Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Mengakhiri hidup


__ADS_3

Taman


Mobil yang di kendarai Elbara terlihat sampai di parkiran taman, dengan langkah yang terburu buru Elbara lantas turun dari mobilnya dan masuk ke area taman. Elbara menatap ke arah layar ponsel miliknya mencoba mencari posisi Akila lewat gps di layar ponsel miliknya.


"Aku datang Ki..." ucap Elbara sambil terus melangkahkan kakinya menyusuri area taman.


Elbara terus mengikuti arah di mana sinyal ponsel Akila berada, hingga ketika ia sampai di hutan pinus Elbara mulai menatap ke arah sekitar dan mengernyit dengan bingung karena ketika Elbara sampai di sana tidak ada seorang pun. Elbara menghentikan langkah kakinya sebentar sambil menatap ke arah kanan dan kiri, namun tetap saja Elbara tidak menemukan siapapun di sana.


Elbara kemudian kembali menatap ke arah layar ponselnya dan lagi lagi di buat bingung karena dalam layar ponselnya sinyal Akila benar benar ada di sana. Elbara terus melangkahkan kakinya mengikuti titik lokasi pada gps tersebut hingga ketika ia berada di tengah tengah area pohon pinus, Elbara kembali menatap ke arah sekeliling dan pandangannya terkunci pada sebuah ponsel yang familiar baginya tergeletak di tanah. Membuat Elbara kemudian lantas bergegas mendekat ke arah ponsel tersebut dan segera mengambilnya.


"Jika lokasi terakhir Akila di sini, aku yakin Akila pasti tidak akan jauh dari sekitar sini." ucap Elbara sambil menatap ke arah sekeliling.


Elbara yang melihat tak jauh dari pohon pinus ada sebuah pondokan rumah goblin, lantas langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah sana siapa tahu Elbara mendapat petunjuk di sana. Elbara menghentikan langkah kakinya ketika ia melihat bekas seretan di tanah yang jejaknya mengarah ke arah rumah pondok tak jauh dari posisinya berdiri saat ini.


Elbara kemudian lantas memutuskan untuk mengikuti jejak seretan di tanah yang mengarah ke arah pondokan. Langkah kaki Elbara kemudian lantas terhenti pada sebuah pondokan dengan luas yang tidak terlalu lebar dan juga tidak terlalu tinggi, di mana di bagian depannya terdapat patung smurf berdiri dengan wajah yang penuh ekspresi. Elbara mendekatkan telinganya ke arah pintu pondokan tersebut. Hingga ketika telinganya menempel, Elbara yang seperti tengah mendengar sesuatu lantas langsung mendobrak pondokan tersebut dengan sekuat tenaga hingga menimbulkan suara yang keras ketika pintu terbuka secara paksa oleh Elbara.


"Apa yang kau lakukan!" pekik Elbara ketika melihat Delvano dan juga Akila yang terlihat berada di dalam pondok dengan posisi yang ambigu.


Elbara yang sudah terlanjur tersulut emosi, lantas langsung menarik tubuh Delvano dan melemparnya hingga membentur dinding, sehingga membuat beberapa ornamen yang di pasang untuk mempercantik pondokan tersebut lantas berjatuhan dan pecah tepat ketika tubuh Delvano membentur ke dinding.


"Kau pria b*ngs** tidak tahu diri! apa yang kau lakukan sebenarnya ha? kau pikir kau siapa terus terusan mengganggu Akila seperti ini!" ucap Elbara sambil dengan gerakan membabi buta memukuli Delvano.

__ADS_1


Delvano yang mendapat pukulan dari Elbara hanya diam dan tak berbuat apa apa, membuat Elbara semakin kesal namun detik berikutnya langsung melepaskan cengkraman tangannya begitu mengingat kejadian tempo lalu di mana Delvano malah memanfaatkannya dan memfitnah dirinya.


"Apa kau sekarang ingin melaporkan ku kembali ke kantor polisi? coba saja... silahkan... aku sama sekali tidak takut!" ucap Elbara sambil menatap sinis ke arah Delvano.


Sedangkan Delvano yang mendengar ucapan Elbara barusan, hanya tersenyum dengan sinis kemudian mengusap sudut bibirnya yang terlihat mengeluarkan darah segar akibat pukulan dari Elbara barusan.


