
Sudah 1 bulan berlalu acara lamaran mereka, kini acara pernikahan mereka pun tiba.
April pun segera memboyong mereka ke rumah Bu Nila, pak Anang. Sedangkan Hery yang masih di luar kota karena masih mengurus pekerjaannya sama sekali tidak mengetahui tentang pernikahan ini.
Ana sangat merespon ini dengan sangat bahagia sedangkan Anabel merespon ini dengan hatinya yang mendung. Tak ada ubahnya dengan Ferdi ia pun tidak sesenang yang terlihat. Jujur ia juga bimbang dengan pernikahan ini.
Tapi ia tak mungkin membatalkannya terlebih hari ini, hari pernikahan mereka. Ferdi pun segera mengucapkan kalimat akad tersebut, hingga pernikahan tersebut selesai terlaksanakan.
Ana tersenyum bahagia, sedangkan Anabel kini hatinya tengah hancur. Ia tak sanggup lagi dan segera berdiri menjauh dari tempat tersebut.
*******
"Yaa Allah kenapa mas Ferdi tega padaku... hatiku sangat sakit yaa Allah. Sanggupkah aku membagi cinta ini. Sanggupkah aku membagi hati ini dan
merelakan ia bersama dengan yang lain.." lirih Anabel.
"Ya Tuhan, sanggupkah aku melihatnya akan bersama perempuan lain, sementara melihat pernikahannya saja rasanya dadaku terasa sesak dan aku tidak dapat membayangkan apabila anak
anakku mengetahuinya." lirih Anabel Kembali.
Anabel pun terus berjalan dan berlari di tengah ke kalutannya hingga tanpa sengaja ia menabrak April yang juga baru datang, ingin melihat sejenak acara tersebut di mulai dan ingin menjemput anabel untuk kembali pulang.
Anabel pun segera menghambur ke pelukan April, dan menangis di bawah pelukan April.
"Hiks Ma, kenapa rasanya sesakit," lirih Anabel kepada April.
"Sabar sayang, Mama di sini dan selalu ada untukmu. Lebih baik kamu pergi dari sini bila tak sanggup bertahan di sini. Mama gak ingin melihat kamu menangis dan di lukai seperti ini. Mama
__ADS_1
juga gak habis fikir dengan Ferdi, sudah berapa tahun, Mama mengingatkan Ferdi, tapi ia tetap tak mendengarkan mama dan justru melanjutkan pernikahan tersebut.
Di mana hatinya? apa dia tak memikirkan sedikitpun perasaanmu dan perasaan ketiga anaknya?" ucap April kembali.
"Yasudah Bel, Ayuk pergi dari sini.Untuk apa bertahan di sini lebih lama lagi? itu hanya akan menyakiti perasaanmu sayang." ucap April.
"Gak papa Ma. Anabel ingin menyaksikan hingga acara ini selesai. Anabel pasti sanggup kok menyasikkan semuanya." ucap Anabel dengan lirih.
"Tapi sayang, Mama gak yakin kamu benar benar sanggup. Mama takut dengan kamu menyasikkan ini semua tak lebih menyakiti perasaanmu jauh lebih dalam lagi. Mama mohon sudah ya, Mama tak ingin kamu tersakiti jauh lebih dalam lagi. Mama tau perasaanmu saat ini, sebenarnya kamu tak sanggup kan? jadi mama mohon hentikan. Kamu hanya menguji perasaanmu saja dan itu akan menyakiti perasaanmu jauh lebih dalam. Kita pulang sekarang, Ayuk.." ucap April kepada Anabel.
"Enggak Ma, Anabel mohon jika mama ingin pulang duluan, lebih baik mama pulang saja. Anabel hanya ingin menyasikkan hingga acara ini selesai. Jika acara ini selesai, Anabel juga akan pulang Ma. Anabel minta Mama pulang duluan saja ya, supaya Bulan, Bintang, juga David gak kecariaan eyanknya hehehe.." ucap Anabel.
"Humm Yasudah Mama pulang duluan. Mama tunggu kamu ya di rumah, segera pulang ya. Jangan terlalu lama di sini, kamu bisa sakit hati nanti." ucap April yang segera berlalu.
"Iya Ma.. Anabel akan segera pulang, bila acara ini selesai." ucap Anabel.
