
Anabel pun segera menunggu taxi pesanannya. Setelah taxi itu datang, Anabel segera menaikinya menuju panti.
Selama di mobil Anabel hanya mampu terdiam dan menangis tanpa sadar, Air matanya jatuh begitu saja.
sesekali ia menarik nafas cukup panjang.
Anabel pun memutuskan mencoba untuk menghubungi Amel, untuk memberitahukannya. Namun ketika Anabel mencoba menelfonnya , tidak ada jawaban. Begitupun ketika Anabel mencoba mengirim pesan pada Amel, tak ada jawaban. Hingga Anabel memutuskan menaruh hp nya kembali ke dalam tas. Fikirnya mungkin Amel sedang sibuk saat ini. Toh ia yakin Amel pasti tau ada beberapa panggilan darinya dan pesan darinya.
Anabel pun memutuskan untuk menyadarkan dirinya di kursi mobil dan memejamkan matanya, Anabel hanya ingin melupakan kekalutan hatinya. Membiarkan Angin menerpa wajahnya. Anabel tetap berada di posisi itu hingga ia sampai di panti.
Hingga perjalanan hampir 2 jam,Anabel pun sampai di panti.
"Bu, sudah sampai." ucap supir taxi.
"Iya pak, terimakasih." ucap Anabel yang masih memejamkan matanya dan berusaha merapikan dirinya untuk keluar dari mobil.
Setelah keluar dari mobil, Anabel menyakan berapa harga yang harus ia bayar.
"Berapaan pak?" ucap Anabel di depan kaca mobil supir taxi tersebut.
"65000 ribu." ucap supir taxi itu.
"Ini pak, terimakasih." ucap Anabel memberikan uang tersebut ke supir taxi.
"Iya mbak sama sama, terimakasih juga." ucap supir taxi tersebut.
Setelahnya Anabel pun masuk ke dalam panti tersebut. Begitupun supir taxi segera melajukan mobilnya.
Anabel mencoba membuka gerbang panti, setelahnya ia masuk dan mengetuk pintu beberapa juga tak lupa mengucapkan salam.
"Assalamualaikum Bu panti." ucap Anabel.
"Assalamualaikum." ucap Anabel sekali lagi dengan mengetuk pintu itu.
"Waalaikumussalam nak Anabel akhirnya kamu datang juga." ucap Bu panti, membukakan pintu untuk Anabel. Tak lama kemudian Bu panti hampir saja jatuh pingsan, keseimbangan tubuhnya yang lemah membuat ia hampir terjatuh. Anabel pun syok dan segera berusaha memeluk Bu panti menuju sofa, Begitupun dengan anak anak panti berusaha menolongnya.
"Tolong ambilkan kayu putih ya." ucap Anabel ke anak anak panti.
"Iya kak." ucap salah satu dari mereka.
"Bu, Ibu gak papa kan?" tanya Anabel yang cemas dengan kondisi ibu panti dan berusaha menggenggam tangan bu panti.
"Ibu gak papa nak, ibu gak papa kok. Jangan khawatir ya." ucap bu panti tersenyum berusaha menenangkan Anabel dengan menggenggam balik tangan Anabel.
"Ibu bilang gak papa, tapi tubuh ibu gak bisa berbohong. Ibu pucat sekali, hiks." ucap Anabel menangis, yang tanpa sadar tetes demi tetes air mata membasahi pipi Anabel begitupun dengan tangannya dan tangan bu panti yang menggenggamnya.
"Jangan nangis dong Anabel. Ibu gak papa beneran." ucap bu panti berusaha tersenyum.
"Hiks, ibu bohong." ucap Anabel yang masih terus menangis.
"Terus ibu harus apa? agar kamu percaya sama ibu, kalau ibu gak papa?" ucap Bu panti dengan masih terus tersenyum.
"Hiks." hanya tangis yang bisa Anabel keluarkan.
"Hiks, sudahlah bu. Jangan berusaha membohongi diri ibu sendiri dan membohongi Anabel." ucap Anabel.
Di tengah pembicaraan mereka terhenti begitu saja, karena Anak panti menghampiri mereka dan memberikan kayu putih yang Anabel minta.
"Kak, ini kayu putihnya." ucap salah satu dari mereka.
"Terimakasih ya sayang." ucap Anabel.
"Ohya bu mau makan? biar Anabel suapin." ucap Anabel.
"Ibu pasti ini belum makan, makanya mau pingsan gitu dan pucat banget." ucap Anabel sekali lagi .
"Tidak usah Anabel, ibu masih kenyang." ucap bu panti.
"Zahra, Bu panti sudah makan belum tadi? apa kamu lihat Bu panti makan tadi ?" ucap Anabel mencoba bertanya kepada salah satu anak panti di sana.
"Hemm." ucap Zahra menunduk takut, takut salah bicara dan sesekali melirik bu panti juga Anabel.
"Tidak usah takut Zahra, jujur saja gak papa. Bicara sama kakak. Gak ada yang gigit atau marahi Zahra." ucap Anabel mencoba menyakinkan Zahra.
"Belum kak." ucap Zahra, hanya itu yang mampu Zahra ucapkan . Setelahnya Zahra menunduk takut dan segera berlari ke baris belakang.
"Bu,tolong jujur sama Anabel, kalau ibu belum makan .Gak papa biar Anabel suapin ya." ucap Anabel mencoba membujuk bu panti sekali lagi.
"Hemm, baiklah. Ibu mau kamu suapin. Maaf merepotkan dan terimakasih sebelumnya Anabel." ucap bu panti, yang akhirnya mengalah kepada Anabel. Karena tak ingin terus berdebat, toh dia juga belum makan dan sangat lapar sejujurnya.
"Tidak merepotkan kok Bu. " ucap Anabel dengan tersenyum.
"Iya Anabel ambil makan ya Bu atau kalau boleh Anabel minta salah satu kalian untuk ambil makan buat bu panti ya, boleh?" ucap Anabel ke anak anak panti.
"Boleh kak, Tapi lauknya habis kak. Tadi kami di kasih berkaitan tetangga makanan dan itu hanya sedikit, kami bagi sudah habis kak." ucap salah satu anak panti.
"Tadi Bu panti minta kami untuk memakannya saja tanpa menyisakannya karena Bu panti bilang, beliau ada magh nya dan gak bisa makan makanan seperti itu." lanjut ucap anak tadi.
"Hemm begitu ya, Baiklah biar kakak masakkin bentar ya. Kalian tolong jaga bu panti." ucap Anabel yang kemudian berdiri dan bersegera ke dapur.
"Ohya, ada bahan untuk di masak kan? ada apa aja?" tanya Anabel yang berhenti sesaat.
"Ada kak, tapi tinggal sedikit sepertinya bahan di dapur untuk masak kak. Ada bawang, telur terus apa ya kak. Aku lupa, mungkin bisa kakak lihat sendiri secara langsung." ucap salah satu dari mereka.
"Hemm baiklah, makasih. Berarti gak usah belilah karena masih ada toh. Gak papa biar kakak olah itu masakkan walau sederhana. Ini kakak juga mau lihat bahan di dapur dulu ya." ucap Anabel .
"Ohya tolong jaga bu panti ya. Salah satu kalian harus ada yang jaga bu panti." ucap Anabel sekali lagi ke mereka, anak panti.
"Iya kak." ucap salah satu dari mereka.
Kemudian Anabel pun segera berlalu ke dapur dan mencari bahan untuk di olah.
Anabel meletakkan telur dan bumbu dapur lainnya untuk di olah. Hari ini Anabel ingin memasak telur dadar atau omlet.
\===================
Ketika Cinta Harus Memilih - Dadar dan Omelet
Anabel pun segera menyajikan Dadar juga omelet yang telah ia buat di depan sana.
"Assalamualaikum anak anak, Bu panti. Ini Anabel uda buatin Telur dadar khusus ibu panti dan omelet untuk anak anak." ucap dengan tersenyum.
"Ohya aku mau membereskan dapur dulu ya sehabis tadi ku buat masak, hehe." ucap Anabel segera ke dapur untuk membereskan nya.
"Hati hati nak, makasih." ucap bu panti berkata lirih, walau ia tau mungkin Anabel takkan mendengarnya.
"Yee bisa makan omelet kesukaanku." ucap salah satu anak panti.
" Kesukaanku juga leh." ucap yang lain, seakan tak mau kalah.
"Udah udah , jangan berisik. Ibu masih pusing, maaf tolong jangan berisik dulu ya. Untuk saat ini ibu tidak ingin mendengar suara berisik." ucap bu panti.
"Iya Bu, maaf." ucap keduanya.
Beberapa menit kemudian, Anabel pun segera kembali dan bersiap menyuapi ibu panti.
"Sinii Bu , biar Anabel yang menyuapi ya." ucap Anabel.
,"He'em, terimakasih ya Anabel sayang." ucap bu panti.
"Iya bu, sama sama. Anabel senang kok bisa menyuapi ibu." ucap Anabel , yang segera menyuapi ibu panti. Dan tak begitu lama, makanan yang ia suapi pun habis.
"Alhamdulillah habis juga ya bu. " ucap Anabel tersenyum.
"Alhamdulillah." ucap anak anak panti.
"Ohya, Amel sudah kamu beritahu kah nak?" ucap bu panti kepada Anabel.
"Ya Tuhan, Anabel lupa bu, untuk memberitahukan Amel. " ucap Anabel.
"Iya tadi,. Anabel ada niat ingin memberitahukan pada Amel juga. Tapi jujur Anabel ragu ." lanjut Anabel.
"Apa yang kamu ragukan toh nak?" tanya bu panti.
"Anabel ragu bu, karena Amel begitu tak menyukai Ana bahkan membencinya." lirih Anabel akhirnya bersamaan ia mencoba memejamkan matanya dan menghela nafasnya cukup panjang. Tanpa sadar bulir air mata membasahi pipinya.
"Nak, bagaimanapun Amel sahabatmu, ia pun pernah menjadi sahabat Ana, kamu harus memberitahunya. Meski saat ini Amel masih membenci Ana setelah kejadian hari lalu, tapi mungkin setelah mendengar kabar kematian Ana, Amel tak membencinya dan mau memaafkannya. Bagaimanapun yang di butuhkan sang mayit doa dan maaf dari orang yang mungkin pernah tersakiti hatinya olehnya Anabel." ucap bu panti mencoba menjelaskan kepada Anabel.
"Hemm, baiklah bu, Anabel coba hubungin Amel ya. Makasih banyak bu, uda nasehatin Ana." ucap Anabel.
"Iya sama sama sayang." ucap bu panti.
Anabel pun segera menelfon Amel, untuk pertama dan kedua panggilan tak ada yang mengangkat, hingga hampir saja membuat Anabel menyerah untuk memanggilnya kembali.
Anabel menggeleng ke ibu panti, menandakan bahwa tak ada jawaban dari Amel.
