
"Bukankah berita di luaran sana sudah menyebar? jika istri ku saja mendapatkan perlakuan seperti itu... apa kau bisa membayangkan nasib mu yang statusnya bukan siapa siapa di hidup ku?" ucap Delvano dengan nada yang penuh penekanan, membuat Faris lantas langsung menelan salivanya dengan kasar ketika mendengar ucapan dari Delvano barusan.
"P... a.... k....." ucap Faris dengan nada yang terbata bata sambil menahan rasa sakit akibat cengkraman dari Delvano.
"Apakah ada kata kata terakhir yang akan kau ucapakan sebelum aku mulai menghukum mu?" ucap Delvano kemudian sambil menghempaskan Faris begitu saja dan bangkit dari posisinya.
Faris yang mendapat pertanyaan tersebut lantas langsung terdiam dengan bingung.
"Apa yang harus ku katakan? jika aku mengatakan yang sebenarnya akankah aku benar benar bisa bebas?" ucap Faris dalam hati bertanya tanya.
"
Delvano yang melihat Faris hanya diam termenung, lantas hanya tersenyum kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah sudut ruangan di mana di sana adalah tempat Delvano menyimpan stik golf miliknya.
Tang tang tang...
Srek...
Suara stik golf yang di seret dan mengenai lantai, membuat Faris langsung tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah sumber suara. Sosok Delvano yang tersenyum sambil menyeret stik golf benar benar membuat nyali Faris menciut seketika.
Faris tentu tidaklah gaptek sehingga sampai tidak tahu tentang pemberitaan Delvano di luaran sana atas kasus KDRT yang di lakukannya. Jika menonton saja membuatnya bergidik ngeri, bagaimana kalau sampai itu terjadi padanya? bukankah akan terasa sangat menyakitkan?
Melihat langkah kaki Delvano yang semakin dekat, membuat Faris dengan spontan langsung bersimpuh dan bersujud memohon pengampunan kepada Delvano.
"Maafkan saya pak... maafkan saya... saya benar benar hanya di suruh tidak lebih... sungguh pak..." ucap Faris berulangkali memohon ampun.
Namun Delvano yang mendengar hal tersebut, malah langsung menendang tubuh Faris hingga ia berguling beberapa meter dari tempatnya.
"Jika kau memang benar benar di suruh, katakan siapa orang tersebut?" ucap Delvano kemudian.
"Dia... dia.." ucap Faris dengan nada yang tersendat.
"Katakan sekarang atau stik golf ini yang akan mengucapkannya?" ucap Delvano sambil mengayunkan stik golfnya berulang kali ke udara bersiap untuk melayangkannya tepat ke arah Faris saat ini.
"Iya pak... dia adalah pak Burhan salah satu pemegang saham di perusahaan ini!" pekik Faris pada akhirnya yang langsung membuat Delvano tersenyum dengan puas karena Faris mau mengakuinya.
__ADS_1
"Jika memang seperti itu ada satu hal yang ingin aku minta dari mu." ucap Delvano sambil tersenyum dengan licik membuat Faris lantas langsung menelan salivanya dengan kasar, karena ia merasa apa yang di minta oleh Delvano kali ini pasti taruhannya adalah nyawa.
***
Sementara itu setelah adegan ciuman di dalam mobil beberapa menit yang lalu, keduanya langsung berada pada situasi yang canggung sekaligus malu layaknya seperti pasangan abg abg masa kini.
Elbara yang salah tingkah dan tidak tahu hendak melakukan apa, lantas menghentikan laju mobilnya tepat di area Resto dengan nuansa yang klasik, membuat Akila langsung dengan spontan menoleh ke arah Elbara ketika melihat mobil Elbara berhenti di parkiran.
"Apakah kamu lapar?" tanya Akila ketika melihat mobil yang di kendarai oleh Elbara berhenti tepat di area Resto.
"Tidak" jawab Elbara dengan singkat.
"Lalu untuk apa kita ke sini?" tanya Akila lagi.
"Untuk mengisi perut saja." ucap Elbara dengan santainya.
"Kamu benar benar aneh El..." ucap Akila seakan terkejut akan tingkah laku Elbara.
