Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Part 21


__ADS_3

Dengan tergesa-gesa, Reihan memasuki halaman rumahnya. Dengan raut wajah yang terlihat emosi, Reihan masuk ke dalam rumah seakan dia sedang mencari seseorang.


"Apa yang sudah kamu katakan pada Lani, hah?" teriak Reihan pada Mutia yang sementara duduk di ruang tengah.


"Maksud kamu apa?" tanya Mutia kebingungan.


"Jangan pura-pura bodoh. Kamu kan yang bilang ke Lani kalau kita berdua sudah dijodohkan?"


"Aku tidak pernah mengatakan apapun ke gadis itu dan buat apa aku bicara dengan dia," ucap Mutia kesal.


"Lantas, kalau bukan kamu yang beritahu dia soal perjodohan kita, lalu siapa?"


"Mama yang sudah beritahu dia." Tiba-tiba saja Ibunya sudah berdiri di belakangnya.


"Maksud, Mama?" tanya Reihan bingung.


"Mutia tidak salah. Mama yang sudah beritahu gadis itu dan Mama yang memintanya untuk putus sama kamu dan dia sudah berjanji untuk segera putus denganmu," jelas ibunya tanpa sedikitpun rasa bersalah.


"Kenapa Mama lakukan itu?"


"Karena Mama ingin kamu hanya memperhatikan Mutia. Dia itu sudah dijodohkan sama kamu, jadi kamu tidak boleh berhubungan dengan gadis manapun."


"Apa perjodohan ini lebih penting dari perasaan aku, Ma?" tanya Reihan dengan mata sudah berkaca-kaca.


"Bagus kalau dia sudah putus sama kamu. Mulai sekarang, pergi dan pulang sekolah kalian harus bersama, paham!" ucap ibunya tanpa mempedulikannya sedikitpun.


"Tapi, Ma."


"Mama tidak mau tahu. Mulai sekarang, kamu jangan dekat-dekat lagi dengan gadis itu," ucap Ibunya yang kemudian pergi meninggalkannya.


"Rei, aku..."


"Kenapa? Kamu sudah puas, kan?" ucap Reihan sambil pergi masuk ke dalam kamarnya.


"Aku akan buat kamu melupakan gadis itu, lihat saja nanti," batin Mutia.


Mendengar hubungan Reihan dengan gadis itu sudah berakhir membuat Mutia merasa senang. Dan besok, dia akan mengatakan pada teman-temannya kalau dia dan Reihan sudah dijodohkan.


"Apa? Jadi, kamu dan Reihan ternyata sudah dijodohkan?" tanya Riana kaget saat Mutia mulai menceritakan tentang perjodohannya pada mereka.


"Iya, kalian kenapa kaget begitu?"


"Ya, iyalah. Bagaimana kami tidak kaget, selama ini aku pikir kalian hanya teman semasa kecil, tapi kamu tahu kan kalau Lani itu pacaran sama Reihan? Apa Lani tahu tentang perjodohan kalian?"


"Aku rasa sekarang dia pasti sedang menangis," ucap Mutia dengan raut wajah yang gembira.


"Mampus tuh cewek. Rasanya aku tidak sabar lihat mukanya karena malu," ucap Riana dengan senyum sinis.


Sementara Lani, berusaha bersikap seperti biasanya, walau itu terasa sulit untuk dia lakukan. Hari itu, tidak ada lagi seseorang yang biasa menunggunya di gerbang sekolah. Sudah tidak ada lagi seseorang yang biasa membawa tasnya ke dalam kelas. Sejak hari itu, kisah cintanya telah pupus. Semua kenangannya telah terhapus. Karena dia lebih memilih mundur secara halus, walau cintanya begitu tulus.


Kabar tentang putusnya hubungan mereka tersebar begitu cepat. Ada yang menyayangkan, tapi banyak pula yang merasa senang karena putusnya hubungan mereka. Apalagi kabar putusnya hubungan mereka karena Reihan telah dijodohkan dengan gadis lain dan tentu saja, mereka jadi penasaran siapa gadis yang dijodohkan dengan Reihan.


"Kalian tahu tidak, siapa gadis yang dijodohkan sama Reihan?" tanya salah satu siswi yang terkenal dengan mulut gosipnya.

__ADS_1


"Tidak tahu, memangnya kamu tahu?"


"Kalau aku tahu, pasti aku sudah beritahu kalian."


Reihan yang biasanya betah berlama-lama di kelas, kini setiap jam istirahat lebih memilih nongkrong dengan teman-temannya. Reihan yang biasanya selalu datang ke tempat duduk Lani sekedar untuk menggodanya, kini sudah tidak seperti itu lagi. Kini, Lani mencoba untuk tidak bertemu langsung dengan Reihan karena dia takut, dia pasti akan menangis.


