Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Part 20


__ADS_3

Lani masih duduk menangis di sudut kamarnya. Air mata yang coba ditahan sejak tadi, akhirnya tumpah juga. Sekuat apapun dia mencoba untuk menerima kenyataan, tapi hatinya tak rela dan menolak untuk menerimanya.


Hampir satu jam Lani menangis menyesali diri. Dia tidak menyangka, hubungan mereka akan berakhir secepat ini.


"Apakah aku masih pantas untuk bertemu denganmu?" ucap Lani lirih dengan air mata yang tak hentinya mengalir.


"Apa yang harus aku lakukan?" Terlintas, wajah Reihan muncul dalam ingatannya. Dia teringat kembali masa-masa bahagia yang sudah mereka lalui bersama. Semakin dia mengingat, semakin deras pula air mata yang mengalir di pipinya.


"Lani, ayo makan, Nak?" panggil ibunya.


Lani masih duduk terdiam di dalam kamarnya. Sambil bersandar di dinding kamar, dia menekuk kakinya dan menopang kepalanya di atas lututnya. Sayup-sayup terdengar isakan tangisnya. Tangis yang ingin dia tumpahkan sepuasnya.


"Lani, ayo kita makan. Apa kamu sudah tidur?" tanya ibunya sambil mengetuk pintu kamarnya.


Mendengar panggilan ibunya, Lani segera menghapus air matanya. "Duluan saja, Ma. Kalau tugas Lani sudah selesai, baru Lani makan," jawabnya berbohong.


"Tuh, anak kenapa? Tidak biasanya dia kunci kamar segala," ucap ibunya penasaran.


Lani menarik nafas panjang. Dia mencoba untuk menata hatinya dan berusaha untuk menerima kenyataan. Walau semua terasa berat, tapi dia harus bisa menerima. Sebanyak apapun dia meneteskan air mata, itu semua tidak bisa merubah kenyataan. Tinggal bagaimana caranya agar dia bisa tegar saat bertemu dengan Reihan.


Lani menghapus air matanya. Dengan langkah yang agak malas, dia pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Di depan cermin, dia menatap wajahnya sambil tersenyum yang seakan dipaksakan. "Kamu jangan terlalu berharap, kamu memang tidak pantas untuknya," ucapnya sambil menatap cermin itu, seakan dia ingin mengingatkan dirinya sendiri.


Pagi mulai menyapa. Dilihatnya lagi wajahnya di depan cermin, sekadar untuk memastikan kalau matanya tidak sembab karena menangis semalaman. Rasanya, dia tidak ingin pergi ke sekolah. Dia ingin mengurung diri di dalam kamar hingga hatinya bisa tenang. Namun, dia tidak bisa selamanya lari dari kenyataan, dia harus bangkit dan menatap ke depan. Apapun yang terjadi dalam hidupnya, dia anggap itu sebagai sebuah ujian. Dan sekarang, dia sedang diuji dan dia harus lulus dari ujian itu.


Setelah memantapkan hatinya, menjaga emosinya dan tentu saja menjaga perasaannya, dia coba melangkah. "Aku harus kuat," ucapnya dalam hati.


Iva, sang sahabat masih setia menunggunya untuk ke sekolah bersama-sama. Hampir tiap hari Iva lakukan itu dan Lani bersyukur karena dia masih mempunyai sahabat yang mengerti akan dirinya. "Matamu kenapa sembab, kamu semalam menangis, ya?" tanya Iva penasaran.


"Tidak, kok. Bukan menangis, tapi tidak bisa tidur," ucapnya berbohong.


"Kenapa tidak bisa tidur? Jangan bilang kalau kamu memikirkan Reihan," Canda Iva dengan senyum menggoda.


"Tidak, kok. Tidak tahu nih mata tidak bisa diajak kompromi."


Sementara itu, Reihan dipaksa ibunya untuk pergi sekolah bersama Mutia. Karena tidak ingin ibunya sakit lagi, akhirnya Reihan mengiyakan.


"Nah, begitu dong," ucap ibunya dengan senyum.


