
Lani menghentikan langkahnya ketika tiba-tiba saja Riana sudah berdiri di depan mereka. Tanpa berkata apapun, Riana terus memandangi mereka dengan tatapan yang sinis. Lani dan Iva mencoba untuk tetap melangkah tanpa mempedulikan Riana yang masih menatap mereka.
"Apa kamu senang karena sudah menjadi milik Reihan?" Tiba-tiba saja Riana mengucapkan kata itu dan membuat Lani menghentikan langkahnya.
"Sudahlah, jangan pedulikan dia. Ayo, kita pergi," ucap Iva.
Riana kemudian membalikkan tubuhnya yang tadi membelakangi mereka. Dengan senyum sinis, dia mulai melanjutkan kata-katanya. "Sekarang kamu boleh bahagia, tapi tidak akan lama. Kita lihat saja nanti siapa yang akan menangis."
"Sudahlah, Reihan sudah memilih Lani dan kamu harus terima itu," ucap Iva.
"Baik, aku pasti akan menerimanya jika gadis yang dipilih Reihan bukan kamu. Kenapa juga kamu harus datang ke sekolah ini? Kamu hanya gadis miskin dan aku tidak terima disingkirkan gadis miskin kayak kamu."
Lani sangat tidak suka jika sudah dikaitkan dengan status sosial dan itu bisa membuat dia menjadi tidak percaya diri. Bukan karena dia malu dikatakan miskin, tapi dia sangat tidak suka jika harus dibanding-bandingkan dengan orang lain.
"Sampai kapanpun aku tidak akan rela Reihan jatuh dalam perangkapmu. Kamu itu licik, kamu ingin memanfaatkan Reihan. Iya kan?"
"Kamu itu sudah gila apa? Kamu bicara apa sih? Ayo kita pulang, tidak usah pedulikan perempuan gila itu," ucap Iva sambil menarik tangan Lani untuk segera pergi dari tempat itu.
"Karena kamu, aku menjadi seperti ini. Aku benci sama kamu. Kamu sudah merebut Reihan dariku!!" teriak Riana hingga membuat orang-orang di tempat itu memandangi mereka.
Adrian yang kebetulan lewat di tempat itu mau tidak mau harus mendiamkan Riana. "Kamu kenapa sih? Sudahlah, apa kamu tidak malu diperhatikan orang-orang?"
"Kenapa? Kakak juga sukakan sama dia? Iya, kan?" Riana begitu marah karena Adrian membela Lani, bukan membela dirinya.
"Kamu lihat, ternyata kamu itu rubah betina yang suka menggoda banyak pria. Apa belum cukup Reihan di sisi kamu hingga Adrian juga harus tergila-gila sama kamu?"
"Lebih baik kalian pergi. Jangan pedulikan kata-katanya, biar aku yang akan menangani dia," ucap Adrian pada Lani sambil mencoba untuk membujuk Riana.
"Kakak lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan ke dia. Dia pasti akan menyesal karena sudah berani merebut Reihan dariku."
"Kamu bicara apa sih. Jangan lakukan hal bodoh, nanti kamu akan menyesal."
"Aku tidak peduli!! Aku benci sama dia!!"
Adrian hanya bisa menghela nafas panjang mendengar celotehan Riana. Entah itu karena amarah ataukah itu adalah sebuah ancaman.
Setelah berhasil membujuk Riana, Adrian bermaksud untuk segera pergi dari tempat itu. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Lani yang sedang duduk di salah satu kursi yang ada di sekitar parkiran sekolah. "Aku minta maaf atas perkataan Riana tadi." Tiba-tiba saja Adrian sudah berdiri di sampingnya dan sontak saja membuat dia terkejut.
Melihat Adrian yang sudah berdiri di dekatnya membuat dia cepat-cepat berdiri sambil menyeka air matanya yang jatuh.
"Kamu menangis?" tanya Adrian penasaran.
