Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Part 22


__ADS_3

Lani baru saja selesai membereskan bukunya di atas meja dan memasukkannya ke dalam tasnya. Di dalam kelas, suasana sudah mulai sepi, hanya tinggal dirinya dan Iva yang sedang bersiap-siap untuk membersihkan ruangan kelas. Sementara di luar, Raka sedang menunggu ditemani Reihan yang sedari tadi duduk diam di salah satu kursi.


"Kenapa juga Raka mengajak Reihan? Tanpa bantuan mereka berdua, kelas pasti bersih, kok," ucap Iva jengkel.


"Sudahlah, kita cepat selesaikan tugas ini biar aku juga bisa cepat pulang."


"Iya, iya," jawab Iva sambil menyapu lantai.


Baru saja mereka selesai menyapu hingga ke depan pintu, tiba-tiba saja Mutia sudah muncul dan berdiri di samping Reihan. "Belum selesai juga?" tanya Mutia pada Reihan yang sementara asik main game di


ponselnya.


Jangankan menjawab, menoleh saja Reihan enggan. Reihan tidak peduli dengan semua omongan gadis itu hingga membuat dia menjadi kesal. "Kalau tidak mau menunggu, sana pulang sendiri," ucap Reihan seakan ingin mengusir gadis itu. Mau tidak mau, Mutia hanya bisa mendengus kesal.


Pemandangan seperti itu bukan yang pertama kali dilihat Lani. Semenjak mereka putus dan semenjak kabar perjodohan Reihan dan Mutia diketahui semua penghuni sekolah, Mutia selalu berusaha untuk mendekati Reihan walaupun terkadang Reihan sering


mengacuhkannya, tapi dukungan dari ibunya Reihan membuat dia semakin berani, bahkan Reihan tidak bisa berbuat apa-apa.


"Sudah selesai, kalian boleh pulang," ucap Iva pada Reihan dan Mutia yang sontak saja membuat Mutia senyum kegirangan. "Rei, sudah. Nanti sisanya dilanjutkan sama Raka. Kita pulang saja, aku sudah lapar," rengek Mutia.


"Pulang saja duluan. Aku kan sudah bilang dari tadi, kalau masih mau pulang sama aku, jangan banyak mengeluh," bentak Reihan yang membuat Mutia terdiam.


Lani sedari tadi hanya bisa jadi pendengar. Dia tidak ingin melihat tingkah Mutia ataupun Reihan yang membuat dia menjadi cemburu. Setiap tugas harian mereka, Lani harus siap-siap pertebal muka dan telinga karena harus melihat dan mendengar rengekan Mutia pada Reihan, seakan ingin membuat dia menjadi cemburu.


"Kalian berdua pulang duluan, aku masih ada urusan," ucap Lani pada Raka dan Iva.


"Urusan apa, aku bantu, ya?


"Tidak usah. Sebentar saja, setelah itu aku akan pulang, kok," ucapnya sambil mendorong kedua sahabatnya itu untuk segera pergi.


Sementara Reihan, hanya bisa melihat Lani pergi berlalu tanpa sepatah kata. Dalam hatinya, dia merintih. Harusnya sekarang dia bersama gadis itu. Seharusnya dia yang menemani kemanapun gadis itu pergi.


"Rei, kenapa melamun, ayo," ucap Mutia yang langsung membuyarkan lamunannya.


Lani berjalan perlahan menuju perpustakaan yang kebetulan belum tutup. Dia kemudian masuk ke dalam perpustakaan yang terlihat sepi. Ada beberapa buku yang hendak dia pinjam, karena tadi dia tidak sempat ke perpustakaan.


Setelah mendapat buku yang dia cari, dia berniat untuk segera pergi, tapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara orang yang sedang marah. Tiba-tiba saja, terdengar suara buku jatuh berhamburan di lantai.


Karena penasaran, Lani mencari arah suara itu dan langkahnya terhenti ketika mendapati seseorang yang tengah berdiri sambil memegang sebuah pena yang diarahkan di pergelangan nadinya. "Apa yang kamu lakukan!!" teriak Lani sambil mendekati orang itu dan mengambil pena dari tangannya. Sontak saja orang itu terkejut.


