
Ibu Mira, wali kelas mereka sedang mengajar di depan kelas. Sementara semua mata tertuju ke papan tulis, ada sepasang mata yang sedari tadi mencuri pandang pada gadis yang duduk di depan.
Lani yang begitu serius mencatat materi di bukunya, tak menyadari kalau sedari tadi ada seseorang yang mencuri pandang padanya.
Namun, itu tidak berlaku bagi Riana yang sudah memperhatikan tingkah Reihan yang terkadang memandangi Lani dan itu sudah menjadi alasan baginya untuk membenci gadis itu. Tatapan kemarahan terlihat dari matanya, seakan menahan cemburu karena orang yang selama ini dicintainya ternyata menyukai orang lain.
"Sekarang, Ibu ingin kalian membuat kelompok dan menyelesaikan soal-soal yang sudah Ibu berikan. Masing-masing kelompok berjumlah enam orang dan kalian bebas memilih teman kelompok kalian."
Mendengar penjelasan Bu Mira, suasana kelas menjadi riuh.
"Kalian berdua, ayo gabung ke kelompok kita," ajak Raka sambil berdiri di samping meja Iva.
Mendengar ajakan Raka, Iva hanya diam dan memandangi Lani, karena baru kali ini dia ditawari gabung ke kelompok mereka.
Keempat cowok itu mulai mengatur posisi meja dan kursi berhadap-hadapan. Kemudian kedua gadis itu dipersilahkan duduk dan mereka mulai berdiskusi.
"Sekarang kita akan mencari jawaban melalui buku ini. Kalau ada yang kurang dipahami, kalian boleh bertanya," ucap Raka menjelaskan.
Mereka berenam kemudian saling berdiskusi dan mencari jawaban yang dianggap benar. Tanpa mereka sadari, keakraban di antara mereka mulai terjalin. Suasana yang awalnya kaku, berangsur mulai hidup karena senyum dan tawa kedua gadis itu yang melihat tingkah Raka yang kadang terlihat lucu.
Lani dengan wajahnya yang cantik, entah sedang serius atau tersenyum tetap membuat dia terlihat menarik. Di depan matanya yang hanya berjarak dua langkah, terlihat serupa wajah yang sedari tadi sudah membuat hatinya bergetar. Reihan menatap wajah itu yang terlihat cantik dengan kulitnya yang putih bersih dan senyum yang terukir di bibir mungilnya yang membuat matanya tak ingin berpaling.
"Aku pikir kamu bakal punya saingan." Tiba-tiba Raka berbisik dan membuat Reihan mengalihkan pandangannya.
"Maksud kamu, apa?"
"Ternyata tak hanya cantik, Lani juga sangat pintar," lanjutnya sambil berbisik.
Sejurus, kedua cowok itu memandang ke depan seakan merasa takjub dengan sosok gadis yang ada di depan mereka. Tiba-tiba, bel jam istirahat berbunyi dan membuyarkan pandangan mereka.
"Baik, kalian lanjutkan tugas kelompok di rumah, minggu depan baru dikumpulkan," ucap Bu Mira sambil keluar dari kelas.
"Baik, Bu," jawab mereka serempak.
"Karena tugasnya belum selesai, kita akan lanjutkan di rumah Reihan. Bagaimana, kalian setuju?" tanya Raka.
"Aku setuju," jawab salah satu teman mereka dan diikuti teman yang lainnya.
"Kalian berdua, bagaimana?" tanya Raka pada kedua gadis itu. Mereka berdua saling memandang dan mengangguk dengan senyum.
"Lagi senyum-senyum apa?" Tiba-tiba Ian sudah berdiri di depan mereka dan diikuti Rifal dan Rendi dari belakang.
"Memangnya kenapa? Ayo, bantu rapikan meja dan kursi, kasihan mereka berdua masih berdiri," jawab Raka sambil mengatur posisi kursi dan meja seperti semula. Tanpa bertanya, cowok-cowok itu langsung membantunya dan tak butuh waktu lama, posisi kursi dan meja sudah kembali seperti semula.
"Ayo, silahkan duduk," ucap Ian pada kedua gadis itu.
"Perasaan, base camp kita bukan di kelas ini, tapi kenapa juga kalian bertiga muncul di sini?" tanya Raka pada ke tiga cowok yang sudah menguasai kursi di depannya.
"Memangnya kalau kita mau ke sini, kita harus lapor dulu? Tidak, kan?" jawab Rifal menyela.
