
Apartment Elbara
Akila yang baru saja menyelesaikan masakannya, lantas mulai membawa satu persatu piring yang berisi makanan ke meja makan.
"Maaf menunggu lama..." ucap Akila sambil tersenyum dengan sumringah sambil menata beberapa piring di meja makan.
Sedangkan Lina yang di ajak duduk di meja makan, hanya bisa terdiam dan menatap ke arah sekeliling dengan tatapan yang bingung bersama Dona yang sedari tadi sibuk menyiapkan keperluan Lina, setelah menyelesaikan pekerjaannya Dona langsung melipir hendak pergi dari meja makan karena tidak ingin mengganggu keluarga kecil itu.
"Loh suster mau kemana?" tanya Akila yang melihat Dona hendak berlalu pergi.
"Mau ke belakang Bu..." ucap Dona dengan sopan.
"Sini duduk... kita makan bersama sama." ucap Akila menawarkan makan siang bersama kepada Dona.
Dona yang mendengar ajakan dari Akila barusan seperti bingung hendak menjawab apa, hingga kemudian Elbara mulai membuka suaranya.
"Tidak apa sus... kemarilah dan kita makan sama sama." ucap Elbara kemudian yang mengetahui wajah bingung Dona ketika mendengar permintaan dari Akila.
Dona yang mendengar hal tersebut, pada akhirnya ikut bergabung di meja makan untuk makan siang bersama dengan Akila dan juga Elbara di sana.
Dentingan sendok dan garpu terdengar menggema di meja makan mengiringi keempatnya yang sedang mengisi perut mereka dengan masakan Akila saat ini.
"Bagaimana rasanya? apakah enak?" tanya Akila membuka obrolan, membuat Elbara lantas tersenyum ketika mendengar pertanyaan tersebut.
"Sempurna" ucap Elbara dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
"Kalau begitu makan capcaynya juga, mama juga ya... makan yang banyak." ucap Akila memberikan beberapa sendok capcay kepada Elbara dan juga Lina.
"Ayo sus tambah lagi makannya, tidak perlu sungkan." ucap Akila lagi dengan penuh semangat.
"Iya bu" jawab Dona dengan tersenyum malu malu karena kedapatan melirik interaksi ketiganya dengan iri.
**
Ruang keluarga
Setelah makan siang, Elbara dan juga Akila duduk bersantai sambil menikmati secangkir teh buatan Akila, sedangkan Lina dan juga Dona keduanya sedang keluar dan berjalan jalan di sekitaran taman Apartment.
"Teh buatan mu harum ya, rasanya aku seperti pernah mengenal rasa teh ini hanya saja aku lupa kapan dan di mana tempatnya." ucap Elbara sambil menyeruput teh bikinan Akila.
"Ah kamu bisa saja, aku hanya menggunakan bahan bahan yang sudah di beli oleh Arga tidak ada rahasia khusus." ucap Akila sambil tersenyum tipis menanggapi pujian Elbara barusan.
"Em... El boleh aku tanya sesuatu?" tanya Akila dengan nada yang hati hati, membuat Elbara langsung menoleh seketika sambil menaruh cangkir tehnya.
"Katakan saja ada apa Ki." ucap Elbara.
"Kau selalu membantu ku agar terbebas dari jeratan Delvano dan mengatakan kalau kau mencintai ku, hanya saja... aku bukanlah perempuan bodoh yang mau menjadi duri di antara rumah tangga mu El. Jika..." ucap Akila namun tercekat yang lantas membuat Elbara langsung mengelus dengan lembut punggung tangan Akila seakan tahu apa yang akan di ucapkan oleh Akila selanjutnya.
"Rumah tangga ku dan juga Viona sudah hancur jauh sebelum kedatangan dirimu di hidup ku, jadi kegagalan yang terjadi dalam biduk rumah tangga kami bukanlah karena kesalahan mu." ucap Elbara memulai ceritanya.
