
Mendengar panggilan telpon rumah terus berdering, membuat Akila lantas langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang tamu.
"Halo" ucap Akila setelah telpon tersebut ia angkat.
"Ki... syukurlah aku bisa mendengar suara mu, apa kamu baik baik saja? aku khawatir akan keadaan mu setelah pemberitaan itu." ucap Elbara yang langsung menyerocos tepat ketika mendengar suara Akila di seberang sana.
"Aku baik baik saja, sebaiknya nanti saja kita sambung lagi pembicaraan kali ini." ucap Akila dengan nada yang sedikit gemetar, ia benar benar takut Delvano mengetahuinya kali ini.
"Apakah Delvano ada di rumah saat ini?" tanya Elbara kemudian yang menyadari nada bicara aneh Delvano.
"Iya" ucap Akila dengan singkat.
"Baiklah, tetaplah bersikap dengan tenang dan jangan melupakan pembicaraan kita waktu itu." ucap Elbara kembali mengingatkan Akila.
"Kamu tidak perlu khawatir akan hal itu." ucap Akila dengan nada yang lirih.
"Baiklah aku tutup dulu." ucap Elbara
"Hem" jawab Akila, baru setelah itu suara panggilan terputus mulai terdengar di pendengarannya, membuat Akila lantas kembali menaruh gagang telpon pada tempatnya.
"Apa yang harus aku jawab ketika Delvano menanyakan tentang panggilan telpon ini?" ucap Akila pada diri sendiri bertanya tanya.
Hingga kemudian setelah yakin dan menemukan alasannya, Akila lantas kembali melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan Delvano untuk membersihkan pecahan gelas yang tadi berhamburan di ruangan Delvano.
Tok tok tok
Akila mengetuk pintu ruangan kerja Delvano perlahan sebelum akhirnya melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Barusan hanyalah telpon iseng, aku tidak tahu mengapa akhir akhir ini banyak sekali telpon iseng di rumah kita." ucap Akila sambil berjongkok dan mulai membereskan pecahan gelas tersebut satu persatu.
"Oh ya?" ucap Delvano dengan nada yang terdengar aneh di telinga Akila saat itu, membuat Akila langsung gugup seketika.
Delvano melangkahkan kakinya perlahan menuju ke arah kotak musik kesayangannya dan mengelus secara perlahan kota musik tersebut, membuat Akila yang melihat pemandangan itu melalui ekor matanya lantas mulai merasa merinding.
"Kau tahu Ki? aku membenci seorang pembohong walau hal kecil sekalipun." ucap Delvano dengan nada yang sinis membuat Akila langsung menelan salivanya dengan kasar.
__ADS_1
"Ten... tentu, kamu bahkan selalu mengatakan hal tersebut secara berkali kali." ucap Akila sambil terus memunguti satu persatu serpihan gelas dan menaruhnya pada nampan yang ia bawa tadi.
Tepat setelah mengatakan hal itu suara lantunan Simfoni kembali terdengar memenuhi ruangan tersebut, membuat Akila yang hapal betul akan maksud dari suara tersebut lantas langsung bangkit dari tempatnya namun tanpa menatap ke arah Delvano.
"Aku akan segera kembali dengan membawa yang baru untuk mu mas..." ucap Akila kemudian sambil bangkit berdiri dan berlalu pergi meninggalkan Delvano di ruangan tersebut.
Delvano yang melihat Akila kabur, lantas langsung tersenyum dengan sinis. Dengan langkah yang lebar Delvano lantas langsung mengangkat tubuh Akila dari arah belakang, sehingga membuat Akila yang tidak bersiap sebelumnya lantas langsung melempar nampan yang ia pegang ke sembarang arah karena saking terkejutnya.
"Apa yang kamu lakukan mas?" teriak Akila yang terkejut akan perlakuan Delvano.
Delvano yang mendengar teriakan tersebut, sama sekali tidak menggubrisnya malah langsung menyudutkan tubuh Akila ke arah tembok dan mencengkram dagu Akila dengan kasar.