Sementara Raka sedang sewot dengan kedua makhluk di depannya, ternyata satu makhluk lainnya sudah kabur dan duduk di depan kedua gadis itu dengan senyum simpulnya yang membuat Raka ingin muntah.
"Cepat amat nih cowok. Woi, malu dong sama kita," teriak Raka yang tak digubris sama sekali oleh Ian.
"Kita ke kantin yuk, aku yang traktir," ajak Ian pada kedua gadis itu.
"Jangan dipedulikan. Nih anak lagi stres, makanya dia sering senyum sendiri," ucap Rendi sambil menarik tangan Ian untuk pindah dari tempat itu.
"Apaan sih, ganggu orang saja," ucap Ian dengan jengkel.
Kedua gadis itu tersenyum dan tertawa pelan karena melihat tingkah mereka. Dan Reihan tak ingin kehilangan moment saat melihat Lani tersenyum dan itu sudah membuatnya ikut tersenyum.
Karena mereka asyik bercanda, mereka tidak menyadari kalau semua mata di kelas memandangi mereka. Kejadian ini adalah kejadian yang langka, karena teman-teman di kelasnya tidak pernah melihat mereka dekat dengan cewek manapun dan itu sudah membuat cewek-cewek menjadi iri, termasuk Riana.
"Kamu lihat, kan? Sepertinya, sejak kehadiran Lani di kelas kita sudah membuat mereka jadi berlama-lama di kelas ini," ucap Imelda pada Riana yang sedari tadi menahan marah dan cemburu. Riana terdiam, dan menundukkan kepalanya di atas meja.
"Karena kita sering bertemu, jadi kamu pasti tahu dong namaku. Secara, aku kan terkenal di sekolah ini," ucap Ian pada Lani.
"Maaf, aku belum tahu namamu," jawab Lani singkat dan disambut dengan tawa teman-temannya.
"Makanya, jangan sok akrab," ucap Raka dengan tawa yang tak bisa ditahan.
Sementara Reihan berusaha menahan tawa dan hanya tersenyum.
"Jadi, kamu tidak tahu siapa kita?" tanya Rendi penasaran.
"Maaf, aku hanya tahu Raka dan Reihan. Aku belum tahu nama kalian, maaf," ucapnya sambil menundukkan wajahnya.
"Tidak apa-apa. Nih, perkenalkan, namaku Afrian Rahadi, biasa dipanggil Ian, cowok tampan kedua di sekolah ini setelah Reihan," ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Dengan senyum, Lani kemudian menjabat tangannya dan disambut suara riuh oleh Rendi dan Rifal.
"Aku juga. Namaku Rifal Orlando, cowok blesteran satu-satunya yang ada di sekolah ini," ucapnya tak mau kalah.
"Kalau aku, Rendi Wijaya, cowok yang mempunyai senyum paling menawan di sekolah ini," ucapnya dengan bangga.
"Sudah, sudah, sekarang giliran aku, namaku..." Belum sempat Raka melanjutkan kalimatnya, teman-temannya sudah menyelanya.
"Iya, iya. Kita sudah tahu, nama kamu itu Raka." Spontan saja mereka semua tertawa melihat Raka yang terlihat kesal.
Di dalam kelas, suasana menjadi ramai karena kehadiran ketiga cowok itu. Wajah-wajah yang tidak pernah tersenyum pada gadis manapun, kini dengan mudahnya tertawa di depan kedua gadis itu.
Tanpa sadar, Reihan pun ikut tersenyum dan menikmati keakraban yang baru saja terjalin di antara mereka. Di dalam hatinya, dia berharap agar kebersamaan mereka jangan cepat berlalu, karena dengan mudahnya dia bisa melihat senyum itu, senyum yang membuat hatinya bergetar.
Bel tanda berakhirnya jam istirahat berbunyi. Dengan langkah yang malas mereka bertiga meninggakan kelas.
"Sudah balik sana, hush, hush," ucap Raka seakan mengejek.
Mereka berdua hanya bisa tersenyum melihat Ian yang seakan tak rela meninggalkan kelas.
"Jangan-jangan, Ian suka sama kamu," bisik Iva pelan.
"Mana mungkin cowok setampan itu suka sama aku," jawab Lani merendah.
"Memangnya tidak bisa? Kamu itu cantik, bahkan sangat cantik. Apa kamu tidak sadar kalau kamu adalah gadis tercantik di kelas ini?"
"Sudahlah, aku belum ingin berpikir sejauh itu, aku hanya ingin fokus belajar."
