Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Pelukan hangat


__ADS_3

Kediaman Delvano


Dari arah dalam rumah terlihat Rafi tengah melangkahkan kakinya sambil membawa laptop yang di maksud oleh Delvano tadi di tangannya.


"Benar benar menyusahkan, jika aku tidak menginginkan pekerjaan ku cepat selesai pasti aku tidak akan mau di suruh suruh olehnya." gerutu Rafi sambil terus melangkahkan kakinya keluar dari kediaman Delvano.


"Entah mengapa aku tiba tiba merasakan perasaan yang tidak enak, tapi mengapa ya?" imbuhnya lagi.


Rafi yang baru saja keluar dari pintu utama, lantas langsung di buat terkejut ketika ia tidak menjumpai mobil milik Delvano di manapun, benar benar hilang dan tidak berbekas.


"Sial aku telah di tipu, pantas saja aku merasa hawa hawa tidak enak." ucap Rafi dengan nada yang kesal sambil celingukan ke sana kemari mencari keberadaan mobil milik Delvano barusan.


Sebuah deringan ponsel miliknya lantas tiba tiba terdengar, membuat Rafi yang sudah di buat kesal dan bingung lantas semakin bingung ketika mengetahui bahwa si penelpon adalah Sarah.


"Gawat" ucap Rafi dengan lirih sebelum pada akhirnya mau tidak mau Rafi mulai menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.


"Halo nyonya?" ucap Rafi dengan nada yang mencoba untuk tenang.


"Bagaimana dengan Delvano, apakah dia sudah sampai di Bandara?" tanya Sarah kepada Rafi karena gemas sedari tadi ia belum mendapat kabar tentang putranya.


"Em... begini nyonya... tadi saya sudah hampir mengantar tuan muda ke Bandara, hanya saja mendadak mobil tuan muda menghilang begitu saja sehingga saya kehilangan jejaknya." ucap Rafi dengan nada yang lirih dan terdengar ragu ragu.


"...."


Merasa hening di seberang sana malah menambah kesan menegangkan bagi Rafi karena tidak mendengar jawaban apapun dari Sarah di seberang sana.


"Apa saja yang kau lakukan hingga sampai kecolongan seperti itu Raf?" ucap Sarah kemudian dengan nada penuh penekanan, membuat Rafi langsung menelan salivanya dengan kesal.

__ADS_1


"Saya minta maaf nyonya, sebelum tengah malam saya berjanji akan membawanya pulang." ucap Rafi kemudian dengan nada yang yakin.


"Temukan anak itu segera, aku akan menunggu kabar dari mu hingga tengah malam, jika kau tidak bisa menemukannya dalam tengah malam lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu." ucap Sarah dengan nada yang mengancam.


"Ba... baik nyonya." ucap Rafi pada akhirnya kemudian terdengar sambungan telpon terputus secara sepihak dari seberang sana.


"Aku yakin tuan muda pasti belum jauh dari sini." ucap Rafi pada diri sendiri kemudian beranjak pergi dari sana hendak mengejar Delvano.


***


Sementara itu di mansion Elbara yang kini sudah resmi menjadi milik Viona.


Terlihat Viona baru pulang dari arisan dengan raut wajah yang kesal. Viona benar benar tidak menyangka jika Vanya kemarin malah bertemu Elbara dan juga Akila di Dufan.


"Lagi pula ngapain sih mereka ke Dufan? kurang kerjaan aja... pacaran itu jalan jalan ke luar negeri bukan malah ke Dufan, dasar udik." gerutu Viona dengan nada yang kesal sambil merebahkan tubuhnya pada ranjang empuk miliknya, yang kini terasa kosong karena tidak lagi ada Elbara yang akan tidur dan berbagi ranjang dengannya, walau dalam suasana yang dingin tanpa sentuhan.


"Aku benar benar merindukannya, tidak bisakah dia melihat ku sedikit saja? aku bahkan selama ini sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuatnya membuka hati untukku, namun sekeras apapun aku berjuang tetap saja bukan aku pemenangnya." ucap Viona dengan nada bicara yang sendu sambil menatap ke arah langit langit kamarnya yang berwarna putih polos itu.


