
April pun pingsan setelah mendengar penuturan dokter tersebut dan Hery pun segera membawa April keluar dari ruangan tersebut.
Sedangkan Ferdi hampir saja ambruk karena rasa pusingnya yang luar biasa dan segera keluar ruangan juga.
"Mas Ferdi, bagaimana keadaan Anabel? mana Mama April dan pak Hery?" tanya Ana
"Kamu... ngapain kamu di sini? masih berani kamu menunjukkan wajahmu di depanku? iya?" tegas Ferdi.
"Mama pingsan setelah mendengar penuturan dokter mengenai kondisi Anabel dan sekarang mama di bawa oleh Papa ke ruangan untuk beristirahat..."
"Yaa Allah, Ya Tuhan... Memangnya kenapa dengan Anabel? apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Ana yang masih tak paham maksud Ferdi.
"Calon anakku tak bisa di selamatkan dan...." ucapan Ferdi terhenti, saat Ana memotong
pembicaraannya.
"Yaa Allah, Ferdi kamu sabar ya.. Lalu bagaimana dengan Anabel?" tanya Ana kembali.
"Anabel selamat memang, tapi kondisinya saat ini kritis dan koma. Dan setelah ini kemungkinan Anabel akan kesulitan memiliki anak kembali karena terjadi sesuatu pada rahimnya bahkan dokter menyarankan agar rahimnya di angkat bila tak ingin terjadi sesuatu pada Anabel yang kemungkinan akan merasakan sakit terus menerus pada bagian rahimnya bila tak di angkat rahimnya tersebut, dan itu semua terjadi karena Anabel setress dan syok mendengar perkataanmu saat di rumah tadi." saat mengatakan hal tersebut, Ferdi tak bisa menutupi kesedihannya.
"Yaa Allah, Anabel... aku jadi merasa bersalah." lirih Ana.
"Mas, kamu jangan khawatir dan sedih, aku tetap bisa memberikanmu anak, masih ada aku yang bisa memberikanmu anak." ucap Ana dengan yakin.
"Apa apaan maksudmu? aku tak pernah menginginkan anak darimu Ana...!! Senangkan kamu? senang melihat kondisi Anabel istri saya seperti ini? Puas kamu? ini yang kamu inginkan?
terjadi sesuatu pada istri saya? Kamu tak perlu merasa bersalah karena memang kamu bersalah!!" Ferdi tak lagi bisa menahan emosinya.
"Dan kamu perlu tau... Aku sangat membencimu dan takkan memaafkanmu, itu semua terjadi karenamu hingga Istri saya seperti ini...!! " tegas Ferdi dengan nada penuh kebencian.
"Mas aku mohon maafkanku..." lirih Ana meminta maaf kepada Ferdi.
__ADS_1
"Lepaskanku Ana!! Mulai hari ini aku akan menceraikanmu dan aku tak ingin lagi melihatmu di depanku termasuk di rumahku!! Pergi!!"
"Lebih baik kamu segera pulang ke rumah dan bereskan barang dan pakaianmu agar ketika aku sudah sampai di rumah tak perlu lagi melihat barang, pakaian dan dirimu juga!! Jadi lebih baik kamu sekarang, pergi dari rumah sakit ini !! pergi...!! karena di sini tak ada yang menginginkan keberadaanmu...!! " tegas Ferdi kembali.
"Lepaskan tanganku..!! , sungguh aku tak sudi kamu pegang dan pergi dari sini, dari hadapanku, sekarang juga!!" Ferdi menghempaskan tangan Ana yang memegangnya.
"Aaaaaaa Mas, sakiiiit......" erang Ana yang terjatuh ke lantai karena kehilangan keseimbangan tubuhnya yang di hempasan begitu saja oleh Ferdi.
"Ferdi kamu apa apaan!! Lihat istrimu sedang kesakitan karena ulahmu menghempasnya begitu saja, sekarang tolong dia Fer!! jadilah lelaki dan seorang suami yang seharusnya bukan pengecut seperti itu, mendengar erang kesakitan istrimu, kamu justru pura pura tak mendengarnya, apa apaan kamu!!... Bagaimanapun ia istrimu dan anak yang di kandungnya calon anakmu." Hery yang tiba tiba saja datang menghampiri Ferdi dan tak bisa menahan lagi amarahnya karena sikap Ferdi sesuka hati pada Istrinya.
"Pa, gimana kondisi Mama?" Ferdi baru saja menyadari kehadiran papa mertuanya , pak Hery.
"Tolong Istrimu sekarang Fer!!" tegas Hery.
"Apaan sih Pa, aku sudah malas mengurusi dia." ucap Ferdi lelah.
"Lihat apa yang sudah kamu lakukan ke istrimu dan lihat keadaannya sekarang!! lihat Ferdi apa yang sudah kamu lakukan ke dia, lihat keadaannya sekarang, lihat!!" Hery tak bisa lagi menahan amarahnya. Dan Ferdi pun menoleh ke arah yang di tunjukkan oleh pak Hery.
