Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Korban KDRT


__ADS_3

"Pak tunggu..."teriak sebuah suara yang lantas menghentikan langkah kaki Elbara yang sedari tadi berjalan dengan langkah yang cepat hendak menuju ke arah ruang perawatan Akila.


Elbara yang mendengar panggilan tersebut, lantas langsung menghentikan langkah kakinya kemudian berbalik badan mengikuti arah sumber suara.


"Dokter?" ucap Elbara yang sedikit agak terkejut ketika berbalik badan dan melihat Icha yaitu dokter yang menangani Akila sudah berada tepat di belakangnya.


"Bisa kita berbicara sebentar pak?" ucap Icha dengan nada yang serius membuat Elbara lantas mengernyit dengan bingung sekaligus khawatir, apakah pembicaraan yang di maksud oleh Icha barusan berkaitan dengan keadaan Akila saat ini?


"Tentu" ucap Elbara yang langsung mengiyakan pertanyaan dari Icha barusan sekaligus bertanya tanya tentang maksud dari pembicaraan tersebut.


**


Taman Rumah Sakit


Setelah Elbara mengiyakan ajakan dari Icha, keduanya terlihat nampak duduk termenung di kursi yang terletak di sudut taman Rumah sakit. Sebenarnya Elbara sedikit bingung mengapa Icha malah membawanya ke taman dan bukannya ke ruangannya jika ini menyangkut dengan keadaan Akila.


"Sebenarnya apa yang akan dia bicarakan?" batin Elbara dalam hati bertanya tanya.


Icha terdengar menghela nafasnya panjang berulang kali, membuat Elbara yang mendengar helaan nafas Icha lantas dengan spontan menoleh ke arah Icha dengan tatapan yang menelisik.


"Saya mengajak ke sini sebenarnya ingin meminta maaf kepada anda atas sikap saya yang arogan tempo hari, di mana saja langsung menyalahkan anda atas kondisi pasien tanpa mencari tahu terlebih dulu tentang segalanya." ucap Icha dengan nada yang seakan menyesal di setiap perkataannya.


"Ah.. kau sudah tahu rupanya jika aku bukanlah suami Akila, benar bukan?" ucap Elbara kemudian setelah mendengar permohonan maaf dari Icha barusan.


"Iya, saya awalnya sedikit terkejut ketika mengetahuinya. Pasalnya anda terlihat sangat khawatir pada saat itu, jadi saya kira anda suaminya." ucap Icha lagi sambil mengingat ingat awal kedatangan Elbara dan juga Akila di Rumah sakit waktu itu.


"Sudahlah itu tak penting juga bukan? lalu bagaimana sekarang keadaan Akila?" tanya Elbara kemudian sambil tersenyum seakan menenangkan Icha yang terlihat seperti merasa bersalah akan perbuatannya.

__ADS_1


"Progresnya bagus, hanya saja saya menyarankan untuk melakukan CT Scan pada pasien untuk memastikan segalanya baik baik saja, namun suaminya malah meminta ijin rawat jalan tanpa menunggu keadaan pasien pulih terlebih dahulu." ucap Icha menjelaskan.


Elbara yang mendengar ucapan Icha barusan, tentu saja langsung menoleh dengan spontan ke arah Icha karena alasan kedatangannya ke sini adalah untuk melihat Akila namun nyatanya orang yang ingin ia lihat dan temui sudah terlebih dahulu pergi.


"Akila sudah pulang? kapan?" tanya Elbara seakan memastikannya kembali, yang langsung di balas Icha dengan anggukan kepala.


"Iya, pasien sudah pulang tadi pagi." ucap Ica menjawab pertanyaan dari Elbara barusan.


Elbara yang mendengar hal tersebut, lantas langsung bangkit berdiri dan hendak melangkah pergi namun langkahnya terhenti ketika mendengar kembali ucapan Icha.


"Apa pasien korban KDRT?" ucap Icha kemudian yang langsung menghentikan langkah kaki Elbara.


Elbara yang mendengar pertanyaan tersebut lantas menoleh ke arah Icha sekilas kemudian menatapnya dengan datar.


