
Sedangkan Ferdi sendiri meski telah
mengatakan Syakira anaknya dan bertanggung jawab atas Syakira bagaimanapun
rasanya masih sulit menganggap Syakira sebagai anaknya dari hatinya.
Ia hanya mampu mengatakan itu di
bibirnya karena Anabel yang memintanya tapi tidak dengan hatinya, rasanya ia
masih benci dengan perbuatan Ana padanya dan ia menyesal seandainya dulu ia
lebih memperhatikan Anabel mungkin anaknya dari Anabel masih hidup hingga kini
dan sudah sebesar Syakira.
Oleh sebab itu rasanya saat menatap
Syakira, ada rasa kesal dan benci yang sulit ia elakkan tapi setidaknya Ferdi
bersyukur mempunyai istri sebaik Anabel hingga ia bisa bertanggung jawab
seperti seharusnya karena Anabel selalu mendukung hal itu.
Setidaknya ia sudah bertanggung jawab
meski hatinya belum mengakui sepenuh menerima Syakira, sebagai anaknya.
"Tunggu Ayah, Syakira akan di
sekolahkan di sekolahku? Enggak, aku gak setuju..." ujar Afnan.
"Afnan, jangan begitu..
bagaimanapun dia ini saudara kamu." tegas Ferdi.
"Enggak dia bukan saudaraku,
saudara ayah bilang? buktinya kenapa kak Bulan dan kak Bintang menjauh setelah
kedatangannya ke sini? kenapa yah? bisa jawab pertanyaan Afnan?" ujar
Afnan yang mulai tersulut emosi.
Pertanyaan Afnan, benar benar membuat
Ferdi dan mereka terdiam sesaat, Ferdi seakan Kelu dan bingung harus menjawab
apa, karena yang di katakan Afnan benar juga.
"Sabar, Afnan... sabar ya...humm
mungkin kak Bulan dan Bintang emang harus segera pergi ke stasiun dan bandara
supaya gak telat." ujar Ferdi mencoba mencari alasan.
"Enggak Afnan tau Yah, Afnan
bukan anak kecil yang bisa Ayah bohongin. Intinya Afnan gak setuju." ujar
Afnan yang segera berlari meninggalkan meja makan menuju kamarnya.
"Tunggu mau ke mana kamu? makan
di sini, duduk. Belum habis makananmu, kamu juga harus sekolah kan?."
tegas Ferdi.
"Afnan sudah gak selera makan.
Afnan kenyang, mau ke kamar ambil tas dan peralatan sekolah juga buku, Afnan
mau pergi sekolah duluan saja,.." ucap Afnan.
"Nanti ayah antar ke sekolah,
sekarang habiskan dulu makanan kamu." tegas Ferdi kembali.
"Gak perlu Ayah sok baik
denganku, aku bisa pergi sekolah sendiri. Afnan akan pergi sekolah sendiri,
lebih baik Ayah urusin saja anak kesayangan Ayah ini, yang tidak jelas asal
usulnya." ujar Afnan yang di liputi emosi, mendengar ucapan Afnan hati Ana
merasakan sakit, begitupun Ferdi yang melihat Ana menangis segera menghampiri
Afnan dan menampar pipi Afnan secara spontan karena kalimat yang Afnan lontarkan
menurut Ferdi tak pantas, hingga Ferdi pun di liputi emosi.
Melihat Ferdi menampar Afnan, semua
orang dapat sana terkejut, karena Ferdi bukan sosok mudah main tangan bahkan
tidak pernah sama sekali, tapi untuk hari ini Ferdi menampar Afnan anaknya
sendiri hanya untuk membela perempuan itu.
Susana makan jadi tegang dan ruyam,
Anabel pun berdiri dan seolah tak percaya dengan apa yang sudah Ferdi lakukan
terhadap Afnan, anaknya sendiri, terlebih karena membela Ana dan Syakira,
Padahal selama ini Ferdi tak pernah seperti
itu.
"Kamu apa apaan Mas? keterlaluan
kamu!! aku kecewa sama kamu Mas!! Kamu gak pernah seperti ini, dan sekarang
lihatlah..kamu seperti ini bahkan hanya untuk membelanya? Keterlaluan!! ....Aku
kecewa Mas, aku kecewa sama kamu.!!, Ayo Afnan kita ke kamar, biar bunda yang
bantu Afnan nyiapin buat sekolah, nanti bunda juga yang antar. Biar Ayahmu
antar kesayangannya.!!" tegas Anabel yang sedang di liputi emosi juga dan
segera membawa Afnan ke kamarnya.
