
Setelah selesai makan, anak anak mengajak Ana untuk bermain bersama mereka. Sedangkan Ferdi melanjutkan menulis proposalnya dengan di temani oleh Anabel.
Sebenarnya Anabel ingin membantu April, namun April menolak karena ia tak ingin kandungan Anabel terjadi sesuatu terlebih kondisi Anabel yang tengah hamil. Setelah selesai berberes, April ikut gabung bersama mereka..
"Kalian senang ya main bersama tante Dina?" Bulan, Bintang dan David pun segera melihat ke arah eyank nya begitupun dengan Ana yang heran mengapa April berbicara seperti itu.
"Iya dong Eyank, kami rindu dengan tante Dina karena kami kan sudah lama tak bertemu dengan tante Dina." ucap mereka.
"Hemm, baguslah ... ohya ada yang ingin eyank beritahu ke kalian, Bulan, Bintang dan David," ucap April.
"Humm apa eyank??"
"Dina sebenarnya adalah tante Ana, masih ingat kan dengan tante Ana?" April yang sengaja memberitahukan kepada mereka dan membuat mereka agar mengingatnya karena April tak ingin Dina terus menerus berbohong tentang jati dirinya. Sedangkan Ana terlihat tidak senang dengan pengakuan apa yang di sampaikan April baru saja.
"Apa?? ... tante Ana yang sahabatnya bunda itu ya eyank?" April tersenyum, rupanya ketiga cucunya
masih mengingatnya.
"Humm, iya," ucap April kepada mereka.
"Loh, terus kenapa tante Ana menyamar menjadi Dina??"
Setelah Ferdi selesai menuliskan laporan, ia pun mengajak Anabel untuk bermain bersama ketiga anaknya.
Perkataan mereka terhenti, saat Ferdi dan Anabel ikut turut gabung bersama mereka.
"Ayah ... Bunda..." ketiga anaknya yang segera menghampiri Ferdi dan Anabel untuk memeluknya.
"Ayah sama Bunda bolehkan ikut main bersama kalian?" tanya Ferdi.
"Boleeeeh..." dan Ferdi juga Anabel pun turut bermain bersama ketiga anaknya.
Sedangkan Ana merasa kesal karena dirinya merasa di abaikan dan gagal membuat Anabel cemburu untuk mengambil hati anak dan suaminya. Ana pun berniat untuk pulang, karena ia merasa lelah ingin mengistirahatkan fikiran dan hatinya.
__ADS_1
"Saya pamit dulu ya, ingin pulang." pamit Ana, yang tidak ingin berlama lama di sini, karena ia tak ingin merasakan kecemburuan lagu dan Ana benar benar menyesal dengan pernikahannya ini.
"Loh, kamu gak ingin menginap? ini belum ada sehari di sini kok uda mau pulang? katanya rindu dengan Anabel dan anak anak." ucap April, mencoba mengingatkan Ana.
"Makasih, tidak perlu, aku ingin pulang saja. Karena di rumah sendiri lebih bebas dan bisa beristirahat dengan tenang tanpa hati juga fisik lelah." Ana berucap seperti itu dengan melihat ke arah Anabel, Ferdi dan ketiga anaknya yang tengah bermain.
"Yasudah saya pamit dulu, Mas Ferdi.. nanti jangan lupa juga ke rumah ya." pamit Ana dengan salim ke
April.
"Loh, kamu mau pulang??" Anabel dan Ferdi terheran karena Ana yang tiba tiba ingin pulang.
"Iya nih, kok tante terburu pulang??"
"Iya gak papa, aku ingin istirahat di rumah sendiri lebih bebas dan gak bikin hati juga fisikku lelah." Ana pun segera berlalu keluar dari rumah tersebut setelah mengucapkan hal tersebut. Sedangkan Anabel merasa bersalah, namun Ferdi berusaha menepuk nepuk pundak Anabel untuk menenangkannya.