"Coba lagi. Sekali lagi." ucap bu panti dengan tersenyum, mencoba meyakinkan Anabel.
Anabel pun mencoba memanggil Amel, sekali lagi. Hingga panggilan ketiga pun di angkat oleh Amel.
"Hallo Bel, Assalamualaikum." ucap Amel di sebrang telfon sana.
"Maaf baru angkat ya Bel, soalnya aku mulai pagi sibuk hihihi." ucap Amel kembali.
"Waalaikumussalam, Amel. Kamu kemana aja mulai tadi pagi ku hubungin kok gak bisa? kamu uda baca pesanku tadi pagi belum? kalau uda, kamu pasti tau apa yang ingin ku sampaikan." ucap Anabel.
"Hehehe iya belum sempat tengkok hp, ini baru sempat tengok hp uda ada telfon dari kamu." ucap Amel, di sebrang sana .
"Iya Mel, gak papa. Ohya Mel aku cuman mau memberitahu kamu. Aku sekarang di panti dan.." ucap Anabel berhenti sejenak , menarik nafas.
"Loh kamu ngapain di panti?" tanya Amel.
Anabel menarik nafas cukup panjang sejenak sebelum memberitahukan kepada Amel.
"Ana.." ucap Anabel yang terhenti, karena lagi lagi ia tak mampu melanjutkan kalimatnya.
"Ana? Ana lagi? memangnya kenapa dengan Ana? Ia kembalikah? " tanya Amel, seperti nada tak suka.
"Enggak, Ana meninggal Mel, hiks. Ana meninggal, hiks. Mel.." ucap Anabel yang mulai kacau kembali.
"Hah serius kamu Bel? Ya Tuhan.. Astagaaa aku gak percaya dengan yang kamu katakan." ucap Amel.
"Iya Mel, kamu tolong ke sini ya jika kamu masih menganggap Anabel teman dan sahabatmu setidaknya bila kamu sudah maafkan dia. Sekalian nemenin bu panti juga syok dan keadaannya sempat down juga drop." ucap Anabel.
"Yaa Allah kasian bu panti, baik aku segera ke sana. Ohya Emang mayatnya ada di sana ya? di kuburkan kapan? uda di kuburkan kah? Dan di sana uda ramai orang kah?" tanya Anabel.
"Enggak Bel, nanti aku ceritakan aja di sini. Panjang soalnya ceritanya." ucap Anabel.
"Lah." ucap Amel.
" Ana kecelakaan pesawat dan wajahnya tak di kenali.Uda cepat ke sini , buruan aku tunggu, assalamualaikum." ucap Anabel kembali dan segera mengakhiri pembicaraan nya dengan mematikan sepihak. Anabel sengaja karena jika tidak akan semakin panjang, tak selesai dan tidak jadi ke panti Amel.
"Eh." ucap Amel , yang merasa aneh dengan jawaban Anabel. Kemudian Amel melihat sambungan telfonnya sudah terputus dan ia segera mematikannya juga. Dan segera bersiap untuk ke panti.
\===========================
Ketika Cinta Harus Memilih - Amel Juga Pergi Ke Panti
"Assalamualaikum." ucap Amel dari luar, ketika sudah sampai di depan panti.
Anak anak panti pun berebut untuk membukakannya.
"Waalaikumussalam, tante Amel? ." ucap salah satu mereka, yang terheran setelah sekian lama akhirnya tante Amel yang mereka kenal ke sini juga.
"Tante Amel ya?" ucap mereka yang lainnya.
"Iya ini tante Amel, kok pada heran sih?" ucap Amel kepada anak panti.
"Ohya mana mbak Anabel sama bu panti ?" tanya Amel kepada anak anak panti.
"Ada kak, itu di dalam. Mbak Anabel nemenin ibu panti, baru selesai nyuapin ibu panti. Karena ibu panti sedang kurang sehat mungkin habis mendengar kabar kematian Ana sehingga tak bernafsu untuk makan. Jujur kami pun juga sedih ." ucap anak panti lainnya yang menundukkan pandangannya karena rasa sedih yang tak bisa ia bohongi, tapi tetap bisa terbaca bagi siapapun yang melihatnya, melihat pandangan matanya.
"Ya Tuhan, yaudah kakak boleh masuk kan?" tanya Amel.
"Boleh kok tante, silahkan." ucap anak panti lainnya.
"Baik, tante masuk dulu ya." ucap Amel dan berlalu untuk masuk.
"Assalamualaikum Bu panti apa kabar?" tanya Amel ke ibu panti, setelah Amel menemukan mereka.
"Bel, uda nunggu lama di sini?" tanya Amel ke Anabel.
"Alhamdulillah ibu baik nak." ucap bu panti.
"Ibu senang kamu mau ke sini, nemenin ibu juga." ucap bu panti.
"Iya Bu, tentu Amel datang. Bagaimanapun Ana pernah menjadi sahabat Amel juga Anabel." ucap Amel dengan tersenyum.
"Iya Mel syukur Alhamdulillah kamu akhirnya datang. " ucap Anabel.
"Iya Bel, bagaimanapun Ana pernah menjadi sahabat kita. Ohya kamu uda lama kah nunggu di sini? kok dari awal kamu gak hubungin kasih tau aku sih?" tanya Amel.
"Hehehe iya uda sejak tadi di sini. Tadi pagi aku perjalanan ke sini, uda coba hubungin kamu. Tapi gak ada jawaban dari kamu.
Kamu nya gak aktif. Akhirnya aku pikir ntar aja sampai panti eh pas dah nyampe panti lupa karena aku uda panik dan heboh sendiri liar keadaan bu panti, juga masakkin beliau juga buat anak anak panti. Jadi uda lupa dan gak sempat, terus ini baru di ingatkan bu panti baru ingat. Itupun sejak awal juga tadi mau hubungin kamu takut , takut kasih tau karena tau kamu gak suka dengan Ana kan? kamu membencinya kan? tapi kata bu panti kamu pernah menjadi sahabatnya Ana bagaimanapun, dan tentu Ana butuh maaf dari orang orang yang merasa hatinya uda tersakiti olehnya termasuk kamu. Jadi ya akhirnya aku memutuskan menghubungi kamu." ucap Anabel.
"Issh kamu tega ya sama aku. Betul lah yang di ucapkan bu panti itu. " ucap Amel.
"Aku tadi pagi sibuk, jadi gak sempat nengok hp Bel." ucap Amel kembali.
"Ah, iya Bel. Aku mau nanya tentang Ana." ucap Anabel.
"nanya apa?" ucap Anabel.
"Ana itu meninggalnya di mana? kapan? terus matinya di kuburkan di mana? kalau bukan di sini? di rumah keluarganya kah? apa di Indonesia juga?terus maksud kamu wajahnya sudah tak di kenali?" tanya Amel sekaligus.
"Aih , biarlah ku jawab satu satu dulu . Pertama, Ana meninggal karena kecelakaan pesawat seperti berita tadi pagi. Kamu pasti tau kalau melihat berita itu. Dan bu panti juga lihat berita itu, maka nya bu panti syok kondisinya langsung drop dan hubungin aku. Aku juga nonton tadi pagi pas nontonin Afnan kartun kesukaannya sambil nyuap dia. Terus iklan bentar, berita itu. " ucap Anabel, berhenti sejenak.
"Jujur Aku juga syok, piring yang ku pegang buat nyuap Afnan juga pecah , sampai mama dan papaku menghampiri aku heboh karena tangisan Adnan juga yang kaget dengar piring pecah itu. Untuk di mana di makamkan dan apa ada keluarganya di Indonesia? gak ada setauku. Setauku Ana atau Bu panti pernah cerita, kalau Ana gadis yatim piatu. Dan gak mungkin di kuburkan di mananya karena wajahnya pun tak di kenali . Penumpang di satu pesawat tersebut tewas semua dan beberapa tak di kenali wajahnya karena rusak parah habis terjadi kecelakaan itu salah satunya Ana , itu." ucap Anabel mencoba menjelaskan kepada Amel.
"Yaa Allah gitu ya." ucap Amel.
"Iya begitulah." ucap Anabel.
"Nak.." ucap bu panti, yang menghentikan pembicaraan mereka.
"Iya Bu ?." ucap Anabel dan Amel.
"Ibu permisi dulu ya, mau cek kamar Ana barangkali ada sesuatu yang bisa ibu temukan." ucap bu panti.
"Yaa Allah jangan ibu. Ibu kan keadaannya belum sehat, biar kami aja ya Bu." ucap Anabel.
"Iya bu, biar kami aja ibu istrirahat aja ya." ucap Amel.
"Tapi nak .." ucap bu panti.
"Uda bu gak papa." ucap Amel .
"Iya bu, gak papa." ucap Anabel.
"Yaudah, makasih ya nak. Ini kunci kamarnya. Kamar Ana yang dulu sering ia tinggalin . Tau kan?" ucap bu panti dengan menyerahkan kunci tersebut.
"Oke Bu." ucap Anabel dan Amel, bersamaan.
Mereka pun segera ke kamar tersebut dan membukanya. Lalu mencoba mencari sesuatu petunjuk untuk menemukan jawaban tentang Ana atau kerabat terdekatnya. mungkin kenang kenangan atau pesan terakhir Ana. Meski mereka tau , pesan terakhir Ana kala itu ingin pergi selamanya meninggalkan kota ini, panti juga Anabel dan Amel. Tapi mereka gak nyangka itu semua berujung kematian Ana pada akhirnya.
"Belum nemuin barang atau petunjuk apapun Bel?" tanya Amel.
"Belum Mel." ucap Anabel lesu.
"Gak nyangka ya, pesan terakhirnya yang ingin pergi meninggalkan kota ini, panti juga kita berakhir kepergiannya selamanya dan mungkin takkan bisa kembali lagi atau bertemu dengannya kecuali di alam keabadian. Karena alam kita uda berbeda dengannya." ucap Amel.
"Hussst jangan ngomong gitu dong Mel." ucap Anabel.
"Lah kenapa? kan emang benar." ucap Amel.
"Aku tau tapi jangan di perjelas lagi lah." ucap Anabel.
"Ooh gitu, ya maaf." ucap Amel penuh sesal. Tak seberapa lama, bu panti pun ikut masuk dalam kamar tersebut, menyusul mereka.
Tanpa mereka sadari.
Bu panti pun segera mencari cari , seakan ingin menemukan sesuatu sebagai petunjuk.
Namun hasilnya nihil, hingga bu panti pun memanggil Anabel juga Amel beberapa kali karena mereka yang tak mendengarnya.
\=========================
Ketika Cinta Harus Memilih - Diary Ana
"Nak." ucap Bu panti kembali.
"Eh Bu panti." ucap Amel.
"Loh Bu panti?." ucap Anabel.
"Kok di sini Bu? ibu kan harusnya istirahat." ucap Anabel kembali.
