
Bulan, Bintang dan David pun ke kamar mandi untuk bersih bersih, begitupun dengan Dina yang kembali menemani Ferdi makan.
"Ah, iya Tuan.. Maaf, tadi anak anak minta ingin di antar ke rumah sakit." ucap Dina
"Loh, mereka sudah tau Afnan di rumah sakit?" tanya Ferdi.
"Iya, sudah tau Tuan, tadi mereka tanya dan saya beritahu Tuan, maaf." ucap Dina.
"Humm baiklah, gak papa. Tapi mungkin saya antar mereka ntar sore, tolong bilang seperti itu ya pada mereka. Karena saya ingin sepulang sekolah, mereka biar istirahat dulu, lagipula jam kunjungan biasanya di buka sore hari." ucap Ferdi.
"Baik, Tuan. Nanti saya sampaikan ke anak anak." ucap Anabel.
"Nah, itu mereka. Gak papa Din, biar saya tunggu dan menemani mereka makan di sini saja, supaya biar saya yang sampaikan sendiri ke mereka." ucap Ferdi.
"Ayah...Bunda di rumah sakit ya?" tanya Bulan yang turut makan bersama, begitupun Bintang juga David.
"Nanti kita ke rumah sakit ya Ayah? jenguk Bunda..." ucap Bulan.
"Iya Ayah, jenguk Bunda. Ingin tau dan lihat keadaan Bunda juga Afnan." ucap Bintang dan David.
"Humm baiklah, tapi ntar sore ya. Karena kalau siang ini, jam kunjung tak buka dan Ayah ingin kalian istrirahat dulu sehabis makan ini. Ntar sore bangun tidur kita ke rumah sakit, jenguk Bunda dan dedek ya." ucap Ferdi.
"Iya Ayah, baiklah.." ucap mereka bertiga.
"Yaudah, ayok lanjut makannya." ucap Ferdi.
"Iya Ayah..." ucap Bulan, dan mereka pun melanjutkan makan mereka.
"Ohya Dina, kamu gak ikut makan?" tanya Ferdi.
"Hehe, tidak usah Tuan, masih kenyang. Terimakasih," ucap Dina.
"Humm baiklah, seumpama kamu lapar dan mau makan bersama kami, gak papa loh Din." ucap Ferdi.
"Iya Tuan, terimakasih.." ucap Anabel.
"Ayah, Ini enak bangeeeet, siapa yang masak? kan Bunda gak ada di rumah sakit? humm oh Bik Ina ya? eh bik Ina juga gak ada di rumah sakit. Terus siapa?" tanya Bulan.
"Siapa coba tebak??" tanya Ferdi.
"Ndak tau.." ucap Bulan.
"Tante Dina cantik?" tanya Bintang.
"Cantik? iya ini yang masak Tante Dina." ucap Ferdi. Sedangkan Dina hanya mampu tersenyum malu, mendengar pengakuan Ferdi.
__ADS_1
Setelah mereka selesai makan, Dina pun segera membereskannya dan berlalu ke dapur untuk meletakkan piring kotor, ia pun segera makan dan mencuci piring piring itu dan beristirahat.
Sore harinya, Bulan, Bintang juga David berpamitan akan pergi ke rumah sakit bersama Ferdi, menjenguk Bunda dan adiknya Afnan.
"Din, saya sama Bulan, Bintang juga David berangkat ke rumah sakit dulu ya, titip rumah ya Din. Ohya kamu yakin gak mau ikut? kalau mau ikut juga gak papa." ucap Ferdi.
"Hehehe, ndak usah Tuan, terimakasih. Biar saya di rumah bisa membereskan rumah dan menyediakan makan malam untuk nanti kalian pulang. Barangkali Nyonya dan den Afnan juga boleh pulang kan?" ucap Dina.
"Humm, begitu. Yasudalah, tapi kalau untuk Afnan sudah boleh pulang atau tidak kurang tau ya Din. Kalau kami pasti pulang karena kami gak mungkin menginap di rumah sakit." ucap Ferdi.
"Iya Tuan, yang terpenting den Afnan benar benar telah sembuh dan sehat. Iya Tuan, saya di rumah saja, karena kan Tuan dan anak anak nanti juga pulang. Jadi nanti sudah ada makanan kalau
Tuan dan anak anak pulang, gak perlu beli masakan." ucap Dina.
"Oke Din, kami berangkat dulu ya. Assalamualaikum." ucap Ferdi.
"Waalaikumussalam Tuan, hati hati." ucap Dina, dengan menutup pintu rumah kembali setelah Kepergian mereka.
***
"Bundaaaa, dedek Afnan apa kabar? kami rindu Bunda dan dedek Afnan." ucap Bulan, saat mereka telah sampai di ruang rawat inap Afnan.