__ADS_1
"Tapi dia salah Anabel, perlu
kita ajarkan bagaimana sopan santun. Akhhhh..." teriak Ferdi yang tak lagi
bisa menahan emosinya.
Setelahnya Ferdi terdiam dan menelaah
apa yang baru saja ia lakukan, sedangkan ia tau bila Afnan memang salah.
Ferdi hanya tidak ingin Afnan salah
mengambil tindakan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Yah, apa yang baru saja ayah lakukan? David kecewa karena baru pertama
kali Ayah seperti itu, terlebih hanya untuk membela mereka." ucap David
seolah menunjukkan nada kecewa pada ayahnya.
"David tolong kamu juga jangan
ikut campur, kamu sendiri lihat kan? yang salah siapa di sini. Afnan salah, dia
tidak bisa menjaga ucapannya, dan ayah hanya ingin memberikannya sedikit
pelajaran supaya ia bisa sopan santun sedikit saja dan menjaga perasaan orang,
terlebih itu orang terdekatnya dan masih keluarga.!!" tegas Ferdi.
"Kamu sendiri melihatnya kan?
yang salah adikmu. Kenapa sekarang kamu seolah menyalahkan ayah??" tanya
Ferdi kembali yang tak terima.
"Maaf bila David ikut campur,
karena bagaimanapun ini bersangkutan dengan Afnan adik David dan Ayah, Ayahnya
David. David tau, Afnan salah tapi gak seharusnya Ayah seperti itu..."
ucap David terpotong karena Ferdi kembali bersuara.
"Iya ayah tau, tapi adik seperti
apa yang harus kamu bela dan lalu maksud kamu ayah harus berbuat apa untuk
mengajari adikmu yang gak bisa bersopan santun dan menjaga perasaan orang? ayah
harus apa? dan bagaimana lagi mengajarnya? kamu sendiri tau kan Afnan, adikmu
salah!!" ujar Ferdi yang tak terima kembali dengan pernyataan yang David
ungkapan.
"Ayah tolong tenang, dengarkan David
berbicara dulu dan jangan potong ucapan David. Iya David tau Afnan salah, tapi
ayah gak harus seperti itu. Cukup ajarkan Afnan sopan santun dengan ucapan
yang ia katakan tak baik dan melukai perasaan orang lain juga tak sopan,
bukankah itu sudah cukup ayah? tanpa tangan ayah ikut serta menamparnya??!!
maaf David ikut campur karena Afnan adik David dan Ayah, Ayah David. David juga
harus melindungi Afnan dan mengingatkan ayah bila salah.!!" tegas David
kembali.
"Maaf yah, sepertinya David
kenyang dan gak selera makan. Juga harus berangkat kerja, David duluan yah.
Assalamualaikum.." ujar David yang segera berlalu ke kamar Afnan untuk
melihat kondisinya, lalu ke kamarnya untuk mempersiapkan keperluan kerja dan
terakhir pergi bekerja, sebelum itu David melirik sejenak ke arah Syakira dan
Ana sebelum berlalu pergi. Sedangkan Syakira merasa serba salah dan tak enak
hati, begitupun dengan Ana.
"Humm, Mas ... bagaimana jika
kita kembali ke desa saja biar gak ribut, aku gak enak sama keluarga kamu. Baru
datang ke sini, aku seolah membuat keributan dan gak seharusnya aku memenuhi
undanganmu kalau tau akan seperti ini dan apa sebaiknya kamu batalkan mengenai
pindahan sekolah Syakira?." ucap Ana lemah.
"Enggak Ana, kamu gak salah di
sini. Afnan yang salah, saya sebagai ayahnya juga malu mempunyai anak seperti
itu dan aku harus ajarkan ia sopan santun supaya gak seenaknya sendiri
berbicara tanpa memikirkan perasaan orang lain, yang mungkin saja ucapannya
bisa melukai hati orang lain. Dan kamu gak perlu merasa bersalah mengenai
memenuhi undanganku ini karena aku yang ngundang dan sebenarnya kan kita ingin
berbicara mengenai kabar baik ini, kita juga gak tau kan akan seperti ini
jadinya..tapi ya Afnan lah yang buat ruyam sebenarnya, karena ia gak bisa
menjaga kata katanya. Dan saya pun akhirnya tersulut emosi juga, sudahlah gak
papa jangan di pikirkan, dan tolong jangan kembali ke kampung, dan batalkan
mengenai kepindahan itu. Saya tetap urus kepindahan sekolah Syakira di sekolah
Afnan, tidak perlu tanpa menunggu persetujuan Afnan, baik Afnan setuju atau
tidak saya tetap menyekolahkannya di sana. Lebih baik sekarang kamu dan Syakira
__ADS_1
istirahat y untuk persiapan sekolahnya yang beberapa hari lagi. Kamu tetap di
rumah itu, karena saya juga sudah membelikannya untuk mu dan Syakira."
ujar Ferdi dengan nada lembut, tanpa ia sadari Anabel dan Afnan yang akan pergi
ke sekolah mendengarkan pembicaraan mereka, dan seolah hatinya tersayat saat
mendengar penuturan yang Ferdi ucapkan pada Ana juga Syakira.