Suara ketukan pintu dari arah luar kamarnya mulai terdengar dan membuyarkan lamunannya. Viona yang baru saja merebahkan tubuhnya, lantas sedikit merasa kesal ketika mendengar suara ketukan pintu tersebut.


"Apa lagi?" ucap Viona dengan nada yang ketus tepat setelah ia membuka pintu kamarnya dengan lebar.


"Saya ingin memberikan ini nyonya, tadi ketika anda pergi Arga datang kemari dan menitipkan ini kepada saya." ucap kepala maid di mansion Elbara sambil menyodorkan sebuah amplop coklat kecil kepada Viona.


Viona yang melihat amplop tersebut hanya mengambilnya dengan kasar kemudian kembali masuk ke dalam tanpa mengucap sepatah kata apapun kepada kepala maid tersebut.


"Sepertinya jika tidak kasar seperti ini, bukan nyonya namanya." ucap kepala maid tersebut kemudian melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana untuk kembali mengurus pekerjaannya.

__ADS_1


**


Di dalam kamar


Viona terlihat menatap ke arah amplop coklat yang baru saja ia terima. Viona yang sudah tidak sabaran dan ingin melihat apa isinya, lantas langsung membuka amplop tersebut untuk melihat isinya.


Sebuah black card lengkap berserta beberapa lembar cek kosong terlihat tepat ketika Viona membuka amplop tersebut. Seulas senyum nampak terlukis cantik di wajahnya ketika Viona langsung memahami dengan jelas maksud dari amplop coklat tersebut.


"Rupanya dia masih mengingat janjinya sebelum bercerai, baiklah... jika sudah seperti ini maka aku tidak akan sungkan lagi, lagi pula siapa sih di dunia ini yang tidak menyukai uang? tentu saja tidak ada..." ucap Viona sambil tersenyum simpul menatap ke arah black card yang kini tengah berada di tangannya.


****


Apartment Elbara


Di area balkon terlihat Akila tengah diam sambil termenung berdiri di tepi balkon menatap ke arah langit malam itu.


Ucapan Delvano di ruang persidangan tadi pagi, benar benar membekas di ingatan Akila saat ini. Sejak kepulangannya dari pengadilan hingga kini, bayangan tentang bagaimana cara Delvano mengatakan hal tersebut benar benar membuat Akila kembali merasa down, padahal harusnya di saat saat seperti ini Akila bahagia bukan?


"Apakah aku tidak akan pernah bisa lepas dari jeratan seorang Delvano Sebastian? mengapa semakin di pikirkan semakin membuat ku takut dan goyah?" ucap Akila dengan nada yang lirih sambil terus menghela nafasnya dengan panjang sedari tadi.


Di saat Akila tengah di hantui rasa gundah gulana, sebuah tangan kekar mendadak melingkar di bahunya dari arah belakang, membuat Akila yang sedari tadi melamun lantas langsung di buat terkejut akan hal tersebut.


"Apa yang kamu lakukan El?" tanya Akila yang terkejut akan pelukan Elbara yang tiba tiba dari arah belakang.


"Aku dengar sebuah pelukan hangat bisa membuat hati seseorang lebih tenang dan lega, yang aku lakukan saat ini hanyalah mengikuti instruksi dari artikel yang aku baca dari internet Ki..." ucap Elbara dengan nada yang santai, membuat Akila lantas langsung tersenyum seketika tepat ketika mendengar ucapan dari Elbara barusan.


"Terima kasih banyak El" ucap Akila dengan lirih sambil menggenggam dengan erat lengan Elbara yang kini melingkar di dadanya.

__ADS_1


"Tenangkan lah dirimu Ki... aku tahu perasaan mu tengah kacau saat ini." ucap Elbara lagi dengan lirih sambil mengecup puncak kepala Akila.


Bersambung


__ADS_2