bisa menanganinya untuk saat ini?" tanya Elbara.
"Saya sudah berusaha tuan, namun nyonya terus saya membuat keributan di sini." ucap Arga lagi dengan nada yang berbisik, sedangkan di antara suara Arga terdengar suara gaduh dan beberapa benda yang jatuh menjadi backsound panggilannya.
"Aku akan ke sana sebentar lagi, kau tangani dulu sebisa mu untuk saat ini." ucap Elbara kemudian mengakhiri panggilan telponnya begitu saja.
Setelah Elbara menerima panggilan telpon tersebut suasana menjadi hening seketika, namun Elbara tetap menyendokkan bubur dan mengarahkannya kepada Akila seakan tetap berusaha bersikap dengan santai walau raut wajahnya sama sekali tidak bisa berbohong saat ini.
"Jika kamu ada urusan... kamu boleh pergi El." ucap Akila kemudian yang mengerti situasinya.
"Tidak perlu khawatir aku akan pergi setelah melihatmu menghabiskan makanannya." ucap Elbara sambil kembali menyuapi Akila.
__ADS_1
Akila yang mendengar hal tersebut, lantas langsung mengambil alih mangkuk bubur tersebut kemudian menatap ke arah Elbara, membuat Elbara lantas langsung kebingungan ketika melihat hal itu.
"Pergilah sekarang... lihatlah.. aku bisa memakannya sendiri bukan?" ucap Akila sambil menyendokkan bubur kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya, membuat Elbara yang melihat hal tersebut lantas langsung tersenyum.
"Baiklah aku akan pergi... aku janji aku tidak akan lama.." ucap Elbara sambil mengelus puncak kepala Akila kemudian bangkit dari tempat duduknya.
"Ya hati hati di jalan." ucap Akila sambil melambaikan tangannya melepas kepergian Elbara dari sana.
Akila yang melihat Elbara sudah tidak lagi terlihat di pandangannya, lantas mulai mengaduk aduk buburnya dengan tatapan yang sendu.
"Jangan menjadi egois Ki.. Elbara bukan milik mu, jadi tidak sepatutnya kamu terus menginginkan Elbara untuk tetap berada di samping mu..." ucap Akila pada diri sendiri dengan nada yang lirih sambil terus mengaduk aduk buburnya.
****
Ruang kantor Elbara.
Elbara yang baru saja membuka pintu ruangannya, lantas di kejutkan dengan kondisi kantornya yang terlihat seperti layaknya kapal pecah. Beberapa barang dan dokumen terlihat berserakan di mana mana, membuat Elbara langsung dengan spontan memijat pelipisnya yang terasa berdenyut saat ini.
"Apa apaan ini..." pekik Elbara sambil terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam, yang lantas membuat Arga dan juga Viona menatap ke arah sumber suara.
"Tuan.." ucap Arga dengan nada yang lirih.
"Akhirnya kamu datang juga El, apa aku perlu berbuat seperti ini agar kamu datang dan menemui ku?" ucap Viona kemudian dengan wajah yang penuh amarah.
"Tidak bisakah kamu berbicara tanpa mengedepankan emosi Vio, apakah kamu tidak lelah terus terusan seperti itu?" ucap Elbara dengan nada suara yang masih berusaha untuk tetap stabil saat ini.
"Kau mengatakan agar aku tetap tenang bahkan setelah menerima berkas perceraian dari mu El? kau jangan gila El!" pekik Viona yang lantas membuat Elbara langsung menatap ke arahnya dengan tatapan yang tidak bisa terbaca.
"Bukankah itu bagus?" ucap Elbara dengan nada yang santai.
"Apa?"
Bersambung
__ADS_1