"Yasudah mas, aku pamit dulu ya,
sekali lagi terimakasih sudah mau menyekolahkan Syakira, membelikan kami rumah
dan tadi membela kami ya walaupun tak seharusnya kamu menamparnya tapi gak papa
saya paham kamu tengah di liputi emosi.
Yasudah saya balik ya mas,
assalamualaikum.. Ayo Syakira juga pamit dan ucap terimakasih." ujar Ana.
"Iya terimakasih om, Syakira dan
bunda pamit dulu assalamualaikum.." ucap Syakira yang segera berlalu,
begitupun Ana mengikuti langkah Syakira.
"Tunggu, kenapa panggil om? saya
ini ayah kamu loh... lain kali panggil ayah ya, iya ya waalaikumussalam ya..
" ujar Ferdi yang mencegah langkah Syakira dan mendekati Syakira.
"Maaf saya belum siap dan bisa
memanggil om dengan sebutan tersebut. permisi, terimakasih atas undangannya,
ayo bunda kita segera pergi dari rumah ini agar tidak di salahkan lagi dan jadi
pemicu masalah karena kehadiran kita, yang seharusnya dari awal gak perlu cari
keberadaan om seperti kata Syakira waktu itu, tapi bunda gak mau mendengarkan
Syakira." ujar Syakira.
"Kenapa belum siap memanggil om
dengan sebutan ayah?" tanya Ferdi lemah namun tetap berusaha tersenyum.
"Karena selama ini om gak pernah
ada untuk kami sedangkan seorang ayah selalu ada untuk anaknya dan aku masih
sangat mengingat jelas bagaimana kami harus bekerja untuk mendapatkan kebutuhan
kami dan sekolahku, maaf jika saya belum bisa memanggil om dengan sebutan ayah
karena seorang ayah saya rasa tidak mungkin seperti itu kepada anaknya sendiri
dan kepada istrinya meski ia sudah mempunyai keluarga baru kecuali kami memang
tak di harapkan dan di rindukan kehadirannya termasuk kehadiran Syakira sebagai
anaknya." ujar Syakira yang segera berlalu pergi setelahnya tanpa menunggu
jawaban dari Ferdi, karena ia tak ingin mendengar alasan yang akan Ferdi
ucapkan, begitupun Ana segera mengikuti langkah Syakira.
"Arrrrgh..." Sedangkan Ferdi
hanya bisa berteriak setelah Kepergian mereka dengan menjambak rambutnya yang
terasa pusing.
"Mas..." lirih Anabel
memanggil suaminya, Ferdi.
"Anabel?" Ferdi yang
terkejut dengan kehadiran Anabel dan Afnan di sebelahnya. tanpa Ferdi sadari
David juga mendengarnya di atas tangga sana.
"Kamu keterlaluan begitu
membelanya dan menyalahkan anak kita hanya untuknya agar tak pergi dan merasa
bersalah atau kamu juga tetap menyekolahkan dia di sekolah Afnan walau Afnan
gak Setuju?" kamu keterlaluan, aku kecewa padamu Mas.!!" tegas Anabel
yang kecewa pada Ferdi dan segera menuju mobilnya untuk mengantarkan Afnan
sekolah.
"David juga pergi kerja dulu ya.
.. David pamit, jujur David juga kecewa dengan Ayah dan gak nyangka ayah akan
mengatakan dan bersikap seperti itu hanya untuk membelanya." ujar David
yang tiba tiba dan segera berlalu menuju mobilnya untuk pergi bekerja.
Sedangkan Ferdi cukup terkejut dengan
kehadiran mereka tiba tiba yang mendengarkan pembicaraannya dengan Ana dan
Syakira.
"Arrrrgh...." teriak Ferdi
kembali dan menjambak rambutnya kembali karena ia terlalu pusing dengan semua
yang ada.
Ferdi pun segera ke kamarnya untuk
menyisir rambutnya, mempersiapkan dokumen kerja dan segera berlalu menuju
mobilnya juga untuk bekerja
__ADS_1