Mereka pun segera menghampiri ibu panti.
"Iya nak,ibu ingin mencari sesuatu. Bosen jugs tiduran terus.Maka nya ibu ke sini. Barangkali ada yang bisa ibu temukan." ucap bu panti.
"Hemm baiklah Bu, biar kami bantu." ucap Anabel.
"Iya Bu." ucap Amel juga.
Mereka pun menuntun ibu panti untuk mencari sesuatu tersebut. Dan hasilnya nihil hingga tanpa sadar bu panti hampir pingsan. Dan Anabel menyuruh Amel agar membawa dan menemani ibu panti di sofa.
"Yaa Allah Bu, Kalau sakit tolong jangan di paksa Bu , biar kami yang mencari . Yaudah Mel tolong bawa ibu panti ini ke ruang tengah dan temenin ya." ucap Anabel ke Amel.
"Oke-oke." ucap Amel.
Tinggal Anabel sendirian di ruang kamar itu, jujur sedikit horror baginya. Tapi ia mencoba memberanikan diri terus mencari sesuatu yang bisa menjadi petunjuk.
Hingga tanpa sadar saat Anabel membuka lemari pakaian Ana, dalam tumpukan pakaian itu yang Anabel obrak abrik, jatuh lah buku kecil seperti diary.
Anabel pun segera mengambilnya dan membaca depannya yang tertulis "Diary Ana" , membuat tanda tanya, rasa penasaran juga kebingungan untuk Anabel .
Anabel pun akhirnya memberanikan diri, untuk membawa buku diary tersebut ke ruang tengah di mana Amel, bu panti juga anak anak panti berada di sana.
Sebelumnya, Anabel menutup kembali lemari tersebut. Kemudian mematikan lampu kamar itu dan melanjutkan mengunci kamar yang pernah di tempati Ana. Anabel pun berlalu ke ruang tengah. Sungguh Anabel tak ingin berlama lama di sana, karena ia merasa horror berada di kamar tersebut.
"Amel , Bu panti." ucap Anabel.
"Iya Bel ?" ucap Amel.
"Iya nak , duduk sini." ucap Bu panti.
"Apa kamu uda menemukan sesuatu?" tanya bu panti.
"Iya apa kamu uda menemukan sesuatu di sana Bel atau tidak?" tanya Amel.
Anabel pun segera duduk di samping mereka. Antara bu panti dan Amel.
Sebelum mengucapkan sesuatu, Anabel mencoba memejamkan matanya sejenak, setelahnya ia menarik nafas sebentar dan mulai berbicara.
"Aku menemukan ini." ucap Anabel memperlihatkan kepada mereka , buku itu.
"Diary Ana ?" ucap Amel juga Bu panti bersamaan, yang juga bingung. Mereka pun saling melihat satu antara lain.
******
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain, Bulan, Bintang juga David mencari makanan , mereka kelaparan setelah mereka pulang sekolah. Hari ini sekolah mereka pulang lebih awal.
"Eyank, kapan bunda pulang? Aku lapar. Pengen makan." ucap Bulan.
"Iya eyank, David juga lapar." ucap David .
"Bintang gak lapar?" tanya April yang melihat Bintang hanya tersenyum.
"Bintang juga lapar sebenarnya eyank." ucap Bintang.
"Hemm yaudah biar eyank buatij omlet keji buat kalian makan, mau?" tanya April.
"Mauuuuuuu bangeeeet eyank." ucap mereka bertiga.
"Okeee, tapi tolong jagain de Afnan. Jangan berisik, de Afnan lagi tidur. Dan kalau misal dr Afnan bangun , nangis gak berhenti . Kalian panggilkan eyank ya di dapur. Tapi eyank yakin dan usahakan cepat kok eyank buat omlet ini." ucap April.
"Horeee makan omlet buatan eyank tercinta." ucap Hery menggoda, membuat tawa mereka pecah. Terlebih dengan jogetan khas Hery .
"Issh kamu ngapain panggil aku eyank juga? aku bukan eyank mu . Tau ah awas gak ku kasih omlet. " ucap April pura pura ngambek dan segera berlalu . Tawa mereka pun semakin pecah.
"Yah..jangan dong yank. okeee makasih istriku tercinta . Horeee ngidam banget bisa makan masakan istri tercinta." ucap Hery dengan memeluk April.
Membuat suasana tiba tiba romantis, "cieeee" ucap mereka. Membuat April malu malu dan segera berlari ke dapur. Sedangkan Hery kesal tentunya. "Issh kalian apaan sih buat eyank malu aja ninggalin opa kan omamu." ucap Hery.
April pun segera mempersiapkan bahan untuk di memasak omlet keju.
April pun segera mempersiapkan 3butir telur ayam, 50 gram kornet sapi, 100 gram keju parut , merica juga garam tentunya secukupnya.
Setelah menyiapkan bahan bahan, April pun segera mengocok telur, lalu memanaskan telfon dengan api kecil. Dan bila sudah panas, dituangkan campuran telur.Ketika saat telur setengah matang, April pun menaburkan keju diatas telur. Menunggunya hingga keju menempel, lalu telur dibalik. Masak hingga matang.
Dan April pun tersenyum omelet keju buatannya sudah jadi.
April pun segera menyajikan di meja makan,ruang tengah. Dan memanggil mereka yang sedang bermain untuk makan.
"Bulan, Bintang,. David, Mas Hery ayo makan." ucap April. Tak lama kemudian mereka pun segera ke ruang tengah dan makan.
"Ayuk ma, makan bersama." ucap Hery ke istrinya.
"Iya Pa, bentar mama mau bereskan dulu sisa masakan yang uda mama buat." ucap April.
"Oke Ma. Papa bantu ya." ucap Hery , yang segera membantu April.
Setelah membereskan, April dan Hery pun turut makan bersama ketiga cucunya.
***
Apakah diary Ana akan memberikan petunjuk? Jika ia petunjuk apakah?
Apakah tentang kematiannya? atau tentang diri Ana dan masa lalunya? atau itu hanya sekedar diary biasa yang tak memberikan petunjuk apapun ?
\=======================
Ketika Cinta Harus Memilih - Diary Ana 2
Tinggal Anabel sendirian di ruang kamar itu, jujur sedikit horror baginya. Tapi ia mencoba memberanikan diri terus mencari sesuatu yang bisa menjadi petunjuk.
Hingga tanpa sadar saat Anabel membuka lemari pakaian Ana, dalam tumpukan pakaian itu yang Anabel obrak abrik, jatuh lah buku kecil seperti diary.
Anabel pun segera mengambilnya dan membaca depannya yang tertulis "Diary Ana" , membuat tanda tanya, rasa penasaran juga kebingungan untuk Anabel .
Anabel pun akhirnya memberanikan diri, untuk membawa buku diary tersebut ke ruang tengah di mana Amel, bu panti juga anak anak panti berada di sana.
Sebelumnya, Anabel menutup kembali lemari tersebut. Kemudian mematikan lampu kamar itu dan melanjutkan mengunci kamar yang pernah di tempati Ana. Anabel pun berlalu ke ruang tengah. Sungguh Anabel tak ingin berlama lama di sana, karena ia merasa horror berada di kamar tersebut. Ia merasakan hawa horor itu sangat kental, seakan ada yang mengikutinya.
Apakah arwah Ana? atau yang lain?
Ah entahlah.
"Amel , Bu panti." ucap Anabel dengan lirih.
"Iya Bel ?" ucap Amel.
"Iya nak , duduk sini." ucap Bu panti.
"Apa kamu uda menemukan sesuatu?" tanya bu panti.
"Iya apa kamu uda menemukan sesuatu di sana Bel atau tidak?" tanya Amel.
Anabel pun segera duduk di samping mereka. Antara bu panti dan Amel.
Sebelum mengucapkan sesuatu, Anabel mencoba memejamkan matanya sejenak, setelahnya ia menarik nafas sebentar dan mulai berbicara.
"Aku menemukan ini." ucap Anabel memperlihatkan kepada mereka , buku itu.
"Diary Ana ?" ucap Amel juga Bu panti bersamaan, yang juga bingung. Mereka pun saling melihat satu antara lain.
"Iya." ucap Anabel lirih.
"Hemm, maaf kalau boleh tau kamu menemukan diary ini di mana Bel ?" tanya Amel.
"Iya nak di mana? Soalnya ibu tadi juga sudah berusaha mencari tapi tidak ketemu, hasilnya nihil. Kamu sendiri tau dan melihatnya kan? Begitupun dengan Amel tadi ya..? " ucap bu panti.
Sekali lagi Anabel mencoba memejamkan matanya, sebelum menjawab pertanyaan mereka.
"Di tumpukan lemari Ana, aku menemukan diary ini ." ucap Anabel lirih.
"Yaa Tuhan, kenapa ibu gak ngeh ya tadi buat cari di sana." ucap bu panti penuh sesal.
"Eh tapi kemarin malam, ibu uda coba cari di sana.Tapi kok gak ketemu ya? Apa ibu mencarinya terlalu terburu-buru ya? hemm." ucap bu panti.
"Hemm mungkin." ucap Amel.
"Hemm apa ya kira kira isi diary ini? apa kita akan menemukan jawaban dari diary ini?." ucap bu panti .
"Bagaimana jika kita coba baca saja? Mungkin kita bisa menemukan petunjuk di sana. Agar kita juga gak bertanya tanya dan terus penasaran, itu menurut ku sih." ucap Amel.
Mereka pun setuju akhirnya dan segera membaca diary tersebut.
"Hemm iya benar juga saranmu Mel, ibu setuju lebih baik kita baca saja. Barangkali kita menemukan petunjuk di sana dan tidak terus bertanya-tanya juga penasaran seperti ini Bel." ucap bu panti.
"Hemmm iya, tapi.." ucap Anabel yang masih ragu dengan berkata lirih.
"Tapi apasih Bel?" ucap Amel.
"Udahlah gak papa baca aja, jangan takut gitu. Gue tau Anabel ini takutan orangnya Bu panti. Bener kan Bel?" ucap Amel.
"Aishsst kamu itu Mel, maksudku itu kan apa sopan kita buka gitu aja buku diary Ana ini? sedangkan buku diary itu biasanya sifatnya privasih loh. Tanpa izin y kali kita langsung buka aja. Hummmm, terlebih orangnya sudah meninggal." ucap Anabel mengakhiri perkataannya bersamaan hembusan nafas panjangnya. Secara tidak langsung perkataan Anabel juga membuat bu panti juga Amel sedikit ragu untuk membaca diary Ana tersebut.
"Iya betul juga sih Bel, tapi kalau gak di buka kita akan bertanya tanya dan bisa aja ada petunjuk di sini kan yang Ana tulis sebelum meninggalnya? ." ucap Amel, yang mencoba menyakinkan kembali bu panti dan Anabel.