"Bagaimana mungkin? bukankah kalian selalu terlihat sebagai pasangan yang romantis di manapun kalian berada? ketika kita bertemu di Resto puncak pun waktu itu Viona terlihat sangat perhatian kepadamu." ucap Akila lagi yang tidak percaya akan ucapan Elbara barusan.
__ADS_1
Elbara yang mendengar pertanyaan tersebut lantas tersenyum.
"Itu adalah cangkangnya saja Ki, aku tahu Viona mencintai ku bahkan sangat sangat mencintai ku. Hanya saja, rasa cintanya yang terlalu besar menciptakan penjara yang kokoh yang selalu menawan ku kapan pun dan di manapun aku berada." ucap Elbara lagi.
""Bukankah itu bagus El? semua orang menginginkan di cintai namun kamu malah seperti enggan memilikinya." jawab Akila dengan raut wajah yang penasaran.
"Entahlah aku juga tidak tahu mengapa? hanya saja aku merasa perasaan cinta Viona kepada ku lebih mirip dengan perasaan cinta dan sayang kepada sebuah benda, di mana itu akan selalu menjadi miliknya dan harus bergerak mengikuti aturannya, bukankah cinta miliknya terdengar begitu menyesakkan?" ucap Elbara kemudian sambil menoleh ke arah Akila dengan pandangan yang menerawang tepat ke arah manik mata Akila.
"Jika kamu merasakan hal tersebut, mengapa kamu menikahinya? sesuatu seperti obsesi pasti sudah tercium sejak masa masa pacaran, bukan?" tanya Akila lagi.
"Aku mengenalnya lewat sebuah blog dengan nama samaran Bunga Senja, aku begitu jatuh cinta dengan karya karya Bunga Senja yang tertulis begitu rapi dan sangat cantik ketika di dengarkan di kala sendiri, suaranya bahkan begitu lembut dan mengalun dengan cantik di pendengaran, membuat aku benar benar terpikat akan sosok dari penulis blog tersebut. Setelah berusaha bertanya dan mencari ke sana ke mari pada akhirnya aku bisa mengatur janji untuk bertemu Bunga Senja di salah satu Kafe, dan kau tahu? Bunga Senja adalah Viona, aku yang terlalu terpesona akan karya miliknya sampai membutakan pandangan ku tentang sikap posesif yang satu persatu mulai terlihat ketika kami memutuskan untuk bersama." ucap Elbara menceritakan kisah awal mula pertemuannya dengan Viona.
Akila yang mendengarkan cerita dari Elbara, lantas di buat terkejut ketika Akila mendengar nama pena Bunga Senja di sebut oleh Elbara barusan.
"Ba... bagaimana bisa Viona adalah bunga Senja?" ceplos Akila dengan spontan yang langsung membuat Elbara ikut terkejut ketika mendengar ucapan dari Akila barusan.
"Apa maksud mu Ki? mengapa kamu terlihat sangat terkejut?" tanya Elbara dengan tatapan yang juga terlihat bingung menatap ke arah Akila saat ini.
"Tunggu? apa yang mendasari kamu begitu yakin bahwa Viona adalah Bunga Senja saat itu?" tanya Akila lagi dengan raut wajah yang penasaran.
"Aku juga bingung dan sama sekali tidak tahu bagaimana wajah dari pemilik nama pena Bunga Senja saat itu. Yang aku tahu kami janjian bertemu dan saat itu Viona mengenakan pakaian dan juga beberapa aksesoris yang sama seperti yang kami sepakati sebelum pertemuan kami waktu itu." ucap Elbara lagi sambil mengingat ingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
Akila yang mendengar ucapan dari Elbara barusan semakin di buat tidak habis pikir, kini semua tanda tanya yang ada di kepalanya selama bertahun tahun terjawab juga pada akhirnya.
"Apa kau tahu El, akulah Bunga Senja yang asli." ucap Akila yang langsung membuat Elbara terkejut seketika di saat mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulut Akila.
__ADS_1
"Apa? bagaimana bisa?"
Bersambung