*****
"Sebentar, jam tiga aku dan Reihan akan menunggu kalian di depan gang. Kita akan lanjut mengerjakan tugas di rumah Reihan. Apa kalian tidak keberatan?" tanya Raka pada kedua gadis itu ketika mereka sedang bersiap-siap untuk pulang.
"Baiklah," jawab Iva dan diiyakan Lani dengan anggukan.
"Oke, ayo kita pulang," ajak Raka sambil mempersilahkan mereka berdua berjalan di depan.
Belum lagi mereka keluar dari dalam kelas, muncul tiga makhluk planet dengan senyum simpul yang membuat Raka kembali ingin muntah.
"Memangnya kamu suka sama siapa, Lani atau Iva?" tanya Raka pada Ian yang sengaja ditariknya ke belakang.
"Kalau kamu sendiri, suka yang mana?" balas Ian dengan pertanyaan yang membuat Raka meradang.
"Aku kan tanya sama kamu. Kok, kamu balik tanya ke aku?"
Waktu masih menunjukan pukul 2.40 siang, tapi kedua cowok itu sudah menunggu di depan gang dengan motornya. Mereka berdua terlihat berbeda dengan balutan kaos dan celana panjang yang membuat mereka terlihat lebih tampan.
Setelah menunggu hampir sepuluh menit, kedua gadis itu muncul dari tikungan jalan. Mereka berdua terlihat cantik. Lani dengan balutan kaos hitam dan dipadukan dengan celana jeans yang agak ketat, serta rambut yang diikat kuncir dengan sisa rambut yang masih terurai di sela dahinya. Sementara Iva, terlihat cantik dengan kaos dan celana jeans pendek yang terkesan agak tomboy.
"Maaf, kalau kami datang terlambat," ucap Iva pelan.
"Tidak, kok. Tidak terlambat, santai saja. Ya sudah, ayo naik," ucap Raka sambil memberikan helm kepada Iva.
Begitupun dengan Lani yang langsung memakai helm yang disodorkan Reihan padanya. Dengan hati-hati, dia pun naik ke atas motor. Sementara Raka dan Iva sudah jalan terlebih dulu.
"Sudah?" tanya Reihan ingin memastikan.
"Sudah," jawab Lani sedikit gugup.
Reihan kemudian memacu motornya dengan kecepatan yang lumayan tinggi dan sontak saja Lani terkejut dan tanpa sengaja, Lani mencengkram bahu Reihan karena takut. Sementara Reihan baru tersadar kalau dia sedang membawa seorang gadis. Reihan perlahan menurunkan kecepatan motornya dan cengkraman itu perlahan dilepaskan.
Dibalik helmnya, Reihan hanya tersenyum dan mencoba menikmati perjalanan. Ini adalah kali pertama dia membonceng seorang gadis dan Lani, adalah gadis pertama yang disukainya dan juga yang pertama naik dimotornya.
Tak lama kemudian, mereka mulai memasuki kawasan perumahan yang terbilang elite. Setelah melewati beberapa rumah, akhirnya mereka tiba di salah satu rumah yang sangat mewah dan di halaman rumah itu sudah berdiri teman-temannya yang sudah menunggu.
Ternyata bukan hanya teman-teman tugas kelompok saja yang datang, tapi ketiga sahabatnya juga ikut datang. Entah siapa sudah yang memberitahu mereka.
"Kenapa baru datang? Aku saja sudah datang dari lima menit yang lalu," bisik Raka pelan.
"Tidak perlu tahu, itu rahasia," jawab Reihan singkat.
"Ayo, kita ke base camp," lanjutnya.
Sementara Iva dan Lani berjalan beriringan dan diapit oleh Ian dan Raka di tiap sisinya.
Setelah tugas kelompok selesai dikerjakan, mereka kemudian beristirahat dan merapikan buku-buku dan memasukkannya ke dalam tas mereka.
"Ibu kamu kemana? Dari tadi aku tidak melihatnya?" tanya Rendi.
"Lagi ke rumah pamanku, mungkin sebentar malam baru pulang."
__ADS_1
Mereka kemudian menikmati cemilan yang dibawa Reihan.
"Jadi, base camp kalian di sini?" tanya Iva ingin tahu.
"Kenapa? Apa kalian berdua mau ikut bergabung?"
"Tidak, bukan begitu maksudku."
"Tidak apa-apa, aku cuma bercanda kok. Kalau ada yang mengganggu kalian, bilang saja ke kita biar kita hajar."