"Hemm bentar, Ibu bingung dengan kalian yang berantem terus. Tolong diam dulu." ucap ibu panti.
"Menurut ibu, kamu ada benarnya Bel, diary tentunya bersifat privasi dan pribadi bagi pemiliknya. Terlebih kita belum izin dan orang itu sudah meninggal kan?." ucap bu panti . Belum selesai ia berbicara, Amel memotong pembicaraannya.
"Tapi Bu, kalau tidak bagaimana kita akan tau?" ucap Amel.
"Iya Amel, tolong diam dulu. Ibu belum selesai berbicara. Tolong jangan potong pembicaraan ibu ya Amel sayang." ucap bu panti.
"Iya bu, maaf." ucap Amel.
"Iya gak papa, Amel sayang." ucap bu panti.
Bu panti pun mencoba memejamkan matanya dan menghembuskan nafas panjang seakan berat apa yang akan di katakannya.
"Tapi Bel, yang di katakan Amel juga benar. Kalau kita tidak membacanya, kita tidak akan menemukan jawabannya apa. " ucap bu panti.
"Lalu bagaimana? apa keputusannya?" ucap Anabel lemas dan seakan pasrah.
"Bismillah kita buka saja ya." ucap bu panti.
"Iya saya setuju Bu, mungkin dengan itu kita bisa menemukan jawabannya." ucap Anabel.
"Hemm iyalah, baiklah jika itu yang terbaik." ucap Anabel.
"Bismillah, mari kita buka ya." ucap bu panti.
"Iya Bu, silahkan." ucap Anabel dan Amel.
Bu panti pun mulai membuka diary Ana, lembar demi lembarnya.
\==================
Ketika Cinta Harus Memilih - Ana Khoirunnisa
Namaku Ana Khoirunnisa
Aku benar benar muak dengan orang tuaku yang selalu membuat ku tertekan semenjak aku menjadi mualaf.
Sejujurnya dulu orang tuaku sangat penyayang, perhatian denganku meski mereka selalu bekerja dari pagi hingga malam tapi mereka selalu menyempatkan waktu untuk kita bersama.
Entah itu makan bersama, nonton, sekedar bercanda atau liburan bersama.
Tapi kini semua telah berubah, tak ku temui lagi kasih sayang mereka padaku, semenjak aku mengenal Islam , mereka selalu marah padaku terlebih ketika mereka mengetahui aku telah menjadi mualaf.
Berulangkali mengusirku pergi dari rumah ini bila tidak kembali ke agama mereka, tapi ketika aku telah pergi meninggalkan rumah ini . Mereka selalu menjemputku kembali dan mengurungku di rumah ini dan terus menerus menakanku. Bila aku memaksa tetap pergi dari rumah ini, mereka tak segan melakukan apapun, termasuk kepada teman yang dekat denganku terlebih seseorang yang membuat ku telah menjadi seorang mualaf. Dan mereka mengancam akan menghentikan bantuan mereka untuk sekolahku hingga itu akan membuat sekolahku terancam.
Sejujurnya aku tak mengapa, bila mereka hanya sekedar mengancam agar di keluarkan dari kampus itu, tetapi mereka juga mengancam orang di sekitar ku baik temanku atau sekolah itu. Ah, sejujurnya aku lelah.
Lalu aku harus bagaimana?
Tolong katakan padaku ??
Teman teman ku pun di sana perlahan membenciku karena sekolah tersebut bisa terancam karenaku dan penghentian biaya yang selalu orang tuaku berikan tiap bulan di sekolah itu.
Hingga akhirnya aku mengatakan ke mereka, kedua orang tuaku. Bila aku benar benar merasa tertekan dengan cara mereka dan aku tidak menyukai cara mereka.
Ya, akhirnya aku di suruh memilih keluar dari rumah ke ini selamanya dan tidak perlu kembali lagi serta mereka takkan menganggap ku sebagai anak lagi atau tetap berada di sini, mereka akan menganggap ku anak tapi aku harus meninggalkan agamaku dan harus kembali ke agama lamaku.
Sungguh, itu benar benar pilihan sulit untukku.
Tapi aku harus memutuskan antara kedua pilihan itu.
Hingga akhirnya aku memilih meninggalkan rumah ini dan mencoba Istiqomah dalam agamaku.
Sungguh ini pilihan yang berat untukku.
Aku pun mulai mengganti namaku menjadi Ana khourunnisa dan aku memutuskan keluar dari sekolah SMA ku, karena sekolahku sangat kental dengan agamaku yang dulu.
Perlahan tapi pasti aku yang awalnya belum memakai hijab sama sekali dan bajuku pun masih terkesan terbuka juga ketat meski saat itu aku sudah masuk Islam.
Tapi Aku bersyukur di tengah jalan berliku ini, jalan hijrah yang ingin ku tempuh.
Allah mendatangkan sahabat terbaik untukku namanya Rara Namun kini ia telah tiada di usia nya yang sangat muda. Rara meninggal di usia 21 tahun, saat ia baru memiliki 2 buah hati, lelaki dan perempuan.
Rara membimbingku dalam hijrahku, perlahan aku pun mulai memakai hijab meski saat itu hanya hijab pendek yang aku kenakan, pakaianku sudah mulai tertutup meski masih membentuk aurat kata mereka.
Tapi bukankah semua berproses?
Rara pun mengajakku untuk ke pondok miliknya, ya aku pun mondok di sana hingga Aku pun mulai memakai pakaian syar'i dan bercadar. Setelah lulus dari sana , aku memilih kuliah di universitas Al Azhar Kairo. Meski saat itu Aku pun sempat di minta untuk menjadi guru di pondok tersebut setelah aku lulus dari sana. Tapi aku benar benar ingin mempelajari Islam lebih dalam, dan aku berjanji pada mereka akan kembali mengajar di sana setelah aku lulus kuliah di universitas Al Azhar Kairo.
Setelah hampir 4 tahun aku kuliah di sana, aku pun lulus dan di minta untuk meneruskan S2 di sana oleh pihak kampus seperti mendapatkan undangan dari sana.
Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu, tapi sebelum itu aku memilih pulang ke pondok itu untuk melihat mereka.
Ternyata sudah banyak yang berubah di sana, termasuk Rara sahabatku yang telah di kamar dan menikah. Saat dulu awal aku masuk pondok sana, ketika Rara mengajakku. Rara masih gadis sama sepertiku.
Setelah hampir 2 Minggu di sana, aku pun memutuskan kembali ke Kairo untuk meneruskan kuliah S2 ku di sana.
Setelah 4 tahun , aku pun lulus S2 di sana. Ya aku selama 8 tahun kuliah di Kairo. dan 2 tahun aku sempat mengajar menjadi dosen di sana.
Setelahnya aku meminta mengundurkan diri menjadi dosen di sana dan kembsli ke Indonesia, karena aku pun rindu pondok , Rara dan teman temanku di sana. Aku pun rindu Kedua orang tuaku bagaimanapun dulu aku pernah berjanji akan mengajak dan menuntut mereka ke agamaku.
Bukan aku tak pernah menengok kedua orang tuaku ataupun peduli. Aku sering ke sana meski mereka usir, aku pun sering memberikan mereka uang ataupun oleh oleh tiap kali aku ke sana meski berujung mereka menolaknya. Hingga aku meminta seseorang untuk tiap bulannya memberikan oleh oleh dan uang tersebut kepada kedua orangtuaku tanpa sepengetahuan mereka. Dan aku mengatakan padanya agar jangan sampai kedua orangtuaku mengetahuinya.
Dan dari mereka aku juga mengetahui kabar orang tuaku. Ya kabar orang tuaku yang masih membenciku dan agamaku. Hingga aku pun memutuskan fokus dan Istiqomah di agamaku ini kala itu.
Saat ini aku merasa perbekalan ku sudah cukup untuk menghadapi kedua orang tuaku dan menuntun mereka, tentunya dengan bantuan Tuhanku Allah. Dengan izin Nya.
Hingga saat aku kembali kedua orang tuaku sempat mengusirku tapi aku tak menyerah hingga tak ku sangka dengan izin Allah mereka pun masuk Islam dan kami bersama kembali. Menjadi keluarga bahagia.
Ya, meski kedua orangtuaku sempat membenciku bagaimanapun mereka ketua orang tuaku dan aku tetap menyayangi mereka terlebih saat ini semua telah berbeda. Kami telah bersama kembali dan menjadi keluarga bahagia.
Harapan demi harapan ku rajut bersama mereka, tapi tak ku sangka kejadian memilukan itu terjadi.
Papa mmeninggal saat kecelakaan. Yang ku dengar dari kabar yang aku dapatkan, ada seseorang yang sengaja mencelakai papaku , katanya mereka teman saingan dalam dunia bisnis. Saat itu aku belum paham tentang dunia bisnis sama sekali, sungguh.
\=======================
Ketika Cinta Harus Memilih - Cerita Ana Khoirunnisa
Mamaku yang sedang hamil tua dan mendapatkan kabarku papaku meninggal akhirnya syok dan depresi .
Perlahan depresi itu semakin membunuh nyawa mamaku perlahan yang mulai tak mau makan, hampir melakukan percobaan bunuh diri bahkan kabur dari rumah. Sudah berulangkali aku mencoba membawanya ke rumah sakit atau rumah sakit jiwa walau itu jujur sangat berat untukku dan aku tak ingin melakukannya. Tapi untuk kesembuhan mamaku, aku terus mencobanya.
Tapi berulangkali aku mendapatkan kabar dari rumah sakit, bahwa mamaku kabur dan hampir saja membahayakan nyawa orang lain atau membawa anak kecil di sana.
Hingga aku pun memutuskan merawatnya sendiri, Tapi mamaku yang tak mau makan dan depresinya benar benar perlahan membuat mamaku tubuhnya semakin kurus, kering tinggal tulangnya saja. Dan perlahan namun pasti aku benar benar kehilangan mamaku juga adik di dalam kandungan mamaku meninggal untuk selamanya.
Ya karena kondisinya perlahan mamaku pun meninggal begitupun adikku yang berada di kandungannya. Dan sejak saat itu aku berjanji akan membalas dendam ku kepada pembunuh papaku yang menyebabkan semua ini terjadi.
Dan sejak saat itu aku merasa dunia ku runtuh, aku hampir saja tidak percaya Tuhan dan kembali ke agamaku dulu terlebih saat aku ingin mencurahkan isi hatiku ke Rara sahabatku, tapi aku mendapatkan kabar Rara jatuh sakit yang cukup parah dan di rawat di rumah sakit . Beberapa hari kemudian aku mendapatkan kabar Rara pun meninggal dunia. Ah, aku merasa terseok-seok, duniaku runtuh juga gelap. Aku merasa saat itu Tuhanku tidak mencintaiku walau aku tau ujian sebagai tanda cintanya.
