Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Part 36 ( END )


__ADS_3

Sudah satu jam Lani terbaring karena demam. Terlihat, Reihan yang begitu khawatir dengan kondisi Lani. Setelah dikompres, suhu badannya yang awalnya panas perlahan mulai menurun.


"Nak Reihan, Tante minta maaf, karena sudah merepotkanmu. Kalau tidak ada kamu, entah bagaimana nasib Lani," ucap Widya meminta maaf.


"Tidak masalah, Tante. Saya pasti akan menjaga Lani, Tante jangan khawatir," jawab Reihan dengan tulus.


"Sebaiknya, kamu juga ganti baju dulu, bajumu itu basah nanti kamu bisa sakit." 


"Iya, Tante. Kebetulan aku sudah minta tolong sama Raka untuk membawa pakaianku dan kalau Tante tidak keberatan, apa boleh aku menemani Lani di sini?" tanya Reihan mencoba memohon.


Karena melihat sikap Reihan yang sangat khawatir dan perhatian kepada Lani, membuat Widya mengiyakan permintaannya itu. "Tante tahu kamu mengkhawatirkan Lani dan Tante tahu kamu ingin mendekati Lani lagi, tapi apa kamu tidak masalah jika saja Lani menolakmu?"


"Aku tetap akan membuat Lani kembali ceria seperti dulu lagi. Aku tahu, aku pernah membuat dia kecewa, tapi kali ini aku janji, aku tidak akan membuat dia kecewa lagi. Aku janji pada Tante, kalau aku akan selalu mencintai Lani," ucap Reihan dengan penuh kesungguhan.


"Tante akan mendukungmu karena Tante yakin, Lani bisa menerimamu kembali, tapi itu butuh proses karena dia masih mengingat Adrian. Tante harap, kamu bisa menghadapi sikap Lani nanti."


"Jangan khawatir, Tante. Aku akan tetap menunggu hingga Lani mau kembali menerimaku."


Widya hanya bisa berharap, anaknya bisa kembali tersenyum lagi dan menemukan kembali kebahagiaan.


Tak lama kemudian, Iva dan Raka datang. "Bagaimana keadaannya, Rei?" tanya Iva khawatir.


"Dia masih belum sadar," jawab Reihan sambil duduk di samping tempat tidur Lani dan mengganti handuk kompres yang mulai mengering. Perlahan, Lani membuka matanya dan orang yang pertama dilihatnya adalah Reihan.


"Kamu sudah sadar?" tanya Reihan sambil menggenggam tangan Lani dengan mesra.


Lani tersenyum dengan air mata yang mengalir di sudut matanya. Ternyata, dia baru saja bermimpi bertemu dengan Adrian yang tersenyum padanya. Bukan hanya itu, dia juga melihat Reihan yang berdiri di sampingnya saat bertemu dengan Adrian. Adrian pun tersenyum kepada mereka berdua.


Dengan tubuh yang masih lemas, Lani mencoba untuk duduk.


"Jangan duduk dulu, kamu masih belum kuat," ucap Reihan penuh perhatian.


"Tidak apa-apa, aku ingin duduk sebentar," ucap Lani yang berusaha untuk duduk.


Melihat Lani yang bersikeras untuk duduk, mau tidak mau Reihan harus membantunya untuk bisa duduk.


"Kamu jangan melakukan hal seperti itu lagi. Kamu kan bisa minta tolong sama aku atau Reihan untuk menemani kamu ke makam Adrian. Kenapa kamu pergi sendiri?" omel Iva yang membuat Lani tersenyum.


"Kamu itu, terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku," ucap Lani dengan senyum di wajahnya.


"Kamu harus banyak istirahat, kalau butuh apa-apa bilang padaku, ya," ucap Iva.


Lani mengangguk dengan senyum di wajahnya. Sepertinya, mimpinya itu sudah membuat hatinya mulai melunak. Dan kini, dia sedang berusaha menata kembali hatinya dengan seseorang yang pernah membuat dia jatuh cinta. "Terima kasih, karena sudah menjagaku, terima kasih," ucapnya pada Reihan yang sementara membuatkannya teh hangat.