__ADS_1
"Pergilah, jangan ganggu aku. Sudah cukup Riana memakiku dan aku mohon jangan tambah lagi cacian padaku."
"Aku tidak akan lakukan itu. Aku minta maaf, atas perlakuanku waktu itu dan aku tidak akan menyakitimu lagi. Kamu boleh tidak percaya padaku, tapi jujur aku ingin berubah dan aku hanya ingin kamu percaya padaku," ucap Adrian yang terlihat sungguh-sungguh.
"Aku minta maaf, sungguh aku menyesal karena pernah menyakitimu, tapi aku tidak akan pernah menyesal karena telah jatuh cinta padamu. Aku hanya menyesal kenapa kita bertemu di saat aku menjadi seseorang yang brengsek, bukan seseorang yang bisa meluluhkan hatimu," ucap Adrian sambil menundukkan wajahnya.
"Aku janji, aku akan berubah. Mungkin kamu pikir aku sedang berbohong, tapi biar saja waktu yang akan menjawab karena aku tidak ingin orang yang aku cintai harus menderita sementara aku tidak bisa melakukan apapun. Memang aku tidak pantas katakan itu karena aku bukan siapa-siapamu bagimu, tapi setidaknya melihat orang yang aku sayang bahagia, sudah cukup untuk membuatku ikut bahagia."
Ardian kemudian pergi meninggalkan Lani yang masih terdiam. Entah apa yang ada dalam pikirannya, tapi dia melihat kesungguhan di setiap kata yang diucapkan Adrian padanya.
"Kenapa Adrian di sini? Kamu diganggu lagi?" tanya Iva yang baru saja datang sehabis membeli minuman dingin.
"Tidak apa-apa, ayo kita pulang."
*****
Di dalam kamarnya, Lani masih memikirkan perkataan Adrian. Apa mungkin orang seperti Adrian bisa berubah? Apa mungkin setiap kata yang dia ucapkan tadi adalah benar? Saat ini, bukan perkataan Adrian saja yang sedang dia pikirkan, tapi setiap detil dari perkataan Riana juga menohok hatinya. Apa mungkin hubungannya dengan Reihan akan berakhir hanya karena dia orang miskin? Apa Reihan bisa melepasnya hanya karena dia miskin?
"Kenapa aku jadi berpikir yang macam-macam?" keluhnya kesal sambil membenamkan kepalanya di bawah bantal.
*****
Tidak hanya Lani yang terkejut dengan perubahan Adrian, bahkan teman-temannya pun merasakan hal yang sama. "Hari ini kamu sangat rapi, apa ada yang ingin kamu katakan pada kami?" tanya salah satu temannya.
"Memangnya kenapa?"
"Heran saja, hari ini kamu terlihat berbeda. Apa jangan-jangan kamu sudah tidak mau lagi jadi ketua geng kita?" tanya temannya yang seakan tahu arti dari perubahannya itu.
"Aku minta maaf, mungkin ini terlalu mendadak dan aku tidak sempat memberitahukan kalian, tapi aku ingin berubah. Aku tidak ingin selamanya menjadi anak bandel yang selalu dibenci orang," ucap Adrian mencoba untuk menjelaskan.
"Namun, apa mungkin dengan berubah akan membuat orang-orang akan percaya sama kamu? Jujur kawan, aku juga ingin berubah. Aku tidak ingin selalu dilihat orang sebagai anak nakal."
Sejenak, mereka terdiam. Ternyata, selama ini mereka ingin berubah, tapi mereka merasa takut dan ragu jika perubahan mereka akan disangsikan oleh orang lain.
"Sebentar lagi kita akan lulus dan aku tidak ingin masa-masa terakhirku di sekolah terbuang percuma. Aku ingin menghabiskan sisa di sekolah dengan kenangan yang manis bukan kenangan yang buruk karena aku tidak ingin menyesal di kemudian hari," ucap Adrian sungguh-sungguh.
