
6 Tahun kemudian....
"Hati-hati, taruh bunganya di sebelah sini," ucap seorang wanita paruh baya yang sedang menata sebuah buket bunga yang baru saja diantar.
Rumah sederhana yang terlihat ramai dengan kunjungan saudara dekat yang empunya rumah, menandakan kalau di rumah sederhana itu sedang berlangsung hajatan.
"Wah, beruntung ya, putrinya Bu Maya, sebentar lagi akan dilamar pemuda kaya raya," ucap salah satu tamu yang duduk di sudut ruangan.
"Aku dengar, katanya calon suaminya itu pemilik perusahaan otomotif dan ibu mertuanya itu pemilik perusahaan kosmetik ternama di negeri ini," ucap tamu yang lain tidak mau kalah.
"Putrinya Ibu Maya sangat beruntung, ya."
Semua kata pujian itu tertuju pada seorang gadis cantik yang tengah duduk di dalam kamarnya dengan balutan gaun berwarna peach dengan riasan natural yang membuat gadis itu terlihat semakin cantik.
"Kamu sangat cantik," puji sahabat baiknya itu dengan senyum terpancar dari sudut bibirnya.
"Terima kasih karena sudah menjadi sahabat terbaikku hingga sekarang dan aku harap, kamu juga bahagia bersama Raka," ucap gadis itu yang tidak lain adalah Lani.
"Iya, iya, jangan buat aku menangis dong," ucap Iva dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Anak Mama sangat cantik, semoga kamu bahagia ya, Nak," ucap ibunya sambil membelai lembut rambut anaknya itu.
Lani tersenyum. Air mata yang coba dia tahan, akhirnya jatuh juga. Sejurus, Lani memandangi wajah ibunya yang mulai terlihat keriput di dahinya. Sesaat, dia teringat dengan perjuangan ibunya yang dari kecil sudah merawatnya hingga dia dewasa seperti sekarang ini.
Lani kemudian memeluk ibunya dan menangis seperti seorang anak kecil yang bertemu ibunya karena seharian di tinggal pergi.
"Sudah, jangan menangis nanti riasan kamu bisa terhapus," ucap ibunya sambil mengelus lembut punggung anaknya itu.
Walau terlihat tegar, tapi hati seorang ibu tidak bisa berbohong. Di depan anaknya dia terlihat tegar, tapi ketika keluar dari kamar air matanya pun jatuh.
Tak lama kemudian, iring-iringan rombongan dari pihak lelaki sudah datang. Ayah dan ibu dari pihak lelaki, terlihat serasi dengan balutan jas dan kebaya yang bermotif sama. Sementara si lelaki terlihat tampan dengan balutan jas putih yang didampingi tiga orang pemuda yang tak kalah tampan.
Setelah dipersilakan masuk, seorang tetua yang sudah dipercayakan mulai membuka kata. Setelah melalui proses yang lumayan panjang, akhirnya lamaran itupun diterima sang wanita dan disambut dengan ucapan syukur dari semua orang yang hadir di tempat itu.
Setelah selesai menikmati hidangan, satu persatu tamu undangan mulai pamit pulang. Bahkan, ayah dan ibu dari sang lelaki pun undur diri setelah bertemu dengan calon besan dan menantunya.
Dan kini, yang tersisa di tempat itu hanya mereka berenam dan sang ibu yang baru saja beristirahat setelah seharian sibuk karena acara lamaran putrinya itu. "Kalian duduk saja dulu, Tante istirahat sebentar di kamar."
"Iya, Tante," jawab mereka kompak.
"Hari yang dinantikan akhirnya kesampaian juga," ucap Raka yang terlihat tampan dengan jas hitamnya.
"Iya, kita tahu kok, kamu kan sudah pengalaman," ucap Ian yang juga turut hadir di acara lamaran sahabatnya itu.
__ADS_1
"Kalau kalian berdua disini, lalu keponakanku yang cantik kalian taruh di mana?" tanya Rendi pada Raka yang dari tadi senyam-senyum melihat Iva.
"Lagi sama kakek neneknya," jawab Iva santai.