Tapi perlahan saat aku mulai memutuskan melepaskan hijabku dan mulai memakai pakaian terbuka seperti saat itu, Aku hampir saja di perkosa. Dan aku benar benar merasa itu teguran dari Allah untuk ku , aku bersyukur saat itu ada masih selamat dari keadaan tersebut dan makhota kesucianku tidak jadi terenggut.
Ya, seorang lelaki menyelamatkanku dan sejujurnya aku tak begitu memperhatikannya karena aku terlalu syok dengan keadaanku hanya sekilas saja aku memperhatikannya.
Aku pun mulai menangis, memohon ampun kepada Tuhanku dan memakai kembali pakaian syar'i ku juga hijabku.
Tapi aku tetap berjanji akan membalas dendam ku kepada pembunuh ayahku dan aku akan terus mencoba mencari siapa mereka...
Hampir 1 tahun kejadian tersebut telah berlalu, tak aku sangka pertemuan ku dengan seseorang membuat getar berbeda di hatiku.
Ya, saat aku ada seseorang lelaki menyelamatkanku yang hampir saja tertabrak dan kecopetan, ia juga pernah menolong ku membayar biaya rumah sakit saat yang yang ku bawa sangat kurang dan ia berkata agar aku tak perlu menggantinya. Ternyata baru ku sadari ia seorang lelaki yang kala itu pernah menyelamatkanku yang hampir saja di perkosa oleh sekelompok preman.
Ia dia lelaki yang sama dan benar benar membuat ku jatuh cinta dengan akhlaknya. Dan saat itu aku seringkali memperhatikannya, Ia selalu tak pernah Alfa shalat lima waktu di masjid, suaranya pun benar benar indah dan membuat hatiku bergetar.
Sungguh aku benar-benar ada rasa dengannya. Dan tak ku sangka setelah kami cukup mengenal, ia pernah menyatakan perasaan denganku sayangnya setelah aku ingin serius dan meng iyakan dia berkata padaku bahwa sebenarnya sudah ada seseorang spesial di hatinya. Dan dia sebenarnya selama ini menganggap ku sebagai sahabat meski ia mengatakan ingin serius melamarku. Tapi jujur ini benar benar keputusan yang sulit untukku untuk melanjutkan hubungan tersebut.
Tapi aku pun mengatakan padanya, aku setuju dengan lamarannya dan akan membuat ia jatuh cinta padaku hingga ia mampu melupakan nama perempuan itu di hatinya.
Dan iya pun menantang ku dengan candaannya hingga aku pun menyetujuinya.
Namun saat aku telah berharap padanya, saat aku telah berusaha mencoba segalanya untuk membuat ia jatuh cinta padaku dan melupakan perempuan itu, justru Ia datang dan mengatakan padaku untuk mundur karena ia tak bisa melupakan perempuan itu dan benar benar tak bisa. Ia tak ingin menikah tanpa cinta terlebih saat ia mengatakan bahwa ia sempat melamar ke keluarga perempuan itu saat ia rasa perempuan itu mulai ada rasa dengannya dan keluarga perempuan itu menyetujuinya, menyetujui lamarannya dan agar segera melangsungkan pernikahan itu. Sebab itu, ia mengatakan kembali ke sini untuk meminta maaf dan ingin mundur juga membatalkan lamaran ini.
Ah, seketika aku merasa sesak dan duniaku runtuh
Aku merasa telah di permainkan oleh nya .
Hatiku pun seakan di permainkan olehnya ingin rasanya membalas sakit hati ini tapi aku sadar cukup aku tak ingin mendendam asal bukan orang yang ku sayang yang terluka. Jika diriku masih tak mengapa.
Sejujurnya aku masih ada rasa dengannya, ia pun tetap menjadi lelaki terbaik yang bertatah di hatiku tapi aku juga Kecewa dengannya. Dengan memberikanku harapan, meski sepenuhnya bukan salahnya karena memang cinta tak ada yang bisa di paksa kan?
Ya baru aku tau lelaki itu bernama Ferdi.
Namun aku mencoba bangkit dari keterpurakanku dan saat itu ada seorang ibu menyebrang di tengah jalan hampir saja tertabrak bila saja aku tak menyelamatkannya. Dan ia pun berterimakasih padaku juga membawaku ke rumahnya. Yang tak ku sangka, rumahnya juga ia jadikan panti untuk anak anak yatim piatu atau berkebutuhan khusus.
Aku pun menceritakan kisahku dan beliau pun menawarkan diri untuk aku tinggal bersamanya bila ingin, agar aku tak merasa kesepian juga memiliki sebuah keluarga.
Saat itu panti yang ku tempati sangat kecil, hingga aku pun memutuskan untuk menjadikan rumahku sebagai panti untuk anak anak Dan aku pun tinggal bersama mereka ibu panti juga.
Ya aku benar benar merasa tidak kesepian lagi. Dan aku mulai menyukai teman juga sahabat baru yaitu Anabel dan Amel.
Dan baru aku sadari ternyata Ferdi , seseorang yang pernah ku cintai hingga detik ini masih ada rasa ku dengannya ternyata suami dari Anabel ,sahabatku sendiri. Aku pun benar benar tak mempercayai kenyataan ini rasanya.
Ya, aku tau saat Anabel mengundangku beberapa kali ke acara ulangtahun atau selamatan untuk anaknya dan beberapa kali main ke rumahnya di ajak oleh Amel, saat itu aku bertemu lelaki itu kembali. Lelaki yang membuat ku bergetar kembali, dan sejujurnya saat itu aku tidak tau siapa dia. Yang aku tau mengapa aku merasakan getaran kembali di hatiku setelah kepergian lelaki yang aku cintai kala itu. Dan ternyata ialah lelaki yang sama , yang pernah membuatku bergetar dan baru ku sadari saat itu ,setelah pertemuan kami beberapa kali. Dan mungkin ia tak mengenaliku karena aku telah memakai cadar Karena saat dulu aku bertemu dengannya z saat ia menyelamatkanku dari kasus perkosaan aku yang tak memakai hijabku dan memakai pakaian ketat dan saat ia menyelamatkanku beberapa kali setelahnya entah dalam menyelamatkanku dari kecelakaan itu , pencopetan atau membantu biaya rumah sakit ku saat itu aku tak memaki cadar dan sempat mencopot cadarku karena belum siap. Dan aku memakai cadar ku kembali saat telah menetap dan mengabdi di panti ini.
Ya lelaki itu mungkin tak mengenaliku tapi aku sangat mengenalinya
Ia dia lah Ferdi, lelaki yang pernah ku cintai dan selalu membuat sudut hatiku bergetar hingga detik ini dan ia juga suami dari sahabatku.
Sejujurnya aku ingin memiliki apa yang pernah hampir menjadi milikku tapi aku tak ingin merusak persahabatan ini dan aku pun cukup tau itu bukan takdir yang di haruskan untukku. Hingga pada akhirnya aku memilih mengikhlaskannya dan pergi meninggalkan kota ini, panti juga sahabatku karena terus di sini dengan perasaan yang ada yang aku takutkan aku tak mampu mengontrol hatiku dan Istiqomah ku goyah terlebih aku takut Ferdi mengetahuinya.Hingga kepergian jalan satu satunya yang ku pilih walau berat harus meninggalkan mereka, meninggalkan semuanya. Tapi aku harap itu yang terbaik untuk semuanya. Dan untuk terakhir sebelum kepergian itu , aku sempat mengatakan perasaanku kepada Anabel sahabatku, karena aku tak ingin berpura pura dan agar jika Anabel ingin membenciku dan tidak terlalu berat melepaskan kepergianku ataupun menangisinya. Ya, semoga ini yang terbaik, ku harap begitu.
\====================
Ketika Cinta Harus Memilih - Anabel Pingsan
Setelah mereka membaca diary Ana tersebut. Seketika mereka syok dan Anabel pun rasanya lemas membaca dari awal hingga akhir diary tersebut.
Anabel benar benar tak mempercayai apa yang ia baca barusan, Kenyataan seakan mengantam dan menghujamnya begitu dalam.
Tubuhnya terasa mati rasa dan lemas, Anabel pun ambruk dan pingsan beberapa jam kemudian.
Sedangkan ibu panti begitu syok dengan apa yang barusan ia baca , seakan menemukan Teka teki itu perlahan dan ia benar benar seakan tak mempercayai kenyataan ini.
Benar benar syok terlebih melihat kondisi Anabel pingsan selepas membaca diary tersebut.
Begitupun dengan Amel yang semakin membenci Ana tapi ia tak mungkin menyimpan rasa benci juga app terus menerus terlebih Ana telah tiada.
Beberapa jam kemudian, Ferdi menjemput Anabel dan apa yang ia lihat benar benar membuat nya syok.
Saat Ferdi datang, ia melihat Anabel telah jatuh pingsan dan begitupun keadaan bu panti tidak jauh berbeda.
Amel segera menggotong bu panti di bantu anak anak panti, setelahnya Amel meminta mereka membelikan kayu putih karena persediaan kayu putih sudah habis. 5 menit kemudian, anak anak datang memberikan kayu putih itu. Dan Amel segera memberikan kayu putih itu kepada bu panti.
Begitupun Ferdi ketika mengetahui Anabel jatuh pingsan segera menggotong Anabel, istrinya ke sofa di sebelahnya dan menidurkan istrinya di sana.
Ferdi pun meminta Amel kayu putih itu untuk diberikan ke Anabel, istrinya.
****
"Zahra, tolong belikan kayu putih di warung sebelah ya karena persediaan kayu putih habis." ucap Amel kepada salah satu anak panti, setelah ia menggotong bu panti ke sofa.
"Iya kak." ucap Zahra.
5 menit kemudian, Zahra kembali membawa kayu putih.
"Ini kak." ucap Zahra dengan memberikan kayu putih tersebut.
"Iya, makasih ya Zahra." kemudian Amel pun memberikan kayu putih itu untuk mengobati bu panti .
Tak lama kemudian, Ferdi pun datang. Dan betapa terkejutnya melihat kondisi Anabel istrinya seperti itu, pingsan di lantai.
"Assalamualaikum." ucap Ferdi.
"Waalaikumussalam." ucap anak anak panti dan Amel.
"Yaa Allah ini kenapa dengan Anabel , istriku?" ucap Ferdi.
Anak panti hanya mampu diam saja, sedangkan Amel melirik Ferdi sebentar, kemudian melanjutkan mengobati bu panti. Seakan tak ada niat ingin menjawab ucapan Ferdi.
"Mel, ini kenapa dengan Anabel istriku? jawab Mel, kamu pasti tau kenapa dia. " ucap Ferdi.
"Mel." panggil Ferdi lagi, karena Amel tak kunjung menjawabnya.
"Dia begitu karena kamu dan Ana, pakek nanya lagi." ucap Amel sinis, dengan masih memberikan kayu putih itu untuk bu panti, untuk mengobatinya.