"Kebetulan kalian di sini, bagaimana kalau kita makan di luar. Ya, hitung-hitung buat menyambut dua gadis cantik yang sudah mau bergabung bersama kita, bagaimana?" tanya Raka yang disambut anggukan teman-temannya.
"Boleh juga, kita ke tempat biasa saja."
"Bagaimana, kamu setuju tidak, Rei?" tanya Raka pada Reihan yang sedari tadi terdiam.
"Terserah kalian saja."
"Ya sudah, kita berangkat."
Mereka kemudian pergi menuju halaman di mana motor mereka terparkir. Tanpa diminta, Iva langsung mengambil helm dan naik di atas motor Raka.
"Kamu mau ikut siapa?" tanya Ian pada Lani yang masih berdiri.
"Apa boleh aku ikut sama Reihan?"
Mendengar ucapan Lani, Reihan langsung memberikan helm padanya dan mengisyaratkannya untuk segera naik. Sementara Ian, hanya mengangguk dan berusaha menerima keputusan Lani.
Satu persatu iringan motor mulai sampai di depan parkiran kafe. Sementara motor Reihan belum juga nampak.
"Kenapa mereka lama sekali? Jangan-jangan ada masalah di jalan," ucap Ian cemas.
"Jangan khawatir. Tadi juga begitu kok, tunggu saja," ucap Raka mencoba meyakinkannya.
Setelah hampir lima menit menunggu, akhirnya mereka muncul. "Kok, kalian lama? Apa ada masalah di jalan?" tanya Ian penasaran.
"Tidak ada apa-apa, ayo masuk," jawab Reihan sambil melangkah masuk ke dalam kafe.
Mereka akhirnya masuk ke dalam kafe dan duduk di salah satu sudut ruangan itu. Tanpa mereka sadari, di dalam ruangan itu juga duduk musuh bebuyutan mereka, yaitu Adrian dan beberapa temannya dan juga Riana.
Melihat Lani dan Iva datang bersama Reihan membuat Riana meradang.
"Kamu kenapa? Apa kamu kenal gadis-gadis itu?"
"Kakak lihat cewek yang berambut panjang itu? Aku sangat membencinya. Dia murid baru di kelasku, tapi dia sudah berani menggoda Reihan. Kakak lihat sendiri mereka sangat akrab padahal Reihan tidak pernah sedekat itu dengan cewek manapun," ucap Riana dengan ekspresi marah.
"Cewek itu boleh juga. Kamu ingin kakak lakukan apa?"
"Terserah kakak, asalkan cewek itu jauh dari Reihan."
"Oke."
Dalam hatinya, diam-diam Adrian menaruh rasa suka pada Lani. Dia pernah mendengar kalau ada anak baru di kelas sebelas yang katanya sangat cantik.
Sementara Reihan cs tidak menyadari, kalau mereka sedang diperhatikan. Karena kafe itu sangat luas dan ramai, jadi sulit untuk mengenali orang di tempat seramai itu.
Setelah memesan, mereka kemudian menikmati hidangan yang sudah berjejer di atas meja. "Ayo dimakan, jangan malu-malu," ucap Raka pada kedua gadis itu dan teman-teman yang lain.
"Kalian tahu tidak, kalian berdua adalah cewek pertama yang pernah kami ajak nongkrong. Selama ini kami tidak pernah menerima cewek manapun, jadi kalian harusnya merasa bangga," ucap Rifal dengan sombongnya.
"Terima kasih karena kalian sudah mau menerima kami," jawab Iva.
"Sebentar lagi akan ada pertandingan basket antar sekolah. Kalian mau tidak menemani kami latihan setiap pulang sekolah?" tanya Ian.
"Apa kalian tidak keberatan?"
"Tidak, kok. Malah kami senang jika kalian menemani kami latihan."
"Baiklah."
Sejurus, wajah seseorang terlihat tersenyum setelah mendengar perkataan kedua gadis itu.
*****
"Terima kasih karena sudah mentraktir kami berdua makan. Dan terima kasih juga atas tumpangannya," ucap Iva ketika sudah sampai di depan gang rumah mereka.
"Sama-sama, kalian hati-hati di jalan," jawab Raka.
"Apa perlu kita antar sampai ke rumah?" Tiba-tiba Ian bertanya pada kedua gadis itu.
__ADS_1
"Tidak usah, rumah kita sudah dekat, kok. Terima kasih ya, kita balik dulu," ucal Iva sambil membelakangi mereka dan menghilang dibalik tikungan jalan.
"Ayo, cabut," ajak Reihan sambil berlalu dengan motornya dan diikuti teman-temannya.