"Kalian berdua, bukannya membawa keponakanku malah kalian asyik berpacaran di sini, apa kalian tidak bosan?" canda Rendi yang membuat mereka tertawa.
"Ah, sirik saja kamu, mana bisa aku bosan sama ibu dari anakku yang tambah cantik ini," ucap Raka memuji sambil mencubit dagu istrinya itu.
Raka dan Iva ternyata sudah menikah satu setengah tahun yang lalu dan sudah dikaruniai seorang bayi perempuan cantik yang menjadi kesayangan sahabat-sahabatnya itu.
"Terus, pacar kebanggaan kamu kemana? Kok belum datang juga, padahal ini kan acara lamaran sepupunya?" tanya Raka pada Ian yang sedari tadi mengutak-atik ponselnya.
"Assalamualaikum. Maaf, aku datang terlambat soalnya aku harus pimpin rapat di perusahaan dulu," ucap seorang gadis cantik yang baru saja masuk.
"Waalaikumsallam," jawab mereka kompak.
"Tidak apa-apa. Kalau kamu terlambat sedikit saja, kamu pasti bakalan menyesal," canda Raka yang membuat gadis itu memandangi Ian.
"Tidak usah pedulikan dia, dari dulu dia suka bercanda," ucap Rendi yang mencoba membela sahabatnya itu.
Gadis itu hanya tersenyum, mencoba memaklumi segala candaan yang kadang membuat dia kesal sendiri. "Aku harap, kalian selalu bahagia dan aku akan selalu mendukung kalian," ucap gadis itu yang tidak lain adalah Riana.
"Terima kasih, ya," ucap Lani sambil memeluk Riana, gadis yang dulu sangat membencinya, tapi kini malah menjadi salah seorang sahabat yang paling disayanginya dan ternyata, dia sudah menjalin hubungan dengan Ian sejak dua tahun lalu.
Lani tersenyum melihat keakraban sahabat-sahabatnya itu. Walaupun, waktu berlalu terasa begitu cepat, tapi persahabatan mereka masih terjalin dengan erat.
"Tiap hari kamu juga bilang seperti itu, apa tidak bosan puji aku terus?" tanya Lani ingin menggoda kekasihnya itu.
"Aku tidak akan pernah bosan untuk mengatakan kamu sangat cantik karena kamu memang cantik."
"Iya, aku juga tidak akan bosan walaupun tiap hari aku dipuji terus sama kamu," ucap Lani dengan senyum manisnya.
Adrian kemudian menggenggam tangannya dan mengecup punggung tangan kekasihnya itu. "Aku sayang sama kamu," ucap Adrian lembut hingga membuat Lani tersenyum.
"Aku juga sayang sama kamu," balas Lani sambil menggenggam erat tangan kekasihnya itu.
Sementara Lani yang kini sedang berbahagia karena sudah dilamar oleh Adrian, ada seseorang yang jauh di luar sana yang diam-diam masih mengharapkan dirinya.
"Kamu kenapa masih disitu? Sudah jam segini kenapa belum siap-siap juga?" tanya seorang wanita paruh baya yang sudah terlihat cantik dengan balutan kebaya modern yang membuatnya terlihat glamour.
"Iya, Ma. Selesai ini, Reihan langsung ganti baju, kok," jawabnya sambil menyelesaikan tugas di laptopnya.
"Cepat, kita jangan membuat tamu undangan menunggu."
__ADS_1
Setelah menyelesaikan tugasnya dan menyimpan filenya, Reihan langsung mengganti baju dengan sepasang jas hitam yang terlihat mewah.
Reihan terlihat tampan dengan paduan jas hitam dan kemeja putih di dalamnya yang berpadukan dengan dasi berwarna merah dan sapu tangan putih yang dilipat cantik di dalam saku jasnya.
Di dalam sebuah gedung yang mewah dan dihadiri para tamu undangan, terlihat sepasang pengantin yang sedang duduk di pelaminan yang terlihat sangat mewah dengan hiasan aneka bunga yang dihias sebegitu rupa.
"Kamu itu, hampir saja kita terlambat," ucap ibunya kesal sambil menghampiri pengantin wanita dan duduk di kursi di sebelahnya.