"Sudah ku bilang aku paling tidak suka kebohongan, namun kau malah bermain di belakang ku dengan bahagia seakan tidak terjadi apa apa." ucap Delvano sambil menatap tajam ke arah Akila yang kini sedang menahan sakit di area dagunya.
"Apa menyenangkan memiliki seseorang di belakang ku Ki? apa kau bahagia ha?" teriak Delvano dengan seketika yang lantas membuat telinga Akila langsung berdenging seketika.
Nginggggg.... ngingggg.....
Dihempaskannya Akila ke bawah dengan gerakan yang cepat, membuat Akila lantas langsung terpelanting ke arah kanan dan berakhir tersungkur ke lantai.
Delvano menjambak rambut panjang milik Akila dan menariknya dengan kuat.
**
Lima menit sebelum kejadian yang di alami oleh Akila.
Tepat setelah Akila pergi untuk menerima telpon, Delvano yang curiga akan penelpon tersebut lantas langsung menyambungkannya dengan telpon duduk yang ada di kantornya.
Delvano mendengarkan dengan seksama setiap pembicaraan Akila dengan penelpon tersebut, hingga kemudian Delvano seperti mencium ada gelagat yang aneh dari pembicaraan keduanya. Tidak hanya itu bahkan Delvano seperti tidak asing dengan suara penelpon tersebut.
Sebuah tayangan berita yang kembali menunjukkan tentang perselingkuhan yang di lakukan oleh Elbara, lantas membuat pertanyaan yang berputar di kepalanya baru saja terjawab sudah. Walau wanita dalam foto tersebut tidak terlalu jelas namun bagi Delvano ia sangat mengenal siapa wanita itu.
"Kurang ajar kau El!" ucap Delvano dengan nada yang tertahan sambil menatap tajam ke arah televisi.
**
__ADS_1
Kembali kepada Akila dan juga Delvano.
"Sudah sejauh apa hubungan kalian?" teriak Delvano sambil menampar pipi Akila dengan keras.
Plak...
"Ahh kami tidak melakukan apapun, hanya sebatas ngobrol dan makan tidak lebih... " ucap Akila dengan manik mata yang berkaca kaca.
"Jangan menipu ku!" teriak Delvano kembali sambil menampar pipi Akila yang satunya.
Plak....
Akila yang mendapat tamparan dengan keras lantas langsung terpelanting ke arah kanan. Sekuat apapun Delvano menyiksanya tentu saja jawabannya pasti tidak, karena memang antara Akila dan juga Elbara hanyalah sebatas mengobrol dan makan saja. Keduanya bahkan tidak pernah melakukan lebih dari itu.
"Katakan padaku Ki, apa dia menjamah mu seperti ini?" ucap Delvano sambil meremas kedua gunung kembar milik Akila dengan kasar, hingga membuat Akila merintih kesakitan karena ulah tangan Delvano.
"Akh... lepaskan mas sa...kit" ucap Akila sambil meremas bahu Delvano dengan kuat menahan rasa sakit di dadanya.
"Kenapa? bukankah kau menyukainya? hahahaha" ucap Delvano dengan tawa yang menggema sambil sesekali menggigitnya dengan kasar.
Akila yang sudah tidak tahan lagi akan perlakuan dari Delvano, lantas langsung berusaha mendorongnya dengan kuat, berusaha untuk kabur dari ganasnya amukan Delvano.
"Kau!" teriak Delvano yang jatuh dengan posisi terduduk di lantai karena dorongan Akila.
***
Hotel Star
Elbara terlihat sedang menunggu di kamar President Suit paling atas di hotel miliknya. Elbara menunggu kedatangan Akila dengan perasaan yang campur aduk.
Elbara tidak tahu mengapa alasannya Akila tiba tiba ingin bertemu di hotel. Hanya saja Elbara sama sekali tidak berpikir yang macam macam dan langsung mengiyakan ajakan dari Akila tadi di telpon tanpa banyak bertanya.
Ting tong ting tong...
Elbara yang mendengar suara bel pintu berbunyi, lantas langsung berjalan ke arah pintu masuk dan membukanya.
__ADS_1
"Akila!"
Bersambung