Baru saja mereka melewati tikungan pertama dari rumahnya, tiba-tiba Reihan menghentikan laju motornya. "Turun," katanya datar.


"Maksud kamu, apa?" tanya Mutia mulai kebingungan.


"Cepat turun!! Aku akan ke sekolah sendiri, lebih baik kamu naik taksi."


"Tapi Rei, mana bisa kamu meninggalkan aku di sini?" keluh Mutia.


Tanpa menjawab pertanyaan Mutia, Reihan kemudian pergi meninggalkannya sendirian. Dengan kesal, Mutia melihat kepergian RReihan

__ADS_1


"Apa aku harus naik taksi lagi?" Mutia mendengus kesal.


Sesampainya di depan gerbang sekolah, Reihan dan teman-temannya sudah terlihat berdiri menunggu Lani dan Iva.


"Kenapa kalian tidak masuk saja, malah berdiri di sini?" tanya Iva sambil melihat kelima cowok itu.


"Tidak tahu nih Reihan. Sudah diajak masuk ke kelas tapi dia tidak mau. Katanya, dia mau menunggu Lani," jawab Raka.


"Kenapa masih di sini? Ayo masuk," ucap Lani sambil menarik tangannya. "Nih, tasku sekalian dibawa, ya," lanjutnya dengan senyum manja.


Reihan tidak berkata apa-apa. Dia seakan menuruti semua perkataan Lani. Sementara Lani, harus menahan perasaannya karena harus berpura-pura tegar di depan Reihan.


Hari ini bagaikan hari terpanjang bagi Lani. Ingin rasanya dia menghentikan waktu atau setidaknya, biarkan hari ini cepat berlalu, agar dia terbebas dari kepura-puraan ini. "Rei, apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Lani saat bel pulang sudah berbunyi.


"Kenapa? Apa ada yang ingin kamu bicarakan denganku?"


"Teman-teman, apa kalian bisa menunggu kami di luar?" tanya Lani pada teman-temannya yang sudah berkumpul.


"Baiklah. Kami akan menunggu kalian di luar," jawab Raka sambil mengajak teman-temannya keluar dari kelas.


Sementara Lani, sudah duduk saling berhadapan dengan Reihan. "Aku minta maaf." Lani mulai angkat bicara. Dengan menahan air mata, Lani melanjutkan kata-katanya. "Kita harus putus."


Mendengar ucapan Lani membuat Reihan terkejut. "Maksud kamu?" tanya Reihan seakan tidak percaya dengan ucapan Lani.


"Aku tahu kamu sudah dijodohkan dan aku tahu ibumu sakit gara-gara kamu menolak perjodohan itu. Aku mohon, jangan siksa dirimu hanya karena aku," ucap Lani dengan suara yang bergetar karena menahan tangis.


"Aku tahu kamu tidak menerima perjodohan itu, tapi pikirkan ibumu," ucap Lani berusaha meyakinkan Reihan.


"Aku sudah pernah bilang padamu, jangan pernah melepaskan aku, tapi jika kamu ingin melepasku, baik, hari ini juga kita akan putus, tapi ingat, aku tidak akan pernah menerima gadis manapun dalam hidupku. Aku akan menunggu hingga kamu kembali lagi padaku." Setelah mengucapkan itu, Reihan kemudian keluar dari kelas dan membuat teman-temannya menjadi bingung.


"Rei, dengar dulu penjelasanku," ucap Lani sambil mengejar Reihan, tapi percuma saja.


"Kalian kenapa bertengkar?" tanya Iva penasaran.


"Cepat!! Cepat kalian ikuti Reihan, aku mohon," ucap Lani pada Raka dengan air mata yang mulai mengalir. Sontak saja mereka mengejar Reihan, tapi percuma karena dia sudah pergi.


"Ada apa dengan kalian berdua dan kenapa Reihan marah seperti itu?" tanya Raka mencoba cari tahu.


"Aku minta maaf, tapi aku sudah putus dengan Reihan," jawab Lani sedih.


"Maksud kamu, kamu yang meminta putus dari Reihan?" tanya Rifal yang semakin bingung.