"Karena aku?" tanya Ferdi yang masih tak mengerti.
__ADS_1
"Terus kenapa kamu tak menolongnya?" tanya Ferdi kembali.
"Mel." panggil Ferdi sekali lagi, karena lagi dan lagi Amel tak kunjung menjawabnya.
"Bukan aku tak mau menolongnya Fer, tapi aku tadi bingung harus menolong siapa dulu. Sedangkan di sini hanya ada aku orang dewasanya.Jujur aku bingung.. " ucap Amel.
"Dan karena aku melihat bu panti juga sedang sesak nafas, sementara istrimu sudah terlanjur pingsan. Tentu yang harus ku bantu dulu bu panti agar beliau tidak pingsan juga. Ya walau beliau juga menyuruhku menolong Anabel dulu . Tapi aku tak tega dengannya. Toh aku tadi juga meminta anak panti untuk menelfonmu agar kamu bisa membantuku dan mengobati Anabel, istrimu. Makanya kamu sekarang di sini kan?" tanya Amel ketus.
"Kamu kenapa sih seperti tidak menyukaiku begitu? Aku ke sini karena memang waktuku menjemput Anabel, aku khawatir dengannya. Aku belum menerima telepon itu sama sekali." ucap Ferdi.
"Aku tak mengerti kamu ini kenapa? Ah, sudahlah." ucap Ferdi Kembali dengan menggelengkan kepalanya dan berlalu. Kemudian Ferdi mengangkat Anabel dan menaruhnya di sofa sampingnya, di samping bu panti.
"Minta kayu putih Mel." ucap Ferdi Kembali. Dan Amel pun segera memberikan kayu putih itu kepada Ferdi tanpa suara, dan berlalu ke dapur untuk memasak makanan.
\=====================
Ketika Cinta Harus Memilih - Ferdi Datang
hampir satu jam Amel berkutat di dapur dan kembali dengan membawa beberapa makanan yang siap di hidangkan untuk di makan.
Anabel pun sudah sadarkan diri 15 menit lalu.
Begitupun dengan bu panti yang sudah mulai stabil kondisinya. Anak anak panti berkumpul untuk membantu Amel membawakan makanan dan untuk makan bersama.
"Nak Ferdi apa kabar? baik? silahkan duduk." ucap bu panti.
"Maaf ya nak Ferdi ibu benar benar gak tau nak Ferdi sudah datang, nak Ferdi datang mulai semenjak kapan ya , kalau boleh tau ibu? . " ucap bu panti kembali.
"Iya Bu gak papa, Alhamdulillah kabar saya baik. Kabar ibu bagaimana? jika belum pulih, jangan paksakan kondisi ibu. Perhatikan kondisi ibu ya." ucap Ferdi.
"Iya nak, makasih atas perhatiannya. Kabar ibu sudah baikkan, Alhamdulillah." ucap bu panti.
"Iya bu sama sama, syukur Alhamdulillah kalau ibu sudah baikkan." ucap Ferdi.
"Nak Ferdi ingin menjemput Anabel ya?" ucap ibu panti.
"Iya Bu." ucap Ferdi.
"Nak Ferdi , maaf saran ibu lebih baik kamu makan dulu ya, di sini dulu. " ucap bu panti.
"Iya yank, makan dulu ya di sini. Kita berbincang bentar di sini." ucap Anabel.
"Oke deh yank jika itu maumu dan ibu panti, aku mah nurut aja deh supaya kalian senang hehe." ucap Ferdi.
"Iya yank hehe." ucap Anabel.
Setelahnya mereka makan bersama. Dan Anabel ,. Amel juga bu panti mencoba membereskan sisa makanan sehabis mereka makan.
"Bel, mending kamu temenin suamimu deh. Biar Aku dan bu panti di dapur yang membereskan ini. " ucap Amel.
"Jangan dong, lebih baik aku dan kamu aja Mel yang di sini membereskan dan biar Bu panti aja yang nemenin Ferdi." ucap Anabel dengan tersenyum.
"Hemm baiklah nak , Bu panti duluan ya. Makasih atas pengertian kalian . Bu panti menerima tawaranmu untuk nemenin Ferdi karena ibu masih sangat lemas, hehe. Bukannya apa, maaf ya." ucap bu panti.
"Iya Bu gak papa, yaudah ibu istirahat aja ya ." ucap Anabel.
"Ohya Bu, maaf .. Aku mau minta pendapat kalian, jujur aku ingin menanyakan tentang hal ini kepada Ferdi, apa aku menanyakan Ferdi ketika sudah di rumah atau di sini ya hemm? " tanya Anabel.
"Hemm menurut ibu di rumah aja Bel, biar lebih nyaman." ucap bu panti.
"Kalau menurutku Bel, mending di sini karena di rumah yang di takutkan akan terdengar anak dan kedua orang tuamu." ucap Amel.
"Hemm terus aku harus pilih mana?" tanya Anabel, bingung.
Anabel pun memutuskan untuk membereskan kembali bersama Amel, sedangkan bu panti beristirahat karena tubuhnya benar benar terasa sangat lemas. Setelahnya Anabel kembali ke ruang tamu untuk menemani Ferdi.
Di tengah kebingungan Anabel , Ferdi tiba tiba datang menghampirinya , dan mengatakan bahwa mertua mereka akan menginap hari ini.
Pikiran Anabel semakin kacau, tentu berbicara di rumah takkan bisa, fikirnya.
Anabel pun memutuskan untuk mengatakan pada Ferdi di sini , karena ia sama sekali tak bisa pulang dengan kondisi dan fikirannya yang kacau saat ini.
"Bel." panggil Ferdi tiba tiba.
"Eh, mas Ferdi ? iya mas ada apa? kok sampai ikutin Anabel ke sini, gak nunggu di sana? apa ada yang penting yang ingin mas bicarakan?" ucap Anabel.
"Gak papa, mas cuman mau bilang kalau ibu mas nanti ke rumah, mau menginap. Gak papa kan? kalau bisa kita pulang lebih awal ya, agar bisa membereskan rumah. Kalau untuk masakan nanti kita bisa beli. Gimana? " ucap Ferdi.
"Iya mas, tapi mungkin sebelum pulang ada yang ingin aku bicarakan terlebih dahulu sama kamu. Karena aku gak mungkin pulang dengan keadaan seperti ini. Keadaan hatiku yang sedang kacau ." ucap Anabel jujur kepada Ferdi.
"Bicara? mau bicarakan apa sayang? Yaudah kita bicara dulu terus baru pulang ya." ucap Ferdi.
"Kita duduk dulu ya mas." ucap Anabel ke Ferdi.
Mereka pun duduk bersama dan saling terbuka satu sama lain.
"Ohya apa yang ingin di bicarakan sayang?" ucap Ferdi, ketika mereka telah duduk.
"Mas, ini. Kamu baca " ucap Anabel memberikan buku diary Ana ke Ferdi.
"Ini apa yank?. tanya Ferdi.
"Ini buku diary Ana, kamu baca saja ya." ucap Anabel kembali, dengan menahan segala gemuruh emosinya.
"Buku diary Ana? Ana temanmu yang meninggal ? yng kala itu sering ke rumah ya? " ucap Ferdi.
"Terus hubungannya sama aku buku diary ini apa ya?" ucap Ferdi kembali.
"Iya dia seseorang yang pernah ada rasa denganmu dan kamu yang pernah menyukainya juga kala itu." ucap Anabel benar benar menohok hati Ferdi.
"Maaf, tolong jangan ungkit yang lalu." ucap Ferdi ke Anabel.
"Lalu hubungan diary ini denganku apa ya?" tanya Ferdi.
"Kamu baca saja ya, aku malas menjelaskannya. Tentu nanti kamu akan tau sendiri apa hubungan diary ini denganmu jadi baca saja." ucap Anabel ke Ferdi.
"Hemm baiklah, mas baca ya." ucap Ferdi menerima buku diary yang di berikan Anabel.
Ferdi pun membaca buku diary tersebut hingga hampir setengah jam kemudian Ferdi telah selesai membaca buku diary tersebut. Bukan hanya membaca, tapi Ferdi mencoba memahami tiap kalimat yang tertulis dan mencernanya secara perlahan.
\===========================
Ketika Cinta Harus Memilih - Penyesalan Ferdi
Ferdi mencoba memejamkan matanya sebelum berbicara kembali kepada Anabel. Ferdi mencoba mengatur emosi yang bergemuruh di dadanya sebelum mengucapkan kalimat yang nanti ia katakan.
"Bel, aku benar benar tak percaya dan tak menyangka dengan apa yang sudah ku baca." ucap Ferdi, dengan masih mencoba mengatur emosinya dan memejamkan matanya bahkan tanpa sadar Ferdi pun megenggam begitu erat buku diary Ana tersebut.
"Sungguh, aku tidak berfikir sedikitpun Ana adalah wanita tersebut dan aku benar-benar tak bisa berkata kata, Bel. Maafkan aku,maafkan aku Bel ." ucap Ferdi dengan menangis. Ferdi lelaki yang jarang menangis kecuali untuk orang yang benar-benar ia sayangi dan cintai.
"Kamu tak menyangkanya kan? apalagi aku yang tau kenyataan ini Fer?
Mungkin kamu terkejut dengan apa yang sudah kamu baca. Kamu terkejut dengan kenyataan semua ini. Apalagi aku?
Apalagi aku Fer? Sungguh hatiku benar benar sakit Fer." ucap Anabel menangis bercampur rasa marah , emosi yang sulit ia rendam. Anabel pun menekan hatinya di hadapan Ferdi, menunjuk seolah yang tengah sakit saat ini ialah hatinya.
"Maaf." ucap Ferdi, hanya itu yang mampu Ferdi katakan. Jujur Ferdi pun tak menyangka ini akan terjadi, dan Ferdi pun kecewa dengan dirinya sendiri apalagi Anabel?
Ferdi ingin sekali membenci Ana karena diary tersebut dan karena Ana ia selalu berkonflik dengan Anabel, yang dulunya ia tak pernah berkonflik sedikit pun.
Tapi jujur Ana pun tak salah sepenuhnya. Dan Ferdi tau akan hal itu. Karena ini diary nya tentu Ana bebas mengungkapkan perasaannya terlebih diary ini memang di simpan olehnya hingga diary ini jaruhh ke tangan Anabel pun bukan kemauan Ana tentunya dan bukan Ana yang memberikannya.
Terlebih saat ini Ana telah tiada.
Ini juga salahnya yang pernah menaruh rasa terhadap Ana, tapi semuanya terlambat.
Tak ada yang bisa Ferdi lakukan, kecuali kecewa pada dirinya sendiri karena ini bukan salah Ana sepenuhnya. Meski Ferdi sempat bertanya tanya mengapa Ana meninggalkan buku diary ini? sengaja atau memang tertinggal?