Kini perlahan Ana benar benar menyesali keputusannya yang telah ia ambil karena pada akhirnya keputusan itu menghancurkan dirinya sendiri dan membuat perasaanya lelah.
tengah hamil namun suaminya seakan tak merespon senang dengan kehamilannya dan mengabaikan kehadirannya, bahkan menyakiti perasaannya dan membuat ia cemburu
dengan sikapnya
Beberapa bulan kemudian...
Kini kehamilan mereka sudah hampir memasuki 9 bulan.. Karena kehamilan Ana yang semakin membesar, membuat Ferdi tak tega bila bersikap cuek atau menunjukkan ketidak sukaanya kepada Ana.
Sehingga akhir akhir ini Ferdi pun perhatian kembali kepada Ana, karena Ferdi juga merasa bersalah dengan sikapnya selama ini ke Ana dan Ferdi pun tak ingin terjadi sesuatu kepada anak yang di
kandungnya.
Bagaimanapun Ferdi juga menyadari jika anak yang di kandung Ana adalah anak kandungnya, sampai kapan ia terus menerus memendam benci itu terlebih kepada calon anaknya?
Memang benar cara Ana salah, namun bayi yang di kandungnya, janin tak berdosa itu sama sekali tak salah dan tak berhak ia prilakukan seperti itu terus menerus, terlebih ia sebagai ayah dari bayi tersebut.
__ADS_1
Sungguh Ferdi akan merasa bersalah bila ia terus menerus melakukan hal tersebut kepada Ana, terlebih kandungannya yang semakin membesar membuat Ana merasakan sakit yang luar biasa hingga perlahan Ferdi menyadari sikapnya yang salah dan mulai memberikan perhatian ke
Ana.
Namun sayangnya, sikap perhatian Ferdi membuat Ana memanfaatkan keadaan agar Ferdi lebih banyak waktu dengannya dan perlahan Ferdi melupakan keberadaan Anabel yang juga tengah mengandung anaknya.
Seperti hari ini, Ferdi kembali memberikan perhatian kepada Ana..
"Mau makan buah? biar Mas kupaskan ya." Ferdi segera berdiri mengambil buah apel untuk mengupasnya buat Ana.
"Iya Mas, makasih ya." Ana tersenyum bahagia karena Ferdi mulai perhatian kembali padanya.
"Ohya Mas, hari ini kita ke rumah Anabel yuk. Aku rindu ingin bertemu mereka." ajak Ana sengaja, karena ia tau Ferdi mulai perhatian dengannya dan ia ingin menunjukkan itu kepada Anabel dan April.
"Hemm boleh juga, ide bagus." ucap Ferdi yang masih terus menyuapi Ana buah.
"Alhamdulillah sudah habis, kamu suka buat ya? Iya sih orang hamil memang suka buah, seperti Anabel. Ohya yaudah setelah ini kita lekas berberes ya supaya bisa ke rumah Anabel." Ferdi sangat bersemangat akan ke rumah Anabel, ia pun segera membereskan rumah juga mencuci piring, gelas yang telah mereka pakai untuk makan.
"Mas, aku bantuin ya?" tawar Ana.
"Tidak usah, gak papa mas cuci sendiri. Kamu istirahat aja, tunggu mas atau kamu siap siap dulu aja deh, supaya kita bisa ke rumah Anabel gak kesiangan." Ferdi pun melanjutkan mencuci piring juga gelasnya.
Setelah mencuci piringnya, Ferdi pun segera kembali ke kamarnya untuk bersiap ke rumah Anabel.
"Sudah siap, Na? kalau sudah siap Ayuk kita segera berangkat." ucap Ferdi kepada Anabel.
"Iya Mas, sebentar lagi. Tunggu di luar kamar dulu ya." ucap Ana, dan Ferdi pun segera keluar dari kamarnya menunggu Ana yang tengah bersiap.
"Ayuk mas, kita ke rumah Anabel sekarang, sebelum kesiangan." ajak Ana yang telah selesai bersiap.
"Iya sudah, Ayuk..." Ferdi pun segera mengeluarkan motornya dan memberikan helm untuk Ana ketika mereka mulai menaiki motor, setelahnya Ferdi pun segera melajukan motornya ke rumah
Anabel.
__ADS_1