"Kamu bercanda, kan? Mana mungkin Reihan mau putus sama kamu, dia itukan sayang sama kamu."


"Aku minta maaf."


"Terus, alasan kamu apa sampai minta putus segala?"

__ADS_1


Lani terdiam. Entah dia harus menjawab apa. Yang bisa dilakukannya hanyalah menangis dan meminta maaf tanpa penjelasan apapun yang membuat mereka semakin kecewa.


"Aku kecewa sama kamu," ucap Raka sambil pergi meninggalkannya yang diikuti Ian, Rifal dan Rendy karena merasa kecewa dengan keputusan Lani.


"Lan, aku akan selalu ada di sini. Apapun keputusanmu, aku yakin itu pasti ada alasannya. Aku akan menunggu sampai kamu mau menjelaskan semuanya padaku."


Lani kemudian memeluk sahabatnya itu. Air matanya tumpah. "Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Aku egois kalau tetap mempertahankan Reihan. Aku ini hanya gadis miskin. Bagaimana mungkin aku bisa membuat seorang anak harus durhaka pada orang tuanya hanya karena keegoisanku," ucapnya terbata-bata.


"Aku tidak bisa mempertahankan Reihan, karena dia sudah dijodohkan dengan gadis lain."


Mendengar penjelasan Lani, sontak saja membuat Iva terkejut. "Dijodohkan? Apa aku tidak salah dengar?"


"Kemarin, Raka bilang padaku kalau mamanya Reihan ingin bertemu denganku. Kami bertemu dan mamanya memintaku untuk memutuskan Reihan karena Reihan sudah dijodohkan dengan gadis pilihan orang tuanya. Lantas, aku harus bagaimana? Jujur, aku tidak ingin putus, tapi aku juga tidak bisa terus bersamanya," jelas Lani dengan air mata yang terus mengalir.


"Sabar, aku paham perasaanmu," bujuk Iva sambil mengelus lembut punggung sahabatnya itu.


Iva tak tahu harus berbuat apa. Dia sadar masalah ini adalah masalah yang serius karena sudah menyangkut orang tuanya Reihan. Yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah menemani sahabatnya itu.


"Kenapa nih anak ponselnya tidak aktif?" ucap Raka ketika mencoba menghubungi Reihan.


Tiba-tiba saja ponselnya berdering "Kenapa, Va?"


"Kamu di mana?"


"Masih di parkiran sekolah. Memangnya kenapa?"


"Bisa tidak kalian ke sini?"


Raka terdiam. Sebenarnya dia tidak ingin menemui Lani, tapi karena Iva, mereka akhirnya pergi kembali ke kelas. "Baiklah, kita ke sana," ucapnya sambil menutup teleponnya.


"Kemana?" tanya Ian.


"Kita kembali ke kelas. Sepertinya, ada yang ingin Lani jelaskan."


Setibanya di kelas, mereka melihat Lani yang masih terisak. "Ada apa? Apa ada yang ingin kalian jelaskan?" tanya Raka.


"Aku minta maaf, aku tahu kalian kecewa padaku, tapi semua ini bukan mauku."


"Kemarin, kalian bertemu sama mamanya Reihan?" tanya Iva pada Raka.


"Benar. Jangan bilang kalau mamanya Reihan yang suruh kamu putus sama Reihan?" tanya Raka semakin penasaran.


"Bukan hanya itu, Reihan ternyata sudah dijodohkan dengan gadis pilihan orang tuanya."


Mereka tersentak dengan pengakuan Lani. Terbesit rasa bersalah karena sudah menyalahkannya, karena keputusannya untuk mengakhiri hubungannya dengan sahabat mereka itu.


"Jadi, kemarin kamu itu ..?" Raka tidak melanjutkan kata-katanya. Hanya rasa penyesalan yang membuat dia merasa bersalah karena dia tidak tahu menahu kalau ternyata saat itu Lani sedang terluka.

__ADS_1


Mereka semua terdiam. Mereka paham akan kesedihan Lani saat ini. Dan mereka lebih paham dengan kesedihan yang kini di alami sahabat mereka. Dan sekarang, Reihan pergi entah ke mana.


__ADS_2