"Rei, apa kamu tidak kasihan sama Lani?" tanya Raka saat mereka sedang kumpul di kantin.


Reihan hanya terdiam. Bahkan, dia terkesan tidak peduli dengan pertanyaan sahabatnya itu.


"Sudahlah, tidak usah dibahas, Reihan juga pasti sangat sedih," ucap Ian pada Raka dan diamini teman-temannya.


Mereka tidak tahu, kalau di dalam hatinya, Reihan sangat terluka. Walau dia terlihat cuek, tapi sebenarnya diam-diam dia peduli dengan Lani. Walau hubungan mereka telah berakhir, tapi baginya Lani masih orang yang spesial di hatinya.


"Lan, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Iva.


"Kenapa?"


"Aku tahu kamu sedih, kalau kamu ingin menangis, menangis saja aku akan ada di sisimu."


Lani hanya tersenyum walau itu adalah senyum kepalsuan. Dia harus terlihat tegar. Dia tidak ingin terlihat rapuh walau sebenarnya hatinya mulai goyah.


"Hidup harus tetap berjalan. Apapun kesulitan itu, aku yakin aku bisa melewatinya," ucapnya percaya diri.


Iva hanya bisa menyemangati sahabatnya itu. Walau dia tahu, sahabatnya kini sedang berusaha menutupi kesedihannya, tapi dia yakin semuanya pasti akan kembali baik-baik saja.


Kabar putusnya hubungan Reihan dan Lani akhirnya sampai di telinga Adrian. Awalnya, dia tidak percaya sampai Riana menceritakan padanya.


"Siapa juga yang bohong. Reihan itu sudah dijodohkan sama gadis lain dan mamanya Reihan yang menyuruh Lani buat putus sama Reihan."


"Terus, Lani mau putus sama Reihan?"


"Ya iyalah, Kak. Lani itu kan miskin, mana ada seorang ibu yang mau anaknya pacaran sama gadis miskin," jawab Riana spontan.


"Kakak tahu tidak, kalau gadis yang dijodohkan sama Reihan itu ada di sekolah kita, bahkan dia sekelas denganku, loh."


"Berarti, gadis itu juga sekelas sama Lani, apa Lani sudah tahu?"


"Mungkin saja. Tunggu dulu, jangan bilang kalau Kakak masih suka sama gadis miskin itu?"


"Memangnya kenapa? Kakak rasa tidak masalah, kan? Toh mereka sudah putus."


"Tapi, dia itu kan miskin, pasti tante sama om juga tidak bakalan setuju."


"Anak kecil tahu apa," ucapnya sambil pergi meninggalkan Riana yang masih bersungut.


Sudah hampir sebulan hubungannya dengan Reihan berakhir. Mereka tak lagi menyapa. Mereka terlihat seperti orang asing. Bahkan, saat Reihan dan teman-temannya lari di lapangan, Lani memilih duduk di dalam kelas. Kini, dia hanya ingin fokus belajar dan berusaha untuk melupakan kenangannya bersama Reihan, walau itu sangat sulit untuk dia lakukan.


"Wah, yang lagi kecewa. Kamu tidak keluar lihat mantanmu yang sedang lari di lapangan?" ejek Riana saat berdiri di depan Lani.


Lani berusaha untuk tidak memperdulikan perkataan Riana. Dia memilih fokus pada buku yang sementara dia baca.


"Aku kan pernah bilang ke kamu, suatu saat nanti kamu pasti akan menangis. Kamu itu hanya gadis miskin dan kamu tidak pantas sama Reihan."

__ADS_1


"Cukup!!" Tiba-tiba saja Lani bangkit dari tempat duduknya sambil memukul meja.


"Kamu boleh mengejekku. Kamu boleh mengatakan apapun padaku dan aku tidak peduli itu, tapi aku tidak terima kalau kamu mengataiku karena aku miskin. Apa aku yang memutuskan untuk lahir dari keluarga miskin? Apa karena miskin, aku tidak berhak untuk punya impian?" ucap Lani yang spontan saja membuat seisi kelas memandangnya.


Riana tidak menyangka kalau Lani berani menentangnya di depan anak-anak.


"Hebat kamu, ya. Tidak ada lagi yang bakal membantu kamu, paling hanya si Iva. Jangan harap Reihan dan teman-temannya mau berteman lagi sama kamu, jangan mimpi."


"Siapa yang bilang kalau kami tidak akanĀ  berteman lagi sama Lani?" Tiba-tiba saja Ian sudah berdiri di depan pintu kelas bersama teman-temannya. Tak hanya itu, Reihan juga ternyata ada di situ. Rupanya, mereka sudah selesai berlari dan kebetulan melihat pertengkaran Riana dan Lani yang membuat Ian tidak tahan.


