Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Affair?


__ADS_3

Setelah dari Rumah Sakit, Elbara melajukan mobilnya dengan tujuan yang tak tentu. Elbara tidak ingin pulang ke mansion dan bertemu dengan Viona, tapi ia juga tidak tahu harus pergi ke mana.


Suasana jalanan malam itu terpantau lancar dan sepi, Elbara yang tak tahu harus pergi ke mana lantas hanya melajukan mobilnya mengikuti jalanan hingga tanpa sadar ia malah berhenti tepat di kediaman Akila.


"Apa yang aku lakukan hingga sampai di sini?" ucap Elbara pada diri sendiri bertanya tanya.


Elbara mengusap wajahnya dengan kasar karena tak habis pikir dengan alam bawa sadarnya yang malah menuntunnya ke kediaman Akila dan juga Delvano.


Ditatapnya sekilas kediaman Delvano, ada sedikit perasaan kerinduan yang menyapa hatinya ketika melihat Hunian mewah milik Delvano itu.


"Apa yang sedang Akila lakukan saat ya?" ucap Elbara dalam hati bertanya tanya.


Hingga kemudian Elbara yang tadinya hanya berniat menatap kemudian pergi, lantas di buat sedikit terkejut ketika melihat Akila perlahan lahan mulai melangkahkan kakinya keluar dari kediamannya dengan wajah yang masih terlihat pucat.


"Mau kemana dia malam malam begini? bukankah dia masih harus istirahat?" ucap Elbara pada diri sendiri bertanya tanya sambil terus fokus menatap ke arah Akila.


Elbara yang melihat Akila terus bergerak pergi, lantas langsung berinisiatif mengambil jaket miliknya yang terletak di bangku penumpang bagian belakang dengan susah payah, baru kemudian turun dan mencoba mengejar langkah kaki Akila yang semakin menjauh.


Elbara mengambil langkah dengan lebar secepat mungkin mencoba untuk menyusul Akila yang sudah melangkah jauh di depan.


Hhhhhhh


Suara hembusan nafas Elbara yang terengah engah, lantas menghentikan langkah kaki Akila yang terkejut akan suara nafas berat seseorang di sampingnya.


"Elbara? apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Akila dengan tatapan yang bingung ke arah Elbara yang terlihat masih mengatur nafasnya.

__ADS_1


Elbara yang mendapat pertanyaan tersebut bukannya menjawab malah langsung memakaikan jaket pada Akila, membuat Akila lantas kebingungan akan perlakuan yang di berikan oleh Elbara saat ini.


"Bukankah kamu belum sepenuhnya pulih? mengapa kamu keluar dengan pakaian yang sangat tipis seperti ini? lagi pula mau kemana kamu malam malam begini?" ucap Elbara menyerocos tanpa henti, membuat Akila hanya bisa menatap ke arah Elbara dengan tatapan yang tak percaya akan sifat overprotektif Elbara saat ini.


"Aku hanya ingin ke supermarket sebentar membeli beberapa bahan makanan untuk Delvano nanti ketika ia pulang kerja." ucap Akila dengan nada yang polos tanpa memikirkan bagaimana perasaan Elbara ketika Akila menyebut nama suaminya itu.


Elbara yang mendengar jawaban Akila lantas menghela nafasnya panjang, bisa bisanya di saat tubuhnya yang masih dalam kondisi tidak fit, Akila malah masih memikirkan Delvano. Bukankah Akila terlalu lugu dan juga bodoh?


"Kamu kan bisa pakai gojek atau aplikasi semacamnya bukan? bagaimana kalau terjadi apa apa padamu ha?" ucap Elbara dengan nada yang kesal membuat Akila lantas menatap Elbara dengan bingung.


"Supermarketnya tidak jauh dari sini El, bukankah kau terlalu berlebihan?" ucap Akila sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan, ketika mendengar ucapan Elbara yang tidak masuk akal itu, kemudian berlalu pergi meninggalkan Elbara di sana.