"Maaf? hanya kata itu yang bisa kamu ucapkan Fer? tapi kamu selalu mengulanginya sesuatu yang membuat ku kecewa pada akhirnya.!!
Sesuatu yang tanpa kamu sadari sudah membuatku terluka berulangkali, apa kamu paham tentang hal itu Fer? atau kamu pura pura tak memahaminya?" ucap Anabel.
"Aku benar-benar menyesal Anabel, aku mohon maafin aku. " ucap Ferdi.
"Lalu aku harus bagaimana? agar kamu mau memaafkanku dan percaya padaku ?
percaya bila aku benar benar menyesal dan tak mengulanginya ? " ucap Ferdi.
"Sudahlah Mas, kamu tak perlu banyak berjanji cukup buktikan seperti yang kamu katakan." ucap Anabel.
"Kamu tau? Pas itu kamu bilang ke aku untuk tak mengulanginya lagi dan aku mencoba memaafkanmu, percaya padamu , memendam dan merendam kekecewaan ku. Aku anggap mungkin aku berlebihan atau memang harus ada yang mengalah untuk keharmonisan dan keutuhan sebuah keluarga, aku tak boleh mementingkan ego juga perasaanku. Kala itu, aku berfikir demikian. Tapi setelah apa yang kamu lakukan padaku kedua kalinya, aku benar-benar kecewa mas dan entah apa aku bisa memaafkanmu dan memandam kekecewaan itu lagi seorang diri ? apakah aku bisa percaya padamu lagi? setelah apa yang kamu lakukan padaku?!
Mungkin aku bisa saja tetap bersamamu demi keutuhan rumah tangga ini, terlebih Ana pun telah tiada. Tapi jujur mungkin hatiku tak bisa berbohong. Ya mungkin aku tetap Kecewa denganmu, terluka denganmu dan sulit memaafkan juga percaya padamu kembali. Maaf mas, hatiku tak bisa berbohong. Dan maaf aku tak bisa lagi memendam kekecewaan ini.
Maaf mungkin aku tak bisa lagi percaya padamu lagi.
Maaf juga bila aku tak bisa membohongi diriku sendiri juga kamu.Maaf ya mas Ferdi, maaf." ucap Anabel, yang mengungkapkan kekecewaan pada Ferdi.
"Anabel.." ucap Ferdi terhenti karena Anabel memotong pembicaraannya.
"Sudahlah, mas lebih baik kita segera pulang. Karena nanti ibumu ke rumah kan? kita harus menyambutnya. Dan aku harus segera membereskan rumah juga memasak untuknya meski kamu bilang bisa beli, tapi entah mengapa rasanya tak etis aja mas. Yang adapun aku di kira tak pernah memasak untuk mu." sindir Anabel.
"Loh, kok gitu? ibu tau kok kamu istri yang baik untukku dan berusaha memasak untukku. Jangan gitu dong." ucap Ferdi dengan mencoel coel Pipi Anabel yang tembam dan yang lagi mengambek.
"Sudahlah mas,jangan pegang pegang gini. Risih aku. Sudahlah ayuk pulang, tapi aku izin ke ibu panti dulu ya" ucap Anabel yang langsung pergi begitu saja setelah menyingkirkan tangan Ferdi darinya.
"Iya yank." ucap Ferdi,hanya itu yang bisa ia katakan karena ia tau tentu Anabel kecewa padanya, seperti ia yang kecewa dengan dirinya sendiri.
"Bu , Anabel pamit ya." ucap Anabel.
"Mel, aku pamit ya, duluan. Kamu di sini atau bareng aku dan Ferdi ?." tanya Anabel.
"Loh uda mau pulang nak? hati hati ya." ucap bu panti.
"Iya Bel, uda mau pulang ya?
yaudah deh hati hati.
Aku di sini dulu deh mau nemenin bu panti, kamu pulang duluan aja sama Ferdi." ucap Amel.
"Hemm, yaudah aku duluan ya Mel. Assalamualaikum." ucap Anabel.
"Waalaikumussalam Bel hati hati." ucap Amel.
"Waalaikumussalam,hati hati ya nak . Mel tolong tuntun ibu ingin ke Ferdi ,ibu ingin lihat mereka pulang." ucap ibu panti.
"Eh, ndak usah bu gak papa. Ibu istrirahat aja dulu." ucap Anabel.
"Gak papa nak, ibu gak papa kok. Ibu pengen ketemu nak Ferdi tadi belum sempat menemui dan ngobrol dengannya karena keadaan ibu yang tadi lemas dan ingin segera isrtihat. Makanya sekarang ibu ingin ketemu suamimu nak Ferdi dan lihat kalian pulang ya, Ibu gak papa, tenang saja." ucap bu panti.
"Hemm baiklah bu, silahkan. Jalannya pelan pelan ya bu. maaf merepotkan. " ucap Anabel.
"Mel tolong tuntun bu panti ya, biar aku bantu juga." lanjut Anabel.
"Iya Bel." ucap Amel.
Mereka pun menuju ruang tamu, sesampainya di sana ...
"Nak Ferdi apa kabar ? baik ya? maaf ya tadi ibu belum sempat muncul nemenin nak Ferdi karena ibu tadi lemas dan kaki ibu agak sakit di gerakkan." ucap bu panti.
"Yaa Allah,iya bu gak papa. Lalu keadaan ibu sekarang bagaimana?" ucap Ferdi.
"Alhamdulillah baik nak. Nak Ferdi apa kabar juga?" ucap bu panti.
"Alhamdulillah Ferdi baik Bu." ucap Ferdi.
"Uda mau pulang aja ya? cepat banget nak, ibu juga belum ngobrol sama kamu. Gak mau ngobrol dulu nih?" tanya bu panti.
"Hehehe iya bu , maaf ya. Karena kami harus pulang duluan sepertinya soalnya ibu mau datang." ucap Ferdi.
"Hemm, baiklah hati hati ya." ucap bu panti.
"Iya Bu terimakasih, ibu juga cepat sembuh ya." ucap Ferdi .
"Assalamualaikum Bu." ucap Ferdi dan Anabel bergantian.
"Waalaikumussalam nak." ucap Bu panti.
\============================
Ketika Cinta Harus Memilih - Nasihat Hery
"Assalamualaikum " ucap Anabel ketika sampai di rumah.
"Waalaikumussalam, Bel , Fer." ucap April, membukakan pintu.
"Ma.." ucap Anabel dan Ferdi bersamaan.
"Bel, kok lama sekali baru sampe rumah? " tanya April ke Anabel .
"Ohya gimana kabar Ibu panti sama tentang Ana?" tanya April, ketika mereka sudah masuk rumah.
"Toh, biar Anabel dan Ferdi, membersihkan diri dulu yank, ngobrolnya nanti saja." ucap Hery.
"Iya deh.." ucap April.
"Gak papa, Pa. Alhamdulillah kabar ibu panti sekarang uda baikkan, tadi pas Anabel ke sana, ibu panti kondisinya lemas dan memprihatinkan. Karena ibu panti juga syok mendengar kabar Ana. Terus Anabel merawat ibu panti Ma, siapin makan buat bu panti juga anak anak panti dan lainny. Setelahnya Anabel menghubungi Amel, dan nunggu kedatangan Amel setelah itu kita ngobrol ngobrol sampai mas Ferdi jemput aku, dan mas Ferdi juga tadi sempat ngobrol sama ibu panti ,makanya kita pulang kemalaman ma." ucap Anabel .
"Kalau untuk kabar Ana, kita belum menemukan petunjuk apapun tentang kematiannya ma." ucap Anabel lemah.
"Masya Allah anak mama mah , hehe. Alhamdulillah kalau ibu panti uda baikkan , mama tadi juga khawatir kondisinya Bel . Ohya hemm jadi belum ada kabar ya tentang kematian Ana? ya Tuhan, semoga segera di temukan titik temu ya. Bagaimanapun miris mendengarnya saat ia pergi dari sini justru maut yang menjemputnya." ucap April yang tiba tiba sedih, dan membuat semuanya ikut bersedih.
"Sabar, banyak banyak doa aja. Karena itu yang di butuhkan Ana dari orang yang tersayangnya. Orang yang menyayangi ataupun yang Ana sayangi. Terlebih kamu kan sahabatnya Bel, meski papa tau antara kalian sempat ada konflik sih. Tapi papa harap sudah tak ada benci atau dendam di hatimu Bel, karena yang di butuhkan Ana sekarang juga maaf dari kita ataupun dari orang yang tanpa sengaja ia lukai." ucap Hery mencoba menjelaskan dan memberikan nasehat.
"Iya Pa, Anabel paham. Makasih ya Pa atas nasehatnya." ucap Anabel tulus.
"Iya sama sama sayang, itulah gunanya orang tua terlebih seorang papa selain memberikan perlindungan pada anaknya juga menasehatinya. " ucap Hery bangga.
"Ohya Ma gimana kabar anak anak rewel gak seharian? apa mereka uda makan?" tanya Anabel.
"Ma, kata mas Ferdi nanti ibunya ke sini menginap tapi Anabel belum nyiapin dan beresin rumah, Mungkin setelah beres-beres Anabel mau nyiapin buat menyambut kedatangan Bu Nila sama pak Anang. Ma, bantu Anabel ya Ma. maaf sebelumnya kalau ngerepotin dan mungkin ganggu jam tidur mama." ucap Anabel .
" Anak anak Alhamdulillah, tadi siang lapar, mama buatin Omelet keju terus kita makan bersama. Malamnya tadi mereka juga uda makan duluan, tadi beli Nasik goreng sama omelet keju yang tadi siang mama buat masih sisa banyak. Terus mereka tidur sekarang. Kalau Afnan aja yang belum makan, karena mama mau bikin bingung takut salah, ya walau mama uda pernah ngalamin tapi uda lama gak pernah ngurus seperti itu Bel, takut salah." ucap April.
"Iya tadi sore Bu Nila juga telpon mama mau ke sini katanya malam ini, tapi tadi malam barusan sebelum kamu datang, Bu Nila telpon mama lagi, katanya ndak jadi. Besok aja, karena kemalaman. Katanya kalian tadi di telpon tapi gak ada yang aktif." ucap April
"Oh begitu ya Ma, Alhamdulillah kalau anak anak uda makan. Terimakasih banyak ya Ma, uda bantu Anabel. Ohya jadi tinggal Afnan ya Ma ? iya ma gak papa, yaudah biar setelah berberes, Anabel suapin Afnan. ucap Anabel.
"Owh syukurlah Ma, kalau Ndak jadi malam ini dan jadi besok. Karena jujur tubuh Anabel benar benar lelah dan ingin segera isrtihat. Ya ya sepertinya tadi hp kita lowbat atau memang belum kita nyalakan, karena selama di panti gak pegang hp sama sekali Ma kita, kecuali cuman satu kali aku tadi pagi hubungin Amel, itu doang. Setelah itu hpku letakkan di dalam tas lagi. Jadi kemungkinan itu yang bikin gak tau kalau ada yang menghubungiku Ma juga Ferdi." ucap Anabel.