"Kenapa kamu ingin lakukan itu, hah?" tanya Lani dengan wajah panik.


Orang itu hanya bisa memandangi Lani dengan mata yang sudah memerah karena menahan tangis. "Kenapa? Kenapa kamu peduli padaku? Di dunia ini, tidak ada satupun yang peduli padaku," ucap orang itu sambil memukul kepalanya sendiri.


"Sudah, sudah, jangan kamu menyakiti dirimu sendiri," ucap Lani sambil menarik tangan orang


itu.


"Kenapa? Bukannya kamu juga tidak pernah peduli padaku? Bukankah aku terlihat kejam di matamu?"


Lani terdiam. Dia tidak menyangka, lelaki yang selama ini ditakutinya ternyata tak lebih dari


seorang anak kecil yang mudah menangis dan putus asa.


"Aku, aku hanya tidak ingin kamu menyakiti diri sendiri."


"Kalaupun aku mati, tidak ada yang akan menangisiku."


"Jangan bicara seperti itu. Aku mohon, tolong jangan lakukan itu lagi," ucap Lani panik. "Aku tidak tahu masalahmu, tapi jangan seperti itu. Apa jadinya kalau tadi aku tidak melihatmu, kamu bisa saja mati."


Tiba-tiba saja, lelaki itu memeluk Lani dengan air mata yang tak bisa dia tahan. "Jangan tinggalkan aku. Aku butuh kamu," ucap lelaki itu yang tidak lain adalah Adrian. Lani terdiam. Dia ingin mengelak dari pelukan Adrian, tapi hatinya melarang. Seakan dia tahu kalau Adrian sangat kesepian, bahkan dia terlihat sangat rapuh.


Lani berusaha menenangkan Adrian. Saat ini, dalam pikirannya hanya ingin membuat Adrian tenang. Dia tidak ingin Adrian melakukan hal yang sama, karena itu dia tidak keberatan untuk menemani Adrian.


"Kamu tenang, ya. Aku ambilkan air dulu buat kamu minum."


"Tidak usah, tolong temani aku sebentar lagi."

__ADS_1


"Tapi, kamu gemetar," ucap Lani sambil memegang tangan Adrian yang dingin dan gemetar. Tiba-tiba, ponsel Adrian berbunyi. Adrian tidak mempedulikan panggilan itu, bahkan dia segera menonaktifkan ponselnya.


"Jangan begitu, mungkin saja ada yang penting."


"Jangan khawatir, aku tidak sepenting itu."


"Sebentar, aku rapikan dulu buku-buku itu. Nanti kita bisa dimarahi sama guru piket," ucapnya sambil melepaskan tangan Adrian yang dari tadi digenggamnya, tapi Adrian tidak bergeming. Dengan erat, Adrian menggenggam tangan Lani seakan tak ingin melepasnya.


"Aku akan membantumu," ucap Adrian sambil berdiri dan mulai mengatur buku-buku itu di atas rak buku.


"Sudahlah, nanti aku yang akan lanjutkan. Lebih baik, kamu duduk saja," larang Lani sambil menyuruh Adrian untuk tetap duduk.


"Bagaimana mungkin aku akan membiarkanmu melakukannya sendiri? Lagi pula, ini kan


salahku karena sudah menjatuhkannya," jawab Adrian, dan Lani tidak bisa menolak.


Setelah selesai merapikan buku-buku dan keadaan Adrian yang sudah mulai tenang, Lani akhirnya memutuskan untuk segera pulang. "Sudah jam dua, aku pulang dulu. Kamu tidak apa-apa, kan aku tinggal sendiri?" tanya Lani sedikit cemas.


"Pulanglah, aku bisa pulang sendiri," jawab Adrian yang masih duduk di kursi sambil memainkan pena tadi.


"Benar kamu bisa pulang sendiri?" tanya Lani sekali lagi seakan dia tidak percaya dengan perkataan Adrian. Karena Adrian masih memegang pena itu, akhirnya Lani mengambil pena itu dari tangannya.


"Tidak usah khawatir, aku tidak akan melakukan hal itu lagi," ucap Adrian mencoba meyakinkan Lani.