"Kita kan lebih baik mencegah dari pada mengobati Ki... kau itu terlalu menyepelekan segalanya." ucap Elbara dengan kekeh sambil terus mengikuti langkah kaki Akila.


"Sudahlah El, jika kamu tidak bisa diam sebaiknya jangan mengikuti ku terus!" ucap Akila sambil terus melangkahkan kakinya ke arah Supermarket.


"Bu Akila?" panggil sebuah suara yang langsung membuat Elbara dan juga Akila menoleh secara bersamaan ketika hendak memasuki area Supermarket.


"Dokter" ucap Akila yang tidak menyangka akan bertemu dengan dokter yang merawatnya di Rumah Sakit kemarin.


"Kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini." ucap Icha sambil melirik ke arah Elbara sekilas dengan tatapan yang bertanya tanya.


"Iya bu, saya juga tidak menyangka akan bertemu anda di sini." ucap Akila sambil tersenyum sedangkan Elbara hanya diam saja seakan enggan untuk berkomentar dan ikut masuk ke dalam pembicaraan mereka.


Elbara yang melihat jaket yang ia pasangankan tadi sedikit terbuka, lantas langsung berusaha membenarkannya dengan menali bagian lengan jaket tersebut ke leher Akila agar tidak kembali jatuh, membuat Akila menjadi tidak enak kepada Icha karena melihat tingkah Elbara yang menurutnya berlebihan.

__ADS_1


"Ayo cepat masuk ke dalam, di sini udaranya dingin kau belum sepenuhnya pulih Ki..." ucap Elbara yang lantas di balas Akila dengan tatapan mata yang melotot karena Elbara sama sekali tidak tahu tempat dan memperhatikan sekitar.


"Iya benar, angin malam tidak baik bagi anda bu mengingat tubuh anda belum terlalu fit sepenuhnya." ucap Icha yang seakan mengerti dengan maksud ucapan Elbara barusan.


"Saya permisi dulu kalau begitu bu dokter." ucap Akila dengan lembut yang di balas Icha dengan anggukan kepala.


Setelah mengatakan hal tersebut Elbara lantas menuntun Akila agar segera masuk ke dalam Supermarket, tanpa memperhatikan Icha sama sekali. Sepertinya Elbara tidak terlalu perduli dengan pandangan Icha terhadap dirinya.


"Ada hubungan apa sebenarnya antara keduanya? mungkinkah ini sebuah affair? jika memang benar berarti sia sia rasa simpati ku kemarin padanya." ucap Icha dengan nada yang bingung sambil sesekali menoleh ke arah belakang melihat interaksi keduanya dengan rasa yang penasaran.


***


Kediaman Arga


Arga yang baru menyelesaikan pekerjaannya, lantas langsung melangkahkan kakinya dengan gontai masuk ke dalam rumahnya.


Semua badannya terasa pegal pegal hari ini, membuat Arga langsung memilih untuk pergi ke kamar mandi dan berendam daripada harus makan terlebih dahulu.


Arga mengistirahatkan sejenak pikirannya sambil bersandar pada sandaran bath up menikmati sensasi air hangat yang menerpa kulitnya dengan lilin aroma terapi yang membuat pikirannya menjadi sedikit lebih fresh dan tenang.


"Punya bos yang temperamental benar benar sangat melelahkan, aku harus bekerja lebih ekstra dalam segala hal." ucap Arga sambil memejamkan matanya menikmati relaksasi dari padatnya pekerjaan yang ia lakoni hari ini.


Di saat Arga sedang asyik bersantai menikmati waktu istirahatnya, sebuah deringan ponsel miliknya yang menggema lantas membuyarkan segalanya. Dengan gerakan yang malas, Arga lantas mulai meraba ponselnya untuk melihat siapa yang menelponnya tengah malam begini.


"Ah aku lupa kalau istri dari bos ku juga seorang yang tempramental... tidak bisakah mereka membiarkan ku untuk beristirahat sebentar saja?" ucap Arga menggerutu dengan kesal ketika melihat nama Viona tertulis dengan jelas pada layar ponsel miliknya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2