"Aku rasa kau lebih tahu karena kau seorang dokter, ini adalah salah satu alasan ku mengapa aku sangat perduli padanya. Terima kasih banyak karena anda sudah melakukan tugas anda dengan baik, saya permisi dulu." ucap Elbara dengan nada yang datar kemudian berlalu pergi meninggalkan Icha sendirian di sana.


"Laki laki yang misterius, kira kira apa hubungannya pria itu dengan pasien ya?" ucap Icha dengan nada lirih sekaligus bertanya tanya setelah kepergian Elbara dari sana.


***


Stasiun Televisi


Dari arah kamar mandi, terlihat Delvano tengah melangkahkan kakinya keluar dari sana, suasana hatinya sedang bagus hari ini. Delvano tidak menyangka bahwa ia benar benar bisa mengangkat rating program TV tersebut naik hanya dalam waktu semalam, benar benar sebuah keajaiban bukan? padahal ucapannya yang kemarin hanyalah sesumbar saja karena Delvano sendiri tidak terlalu yakin akan kenaikan yang signifikan mengingat rating program TV tersebut terus saja mengalami penurunan.


Ketika Delvano melangkahkan kakinya dengan senyum tipis di wajahnya, dari arah berlawanan terlihat Dani melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Delvano berada.


Bugh

__ADS_1


Suara benturan antara bahu Delvano dan juga bahu Dani tak lagi bisa di hindarkan, sepertinya Dani memang sengaja menabrak bahu Delvano seperti itu, membuat Delvano yang kesal lantas langsung mendorong tubuh Dani hingga ke arah tembok sambil mencengkram baju yang di kenakan oleh Dani.


"Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan ha?" ucap Delvano dengan nada yang kesal sekaligus marah akan kelakuan Dani barusan.


"Cih jangan sok berlagak polos, kau bahkan hanya meraih rating semalam tapi sudah membuat heboh seluruh Stasiun TV ini. Oh aku lupa... seorang pewaris perusahaan bukankah sangat muda membuat segalanya hanya dalam waktu semalam?" ucap Dani sambil menatap sinis ke arah Delvano.


Delvano yang mendengar ucapan dari Dani barusan, lantas terkejut karena di Stasiun TV ini tidak ada seorang pun yang mengenalinya sebagai pewaris SB Company kecuali Direktur, namun sekarang tiba tiba tiba Dani mengucapkan kata kata yang tak ingin Delvano dengar sama sekali di sini.


"Jaga ucapan mu itu Dan! aku rasa kau sungguh benar benar keterlaluan saat ini." ucap Delvano dengan penuh penekanan dia setiap ucapannya.


"Dimana letak kesalahan ku? coba katakan? bukankah semua itu benar tuan muda?" ucap Dani dengan nada yang mengejek ke arah Delvano.


Delvano yang mendengar ucapan dari Dani tentu saja langsung tersulut emosi dan hendak melayangkan pukulan ke arah Dani, namun berhenti di udara ketika mendengar suara Sasha dari ujung lorong.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Sasha ketika tak sengaja memergoki keduanya yang hendak berkelahi.


Delvano yang mendengar suara tersebut, lantas langsung melepas tangannya kemudian merapikan pakaiannya begitu juga dengan Dani.


"Tidak ada, aku kembali ke ruang penyiaran dulu." ucap Delvano dengan nada yang datar kemudian berlalu pergi dari sana, membuat Sasha menatap dengan bingung ke arah kepergian Delvano.


"Ada apa ini Dan?" tanya Sasha dengan nada yang menelisik ke arah Dani.


"Bukankah tadi Delvano sudah mengatakan tidak ada ya berarti tidak ada." ucap Dani dengan ketus kemudian berlalu pergi meninggalkan Sasha di sana dengan tatapan yang tak percaya ketika mendengar jawaban cuek bebek dari Dani barusan.


"Sebenarnya ada apa dengan mereka berdua? mengapa jadi aku yang kena?" ucap Sasha dengan nada yang kesal sekaligus bertanya tanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2