Reihan menatapnya heran dan dia merasa kalau sikap Lani mulai berubah padanya. Reihan tersenyum pada gadis itu dan membawakannya segelas teh hangat. "Minumlah," ucapnya sambil meminumkan teh itu pada Lani dan gadis itu pun tidak menolak.


Melihat mereka berdua yang kembali bersama membuat Iva menitikkan air mata. Dia tahu sebesar apa cinta kedua sahabatnya itu. Dia tahu, bagaimana Reihan menahan perasaannya selama enam tahun hanya untuk bisa kembali bersama Lani.


Melihat mereka yang kembali mencoba untuk akrab membuat Iva dan Raka memutuskan untuk meninggalkan mereka agar mereka bisa berbicara lebih leluasa.


"Kamu jangan berpikir kalau aku mendekatimu karena permintaan Adrian, tapi aku benar-benar ingin kembali lagi padamu seperti dulu karena aku masih mencintaimu," ucap Reihan sambil menggenggam erat tangan gadis itu.


"Aku tahu, kok, tapi aku butuh waktu karena tidak semudah itu aku bisa melupakan Adrian. Bagaimanapun juga, dia sudah mengisi hatiku selama enam tahun dan aku tidak ingin cepat-cepat melupakan dia, aku harap kamu mengerti."


"Aku akan menunggu hingga kamu benar-benar mencintaiku seperti dulu lagi. Asalkan kamu tidak menyuruhku untuk pergi meninggalkanmu, aku pasti akan tetap di sisimu."


Lani tersenyum dan mengangguk pelan. Perlahan, Reihan memeluk gadis itu dan membelai rambutnya dengan mesra. Lani terdiam. Dia berusaha untuk bisa kembali mencintai Reihan dan perlahan rasa itu pun mulai muncul di hatinya.


*****


Hubungan mereka berdua sudah tidak serumit dulu lagi, karena hubungan mereka sudah mendapat restu dari orang tua Reihan dan juga orang tua Adrian. 

__ADS_1


Apalagi bagi Riska, wanita paruh baya itu sangat senang ketika tahu Reihan sudah kembali lagi kepada Lani. Hampir setiap hari dia meminta Lani datang ke rumahnya untuk menemaninya. Bahkan, Reihan tidak diizinkan untuk bersamanya ketika gadis itu datang ke rumahnya.


"Ma, kalau Lani ke sini hanya untuk menemani Mama, mending kita menikah saja biar Mama tidak perlu membuat Lani bolak balik seperti ini," ucap Reihan yang langsung saja disetujui ibunya.


"Benar juga, lebih baik kalian menikah saja biar Lani bisa tinggal di sini sama Mama," ucap Riska dengan senyum sumringah.


Lani terdiam. Dia tahu dia sudah menerima Reihan di hatinya, tapi dia masih takut untuk menikah karena bagaimanapun juga Adrian belum lama meninggal.


Melihat sikap Lani yang perlahan berubah membuat Reihan paham kalau Lani belum ingin menikah dengannya.


"Aku minta maaf kalau candaanku tadi membuat kamu tidak nyaman. Kamu tenang saja, kalau kamu belum siap, maka aku akan menunggu. Menikah itu bukan sesuatu hal yang mudah, butuh persiapan baik lahir maupun batin karena aku ingin menikah denganmu sekali untuk selamanya dan aku tidak ingin menikah denganmu karena kamu terpaksa," ucap Reihan lembut.


Mendengar ucapan Reihan, sontak saja membuat Lani memeluknya. Entah apa yang membuat Lani seberani itu, tapi dia berusaha ingin menunjukkan pada Reihan kalau hatinya sudah milik lelaki itu.


Reihan membalas pelukan Lani. Dipeluknya gadis itu dengan erat. Tanpa sadar, Lani menangis dan terlintas wajah Adrian yang tersenyum padanya. Dalam tangisnya, Lani berharap, semoga saja Reihan adalah cinta pertama dan terakhir untuknya. Walaupun rasa sayangnya begitu besar pada Adrian, tapi sikap Reihan yang begitu setia menunggunya membuat hatinya luluh. Dan kini, Reihan adalah orang paling di sayanginya dan dia berjanji akan selalu bersama lelaki itu sampai akhir menutup mata.


