Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Part 31


__ADS_3

Lani terdiam dengan air mata yang mengalir saat Annisa dan suaminya memberitahukan perihal penyakit Adrian. Gadis itu langsung terduduk lemas dengan wajah yang terlihat pucat. "Itu tidak benar kan, Tante?" tanya gadis itu seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


Annisa hanya bisa memeluk gadis itu dengan tangis yang menyayat hati. Tidak ada yang bisa dia ucapkan selain air mata yang tak hentinya mengalir.


"Tidak mungkin. Tidak mungkin Adrian sakit, dia baik-baik saja, kok, Tante. Mungkin dokter yang salah, aku akan tanyakan langsung sama dokternya," ucapnya dengan tangis sambil berusaha berdiri, tapi langsung dicegah oleh Annisa.


"Tante tahu kamu sedih. Tante sama Om juga sedih, tapi kita jangan seperti ini. Apa kita akan memperlihatkan rasa sedih kita pada Adrian? Apa kamu ingin Adrian merasa sedih karena melihat kita seperti ini?" tanya Annisa yang berusaha menenangkan gadis itu.


"Tapi, kenapa harus Adrian, Tante. Kenapa bukan Lani saja yang sakit?" ucapnya dengan air mata yang terus mengalir.


"Kamu harus sabar, kita berdoa saja agar Adrian bisa mendapatkan donor secepatnya," ucap Annisa mencoba meyakinkan Lani walau sebenarnya dia tahu kalau itu tidaklah mudah.


Entah dia harus mengatakan apa. Apa dia harus berharap dengan donor yang tidak ada kepastiannya atau dia harus melihat kekasihnya itu menderita di depan matanya tanpa dia bisa melakukan apapun. Lani terisak, dia tidak ingin membayangkan jika dia harus berpisah dengan Adrian, sosok lelaki yang mau menerima dia apa adanya, lelaki yang begitu mencintainya, lelaki yang akhirnya bisa membuat dia melupakan seseorang yang sulit untuk dia lupakan.


Walau hatinya hancur, tapi dia berusaha untuk tetap tenang. Dia tidak ingin Adrian melihatnya bersedih. Walau butuh waktu untuk bisa menenangkan hatinya, tapi dia berusaha untuk bisa menahan air matanya agar tidak jatuh saat bertemu Adrian. "Kamu sudah bangun?" tanya Lani lembut ketika melihat Adrian yang tersenyum saat melihatnya masuk ke kamar.


"Maaf, tadi aku keluar sebentar. Aku pikir, Iva tadi datang, padahal bukan," ucapnya berbohong.


"Tidak apa-apa, aku senang kamu masih ada di sini," ucapnya pelan sambil berusaha untuk duduk.


"Jangan duduk dulu, berbaringlah."


"Sudah dua hari ini aku hanya berbaring, aku ingin duduk sebentar." 


Lani hanya bisa menuruti permintaan kekasihnya itu dan membantu membetulkan posisi duduknya.


"Aku minta maaf, karena sudah membuatmu khawatir. Aku baik-baik saja, aku pasti sembuh karena aku ingin segera pulang dan bisa ajak kamu jalan-jalan," ucap Adrian sambil menggenggam erat tangan kekasihnya itu. Lani mengangguk dengan senyum di bibirnya walau sebenarnya hatinya menangis.


"Karena itu kamu harus kuat, jangan menyerah. Aku akan selalu bersamamu sampai kapanpun, ya," ucap Lani dengan senyum di bibirnya.


Adrian menatap kekasihnya itu. Perlahan bulir air matanya jatuh. "Aku sayang sama kamu. Aku ingin kamu bahagia walaupun aku tidak bisa lagi bersamamu," ucap Adrian dalam hati.


"Kenapa menangis? Kamu akan baik-baik saja dan kita akan segera pulang," ucap Lani sambil menyeka air mata di pipi Adrian dan langsung saja dia memeluk kekasihnya itu dengan air mata yang coba dia tahan.