"Tapi, aku tidak bisa meninggalkanmu seperti ini," ucap Lani tambah cemas karena dia takut


setelah dia pergi, Adrian akan melakukan perbuatan itu lagi.


"Aku antar kamu pulang, ya, tapi tidak usah pakai motor, kita titip saja motormu sama Satpam, kamu mau, kan?"


Adrian hanya tersenyum dan mengangguk. Setelah mengambil tas dan melapor buku yang tadi dia pinjam ke guru piket, mereka langsung keluar dari perpustakaan.


"Rumah kamu di mana?" tanya Lani sambil memperhatikan angkot yang lewat.


"Kita tunggu saja di sini, sebentar lagi supirku akan datang menjemput."


"Kamu pulang saja, aku bisa pulang sendiri. Sebentar lagi supirku sudah datang," jawab


Adrian.


"Ya sudah, aku pulang, ya," ucapnya sambil berjalan perlahan, tapi tak sampai tiga langkah, dia sudah kembali lagi.


"Aku akan antar kamu sampai ke rumah," ucapnya sambil berdiri di samping Adrian. Melihat tingkah Lani yang begitu mengkhawatirkannya membuat Adrian tersenyum tipis.


Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti di depan mereka. "Ayo, masuk," ucap Adrian sambil mempersilakan Lani masuk terlebih dulu.


Sepanjang jalan, Lani hanya terdiam. Tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Adrian, yang selama ini dibenci sekaligus ditakutinya, kini sedang duduk berdua dengannya di dalam mobil. Rasa takut yang pernah dia rasakan saat bertemu Adrian dulu, kini telah hilang. Bahkan, rasa takut itu berganti dengan rasa cemas yang mulai mengganggunya.


Lamunannya terhenti ketika mobil itu perlahan masuk ke dalam sebuah halaman yang cukup luas. Matanya tertegun ketika melihat sebuah bangunan rumah bertingkat tiga yang sangat mewah. "Ini rumah kamu?" tanya Lani penasaran ketika mereka baru saja keluar dari mobil.


"Iya. Kalau kamu mau, kamu boleh tinggal di sini," ucap Adrian serius.


"Tidak perlu, aku cukup bahagia walau rumahku kecil dan sederhana, sana masuk," lanjutnya sambil menyuruh Adrian segera masuk.


Tiba-tiba saja Adrian menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam rumah. "Mau kemana, aku mau pulang," ucap Lani sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Adrian.


"Temani aku makan," jawab Adrian spontan hingga membuat Lani berhenti berontak karena sebenarnya, perutnya lah yang sedang berontak karena dari pagi belum terisi.


"Duduk, tunggu aku di sini."


Lani kemudian duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tengah. Dia memandang ke sekeliling ruangan yang baginya terlalu besar. Dan rumah sebesar itu terasa sepi. Tidak ada aktivitas apapun di dalam rumah. Di atas lemari hias, hanya terpampang beberapa bingkai foto.


Karena keasyikan memandang sebuah foto di meja, membuat dia tidak sadar kalau Adrian.sudah berdiri di belakangnya. "Kenapa? Waktu kecil aku jelek, ya?" ucapan Adrian sontak saja membuat dia kaget dan


segera membalikkan tubuhnya. Tanpa sadar, mereka berdua saling berhadapan karena Adrian sudah berdiri pas di depannya.


"Tidak, kok. Aku tidak melihat fotomu, tapi, ah sudahlah, aku mau pulang," ucapnya sambil

__ADS_1


berjalan menuju pintu depan dan tentu saja dicegah oleh Adrian.


"Temani aku makan, bisa, kan?" tanya Adrian yang membuat Lani menghentikan langkahnya.


"Memangnya, orang tua kamu kemana sampai aku yang harus temani kamu makan?" tanya Lani sambil berjalan ke ruang makan.


"Belum pulang, paling minggu depan baru pulang," jawab Adrian dengan santai sambil menuju ke dapur menemui Mbok Imah yang sedang menyiapkan makanan.


Setelah semua hidangan disiapkan di atas meja, Lani jadi bingung karena makanan yang dihidangkan sangat banyak.


"Kenapa? Ayo makan," ajak Adrian sambil menyendok nasi ke dalam piringnya.


"Tapi...."