Setelah mendapat restu dari orang tua mereka dan tentu saja dari orang tua Adrian, mereka akhirnya sepakat untuk segera menikah.


"Apa? Kamu benar akan segera melamar Lani?" tanya Riska seakan tidak percaya dengan perkataan anaknya itu.


"Iya, Ma. Aku ingin melamarnya dan segera menikahinya."


"Apa Lani sudah tahu dengan rencanamu itu?" 


"Belum, Ma. Makanya aku ingin Mama dan Papa yang datang melamarnya untuk Reihan."


"Baik, hari ini juga Papa dan Mama akan ke sana. Kalau dia menerima lamaran kamu, berarti kalian harus menikah secepatnya," ucap Riska dengan gembira.


Setelah bersiap-siap, kedua orang tua Reihan segera menuju ke rumah Lani. Setibanya disana, mereka disambut dengan ramah oleh Lani dan ibunya.


"Maaf, kalau kedatangan kami tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Maksud kedatangan kami kesini karena kami ingin melamar Lani untuk menjadi menantu di rumah kami," ucap Fauzy menjelaskan.


Tanpa perlu menunggu lama untuk menjawab, sontak saja Widya menerimanya dengan senang hati. Bahkan, saat inilah yang paling ditunggu-tunggu olehnya. Setidaknya, dia tahu kalau ada seseorang yang begitu menyayangi anaknya. Sementara Lani, hanya menerima hasil dari keputusan orang tua mereka.


"Aku di sini, di depan rumah kamu," jawab Reihan dan langsung saja Lani bergegas keluar untuk menemuinya.


Melihat Reihan yang sementara berdiri di depan rumahnya, membuat Lani segera berlari ke arah lelaki itu dan segera memeluknya.


"Kamu kenapa?" tanya Reihan sambil membelai lembut rambut kekasihnya itu. Lani tidak menjawab, hanya isak tangis yang terdengar.


"Kenapa menangis? Apa kamu menolak lamaranku?" tanya Reihan bercanda. Lani menggeleng. Dia masih memeluk Reihan dengan erat hingga pelukannya terlepas ketika orang tua mereka keluar dan menemui mereka.


"Kalian harus bersiap-siap, minggu depan kalian akan segera menikah," ucap Riska yang membuat Reihan lantas memeluk gadis itu kembali.


"Sudah pelukannya. Apa kalian tidak malu sama kami di sini?" ucap Riska sambil membelakangi mereka dan memilih masuk ke dalam rumah.


"Terima kasih karena sudah bersedia menikah denganku. Aku janji akan selalu mencintaimu," ucap Reihan dengan air mata yang perlahan jatuh di pipinya.


*****


Sehari menjelang acara pernikahan, Reihan dan Lani memutuskan untuk pergi berziarah ke makam Adrian. Lani duduk di samping pusara seraya berdoa, tanpa terasa air matanya jatuh. "Semoga kamu bahagia di sana. Kini, aku telah bahagia bersama Reihan, aku merindukanmu," batin Lani dengan air mata yang perlahan jatuh di sudut matanya.


Dengan mesra, Reihan memeluk Lani sambil membelai lembut rambut gadis itu. "Menangislah. Hanya untuk kali ini aku akan membiarkanmu menangis karena setelah ini, aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi," ucap Reihan sambil memeluk mesra kekasihnya itu.


Suasana di rumah Lani terlihat ramai. Kamar Lani yang awalnya biasa saja sudah disulap menjadi kamar pengantin yang indah. Tempat tidur yang biasa saja sudah dipermak menjadi tempat tidur yang mewah bertaburkan bunga.


Kursi-kursi untuk para tamu sudah diatur sedemikian rupa. Tak lupa, sahabat-sahabat mereka juga sudah hadir sejak pagi. Lani, sedari subuh sudah dipaksa bangun untuk segera didandani walau sebenarnya dia sendiri tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Pernikahan yang diusung memang terlihat sederhana untuk seorang pengusaha muda yang terbilang sukses, karena semua itu adalah permintaan Lani. Pernikahan mereka hanya dihadiri keluarga dekat, sahabat dan juga tetangga terdekat. Nanti setelah beberapa hari, barulah mereka akan melakukan resepsi di sebuah hotel ternama di kota itu.