"Ya, sudah. Kalau itu sudah jadi keputusanmu, kita akan ikut. Aku juga sudah bosan ditatap sinis sama anak-anak." Saat itu juga, geng Adrian yang selama ini terkenal sebagai kumpulan cowok-cowok berandal sudah memutuskan untuk membubarkan geng mereka.
"Kamu tadi lihat penampilan Adrian, kan? Sepertinya dia sudah berubah," ucap Iva pada Lani saat duduk di dalam kelas.
"Aku lihat, kok. Syukurlah kalau dia mau berubah."
__ADS_1
"Dia terlihat sangat tampan dengan penampilannya sekarang. Iya, kan?"
"Kenapa? Apa kamu suka lihat Adrian karena perubahannya itu?" Tiba-tiba Raka dan Reihan sudah berdiri di samping mereka.
"Maksud kamu apa sih? Jangan bilang kalau kamu cemburu," ucap Iva pada Raka yang terlihat mulai kikuk.
"Siapa juga yang cemburu."
"Terus, kalau bukan cemburu, apa ayo?"
"Bukan cemburu, tapi aku tidak suka kamu memuji orang lain apalagi dia itu musuh pacar kamu. Yang harus kamu puji itu aku bukan dia," celetuk Raka sedikit kesal.
"Iya, iya, aku minta maaf," ucap Iva dengan senyum yang sontak saja membuat hati Raka menjadi luluh.
"Sudahlah, tidak usah dibahas," ucap Reihan mencoba menengahi.
"Iya, kita tidak akan membahas dia lagi, kok," ucap Iva.
"Kamu kenapa diam saja, apa ada masalah?" tanya Reihan pada Lani yang sedari tadi hanya jadi pendengar.
"Tidak kok, tidak ada masalah apa-apa."
"Benar? Apa ada yang mau kamu katakan padaku?"
Lani hanya terdiam. Dalam hatinya, ada banyak yang ingin dia bicarakan dengan Reihan. Dia hanya ingin memastikan kesungguhan Reihan padanya. Apa iya, Reihan akan tetap mempertahankannya jika kelak cinta mereka ditentang karena perbedaan status sosial?
Karena melihat Lani yang seakan sibuk dengan pikirannya sendiri membuat Reihan kemudian meraih tangan kekasihnya itu dan mengajaknya berbicara empat mata. "Kamu kenapa? Kamu sedang memikirkan apa? Kalau punya masalah, aku siap mendengarkan," ucap Reihan ingin tahu.
"Aku takut jika nanti kita harus berpisah karena aku ini hanya gadis miskin." Tiba-tiba Lani berkata dengan senyum kecut di bibirnya.
"Kenapa bicara seperti itu? Aku kan sudah pernah bilang, apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkanmu hanya karena status," ucap Reihan serius.
"Aku sayang sama kamu, aku sungguh-sungguh sama kamu. Kalau kamu masih ragu, sebentar kita ke rumahku dan akan aku kenalkan kamu pada ibuku," ucap Reihan yang berusaha meyakinkan kekasihnya itu.
"Aku percaya, kok. Maaf, aku sudah membuatmu khawatir."
"Tidak apa-apa. Aku senang kamu menanyakan hal itu, karena dengan begitu aku jadi tahu perasaanmu padaku," ucap Reihan sambil membelai lembut rambut kekasihnya itu.
"Aku harap, kamu tidak akan menyangsikan kesungguhanku. Aku mencintaimu dan akan selalu seperti itu," lanjut Reihan.
Lani kemudian tersenyum mendengar penuturan Reihan. Dia berharap, semua yang dikatakan Reihan adalah benar. Dia tidak ingin kecewa dan harus kehilangan Reihan karena status mereka yang jauh berbeda. Dia berharap, semoga saja cinta mereka tetap utuh walau banyak perbedaan di antara mereka. Semoga saja.
__ADS_1