
Beberapa menit kemudian Bik Ina pun kembali, memberitahukan bahwa ia telah menghubungi Anabel dan Ferdi.
"Bibik uda menghubungi Bunda sama Ayah kan?" tanya David.
"Iya Bibik sudah menghubungi Ayah sama Bunda. Mungkin bentar lagi mereka pulang." ucap Bik Ina kepada Bulan, Bintang dan David.
"Terimakasih ya sudah mau mengantarkan. Humm iya ini ada sedikit uang mungkin bisa buat ongkos pulang." ucap Bik Ina kepada orang tersebut.
"Iya sama sama. Senang bisa membantu.
Saya sendiri juga gak mungkin tega membiarkan anak anak sekecil mereka tersesat di jalan tanpa tau ke mana mereka harus kembali pulang ke rumahnya.
Saya orangnya suka gak tegaan dan saya
suka anak anak." ucap seseorang tersebut.
"Humm ohya tidak perlu uang ini, terimakasih sebelumnya. Saya ikhlas kok.
Saya benar benar ikhlas menolong mereka." ucap seseorang tersebut.
"Masya Allah, jarang loh ada orang sebaik kamu yang benar benar ikhlas menolong tanpa kata pamrih. Saya yakin kamu orang baik, terlebih kamu menyukai anak anak." ucap Bik Ina kepadanya.
"Humm, Bibi bisa aja nih. Bibik mah suka berlebihan." ucap seseorang tersebut, dengan berusaha tersenyum dan tertawa.
"Yasudah saya pamit dulu ya Bi." ucapnya kembali.
"Loh, gak nunggu Tuan sama Nyonya pulang dulu kah? ndak ingin ketemu mereka?" ucap Bik Ina.
"Huemm pengen sih, tapi maaf sepertinya saya tetap harus pulang sekarang. Karena sudah petang sepertinya. Saya duluan ya Bi, assalamualaikum."
ucap orang tersebut yang segera berlalu untuk pulang.
"Tante....tante mau pulang sekarang ya? gak ingin nunggu Bunda sama Ayah dulu? gak pengen ketemu mereka ?" ucap Bulan dengan sedih.
"Humm, iya sayang. Maaf ya sepertinya tante harus pulang sekarang. Tante pamit dulu ya. Assalamualaikum..." ucap perempuan itu yang segera pamit untuk pulang.
"Bik Inah, saya duluan ya. Mungkin titip salam aja yah.Permisi." ucap orang tersebut, yang segera
pergi meninggalkan td.
"Waalaikumussalam, Ah sayang sekali dia tidak bertemu Nyonya dan Tuan dulu., semoga Allah membalas kebaikannya" ucap Bik Inah.
Setelah Kepergian orang tersebut, tak lama kemudian Anabel dan suaminya pulang
"Bik, Assalamualaikum..." ucap Anabel.
"Bik Inah Kok ngelamun ?" tanya Anabel.
"Eummm ya, maaf maaf. Tadi Bibik sedang memikirkan orang yang habis antar anak anak Tuan, Nyonya." ucap Bik Ina.
"Alhamdulillah kalian sudah pulang." ucap Anabel memeluk ketiga anaknya.
"Iya Alhamdulilah kami bisa pulang dan sampai di rumah karena di antar sama tante cantik yang baik."
ucap Bulan, Bintang dan David.
__ADS_1
"Bik Ina...." ucap Anabel, seakan mempertanyakan yang di maksud ketiga anaknya.
"Bik Ina, apa maksud mereka? siapa tante cantik dan baik itu?" tanya Anabel kembali.
"Tunggu, Bibik tadi juga bilang mengantarkan seseorang, terus mereka bilang tante cantik dan baik, siapa sih sebenarnya...?" tanya Anabel.
"Tadi, ada yang mengantar no Bulan, Bintang dan den David pulang. Dan yang nganter orang tersebut. Yang menurut Bibik dia orang baik, sehingga anak anak panggil tante cantik dan baik. Begitulah Nyonya." ucap Bik Ina.
"Ooooh begitu, baiklah, semoga Allah membalas kebaikannya dan di lain waktu aku bisa bertemu
dengannya..." ucap Anabel.
"Bik, aku mau bersih bersih badanku dulu ya. Soalnya terasa lengket badanku." ucap Anabel.
"Iya Nyonya..." ucap Bik Ina. Dan Anabel pun berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Ya, semoga Allah membalas kebaikannya sudah mengantarkan pulang ketiga anakku. Semoga aku bisa bertemu dengannya." ucap Ferdi.
"Aamiin Tuan..," ucap Bik Ina.
"Ohya Tuan, habis Nyonya ke kamar mandi juga ya? mau membersihkan diri pakai air anget kah? kalau iya biar saya angetkan dulu airnya supaya panas." ucap Bik Ina.
"Tidak usah Bik. Terimakasih..., saya air dingin saja." ucap Ferdi.
"Humm, kalian tadi ke mana? lain kali jangan seperti ini dong. Dengerin kata Bunda sama Ayah ya..Kami cemas loh mencari kalian." ucap Ferdi kepada ketiga anaknya.
"Iya, maafkan kami ya Ayah." ucap mereka bertiga yang menyesal.
"Baik, Ayah maafin. Tapi lain kali jangan di ulang dan minta maaf juga ke Bunda kalian. Kalian sudah bikin ia cemas." ucap Ferdi kembali.