"Lagi tidur ya Bun, dedek Afnannya?" tanya David.
"Iya yank, rindu kamu dan Afnan, bagaimana kabar Afnan?" ucap Ferdi.
"Alhamdulillah Afnan kondisinya sudah agak membaik, tapi tetap saja masih perlu perawatan intensif. Jadi untuk saat ini Afnan belum bisa pulang, bunda juga gak tau di bolehin pulangnya
kapan. Karena nunggu kelanjutan info dari dokternya, nanti pasti di kabarin." ucap Anabel.
"Alhamdulillah, ya Tuhan... dari hasil tes, Afnan sakit apa? Semoga lekas sembuh dan bisa segera
pulang." tanya Ferdi.
"Tipes Mas, sama kangker hati. Bunda jujur sedih dan syok ketika mendengar hasil tes Afnan. Doakan ya kesembuhan dan kesehatan buat Afnan, supaya gak lama lama di rumah sakit dan bisa segera pulang." ucap Anabel, dengan sedih.
"Ya Allah, Afnan sakit tipes dan kena kangker hati?
Ya Allah... Mas sedih dengarnya, bingung harus berkata apa. Rasanya Kelu mas, tidak bisa berkata apa apa lagi.
Aamiin, semoga segera sembuh, sehat insya Allah. Supaya gak lama lama di rumah sakit." ucap Ferdi, menahan tangis.
"Iya Mas, Aamiin..." ucap Anabel dengan nada sedih.
"Ya Tuhan, Dedek Afnan sakit hati dan dan tipes? Sedih kali mendengarnya..." ucap Bintang.
__ADS_1
"Iya Bulan juga sedih mendengarnya.." ucap Bulan.
"Semoga dedek Afnan, segera sembuh dan sehat ya Bun. Supaya bisa main bareng kami. Aamiin, David juga sangat sedih mendengar kabar ini." ucap David.
"Aamiin, Aamiin... Insya Allah segera sembuh dan sehat. Makasih ya doa kalian, semoga Allah ijabah." ucap Anabel.
"Ohya sudah makan?" tanya Anabel.
"Sudah dong Bun. Tante cantik, baik yang masakkin." ucap Bulan.
"Tante cantik dan baik?." ucap Anabel, bingung untuk beberapa saat.
"Tante Dina, Bun." ucap Bintang.
"Owhhh, Alhamdulillah kalau Dina Uda masakkin kalian. Ohya enak kah masakan Dina? kalian habis makannya?" tanya Anabel.
"Alhamdulillah habis, enak banget masakan Tante Dina, Bunda." ucap Bulan.
"Alhamdulillah, syukurlah. Berarti Bunda gak salah milih asisten rumah tangga buat bantu Bik Ina ya."
ucap Anabel.
"Dia dulu kah yank yang cari pekerjaan darimu?" tanya Ferdi.
"Iya Mas, dia dulu yang minta pekerjaan dariku." ucap Anabel.
"Hemmm begitu." ucap Ferdi.
"Kenapa Mas?" tanya Anabel.
"Hehehe, gak papa kok yank." ucap Ferdi.
"Ohya yank, tadi mama telfon, katanya malam ini beliau mau pulang. Iya insya Allah jenguk Afnan juga ke sini, terus mama tanya tadi siapa yang jaga rumah kalau Bi Ina juga menemaniku di rumah sakit. Ya aku jawablah yank, kalau di rumah ada Dina, asisten baru. Terus Mama tanya tentang siapa Dina dan mengenai tentang Dina, yasudah aku jelasin kan yank. Tapi mereka sepertinya kurang setuju deh yank, dengan kehadiran Dina. Aku gak bisa bayangin Yank, kalau misal mama ketemu Dina gimana ya..." ucap Anabel kembali.
"Iyakah yank? Ya Tuhan, mas juga kurang tau yank, kita harus apa dan bagaimana... Apa kita berhentikan Dina? sebelum mama memberhentikan Dina, karena yang di takutkan mama akan memberhentikan dengan cara kurang baik." ucap Ferdi.
"Iya benar juga yank, kamu. Tapi buat memberhentikan gitu aja, ya aku juga gak enak sama Dina yank. Terlebih waktu itu Dina memohon kerjaan. Jadi rasanya kasihanlah yank, kalau kita
memberhentikan begitu saja." ucap Anabel.
"Iya sih yank, terus kita harus bagaimana??" tanya Ferdi.
"Kita pikirkan nanti sajalah Mas, pas di rumah, saat ini pikiranku lagi ruwet." ucap Anabel.
"Oke yank." ucap Ferdi.
__ADS_1