"Mama kenapa terlambat?" tanya wanita itu yang tak lain adalah kakaknya Reihan yang sudah menikah dengan pengusaha dari Singapura.
"Adik kamu tuh, bukannya siap-siap malah dia masih asyik di depan laptopnya. Sudah tahu mau ke resepsi pernikahan kakaknya, eh malah dia duduk santai di kamarnya," keluh ibunya kesal.
Sudah empat tahun, Reihan mengikuti kakaknya tinggal di Singapura. Selain dia ingin kuliah, dia juga ingin melupakan semua kenangannya di Indonesia, terutama kenangannya bersama Lani.
"Kamu kapan mau balik ke Indonesia?" tanya seseorang di telepon.
"Entahlah, aku masih ingin di sini."
"Sampai kapan kamu akan terus-terusan lari dari kenyataan? Waktu aku menikah, kamu tidak datang sampai aku sekarang sudah punya anak satu, kamu juga tidak datang. Sudahlah Rei, lagipula sekarang dia sudah bahagia, bahkan kemarin dia sudah dilamar sama Adrian," ucap orang itu yang ternyata adalah Raka.
Mendengar perkataan Raka, jantungnya seakan berhenti berdetak. Tanpa dia sadari, matanya mulai memerah dan bulir air mata perlahan jatuh di sudut matanya. "Syukurlah kalau dia sekarang sudah bahagia, aku juga turut bahagia untuknya," ucap Reihan walau tersirat kesedihan di raut wajahnya itu.
"Aku tahu kamu masih mencintai Lani, tapi sekarang dia sudah bahagia karena ada Adrian di sampingnya. Dan kamu, aku juga ingin kamu bahagia, jangan menyia-nyiakan hidupmu karena rasa kecewa. Hidup harus tetap berjalan Bung, carilah seseorang yang bisa membuatmu bahagia. Tidak lucu kan, sahabatku yang tampan ini akan hidup membujang selamanya," ucap Raka sekedar memberi nasehat untuk sahabatnya itu.
Mendengar ucapan sahabatnya itu membuat Reihan tertawa kecil.
"Kenapa tertawa? Sebentar, jangan bilang kalau sekarang kamu sudah jadi playboy kelas internasional?"
"Kamu itu, tidak ada rahasia yang bisa aku sembunyikan darimu."
"Jadi benar? Sudah berapa cewek yang kamu pacari?"
Tiba-tiba saja terdengar suara perempuan di telepon. "Kalau mau jadi playboy, tidak usah ajak-ajak suamiku." Iva yang dari tadi mendengar perbincangan mereka tiba-tiba ikut nimbrung karena pembicaraan mereka sudah menjurus ke arah perempuan.
Reihan hanya tertawa dengan tingkah suami istri yang masih saja suka bercanda itu. "Tidak, kok. Tenang saja, suamimu itu suami yang setia. Kalau dia macam-macam, aku orang pertama yang akan menghajarnya."
Suami istri itu langsung tertawa mendengar ucapan Reihan. Walaupun hanya melalui sambungan telepon, tapi mereka masih terlihat akrab sama seperti dulu.
"Bulan depan, ada acara reunian. Aku harap kamu bisa datang, sudah lama kita tidak kumpul-kumpul bersama," ucap Raka mencoba membujuknya.
"Aku tidak bisa janji, tapi akan aku usahakan untuk bisa pulang."
"Baiklah, kita semua akan menunggumu. Ingat, jangan terlalu memikirkan Lani lagi sudah waktunya memikirkan hidupmu sendiri. Sudah ya, keponakanmu sudah rewel minta digendong," ucap Raka sambil menggendong putri kecilnya.
__ADS_1
"Oke, salam buat teman-teman di sana."
Reihan menutup teleponnya. Dia langsung membuka sebuah foto yang baru saja dikirim oleh Raka. Dia terlihat tersenyum, senyuman getir dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya. "Kamu masih cantik seperti dulu, bahkan sangat cantik," ucapnya lirih sambil memandang foto Lani yang terlihat cantik dengan balutan gaun berwarna peach.