"Kamu sangat cantik," puji Iva yang sedari tadi menemani sahabatnya itu berdandan.

__ADS_1


Lani terlihat cantik dengan balutan kebaya putih dan paduan kain yang berwarna gold. Rambutnya dihiasi sedemikian rupa dengan bunga melati yang menjuntai cantik di sudut rambutnya. Pipinya yang merona dan bibir yang terlihat merah membuat Lani terlihat semakin cantik dan mempesona.


Sekitar jam sepuluh pagi, terlihat iring-iringan dari pihak pengantin pria sudah mulai datang. Reihan terlihat tampan dengan balutan jas putih. Riska dan suaminya terlihat serasi dengan balutan batik couple yang terlihat mewah dan elegan. Di rombongan itu juga terdapat sahabat-sahabat mereka yang menghantarkan Reihan. Terlihat, Dinda dan Rendi yang ternyata sudah berpacaran. Begitupun dengan Rifal yang sengaja datang untuk menghadiri pernikahan sahabatnya itu. Bahkan, dia datang bersama seorang gadis bule yang terlihat cantik dengan baju kebaya yang dia gunakan.


Sementara, Iva dan Raka sudah menunggu di depan rumah Lani. Begitupun juga dengan Ian dan Riana yang terlihat semakin mesra.


Lani masih duduk di kamarnya, menunggu hingga proses ijab kabul selesai. Dan tak lama kemudian, dia sudah mendengar suara riuh di luar yang menandakan kalau proses ijab kabul telah selesai dan berjalan dengan lancar.


Reihan yang terlihat sangat tampan menarik perhatian para tamu undangan. Mereka berdecak kagum melihat ketampanan pemuda itu.


Dengan dipandu Riska, Reihan dituntun ke dalam kamar untuk menjemput Lani untuk keluar. Sesaat, Reihan terpesona dengan kecantikan Lani yang baginya terlihat sangat istimewa. Lani terlihat ayu dan cantik dengan kebaya yang dikenakannya.


Melihat Lani yang terlihat sangat cantik membuat Riska buru-buru memeluknya. "Kamu sangat cantik, Nak," ucap Riska sambil mencium pipi gadis itu. Lani tersenyum dan segera memeluk Riska. Tidak disangka, wanita yang dulu pernah menentang hubungan mereka, kini adalah orang yang paling terdepan dalam hubungan mereka.


Lani kemudian meraih tangan kekasihnya itu yang sudah duduk di sampingnya dan mencium punggung tangannya. Tanpa terasa, air matanya jatuh. Melihat Lani yang menangis, Reihan lantas menghapus air mata gadis itu dan mencium keningnya.


Hari itu, mereka telah resmi menjadi suami istri. Tak lupa mereka bersalaman dan sungkem pada orang tua mereka.


"Mama bahagia karena Reihan sudah menemukan kembali kebahagiaannya dan itu adalah kamu," bisik Riska sambil memeluk gadis itu. 


Bukan hanya pada orang tua mereka saja, tapi mereka juga sungkem pada orang tua Adrian yang sudah Lani anggap seperti orang tuanya sendiri. Terlihat, Annisa menghapus air matanya karena sedih dan juga bahagia. Andaikan, saat ini yang menikahi Lani adalah Adrian, dia pasti akan lebih bahagia.


"Tante doakan, semoga kamu bahagia ya, Nak," ucap Annisa sambil memeluk Lani dengan tangis tak tertahankan. Lani mengangguk dengan air mata yang mulai jatuh.


"Tolong kamu jaga Lani, jangan membuat Adrian kecewa, ya," ucap Annisa saat memeluk Reihan dan Reihan pun mengangguk pelan.