"Ooh gitu okee gak papa. Iya nak, Alhamdulillah. Makanya itu kemungkinan Bu Nila menghubungi Mama ya. Yaudah nak kamu bersihkan diri dulu berberes, terus makan dulu baru suapin Afnan ya. Karena takutnya nanti kamu gak keburu makan kalau sudah Afnan bangun dan ngurus Afnan. Karena Afnan nanti pasti ada rewelnya. Mama hanya kasihan liat kamu belum makan " ucap April.
"Iya Ma, syukur Alhamdulillah jadi Anabel bisa nyiapin nyambut buat Bu Nila besok. Karena kalau malam sekarang, jujur Anabel capek, lelah dan uda ngantuk." ucap Anabel.
"Enggak Ma , Anabel ini seorang ibu mana tega membiarkan Afnan anak Anabel kelaparan? sedangkan Anabel mau makan dulu. Anabel gak tega Ma. Mama juga seorang ibu pasti tau bagaimana perasaan seorang ibu melihat anaknya belum makan, cemas juga. Meski jujur Anabel juga gak tega bangunin Afnan yang sudah tertidur pulas. Tapi mau bagaimana lagi kan Ma? Mama juga pasti tau perasaan Anabel terlebih Mama kan juga seorang ibu." ucap Anabel.
"Masya Allah anak mama ini ya, uda bisa merasakan perasaan seorang ibu. Iya nak gak papa, mama paham. Mama kagum denganmu.
Iya nak, mama paham.Mama hanya khawatir nanti kamu gak keburu makan kalau sudah Afnan bangun dan ngurus Afnan. Karena Afnan nanti pasti ada rewelnya. Mama hanya kasihan liat kamu belum makan, itu saja " ucap April.
"Iya Ma, makasih atas kepedulian dan perhatian Mama ke Anabel.
Kalau Anabel makan nanti bisa nunggu Afnan uda anteng, setelah nyuapi Afnan atau nanti Afnan bisa Anabel titipkan Mama atau anak anak ya Ma, Hehe. ucap Anabel kembali.
"Iya nak, okelah kalau begitu kalau yang menurut mu yang terbaik. Iya mama paham, Mama kagum denganmu. Yaudah suapin Afnan dulu, baru nanti kamu tetap jangan lupa makan ya. Bagaimanapun Asi mu buat ke Afnan juga harus kemasukkan makanan. Iya nanti kalau Afnan belum anteng, coba bilang Mama ya biar mama yang jagain Afnan. ucap April.
"Iya Ma, makasih ya. Yaudah Anabel mau membersihkan diri, berberes, terus nyuapin Afnan ya Ma. Baru nanti kalau ada waktu, atau Afnan Uda tertidur pulas Anabel pasti makan. Mama jangan khawatir ya. Kalau ndak seperti yang Anabel bilang akan titip Afnan bentar ke Mama atau anak anak selagi Afnan anteng sih, hehe." ucap Anabel dengan tersenyum dan menggenggam tangan April, mencoba menyakinkannya.
"Iya nak, okeee siapppp. hehehe.Mama bangga denganmu." ucap April dengan tersenyum dan megenggam tangan Anabel.
"Yaudah Ma, Anabel duluan ya Ma, mau membersihkan diri dulu." ucap Anabel.
"Iya nak, Mama sama Papa juga duluan ya mau makan dulu." pamit April.
"Iya Ma." ucap Anabel dengan tersenyum kemudian berlalu Membersihkan dirinya.
Anabel pun segera membersihkan dirinya, berberes kemudian menyuapi Afnan. Setelah Anabel tertidur pulas , Anabel pun segera mengambil makan untuk dirinya.
\===========================
Ketika Cinta Harus Memilih - Pisah Kamar
Setelah membereskan sisa makanan, Anabel segera beristirahat untuk tidur. Karena tubuhnya juga hatinya benar benar lelah.
"Bel mau ke mana? Kok masuk kamar itu? bukan kamar yang biasanya kita tempati?" tanya Ferdi, saat melihat Anabel masuk ke kamar samping.
"Aku capek mas, mau tidur. " ucap Anabel dingin.
"Tidur? kenapa bukan tidur di kamar kita biasanya? Kamu yakin mau tidur di sana?" tanya Ferdi ke Anabel.
"Iya Mas." ucap Anabel kemudian berlalu ke kamar tersebut.
"Tunggu , Kamu ini kenapa? kenapa bukan tidur di kamar kita biasanya? tolong jangan seperti ini Anabel. Jika ada masalah bicarakan, jangan seperti ini." ucap Ferdi yang menahan lengan Anabel ketika ingin memasuki kamar tersebut.
Anabel pun mencoba melirik Ferdi sekilas, dan berusaha melepaskan tangan Ferdi dari genggamannya setelahnya Anabel mau masuk ke kamar itu lagi.
"Tunggu Bel , tolong jawab pertanyaan Mas, jangan diam seperti ini. " ucap Ferdi kembali dan berusaha meraih tangan Anabel.
Anabel pun mencoba memejamkan matanya sebelum menjawab pertanyaan Ferdi.
"Mas, sudahlah. Aku capek, ingin istirahat. Tubuh dan hatiku lelah, aku gak ingin kita berantem mas karena hal ini. Aku ingin segera tidur." ucap Anabel, yang melepaskan genggaman tangan Ferdi dan akan kembali masuk ke kamar tersebut.
"Gak ada yang ajak kamu berantem yank, mas hanya ingin tau kamu ini kenapa? dan mengapa tidur kamar samping? Kenapa kita harus tidur beda kamar? itu saja yang ingin mas tanyakan ke kamu." ucap Ferdi.
"Baik jika itu yang ingin mas tau. Anabel akan mengatakannya tapi maaf sebelumnya mungkin perkataan Anabel akan membuat mas kecewa nantinya. Tapi mas yang memaksa Anabel untuk berbicara kan? ucap Anabel.
"Iya, jujur aja gak papa. mas senang jika kamu jujur, mas siap mendengarkan. Ayo bicara." ucap Ferdi.
"Mas , jujur iya aku masih sangat kecewa denganmu dan aku gak bisa tidur bersama dengan orang yang sudah membuatku kecewa terlalu dalam. Maaf, maka dari itu, Anabel memilih tidur di kamar sebelah, dan tidak tidur di kamar biasanya. Mungkin hari ini aja Anabel tidur di kamar ini, tapi maaf bila besok hariku masih kacau, kemungkinan aku tidur di kamar ini lagi dan kita belum bisa tidur bersama. Maaf mas, bila mas kecewa dan terluka dengan ucapan Anabel . Tapi jujur Anabel gak bisa membohongi hati Anabel, bukankah hati tak bisa berbohong? Jujur aku juga gak ingin ini terjadi, tapi hatiku masih kacau mas, dan aku tidak bisa tidur bersama dengan orang yang uda buat perasaaan ku tak menentu kacau seperti ini." ucap Anabel.
"Sudahlah mas, aku gak ingin terlalu banyak bicara. Jujur aku lelah. aku istirahat dulu ya mas, hati dan fisikku lelah." ucap Anabel.
"Iya yank, Yaudah kamu isrtihat ya di kamar itu, segera isrtihat..Ini uda malam, jangan tidur terlalu malam. Mas, gak mau kamu sakit. Cukup mas uda buat hatimu kacau dan membuat perasaanmu terluka. Mas gak ingin buat mu sakit dan lihat kamu sakit seperti ini. Mas gak papa, mas paham kamu masih kecewa dengan mas. Tenangkan dirimu dulu ya yank." ucap dengan tersenyum.
" Sekali lagi maafin Mas, maafin mas yang uda buatmu terluka dan Kecewa. Maafin mas yang belum bisa menjadi suami yang baik untukmu. Maafin mas sekali lagi uda ngelukai mu sangat dalam..Jika boleh jujur mas sedih juga kecewa melihat kamu tidur di kamar samping, melihat kita tidak tidur bersama. Biasanya kamu tidak pernah seperti ini, mungkin mas uda ngelukai perasaan mu begitu dalam ya Tapi mas paham mungkin itu benar dan kamu butuh waktu untuk memulihkan perasaanmu." ucap Ferdi kembali penuh sesal.
"Iya mas, Mas memang sudah melukai perasaan Anabel begitu dalam dan uda buat Anabel kecewa. Tapi yasudalah gak papa. Sudahlah mas gak usah di bahas. Semakin mas membahasnya itu hanya akan buat hati Anabel terluka dan Kecewa karena harus teringat kembali, teringat semuanya tentang mas juga Ana. Hatiku sakit mas, sangat sakit.." ucap Anabel, yang kemudian berlalu ke kamar tersebut dan melepaskan genggaman tangan Ferdi.
Begitupun setelah kepergian Anabel, Ferdi juga berlalu ke kamarnya untuk segera tidur, mengistirahatkan tubuhnya, walah dengan perasaan kecewa, kecewa dengan dirinya sendiri yang sudah melukai Anabel, istrinya begitu dalam.
Mereka malam ini, tidur di kamar berbeda karena kekecewaan masing masing. Anabel kecewa pada Ferdi dan Ferdi yang kecewa pada dirinya sendiri yang sudah melukai Anabel begitu dalam juga membuatnya kecewa. Begitupun Anabel merasa bersalah karena ia secara tidak langsung Ana meninggal, karena kepergian menjauhinya Ana harus kecelakaan di pesawat yang berakhir meninggal.
Semoga esok hati di keduanya segera pulih setelah memenangkan diri masing masing untuk berfikir.
****
"Maafkan aku Anabel yang telah melukai hati mu dan membuat mu kecewa berulangkali padaku , yang belum mampu menjadi suami yang baik untukmu." lirih Ferdi di kamarnya.
"Aku ingin melupakan dan mengikhlaskan semuanya terlebih Ana tidak sepenuhnya salah. Ana pun telah meninggal. Tapi mengapa hatiku masih terasa sakit dan begitu sesak ? mengapa sulit untukku bohongi perasaanku ini? Jujur saja hatiku masih sangat kacau, maafkanku maa, maaf sudah membuatmu kecewa. Karena jujur perasaanku jauh lebih kecewa dengan apa yang sudah kamu lakukan terhadapku." lirih Anabel dalam kamarnya.
*****
Lalu apakah setelah ini cinta mereka tidak di uji?
Ataukah Cinta mereka akan di uji kembali? Antara mengikhlaskan atau memilih bertahan dengan rasa sakit?
Ketika cinta harus memilih terkadang pilihan yang sulit untuk sebuah bahtera rumah tangga yang sudah di bangun cukup lama.
__ADS_1