"Lani tetap sahabat kami walau dia sudah putus dari Reihan dan kami tidak akan pernah menerima gadis manapun untuk gabung dalan geng kita lagi dan aku tidak akan membiarkan siapapun mengganggu dan menyakiti Lani," lanjut Ian yang membuat Riana terdiam.


"Lan, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Iva yang juga baru datang dari kantin.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja," ucapnya sambil pergi meninggalkan kelas.


"Kamu mau kemana?" tanya Iva sambil mengikutinya.


Lani hanya terdiam. Dia terus berjalan walaupun berpapasan dengan Reihan dan teman-temannya. Dia bahkan tidak peduli ketika Raka memanggil namanya. Dia terus berjalan melewati lorong-lorong kelas dan pergi ke belakang sekolah.


Dengan air mata yang mulai menetes, Lani duduk di salah satu kursi yang ada di tempat itu. Air matanya jatuh ketika dia teringat kembali dengan hinaan yang dilontarkan Riana padanya. Hatinya semakin teriris tatkala bayangan wajah ibunya terlintas di benaknya. Bagaimana tidak, dia merasa kalau ibunya adalah wanita yang sangat hebat. Walau sendirian dalam kekurangan, dia mampu membesarkan Lani seorang diri tanpa kehadiran sang suami. Dan kini, Lani dihina karena lahir dari seorang wanita miskin dan itu membuat dia bersedih karena mengingat perjuangan ibunya selama ini.


"Ibu, aku tidak akan menyalahkanmu karena kita miskin. Aku bangga padamu walau mereka menghinaku dan aku tidak akan pernah menyalahkanmu," ucapnya dengan air mata yang masih mengalir. Dia tidak bisa menahan tangisnya karena mengingat ibunya yang begitu disayanginya.


Tanpa Lani sadari, ada sepasang mata yang melihatnya di tempat itu. Tatapan mata itu penuh rasa iba dan tanpa dia sadari, air matanya ikut jatuh melihat Lani yang sedang menangis sesenggukan. Andai dia punya keberanian, dia pasti akan mendekati dan membiarkan Lani menangis dalam pelukannya. Ingin rasanya dia menghapus air mata di pipi Lani yang mulai memerah dan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja.


"Lani kemana sih, kok belum balik juga? Jam istirahatkan sudah selesai," ucap Iva penuh khawatir.


Bukan hanya Iva, Reihan juga merasakan hal yang sama. Sudah lima belas menit Lani belum juga kembali ke dalam kelas. Tanpa berpikir panjang, Reihan kemudian berdiri dan meminta ijin pada guru untuk keluar kelas.


Reihan berjalan menyusuri lorong-lorong kelas. Bahkan, dia harus masuk ke dalam toilet wanita dengan harapan bisa menemukan Lani, hingga langkahnya terhenti saat melihat Lani keluar dari lorong belakang sekolah.


"Kamu kemana saja, aku khawatir sama kamu," ucap Reihan dengan suara yang bergetar.


Lani tidak memperdulikan ucapannya itu. Dia terus berjalan hingga membuat Reihan menarik lengannya.


"Aku tidak sanggup jika kita terus-terusan seperti ini," ucap Reihan yang membuat langkah Lani terhenti.


"Aku tidak bisa pura-pura tidak memperdulikanmu. Aku tidak bisa melihat mereka menghinamu," lanjutnya dengan mata yang mulai memerah.


"Lani, tolong jawab aku. Aku tahu kamu juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Iya, kan?"


Lani masih terdiam, tapi air matanya mulai jatuh.


"Apa yang akan kamu lakukan jika apa yang kamu katakan itu benar? Apa kamu rela menyakiti ibumu hanya karena aku? Apa aku sepenting itu hingga kamu harus menentang keputusan orang tuamu?"


Semua pertanyaan Lani seakan menancap di relung hatinya. Dia tahu, itu adalah pertanyaan yang sulit baginya.


"Kenapa? Apa kamu tidak bisa menjawab? Aku tahu ini pasti terjadi. Akhirnya, gadis miskin seperti aku pasti akan tersingkir juga. Ikutilah permintaan ibumu dan mulai sekarang, belajarlah untuk melupakan aku," ucap Lani sambil melepaskan lengannya dari cengkraman Reihan.


"Kalau kita tidak bisa bersama, maka sampai kapanpun aku tidak akan pernah bersama gadis lain. Kamu lihat saja, apa yang akan aku lakukan," ucap Reihan sambil pergi meninggalkannya.


Lani tidak mampu berkata apa-apa. Dia tidak paham dengan perkataan Reihan, tapi setidaknya dia tahu kalau Reihan sangat serius dengan setiap ucapannya. Dia yakin, seiring berjalannya waktu, Reihan pasti bisa melupakannya. Dia juga berharap, dia bisa segera melupakan Reihan.

__ADS_1


__ADS_2