"Tidak usah pakai tapi, sekarang kamu itu tamuku. Ayo dimakan."


Lani memandangi Adrian. Sejenak, dia teringat dengan perlakuan Adrian padanya dulu. Dan


kini, dia sedang duduk semeja dengan pria yang sempat membuat dia takut. Sikap Adrian yang sekarang sangat bertolak belakang dengan sikapnya di sekolah. Dia terkenal dengan sikapnya yang kasar, suka memalak bahkan suka menggoda wanita. Namun kini, semua predikat yang menempel padanya seakan runtuh.


Selesai makan, Lani membantu Mbok Imah mengangkat piring kotor dan membawanya ke dapur. "Tidak usah, biar Bibi saja."


"Tidak apa-apa, Bi. Biar saya yang bawakan," ucapnya sambil membawa piring kotor ke tempat cuci piring.


"Neng, temannya Mas Adrian, ya?" tanya Mbok Imah penasaran.


"Iya, Bi. Nama saya Lani," ucapnya sambil memperkenalkan diri.


"Bibi senang melihat Mas Adrian punya teman. Baru kali ini Mas Adrian membawa teman ke rumah dan bibi senang karena Mas Adrian hari ini bisa makan di rumah."


"Maksud, Bibi?" Belum juga pertanyaannya dijawab, Adrian sudah datang menarik tangannya dan pergi ke ruang tengah.


"Aku minta maaf." Tiba-tiba saja Adrian mengucapkan maaf padanya.


"Kenapa minta maaf, aku tidak merasa kalau kamu punya salah sama aku."


"Aku minta maaf atas perlakuanku selama ini padamu. Aku minta maaf."


"Aku sudah maafkan, kok," ucap Lani dengan senyum. "Tapi, aku akan benar-benar memaafkanmu kalau kamu janji tidak akan lagi melakukan hal nekat seperti tadi lagi," lanjutnya dengan wajah yang serius.


"Aku janji. Mulai sekarang, aku tidak akan melakukan sesuatu yang merugikan diriku maupun orang lain," ucap Adrian sungguh-sungguh.


"Bagus kalau begitu, aku senang kalau kamu mau berubah. Ya sudah, aku pamit pulang dan


terima kasih karena sudah mengajakku makan siang," ucap Lani dengan senyum.


"Aku akan mengantarmu pulang."


"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri, kok."


"Aku mohon, izinkan aku mengantarmu pulang," ucap Adrian memohon.


"Ya sudah," ucap Lani pasrah karena melihat Adrian yang terus memohon.


Entah mengapa setiap permintaan Adrian selalu dia turuti. Bahkan, dia merasa aneh dengan sikapnya sendiri. Sejak putus dengan Reihan, dia banyak melamun bahkan lebih suka menyendiri. Namun hari ini, sejenak dia bisa melupakan semua masalah yang tengah dia hadapi dan bisa tertawa lepas dengan seseorang yang dulu pernah menyakitinya. Tanpa dia sadari, mereka sudah tiba di depan gang rumahnya.


"Kamu kok bisa tahu rumahku? Padahal, aku kan tidak kasih tahu alamat rumahku sama kamu?" tanya Lani heran.


"Itu tidak penting. Ayo masuk atau kamu ingin aku antar sampai di depan rumahmu?"


"Tidak usah. Iya, aku masuk." Baru saja dia berjalan beberapa langkah, Lani kemudian berbalik ke arah lelaki itu.


"Jangan melakukan hal bodoh seperti tadi lagi, kalau tidak aku tidak akan memaafkanmu," ucap Lani seakan ingin memastikan agar Adrian tidak lagi mengulangi perbuatan bodohnya itu.


"Iya," jawab Adrian sambil tersenyum.


Hari itu, adalah awal kedekatan mereka. Rasa benci yang selama ini dirasakan Lani pada Adrian, perlahan mulai menghilang. Sementara, rasa cinta dan sayang yang selama ini dirasakan Adrian pada Lani, kian bertambah.

__ADS_1


Mungkinkah hubungan mereka akan terjalin lebih jauh lagi atau hubungan mereka hanya sebatas persahabatan? Hanya waktu yang akan menjawab.


__ADS_2