Setelah kepergian April , Anabel menyaksikan kembali acara pernikahan tersebut hingga selesai.
"Mas, setelah acara ini selesai, kita segera istirahat ya Mas. Maaf, aku gak bisa ikut gabung dengan keluargamu atau main dulu sama Bulan, Bintang ataupun David. Karena jujur kepalaku sangat
pusing, tapi aku sangat lega dan senang akhirnya acara ini selesai. Aku gak nyangka akhirnya aku bisa menikah denganku Ferdi. Aku gak menyangka bisa menikah dengan orang yang aku cintai pada akhirnya. Jujur aku juga gak ingin melukai Anabel, bagaimanapun aku sahabatnya tapi aku tak bisa menahan lagi perasaan ini. Maafkanku ya...." ucap Ana.
"Ingat ya Ana, aku menikahimu karena anakku.
Bukan berarti karena aku mencintaimu. Karena hingga kini hanya Anabel istriku yang aku cintai, bukan kamu. Aku memang pernah ada rasa dengan
kamu, dan kala kamu menyamar jadi Dina aku memang pernah merasakan perasaan yang sulit ku jelaskan.
__ADS_1
Tapi bukan berarti aku ingin menikah denganmu atau rasaku padamu lebih besar daripada rasaku ke istriku. Tidak sama sekali, dan jujur ada rasa sesalku karena aku harus jauh dari anak anakku. Bila tau seperti ini mungkin aku tak kan menikahimu. Tapi ya semua sudah terjadi..." ucap Ferdi yang mulai merasakan kecewa dan mencoba menahan Isak tangisnya.
Sesekali ia fokus kembali menyasikkan tamu yang menghadiri acara tersebut dan ia melihat apakah Anabel menghadiri acara pernikahan mereka atau tidak. Sungguh Ferdi sangat menyesal dan merasa bersalah.
Tanpa sengaja Ferdi pun melihat ke arah Anabel yang tengah berdiri di sana, menyasikkan acara pernikahan mereka. Ferdi pun segera menghampiri Anabel untuk berbicara padanya..
"Bel, tunggu.. Aku minta maaf. . Aku benar benar menyesal atas keputusan yang ku ambil kali ini untuk menikahi Ana. Aku mohon kamu jangan pergi dari rumah bersama anak anak. Aku tak bisa kehilangan kalian juga." ucap Ferdi.
"Menyesal? tapi sudah terlambat.. kenapa kamu begitu serakah mas? kamu tak ingin kehilangan kami tapi kamu juga gak ingin kehilangannya? apa kamu pernah memikirkan perasaanku sebelum
melanjutkan pernikahan ini? apa kamu pernah memikirkan perasaan anak anak juga
Mas? " tanya Anabel.
"Bukankah kamu tau, aku menikahinya demi anak anak juga? mengapa kamu seakan
menyalahkanku?" tanya Ferdi.
"Demi anak anak? karena mereka gak tau bila kamu menikahi Ana. Yang mereka tau mereka gak kehilangan sosok Ana. Tapi kamu lihat kan sekarang kamu harus jauh dari anak anakmu dan aku? mama gak mungkin mengizinkan kita satu atap. Aku juga tak mungkin sanggup melihat kalian bermesraan di depanku.
Sungguh aku benar benar tak sanggup Mas.." ucap Anabel.
"Sudahlah Mas, lebih baik kamu lanjutkan saja pernikahanmu dengan Ana, kasian bila kamu meninggalkannya terlalu lama. Aku permisi dulu ya.. Ohya selamat atas pernikahan kalian dan selamat kamu sudah berhasil menghancurkan hatiku. Permisi..." ucap Anabel yang segera pergi dari tempat tersebut.
"Anabel... Anabel..." ucap Ferdi memanggil Anabel.
"Arrrrgh..." jerit Ferdi dalam diam, jujur ia sedih dan menyesal harus kehilangan Anabel, ketiga anaknya dan bahkan kedua orangtuanya tak menghadiri acara tersebut.
__ADS_1
"Fer, itu istrimu menunggu sendiri di sana, masa' kamu gak mau menemani dia. Gih sana jangan melamun di sini. Harusnya kamu bahagia ini kan hari pernikahanmu Fer." ucap salah satu
penyelenggara acara tersebut. Sedangkan Ferdi hanya menganggapinya dengan tersenyum dan kembali menemani Ana.