
"Mas, gimana? apa kita jadi
memasukkan Bintang ke pesantren saja? toh sebenarnya kita mampu saja masukkan
Bintang ke pesantren, ya meski perusahaan kamu saat ini kurang baik." ucap
Anabel.
"Sabar dulu ya yank, karena biar
Bintang merasakan dulu sekolah kelas satunya terlebih sudah mulai ujian.
Kecuali jika Bintang meminta lagi ke kita, toh jujur aku juga belum bisa jauh
dari anak anak." ujar Ferdi.
"Iya sih Mas, yang kamu katakan
benar, jujur aku juga gak mau jauh dan kehilangan mereka tapi jika itu yang
terbaik...
Ya aku sendiri sebenarnya, kecemasan
yang ku rasa lebih besar dari kamu terlebih aku ini kan seorang ibu." ucap
Anabel.
"Iya yank, Mas paham. Karena itu
juga yang mas rasain, oleh sebab itu mas ingin mempertimbangkannya terlebih
dahulu." ujar Ferdi.
"Ohya Mas, gimana? kamu belum
menemukan kehadiran Ana dan anaknya?" tanya Anabel.
"Hemm, kenapa bahas itu lagi sih
yank? itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri, dan mas juga gak suka kamu bahas
hal ini terus menerus." ujar Ferdi Kembali.
"Yah, maaf yank, jika kamu gak
suka aku bahas hal ini terus, tapi bagaimanapun kan kamu harus mempertanggungjawabkan
nya , jujur aku juga merasa cemburu hingga detik ini kejadian hari lalu kala
itupun belum bisa ku lupakan sepenuhnya hingga aku depresi dan harus kehilangan
anakku dan hampir kehilangan rahimku. Tapi aku menyadari anak dari Ana tidak salah,
__ADS_1
meski di sisi lain aku cemburu Ana bisa memberikanmu anak dan anak kalian lahir
selamat, sedangkan anakku? dan aku gagal memberikanmu anak lagi" ujar
Anabel dengan nada sedih.
"Iya yank aku tau, aku juga
hingga detik ini juga berusaha mencari keberadaannya.
Aku sudah menyewa beberapa dektetif
untuk mencari keberadaan Ana juga anakku.
Tapi ya tidak semudah itu, hingga
detik ini buktinya mereka belum bisa di temukan yank.. " ujar Ferdi dengan
menghembuskan nafas panjang.
"Dan aku mohon, tolong hentikan ucapanmu
dengan berkata seolah menyalahkan dirimu sendiri dan mengingat masa lalu, semua
sudah berlalu bukan?
Ya aku tau sulit melupakan luka dan
kejadian hari itu, tapi ku harap kamu bisa agar berdamai dengan takdir dan
sendiri dan mengingat kesakitan di hari lalu.
Karena aku sudah sangat bersyukur
dengan anak di antara kita dan bagiku kamu wanita luar biasa yang gak perlu
membandingkan dirimu dengan Ana yang bukan siapa siapa si antara kita dan dia
tak berarti bagiku. " Ferdi memegang tangan Anabel.
"Dan aku juga minta maaf banget
sama kamu, karena aku, kita harus kehilangan anak kita. Aku benar benar
menyesal juga, maafkanku ya.. ku mohon, maafinku ya dan tolong yank lupakan
kesakitan itu agar tak terus menyiksamu terus menerus juga." ujar Ferdi
kembali dengan menitihkan air matanya, tanpa sadar.
"Tapi Fer, bagaimanapun kamu
tidak bisa melupakan, ada anak darimu di antara mereka." ucap Anabel,
__ADS_1
mencoba mengingatkan Ferdi.
"Dan maaf aku sudah mencoba
berdamai dan mengikhlaskannya tapi untuk melupakan sepenuhnya aku belum bisa
Fer Karena kalian aku pun harus kehilangan anakku dan kini aku kesulitan untuk
memiliki anak lagi. Kamu mungkin mudah mengucapkannya tapi tak mudah untukku
Fer, yang seringkali terbayang calon bayiku terlebih sering merasa bersalah
kepada diriku sendiri karena merasa aku tak bisa menjaganya dengan baik hingga
aku harus kehilangannya. Aku merasa bukan sosok ibu yang baik untuk
anakku." ucap Anabel yang perlahan bulir bulir air mata mulai membasahi
pipinya.
Ferdi pun merunduk dan menghadapkan
wajahnya ke Anabel, menghapus tiap bulir bulir air mata yang membasahi pipi
Istrinya.
"Aku mohon maafkanku dan maafkan
kejadian hari lalu yank, ikhlaskan, lupakan meski sepenuhnya kamu gak bisa...
aku paham karena mungkin terlalu sakit rasanya, aku pun kini benar benar
menyesal dan merasa kesakitan di hatiku, merasa bersalah dengan kehilangan
calon bayiku karena salahku terlebih kamu yang seorang ibu baginya, tentu
ikatan batin kamu lebih kuat dengan calon anak kita.. Maafkanku,
maafkanku..maaf, aku benar benar menyesal dan merasa bersalah yank.." ucap
Ferdi yang meminta Anabel melupakannya dan berulangkali meminta maaf.
Tanpa sadar Ferdi pun juga menangis.
Ferdi pun menghapus kembali bulir
bulir air mata yang membasahi pipi Istrinya dan mulai mengecupnya dari dahi,
mata, hidung , pipi hingga bibirnya yang campur dengan air matanya.
Dan setelahnya Ferdi mendekatkan
wajahnya dengan wajah istrinya dengan air mata yang masih membasahi wajah
__ADS_1
mereka masing masing, mencoba memahami perasaan dan emosi masing masing dengan
hembusan di antara mereka.