
Ruangan Delvano
Dari arah pantry Delvano terlihat melangkahkan kakinya sambil membawa secangkir lemon tea kesukaan ibunya itu di tangannya. Delvano menaruh cangkir tersebut tepat di hadapan Sarah kemudian mengambil duduk di sebelah wanita paruh baya itu dengan perasaan yang bertanya tanya akan apa tujuan kedatangan Sarah hingga menghampirinya sampai ke perusahaan seperti ini.
Melihat putranya membawa secangkir teh favoritnya, membuat Sarah lantas tersenyum ketika melihatnya. Sarah bahkan tidak menyangka bahwa meski putranya itu sangat arogan namun ia masih bisa menunjukkan hal hal manis kepadanya, walau hanya dengan memberikannya secangkir teh saja sudah bisa membuat Sarah tersentuh akan perilaku Delvano.
Delvano menatap ke arah Sarah dengan tatapan yang bertanya tanya akan kedatangan Sarah saat ini, namun Sarah yang di tatap sedari tadi hanya diam saja dan menyeruput tehnya dengan santai, seakan akan Sarah hanya ingin datang untuk menikmati teh saja di kantor Delvano.
"Sebenarnya apa tujuan mama datang kemari?" ucap Delvano pada akhirnya yang sudah tidak sabaran karena Sarah hanya diam saja tanpa mengatakan apapun sejak kedatangannya ke mari.
Mendengar pertanyaan tersebut, Sarah nampak tersenyum dengan simpul kemudian meletakkan cangkir tehnya ke atas meja. Di tatapnya Delvano dengan tatapan yang lekat cukup lama.
"Apa yang sebenarnya tengah kamu lakukan selama ini? jangan kira mama tidak tahu akan semua tingkah laku mu itu!" ucap Sarah dengan nada yang santai.
"Apa maksud ucapan mama barusan?" ucap Delvano dengan tatapan yang bingung sekaligus terkejut.
Sarah yang mendengar Delvano mulai berkelit, lantas kembali mengulum senyum dan membuat Delvano langsung mati kutu seketika.
"Mama tahu kamu sedang berusaha menarik kembali sesuatu yang sebelumnya menjadi milik mu, bukan?" ucap Sarah lagi.
Delvano yang mendengar ucapan Sarah barusan tentu saja semakin terdiam seketika, padahal Delvano sudah berusaha untuk membuatnya serapi mungkin agar tidak tercium oleh Sarah, namun nyatanya Sarah tetap saja bisa mengetahuinya seakan akan apapun yang di lakukan oleh Delvano selalu saja bisa di ketahui oleh Sarah dengan mudah, membuat Delvano selalu saja merasa jengkel akan kenyataan tersebut.
__ADS_1
"Ayolah ma... bukankah mama sendiri yang mengatakan bahwa aku bisa melakukan apapun untuk membuat Akila kembali setelah perceraian itu? aku rasa mama tidak mungkin lupa bukan?" ucap Delvano kemudian.
"Harusnya kamu melakukannya dengan cara yang lembut dan juga sepenuh hati, bukan malah bergabung dengan mantan istri pengusaha itu dan menyusun sebuah rencana, kau jelas tahu jika Akila berbeda namun kau tetap saja melakukannya." ucap Sarah yang langsung membuat Delvano terdiam seketika.
Sarah yang melihat wajah diam putranya lantas tersenyum dengan sinis, sejak awal putranya itu tidak pernah berubah dan selalu saja mengedepankan emosi semata. Tidak hanya dalam pencapaian, bahkan urusan rumah tangganya pun Delvano tetap saja menggunakan kekerasan dan juga emosi ke dalamnya sehingga membuat rumah tangganya hancur berantakan.
Sarah bangkit dari posisinya kemudian menatap ke arah Delvano dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, sedangkan Delvano sedari tadi hanya diam seakan sedang mencerna ucapan dari Sarah barusan.