Adrian tidak kuasa menahan tangis. Dipeluknya gadis itu dengan erat seakan dia takut untuk berpisah, walau sebenarnya dia tahu waktunya hidup di dunia ini tak akan lagi lama.


Sebenarnya, sudah dari dua bulan lalu Adrian mulai merasakan sakit. Awalnya, dia terpukul dengan vonis dokter yang mengatakan tentang penyakitnya. Selama ini, dia hanya bertahan dengan obat yang diberikan dokter padanya. Hingga akhirnya, tubuhnya tidak bisa lagi bereaksi dengan obat-obatan itu.

__ADS_1


Selama dua bulan, Adrian berusaha menyimpan perihal penyakitnya. Dengan segala koneksi yang dimilikinya, dia berusaha mencari donor yang pas untuknya, tapi semua percuma karena setiap donor yang diajukan pasti hasilnya akan gagal.


"Maafkan aku, karena tidak bisa menemanimu. Aku pasti akan sangat merindukanmu," batin Adrian dalam hati hingga membuat air matanya tak kunjung berhenti mengalir. 


"Jangan bersedih lagi. Aku janji akan menemanimu sampai kapanpun. Jadi, aku mohon, kuatkan dirimu," ucap Lani berbisik lembut saat dirinya dalam pelukan Adrian dan dibalas Adrian dengan anggukan.


*****


"Bagaimana keadaan kamu, Nak?" Tanya Annisa ketika membawa sekeranjang buah dan beberapa potong pakaian untuk putranya itu.


"Baik, Ma. Mama istirahat saja, biar Lani yang menemani Adrian di sini."


Annisa hanya tersenyum sambil membelai lembut rambut Lani yang sementara duduk di tepi tempat tidur Adrian.


"Kenapa? Kamu pasti tidak mau Lani jauh-jauh dari kamu, dasar anak manja," ucap Annisa bercanda walau sebenarnya hatinya menangis.


Adrian hanya tersenyum sambil menggenggam erat tangan kekasihnya yang sedari tadi tidak dilepasnya. Dia ingin menghabiskan sisa waktunya dengan melihat wajah kekasihnya itu.


"Assalamualaikum." Tiba-tiba Iva, Raka dan Reihan datang.


"Waalaikumsalam," jawab Lani sambil mempersilakan teman-temannya itu masuk.


"Baik. Terima kasih kalian sudah datang menjengukku," jawab Adrian dengan senyum.


"Maaf, kami baru datang menjenguk karena Raka ada urusan yang harus segera dia selesaikan, makanya hari ini kita bertiga baru bisa datang," ucapnya sambil memandang ke arah Raka dan Reihan yang berdiri di sampingnya.


"Tidak apa-apa, kalian datang saja aku sudah sangat senang." 


"Kalian bicara saja dulu, Tante keluar sebentar," ucap Annisa sambil melangkah keluar kamar. Belum sampai di depan pintu, Annisa tiba-tiba terkejut mendengar rintihan Adrian yang menjerit karena kepalanya yang sakit seperti mau pecah.


"Kamu kenapa?" tanya Lani panik sambil memeluk Adrian.


Melihat Adrian yang kesakitan membuat Reihan segera berlari keluar dan memanggil dokter.


"Adrian ..., Adrian ...," teriak Lani menggoyang-goyangkan tubuh Adrian yang telah pingsan.


"Lan, sabar," ucap Iva sambil merangkul tubuh Lani dan berusaha menenangkannya.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Nak?" jerit Annisa tak kalah panik. Dengan air mata yang jatuh, Annisa membelai lembut wajah putranya itu.


"Jangan panik, biar saya periksa dulu," ucap dokter yang baru saja datang dengan beberapa orang suster.


Adrian yang sudah tidak sadarkan diri kemudian diperiksa. Sementara Lani, masih terisak dalam pelukan Iva. Karena harus diperiksa, mereka semua terpaksa harus menunggu di luar.


"Lani, sabar Nak, sabar," ucap Annisa sambil membelai lembut punggung gadis itu walau sebenarnya dia sendiri sangat khawatir dengan kondisi putranya itu.