"Apa iya ya?" tanya Elbara dengan tatapan yang bingung.
"Loh kamu mau ke mana Ki?" tanya Elbara kemudian ketika melihat Akila turun dari mobilnya.
"Mengisi perut!" ucap Akila kemudian menutup pintu mobil begitu saja menyisakan keheningan di dalam sana.
"Iya juga ya?" ucap Elbara sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
**
Di dalam Resto
Akila dan juga Elbara mengambil posisi tempat duduk di area sudut Resto tepat di sebelah jendela kaca yang langsung menyuguhkan pemandangan dengan taman bunga yang asri di sebelahnya.
Lagi lagi keheningan kembali terjadi di antara keduanya, ketika menunggu pesanan mereka sedang di proses oleh koki. Hingga kemudian Elbara mulai membuka pembicaraan.
"Soal ciuman itu aku..." ucap Elbara namun langsung terpotong.
__ADS_1
"Sudahlah lupakan, bukankah itu hal yang wajar di masa sekarang? selagi kamu bisa menjaga batasan dan tidak berlebihan aku masih bisa mengerti." ucap Akila kemudian yang lantas membuat seulas senyum terlukis jelas di wajah Elbara ketika mendengar ucapan dari Akila barusan.
"Terima kasih banyak Ki, aku berjanji tidak akan melewati batasan ku." ucap Elbara kemudian sambil menggenggam dengan erat tangan Akila, yang lantas di balas Akila dengan senyuman.
**
Akila dan juga Elbara terlihat tengah menikmati hidangan yang mereka pesan dengan nikmat tanpa pembicaraan apapun. Hingga sebuah suara lantas terdengar dan menghentikan gerakan keduanya yang sedang asyik menikmati hidangan mereka.
"Pak Elbara..." ucap sebuah suara yang lantas membuat Elbara dan juga Akila langsung menatap ke arah sumber suara.
"Oh pak Fahmi, apa kabar pak?" ucap Elbara sambil bangkit dari posisi duduknya langsung menghampiri Fahmi dan menjabat tangan laki laki itu.
"Baik baik... kamu bersama dengan..." ucap Fahmi hendak menyapa Akila yang tadinya ia kira adalah Viona istri Elbara. "Dia siapa? apakah istri baru mu?" tanya Fahmi kemudian yang lantas di balas senyuman oleh Elbara, namun malah membuat Akila menjadi salah tingkah.
"Dia calon istri ku" ucap Elbara dengan bangga, membuat Akila mau tidak mau menjadi bangkit dari posisinya dan menyalami Fahmi, walau sebenarnya Akila sendiri cukup terkejut akan ucapan dari Elbara barusan.
"Hai... Akila" ucap Akila sambil menjabat tangan Fahmi dan memasang senyum senatural mungkin.
"Fahmi" ucap Fahmi kemudian.
"Ternyata selera mu tinggi juga ya? bagi tips nya dong biar bisa selalu dapat bidadari kayak kamu." ucap Fahmi dengan senyum yang menggoda.
"Ah... pak Fahmi bisa saja, apakah anda bersama orang lain? jika tidak mari bergabung bersama kami." ucap Elbara menawarkan kursi kepada Fahmi.
"Apa kamu yakin? aku pasti bakal mengganggu kalian berdua jika sampai aku berada di sini nantinya." ucap Fahmi dengan nada yang menggoda.
"Santai saja pak, saya benar benar tidak keberatan." ucap Akila kemudian yang mulai sadar bahwa orang di hadapannya ini sepertinya salah satu rekan bisnis penting Elbara.
"Baiklah" ucap Fahmi kemudian sambil mengambil duduk di sebelah Elbara.
Pembicaraan antara Elbara dan juga Fahmi pada akhirnya terus berlanjut dengan sesekali di selingi candaan yang di tunjukkan kepada Akila. Hingga ketika sebuah suara Simfoni yang tidak asing mulai terdengar di pendengaran Akila, membuat raut wajah Akila langsung berubah seketika.
"Suara simfoni itu... tidak mungkin kan..." ucap Akila dalam hati.
Bersambung
__ADS_1