"Apa kau tahu kunci untuk mendapatkan kembali hati seorang wanita? kuncinya adalah sebuah perjuangan, wanita itu suka di perjuangkan hanya saja dengan sebuah ketulusan, bukan dengan cara yang kau lakukan seperti itu. Jika kamu terus melakukannya maka mama yakin Akila akan kian menjauh dari dirimu." ucap Sarah kemudian berlalu pergi dari sana, meninggalkan Delvano dengan seribu pertanyaan yang kini tengah berputar di kepalanya.
**
Di luar ruangan Delvano
Viona yang melihat seorang wanita paruh baya keluar dari ruangan Delvano, lantas ikut menghentikan langkah kakinya. Keduanya kemudian terdiam dalam waktu sepersekian detik dan saling mengunci tatapan mereka, hingga kemudian Sarah yang kembali melangkahkan kakinya dan mendekat ke arah Viona, membuat tatapan keduanya terputus seketika.
Sarah berhenti tepat di sebelah Viona dan mengatakan sesuatu kepada Viona, yang membuat Viona langsung terdiam.
"Apapun yang sudah kau rencanakan hentikan sekarang juga, jangan libatkan Delvano dalam obsesimu itu!" ucap Sarah yang langsung membuat Viona dengan spontan menatap ke arah Sarah karena terkejut.
Setelah mengatakan hal tersebut, Sarah kemudian meneruskan langkah kakinya pergi dari ruangan Delvano dan meninggalkan Viona dengan berjuta tanda tanya besar akan ucapan Sarah yang tiba tiba itu, padahal Viona sebelumnya sama sekali tidak mengenali sosok Sarah dan baru bertemu saat ini, namun tanpa di duga pertemuan pertama keduanya sudah menimbulkan kesan buruk bagi Sarah kepadanya.
__ADS_1
"Apa aku mengenalnya? sepertinya tidak, dasar orang aneh..." ucap Viona dengan nada yang datar kemudian kembali meneruskan langkah kakinya.
***
Sementara itu di sebuah bangunan yang kini sudah berganti pemilik menjadi milik Akila, terlihat Akila dan juga Elbara tengah mengatur beberapa barang yang mulai berdatangan yang akan Akila gunakan untuk dekorasi bangunan Restonya yang sudah 70 persen jadi dan tinggal memberikan beberapa furniture di dalamnya.
Mengingat struktur bangunan ini yang masih bagus, sehingga Akila tidak perlu lagi melakukan renovasi dan hanya tinggal mengganti warna dinding cat saja untuk mempercantik tampilan Restonya agar lebih menarik pelanggan untuk datang.
Elbara yang melihat Akila tengah sibuk mengatur berbagai barang yang datang, lantas langsung mendekat ke arah Akila, membuat Akila yang menyadari kehadiran Elbara di sana lantas langsung menoleh ke arah Elbara dan dengan spontan langsung menempelkan tangannya ke kening Elbara untuk mengecek suhu tubuh pria tersebut.
"Apa kamu sudah enakan, maaf aku membuat tidak bisa istirahat El setelah ini aku janji kita akan langsung pulang agar kamu bisa beristirahat, duduklah saja di sana dan tunggu aku... aku tidak akan lama." ucap Akila dengan raut wajah yang khawatir, membuat Elbara semakin beruntung karena merasa di perhatikan oleh seseorang yang ia cintai sejak lama.
"Jangan khawatirkan aku, lakukan saja pekerjaan mu aku tidak akan mengganggu mu." ucap Elbara sambil tersenyum membuat Akila ikut tersenyum ketika mendengar ucapan dari Elbara barusan.
***
Sementara itu di rungan Delvano
Setelah kepergian Viona dari ruangannya, Delvano nampak termenung seketika membayangkan kembali ucapan Sarah tadi. Sepertinya Delvano mulai sedikit sadar bahwa ucapan Sarah ada benarnya juga.
Delvano mengetuk ketukan jari tangannya berulang kali ke meja sambil menatap kosong ke arah depan mencoba memikirkan segala sesuatunya dengan kepala yang dingin.
__ADS_1
"Di perjuangkan ya... di perjuangkan... apakah ucapan mama benar atau hanya sebuah iming iming semata saja?" ucap Delvano pada diri sendiri.
Bersambung