Lani kemudian memeluk wanita paruh baya itu. Dalam pelukannya, Lani menangis seperti anak kecil hingga membuat siapa saja yang melihatnya akan ikut terharu, termasuk Reihan yang sedari tadi memperhatikannya.


Di dalam hatinya, dia merasa prihatin dengan kondisi Adrian sekaligus dia merasa iri karena perhatian Lani yang begitu besar tercurah pada lelaki itu.


Dia cemburu walau dia tahu dia sudah tidak lagi pantas untuk cemburu. Dia ingin memeluk gadis itu dan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja walau sebenarnya dia tahu, dia tidak punya hak untuk melakukan itu. Namun, rasa cinta yang masih ada di hatinya membuat dia tidak nyaman karena melihat orang yang dicintainya itu menangisi orang lain, walau sekali lagi dia sadar kalau dia tidak pantas karena dia bukan siapa-siapa lagi.


"Lani, tenangkan dirimu, jangan seperti ini. Aku tahu kamu khawatir, tapi kamu tidak inginkan Adrian melihatmu seperti ini?" bujuk Iva sambil memeluk gadis itu.


"Aku takut, Va. Aku takut dia akan pergi meninggalkanku," jawab Lani dengan tangis yang tak kunjung berhenti.


"Dia akan baik-baik saja, yakin deh."


"Andai kamu tahu, Adrian pasti akan pergi meninggalkanku, lalu aku harus bagaimana?" batin Lani yang membuat dia terus menangis.


"Bagaimana keadaan anak saya, dok?" tanya Annisa ketika melihat dokter yang baru saja keluar dari kamar.


"Sebaiknya, kita bicarakan saja di ruangan saya," ucap dokter itu sambil mempersilakan Annisa ikut ke ruangannya.


"Maksud dokter, apa?" tanya Annisa kaget ketika mendengar penjelasan dokter.


"Sepertinya, penyakitnya sudah semakin parah dan saya harap, pihak keluarga harus mempersiapkan diri kalau-kalau terjadi sesuatu pada pasien," jelas dokter itu hati-hati.


"Tidak dok, tidak mungkin," jerit Annisa terasa pilu. Dia belum siap untuk menerima kenyataan kalau anak semata wayangnya itu akan segera pergi meninggalkannya untuk selamanya. Sekali lagi, hatinya hancur melihat penderitaan anaknya dan juga Lani.


"Saya paham perasaan Ibu, tapi kondisi tubuhnya sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit dan itu yang menyebabkan dia sakit kepala hingga membuat dia pingsan."


Annisa terdiam. Sekuat apapun dia menangis, sekokoh apapun tekad dalam hatinya tidak akan mungkin bisa merubah kenyataan bahwa anaknya kini sedang sekarat. Dia sadar, Adrian yang mungkin lebih terpukul karena penyakit yang kini dideritanya. Dan yang pasti, Adrian akan segera berpisah dengannya dan juga kekasih hatinya. Annisa menghapus air matanya. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan anaknya. Walau hatinya menangis, dia berjanji akan memberikan perhatian dan kebahagiaan yang terakhir kali untuk anaknya.


Sementara Lani, telah bertekad untuk selalu menemani Adrian hingga waktu yang akan memisahkan mereka. Dia telah berjanji, akan membuat Adrian bahagia selama sisa waktu yang diberikan Tuhan kepadanya. 

__ADS_1


Cinta, terkadang menyakitkan. Di saat kita mendambakan kebahagiaan, justru kesedihan yang datang menyapa. Di saat kita mengharapkan untuk selamanya selalu bersama, justru perpisahan yang datang melanda. Itulah takdir yang tidak bisa ditebak akal manusia, karena manusia hanya memainkan perannya, sedangkan Tuhan yang menjadi sutradaranya. Namun, dibalik itu semua ada sesuatu yang indah menanti kita, karena Tuhan lebih tahu mana yang terbaik untuk kita.


__ADS_2