
Sudah sebulan lebih Adrian terbaring tak sadarkan diri. Sejak kejadian itu, Adrian dinyatakan koma dan hanya menggantungkan hidupnya pada alat-alat yang terpasang di tubuhnya.
Setiap hari, Lani selalu menemani kekasihnya itu sekadar untuk menggenggam tangannya dan mengajaknya berbicara walaupun tidak di respon sama sekali oleh Adrian.
Lani terlihat begitu setia menemani Adrian walau dia tahu, kapan saja Adrian bisa dipanggil Tuhan. Dan semua perhatiannya itu telah membuat orang tua Adrian semakin menyayanginya.
Semenjak Adrian dinyatakan koma, orang tuanya sudah memutuskan untuk merawat Adrian di rumah. Di dalam kamar yang luas, Adrian terbaring dengan segala macam alat di sisi tempat tidurnya. Sejak saat itu, Lani memutuskan untuk tinggal di rumah Adrian karena dia tidak ingin meninggalkan kekasihnya itu sendirian tanpa dirinya.
"Lani, ayo makan dulu, Nak," ucap Annisa sambil membawakan sepiring makanan untuknya.
"Terima kasih, Tante," jawabnya sambil mengambil piring itu dan diletakkan di atas meja.
"Lho, kok ditaruh di atas meja? Kamu harus makan biar bisa punya tenaga untuk menemani Adrian."
Lani tersenyum dan langsung saja dia menyantap makanan itu walaupun hanya sedikit.
"Terima kasih, karena kamu sudah menemani Adrian. Tante bahagia karena selama ini kamu sudah menemani Adrian dan Tante yakin, dia pasti juga merasa sangat bahagia," ucap Annisa sungguh-sungguh.
"Aku akan selalu bersama Adrian sampai kapanpun, Tante. Aku rela walau Adrian seperti ini, asal dia tetap bersamaku dan tidak pergi meninggalkanku. Aku akan merawatnya selama hidupku. Tante jangan khawatir, karena aku akan menemani Adrian di sini. Sampai kapanpun, aku akan tetap ada di sini," ucap Lani dengan tulus.
Annisa tersentuh dengan ucapan Lani hingga membuatnya tidak bisa membendung air matanya. Dipeluknya gadis itu erat seakan ingin berterima kasih atas semua perhatiannya selama ini untuk Adrian. Andai dulu, Adrian tidak bersama Lani, mungkin saja mereka akan kehilangan Adrian dengan rasa bersalah yang teramat dalam.
Sementara Reihan, tengah bergolak dengan hatinya. Di saat dia sudah bisa melupakan masa lalunya bersama Lani dan berusaha menjalin cinta dengan yang lain, di saat itu pula hatinya terusik tatkala melihat Lani menangis. Entah apa yang membuat hatinya terusik.
"Bagaimana hubunganmu dengan Diana?" tanya ayahnya saat mereka sedang makan malam.
"Biasa saja kok, Pa," jawabnya datar.
"Kamu serius tidak sih pacaran sama dia?" tanya ayahnya penasaran.
Reihan hanya terdiam, entah apa yang harus dia jawab karena pikirannya sekarang tertuju pada Lani.
"Rei, kamu dengar tidak sih pertanyaan Papa?" tanya ayahnya sekali lagi.
__ADS_1
"Reihan dengar, Pa, tapi untuk saat ini, Reihan belum bisa memutuskan arah hubungan kami akan seperti apa."
"Apa kamu masih memikirkan gadis itu?"
Sontak saja Reihan memandangi ayahnya. Pikirannya kacau. Apakah pantas dia memikirkan seseorang yang bukan lagi miliknya? Apakah pantas dia merindukan seseorang yang kini tak lagi merindukannya? Terlintas, dia teringat kembali saat melihat Lani menangis. Tangisan pilu yang membuat hatinya terasa teriris. Tangisan yang membuat dia merasa iri karena tangisan itu bukan untuknya, tapi untuk seseorang yang mungkin lebih berarti dari pada dirinya.
"Kamu sedang melamun apa?" tanya ayahnya yang semakin penasaran dengan sikapnya itu.
"Reihan ke kamar dulu, Pa," ucapnya sambil berdiri dan melangkah pergi ke kamarnya.
"Sudahlah, Pa. Jangan dipaksakan, mungkin saja saat ini dia sedang punya masalah," ucap istrinya yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka.
Melihat tingkah Reihan yang akhir-akhir ini sering murung membuat Riska menjadi curiga. Sejak pulang dari menjenguk Adrian di rumah sakit, sikap Reihan sudah mulai berubah.
Bahkan, hubungannya dengan Diana, gadis yang baru beberapa bulan dikenalnya sudah mulai renggang. Awalnya, Reihan yang berusaha membuka diri untuk gadis itu, kini terlihat mulai mundur seakan dia berusaha untuk menghindar.
Baru dua minggu yang lalu Reihan dan sahabat-sahabatnya datang menjenguk Adrian. Lani yang selalu tersenyum, kini terlihat begitu sedih. Wajahnya yang cantik terlihat sayu dengan tatapannya yang kian sendu. Dan itu, membuat Reihan menjadi prihatin dan tentu saja rasa sayang pada gadis itu mulai bermain di hatinya.
"Ah, kenapa aku begini? Kenapa aku terus memikirkan Lani?" Reihan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dan menutup wajahnya dengan bantal.
"Aku bingung denganmu. Aku pikir, kamu sudah bisa melupakan masa lalumu dengan Lani," ucap Raka yang seakan takjub dengan perasaan sahabatnya itu.