Walau Annisa telah kehilangan Adrian, tapi ternyata Tuhan masih berbaik hati padanya karena di usianya yang sudah tidak muda lagi, dia masih bisa diberi kesempatan untuk bisa hamil lagi dan kini usia kehamilannya sudah menginjak tiga bulan dan itu adalah hadiah terbesar baginya dan juga suaminya.


Dengan senyum sambil berpegangan tangan, mereka menemui tamu undangan yang sudah menunggu untuk bersalaman.


Melihat ketampanan dan kecantikan sang pengantin membuat tamu undangan berdecak kagum. Orang-orang terpesona melihat mereka berdua yang terlihat serasi dan mempesona.


Tampak juga sahabat-sahabatnya yang turut hadir. Teman-temannya saat masih sekolah dulu turut diundang. Tak terkecuali Mutia yang ternyata sudah menikah dan dikaruniai seorang anak lelaki yang tampan. "Selamat, ya. Aku senang akhirnya kalian bisa menikah juga," ucap Mutia dengan senyum.


"Terima kasih, anak kamu sangat tampan," puji Lani sambil membelai lembut pipi anak itu.


"Rei, itu isyarat, loh. Kamu harus kerja keras biar dapat anak setampan ini. Sepertinya, Lani ingin cepat-cepat punya momongan," canda Mutia yang sontak saja membuat Lani tersipu malu.


"Jangan khawatir, jaga anakmu jangan sampai dia jatuh cinta pada anak gadis kami nanti. Iya, kan, istriku sayang," jawab Reihan yang membuat Lani tersenyum malu.


"Eits sabar dulu, kan masih ada kakaknya. Siapapun yang berani mendekati anak kalian harus berhadapan dulu sama kakaknya yang cantik ini. Iya kan, sayang," ucap Iva sambil memandangi anaknya di pangkuan Raka.


"Istriku sayang, memangnya anak kamu mau jaga yang mana dulu, mau jaga anaknya Reihan atau menjaga adiknya yang ... " Iva langsung memotong pembicaraannya.


"Kamu itu, itu kan masih rahasia," ucap Iva kesal.


"Wah, sepertinya keponakan kita akan bertambah, kamu memang hebat," ucap Rendi sambil mengangkat kedua jempolnya ke arah Raka.


"Terus, kamu kapan?" tanya Iva sedikit kesal pada Rendi.


"Kenapa, penasaran? Tenang saja, tidak lama lagi aku dan Diana akan segera menyusul, kok," jawab Rendi dengan senyum sambil memandangi Diana yang tersipu malu.


Hari itu, adalah hari yang paling membahagiakan bagi mereka berdua. Selama hampir enam tahun mereka terpisah, kini mereka telah disatukan kembali dalam suatu ikatan tali pernikahan.


"Kamu bahagia, kan?" tanya Reihan saat mereka di dalam kamar.


Lani mengangguk dengan senyum yang terpancar di wajahnya. Reihan menatap Lani yang kini sudah resmi menjadi istrinya dengan tatapan mesra. Dikecupnya kening Lani dengan mesranya. Dipeluknya istrinya itu dengan kehangatan. Dibiarkannya tubuh istrinya yang terdiam dalam pelukannya. Sejenak, Reihan menitikkan air mata kebahagiaan, karena apa yang selama ini diharapkannya akhirnya dapat terwujud.


Lani, wanita pertama yang hadir dalam kehidupannya akan menjadi wanita terakhir dalam hidupnya. Dan Lani, akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak. Dalam hatinya, Reihan telah berjanji akan selalu membuat Lani bahagia. Sekarang dan untuk selamanya.


Jodoh, kemanapun kamu berlari, sejauh mana kamu berusaha untuk menghindar tidak akan bisa membuat kamu berpisah dengannya. Sehebat apapun kamu menjalin cinta dengan yang lain, seserius apa janjimu pada yang lain, tidak bisa menghalangi jodohmu untuk datang kepadamu. Karena itu, jangan biarkan cinta membutakan hatimu. Jagalah dirimu agar kamu bisa bangga ketika bertemu dengan jodohmu nanti. Dan berikan yang terbaik dari yang terbaik untuk jodohmu kelak.

__ADS_1


                         T A M A T


__ADS_2