"Iya, Ayah...." ucap mereka.
Ferdi yang segera berlalu ke kamar mandi.
Setelah berganti pakaian, Anabel pun kembali menghampiri ketiga anaknya.
"Sudah makan belum kalian? kalau belum, makan yuk." ucap Anabel.
"Pengen isrtihat Bunda. Bunda gak capek?" tanya mereka.
"Iyaaa.. Capek, tapi kan kita belum makan. Sudah beli juga, sayang kalau gak di makan, mubazir namanya. Jadi di makan dulu setelah itu beristirahat ya." ucap Anabel Kepada ketiga
anaknya, mencoba memberikan mereka pengertian.
"Ohya Bik. Bibik ndak usah masak ya hari ini. Libur dulu, karena tadi kecariaan anak anak kita kan bingung semua tadi. Jadi untuk hari ini libur dulu saja, Saya juga sudah beli makanan. Kita
makan bersama ya Bik Ina, tolong persiapkan." ucap Anabel, dengan memberikan kresek yang berisi makanan ke Bik Ina agar mempersiapkan makanan untuk mereka.
"Baik, Nyonya.. terimakasih. Bibik mau nyiapin dulu, Bibik permisi ya." ucap Bik Ina yang segera berlalu pamit ke dapur.
"Iya Bik..." ucap Anabel.
"Ohya, kalian ke mana saja sih? sudah bikin bunda cemas begini." ucap Anabel kepada ketiga anaknya.
"Iya, maafin kami ya Bunda. Maaf sudah bikin Bunda, Ayah juga Bik Ina dan eyank khawatir. Maaf kami janji gak ngulang." ucap Bulan, Bintang dan David menyesal.
__ADS_1
"Ini salah Bulan yang ajakkin mereka." ucap Bulan.
"Ini salah David juga, yang ajakkin mereka." ucap David.
"Gak ada yang mencoba mencegah dan mengingat pesan bunda ini? jadi kalian mengabaikan pesan bunda?" tanya Anabel kepada ketiga anaknya.
"Bintang tadi coba ingetin kami. Tapi kami... justru tidak mendengar ucapan Bintang dan membantahnya." ucap David juga Bulan.
"Bintang juga salah, kenapa gak coba cegah mereka kembali tapi justru mau saja di ajak." ucap Bintang menyesal.
"Sudah sudah tak apa, jangan saling merasa bersalah. Yang penting lain kali jangan di ulang ya." ucap Anabel kepada ketiga anaknya.
"Iya, kami takkan mengulangi lagi, maafkan kami Bunda." ucap mereka bertiga, yang kemudian menangis dan benar benar menyesal.
"Iya uda gak papa, jangan nangis ya. Cuman lain kali jangan di ulang, itu saja." ucap Anabel yang menghapus bulir bulir air mata ketiga anaknya dan memeluk mereka, memberikan mereka ketenangan.
"Udah dong, cup jangan nangis." ucap Anabel kembali dengan masih memeluk ketiga anaknya secara bergantian dan menepuk nepuk punggung mereka untuk menenangkannya.
"Iya Bunda, kami janji takkan mengulangi, kami benar benar menyesal. Coba tadi gak ada tante baik dan cantik itu mungkin kami gak sampai di rumah ini." ucap Bulan.
"Hummm, bunda jadi penasaran sebaik apasih dia sampai kalian terus memujinya? hemm..." ucap Anabel.
"Baik banget pokoknya, cantik juga..." ucap Bulan, Bintang dan David.
"Cantik ya hemm, kalau sama Bunda cantikkan mana?" tanya Anabel yang menggoda ketiga anaknya.
"Cantikkan... Bunda atau Tante itu ya... Hahahaha." ucap mereka tertawa.
"Ayo siapa.." ucap Anabel menggelitik ketiga anaknya secara bergantian.
"Hahahaha, cantikkan Bunda kok." ucap mereka bertiga.
"Serius ?" tanya Anabel, yang menghentikan menggelitik ketiga anaknya.
"Iya Bunda, serius. Bunda tetap tercantik bagi kami, di hati kami dan untuk selamanya." ucap ketiga
anaknya.
"Aaaaa sosweeet, makasih sayang." ucap Anabel dengan memandangi dan mengusap pipi ketiga anaknya kemudian memeluk mereka.
"Nyonya, sudah siap makanannya. Sudah Bibik persiapkan di meja makan." ucap Bik Ina.
"Iya Bik, yauda yuk kita makan dulu setelah itu istirahat, gimana? yuk..." ucap Anabel.
"Iya Bunda yuk.." ucap mereka bertiga yang segera berlalu ke meja makan.
"Ayah, ganti baju dulu ya. Setelah itu Ayah ikut makan." ucap Ferdi.
"Iya Mas, ganti dulu saja. Kami tunggu kok. Tunggu Ayah ya..." ucap Anabel.
Mereka pun menunggu Ferdi, setelah Ferdi berganti pakaian dan turut makan bersama...
***
"Yesss, Awal rencanaku berhasil,.." ucap seseorang itu...
__ADS_1
"Ketiga anaknya menyukaiku sepertinya, ini bisa memudahkan rencanaku berikutnya.." ucapnya kembali.
"Pak Hery, Anabel , Ferdi dan untuk kalian sekeluarga... Bersiaplah permainan sudah di mulai." ucap seseorang tersebut dengan tersenyum dan kemudian melanjutkan perjalanannya.