"Aku sendiri bingung dengan perasaanku. Aku pikir, aku sudah bisa melupakan dia, tapi melihat dia menangis seperti itu membuat aku tidak tahan," ucap Reihan dengan wajah yang terlihat sedih.
"Apa kamu masih mencintai Lani?" tanya Raka.
Reihan terdiam. Dia bingung dengan perasaannya sendiri. Dia ingin membohongi dirinya sendiri kalau dia sudah tidak lagi memikirkan gadis itu, tapi apa yang sedang dirasakannya saat ini sudah bisa membuktikan, kalau rasa itu sebenarnya masih tersimpan di lubuk hatinya yang paling dalam.
"Kenapa? Apa benar kamu masih mencintai dia?" tanya Raka yang seolah paham dengan sikap sahabatnya itu.
"Aku harus bagaimana? Aku tidak bsa membohongi diriku sendiri," ucap Reihan bingung.
"Lalu, hubunganmu dengan Diana akan kamu kemanakan?"
__ADS_1
Reihan semakin bingung. Di satu sisi, dia masih mencintai Lani bahkan sangat mencintai gadis itu. Namun, disisi lain, ada seorang gadis yang sudah terlanjur bersamanya dan dia harus memutuskan kepada siapa hatinya akan berlabuh. Dia sadar, tidak mungkin baginya untuk bisa kembali lagi bersama Lani, tapi dia seakan tersiksa dengan perasaannya sendiri, seakan hatinya tidak ingin melepaskan gadis itu, walau dia tahu itu tidak mungkin terjadi.
Iva yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka merasa kasihan kepada Reihan. Dia tahu sebesar apa rasa cinta Reihan pada sahabatnya itu, karena dia adalah saksi dari kisah cinta mereka berdua. Dia tahu sebesar apa penderitaan yang sekarang dihadapi Reihan dan dia hanya bisa berdoa semoga saja kedua sahabatnya itu bisa hidup bahagia walau tidak harus bersama.
"Aku rasa, ini adalah ujian buat kamu dan juga Lani. Sekarang, Lani sedang sedih karena orang yang dia sayang sedang menderita dan kamu juga merasakan yang sama ketika melihat Lani menderita. Cinta kalian memang sangat luar biasa. Aku salut dengan cinta kalian dan aku berharap, kalian berdua akan segera menemukan kebahagiaan," ucap Iva sambil menggenggam tangan Raka dengan air mata yang perlahan jatuh di sudut matanya.
Mendengar ucapan Iva membuat Reihan meneteskan air matanya. Betapa dia sangat beruntung mendapatkan sahabat yang selalu mendukungnya. Sahabat yang selalu ada di saat dia memerlukan.
Setelah perasaannya mulai merasa tenang, Reihan kemudian memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Dan, baru saja dia memasuki pintu rumahnya, dia sudah dikejutkan dengan Diana yang sedang duduk bercengkrama dengan ibunya.
"Kamu dari mana saja? Diana sudah menunggumu dari tadi," ucap Riska ketika melihat anaknya baru saja datang.
"Dari rumahnya Raka, Ma," jawabnya datar.
"Ya, sudah. Sekarang kamu temani Diana dulu, Mama ke dalam sebentar," ucap Riska sambil pergi ke dalam kamarnya.
"Aku minta maaf, karena tidak memberitahumu kalau aku akan ke sini," ucap gadis itu lembut.
"Tidak masalah. Memangnya, ada apa kamu datang ke rumahku?" tanya Reihan hati-hati.
Gadis itu lalu terdiam. Sebenarnya, dia sudah mulai menyukai Reihan. Awalnya, dia hanya mengikuti saran ayahnya untuk berkenalan dengan Reihan. Hubungan yang selama ini coba dia jalani tanpa keseriusan, kini telah berubah. Diam-diam dia sudah mencintai Reihan walau hubungan mereka belum ada kejelasan karena Reihan belum pernah sekalipun mengungkapkan perasaannya pada gadis itu.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu, karena sepertinya beberapa hari ini kamu tidak lagi menghubungiku. Makanya, aku sengaja datang ke rumahmu," jawab gadis itu yang terlihat malu-malu.
"Aku minta maaf, kalau sudah membuatmu khawatir."
"Kalau kamu punya masalah, kamu bisa kok menceritakannya padaku. Siapa tahu, aku bisa membantumu," ucap gadis itu dengan tulus.
Reihan terdiam. Dia memandangi gadis itu. Ingin rasanya dia menceritakan tentang perasaannya, kalau sebenarnya dia mencintai gadis lain, tapi dia masih mencari waktu yang tepat agar gadis itu tidak terluka.
"Terima kasih. Aku hanya butuh waktu, karena aku takut kalau hubungan yang coba kita jalani ini akan berakhir dengan kecewa. Aku harap kamu bisa mengerti."
Mendengar ucapan Reihan membuat gadis itu tersenyum. Dia paham dengan arah pembicaraan Reihan dan dia akan memaklumi karena saling mencintai itu butuh proses. "Tidak masalah, aku mengerti, kok," jawab gadis itu dengan senyum di bibirnya.
__ADS_1
Diana, gadis yang bukan hanya cantik, tapi dia adalah gadis yang baik hati. Dia sangat paham dengan situasi yang kini mereka berdua hadapi. Dia tahu, mereka baru saling mengenal belum lama ini dan tentu saja mereka butuh waktu agar mereka bisa saling mengenal lebih jauh dan tentu saja rasa cinta tidak mungkin bisa hadir tanpa sebuah proses. Karena itu, dia bertekad untuk menjalani proses itu, hingga Reihan benar-benar akan merasakan hal yang sama seperti yang sekarang sudah dia rasakan.