"Aku hanya mengakhiri kisah cinta ku sama dengan Simfoni favorit ku, apa aku salah?" ucap Delvano dengan tersenyum.


Mendengar jawaban dari Delvano barusan membuat Elbara terdiam sejenak mencoba mencerna ucapan dari Delvano barusan. Sebuah Simfoni yang terdengar begitu menyedihkan mendadak berputar di kepala Elbara, membuat raut wajah Elbara langsung berubah dengan seketika.


"Tidak mungkin kan..." ucap Ebara menggantung.


Uhuk uhuk...


"Sebentar lagi akan tiba waktunya... hahaha" ucap Delvano dengan nada yang lirih dan nafas yang terdengar berat.


"Sialan!" pekik Elbara sambil bangkit dari posisinya.


Elbara yang baru menyadari akan arti dari ucapan Delvano barusan, lantas langsung mendekat ke arah Akila dengan raut wajah yang khawatir takut terjadi sesuatu dengan Akila. Elbara memeluk tubuh Akila yang nampak lemas itu dan mendekapnya dengan erat. Di usapnya darah segar yang keluar dari mulut Akila karena terbatuk barusan.


"Tidak apa apa Ki ada aku... aku ada di sini..." ucap Elbara sambil mengusap darah yang membasahi mulut dan juga pipi Akila.

__ADS_1


"Mengapa kamu ada dua El? apa kamu punya kembaran?" ucap Akila dengan polos yang membuat Elbara terdiam seketika bingung hendak tertawa atau malah menangis akan keadaan Akila.


Elbara yang mendengar ucapan polos tersebut lantas tersenyum sambil membenarkan rambut Akila dengan lembut, di kecupnya perlahan kening Akila seakan berusaha untuk menenangkan wanita itu agar Akila tidak terlalu panik dan malah memperburuk kondisinya.


"Kita ke Rumah Sakit ya? aku yakin kamu pasti sembuh, bukankah kita berencana untuk menikah hem?" ucap Elbara dengan lembut sambil menahan ucapannya yang tercekat.


Mendengar ucapan Elbara barusan membuat tangan Akila perlahan lahan bergerak dan menyentuh pipi Elbara dengan lembut, bahkan tangan Akila kini terasa dingin menyentuh pipi Elbara, membuat Elbara semakin ketakutan akan kondisi Akila saat ini.


"Jangan El... biarkan aku begini saja, jika kamu membawa ku se... karang... takutnya aku.. akan me..nyusahkan mu nantinya..." ucap Akila sambil berusaha tersenyum untuk menenangkan Elbara.


Elbara yang mendengar itu hanya tersenyum sambil memegang tangan Akila yang kini menyentuh pipinya dengan erat. Akila bergerak perlahan mencari kehangatan pada tubuh Elbara, membuat Elbara semakin mengeratkan pelukannya agar Akila merasa lebih hangat.


"Biarkan aku seperti ini El... dingin.. sangat dingin..." ucap Akila dengan bibir yang bergetar dan perlahan lahan matanya memejam.


Elbara yang melihat mata Akila terpejam lantas mulai ketakutan, dengan sekali gerakan Elbara menggendong tubuh Akila ala bridal style dan membawanya keluar menuju ke arah rumah sakit. Delvano yang melihat Elbara akan membawa Akila pergi darinya, lantas berusaha memegang kaki Elbara agar tidak keluar dari area pondokan tersebut.


"Mau kau bawa kemana Akila?" ucap Delvano dengan nafas yang berat.


Sedangkan Elbara yang mendengar pertanyaan tersebut, malah langsung menendang tangan Delvano yang memegang kakinya kemudian menatap tajam ke arah Delvano yang nampak seperti sedang menahan kesakitan dalam tubuhnya.


"Bukankah kau ingin mengakhiri hidup mu seperti Simfoni favorit mu itu, lalu apa lagi yang kau inginkan? selamat karena sebentar lagi kau akan sampai di gerbang neraka tapi tentunya tanpa Akila di sisi mu!" ucap Elbara dengan nada yang dingin kemudian berlalu pergi dari sana.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2