"Yaa Allah, Astagaaa... Ana." Ferdi pun segera menghampiri Ana dan diikuti oleh pak Hery.
Ana melahirkan anaknya dengan selamat begitupun kondisi Ana baik baik saja. Berbeda dengan kondisi Anabel dan calon bayinya . ..
Namun sayangnya kehadiran bayi yang di lahirkan Ana tak ada yang menyambutnya dengan rasa bahagia dan tak ada yang menemaninya.
Berbeda dengan Anabel yang begitu banyak mendampinginya dan memberikan pelukan atau kekuatan untuknya. Sedangkan di sisi lain, ada Bulan, Bintang dan David melihat kondisi Ana juga Anabel secara bergantian. Kini mereka paham bila Ana adalah istri ayahnya.
Mereka mengetahui saat tak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Bulan hanya mampu menatap sedih melihat kondisi bundanya dan ia yang harus kehilangan adiknya. Sedangkan istri
dari ayahnya, penyebab itu semua terjadi justru baik baik saja dengan bayinya yang baru saja di lahirkan.
Bulan merasa ini tak adil, hatinya begitu sedih dan kecewa pada ayahnya yang juga turut andil membuat kondisi bundanya seperti ini dan ia harus kehilangan calon adiknya.
__ADS_1
Sedangkan David yang melihat adiknya seperti itu tak tega dan ia pun merasakan sedih juga kecewa dengan ayahnya yang telah berkhianat pada bundanya dan membohonginya.
David melihat ke arah tatapan Bulan yang melihat bayi yang baru saja di lahirkan oleh Ana dan David berjanji akan membalas dendam atas apa yang sudah Ana lakukan pada keluarganya.
Yang sudah membuat bundanya kritis, calon adiknya meninggal dan kedua adiknya sedih Bulan dan Bintang. Sedangkan Ana kini tak tau haruskah ia bahagia dengan kelahirannya saat ini? dan ia telah berhasil menang dari Anabel tapi ia sama sekali tak bisa memiliki dan mendapatkan hati juga cinta Ferdi.
Bahkan Ferdi tak datang dan menemaninya saat ia berjuang melahirkan. Di sisi lain, Ana juga merasa bersalah karenanya Anabel kondisinya seperti ini.
Kini ia menyesal karena dendam yang pernah ia tanam pada akhirnya menghancurkan dirinya sendiri juga orang di sekitarnya, orang orang yang tak seharusnya merasakan pembalasan atas apa yang mereka tak lakukan.
Andai saja ia mencari kebenarannya terlebih dahulu. Lalu apakah Ana bisa bahagia dengan
merenggut kebahagiaan orang lain? apakah Ana akan merasa menang?, setelah ia salah membalas pada mereka yang tak seharusnya merasakan pembalasan tersebut, pembalasan yang sama sekali tak mereka lakukan.
Ana benar benar menyesal atas kebodohannya dan keputusan yang telah ia ambil tanpa mencari tau kebenarannya. Ia sudah melukai hati banyak orang di sekitarnya, terlebih kini nasibnya tak menentu.
Ia telah kehilangan cinta Ferdi dan bahkan tempat tinggalnya, sungguh setelah ini ia tak tau harus ke mana dan akan ke mana.. rasanya ia benar benar kehilangan keseimbangan
Hidupnya rasanya tak tentu arah dan ia hanya bisa menangis di hari ini, yang seharusnya ia bahagia atas kelahiran anaknya dengan di temani seorang suami seharusnya, tapi tidak dengan Ana.
Ana hanya mampu menghapus bulir bulir air mata yang kini membasahi pipinya dengan di temani oleh kesunyian dan alat alat medis yang terpasang di dirinya.
Sesekali Ana melihat ke arah bayi yang tak berdosa itu. Ana mencium dan meminta maaf berulangkali pada bayi tersebut. Bayi tersebut tak salah, tapi
kehadirannya tak di inginkan, karena ia telah menjebak ayah dari bayi ini hingga ayah dari bayi ini pun tak ingin mengakuinya sebagai anak.
Bahkan orang di sekitar menatapnya penuh kebencian karena ia di anggap merenggut kebahagiaan orang lain tanpa mereka pernah tau jika sebelumnya kebahagiannya pernah di renggut seseorang dan ia selama ini sudah cukup menjadi korban dan banyak bersabar atas keadaan yang
sama sekali tak ia inginkan.
Tanpa Ana sadari tindakannya selain menyakiti banyak hati orang di sekitarnya bukan hanya Anabel tapi juga ketiga anak Anabel yang merasakan luka, trauma yang sama hingga tanpa sadar telah
__ADS_1
menciptakan dendam di hati ketiga anak Anabel seperti dirinya.
Menciptakan luka dan dendam pada hati seorang anak kecil yang tak seharusnya telah menyimpan dendam di hati mereka, karena jiwa mereka seharusnya masih suci jauh dari penyakit hati yang biasa di rasakan oleh orang dewasa.