
Setelah mendapat telpon dari Fatih, pada akhirnya Icha mau tidak mau memberikan ijin untuk Akila di rawat jalan di rumah, sebelum kepulangannya Icha menyempatkan untuk memeriksa keadaan Akila terlebih dahulu.
"Jangan lupa untuk di minum obatnya bu dan istirahat yang cukup agar segera pulih." ucap Icha sambil sedikit menunduk ke arah Akila dan memberinya sebuah kertas yang di lipat sangat kecil ke telapak tangan Akila, tanpa sepengetahuan dari Delvano yang terus saja mengawasinya sedari tadi.
Akila yang menerima kertas tersebut tentu saja bingung, ia kemudian lantas mendongak ke arah Icha seakan bertanya apa maksud Icha memberinya secarik kertas yang di lipat dengan kecil. Icha yang seakan mengerti dengan kebingungan yang Akila alami, lantas langsung mengangguk sambil tersenyum menatap ke arah Akila.
"Apa ada sesuatu?" tanya Delvano ketika merasa curiga akan gerak gerik keduanya.
Akila yang sadar suaminya sudah mulai curiga lantas langsung menoleh ke arah Delvano dan tersenyum kepadanya.
"Tidak ada, ayo kita segera pulang aku sudah merindukan rumah." ucap Akila dengan senyum yang di paksa untuk ia tunjukan ke Delvano.
"Baiklah, ayo kita pergi." ucap Delvano yang langsung melangkahkan kakinya ke arah Akila dan merengkuh tubuh kecil istrinya itu.
"Kami permisi dulu dok" ucap Akila sambil tersenyum ke arah Icha yang di balas Icha dengan anggukan kepala.
Setelah berpamitan pada Icha, keduanya lantas melangkahkan kakinya pergi dari ruang perawatan Akila. Icha yang melihat interaksi keduanya lantas menatap kepergian Akila dan juga Delvano dengan tatapan yang tak biasa.
"Ternyata masih ada yah? laki laki yang pandai berakting seperti dia, benar benar menjijikkan." ucap Icha sambil menatap kepergian keduanya dengan tatapan yang jijik hingga menghilang dari pandangannya.
***
Mansion Elbara
Setelah Elbara dari Rumah sakit, Elbara lantas langsung mampir ke mansion hanya untuk berganti baju sebelum akhirnya kembali pergi untuk menemui klien VIP yang menjadi tamu di hotelnya. Elbara melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion dengan langkah yang terburu buru menuju ke kamarnya.
"El..." panggil Viona namun mengambang di udara karena Elbara melangkahkan kakinya bergegas tanpa berhenti untuk menyapanya terlebih dahulu.
__ADS_1
Viona yang melihat langkah terburu buru Elbara, lantas berpikir bahwa Elbara pasti lelah dan ingin segera mandi, mangkanya Elbara terlihat terburu buru naik ke atas menuju kamarnya.
"Mungkin segelas coklat hangat dan puding akan menyegarkan Elbara dari rasa lelah akibat rutinitasnya." ucap Viona sambil tersenyum ketika ide tersebut tiba tiba terlintas begitu saja di benaknya.
Viona yang yakin dengan ide tersebut lantas mulai menyiapkan segalanya, Viona tampak sibuk membuat coklat hangat di dapur dengan di bantu oleh beberapa maid, sedangkan untuk pudingnya sendiri Viona tinggal mengambilnya di kulkas tanpa harus menunggu lama untuk proses pembuatannya.
Beberapa menit berkutat dengan urusan dapur, Viona yang melihat Elbara mulai melangkahkan kakinya turun lengkap dengan setelan jasnya, lantas langsung mendekat ke arah Elbara sambil membawa nampan berisi coklat panas dan juga puding di atasnya.
"El.. cobalah aku membuatkan ini untuk mu..." ucap Viona dengan tersenyum bahagia ke arah Elbara.
"Maafkan aku, aku sudah ada janji meeting 5 menit lagi, jadi aku tidak punya waktu lagi untuk mencicipi masakan mu." ucap Elbara menolak nampan tersebut dengan halus karena memang waktunya kali ini benar benar mepet.
"Bukankah kamu baru saja sampai El? lagi pula kamu kan bosnya, pasti bawahan mu akan mengerti bukan jika bosnya datang terlambat?" ucap Viona sambil mendorong nampannya kembali mendekat ke arah Elbara.
"Ku bilang tidak.. ya tidak Vi... aku sudah ditunggu oleh Arga saat ini." ucap Elbara dengan nada yang sedikit meninggi karena Viona terus memaksanya.
"Ku bilang aku tidak bisa Vi... ah sial ini bahkan masih panas..." ucap Elbara dengan nada penuh penekanan sambil mengibas kibaskan kemejanya yang terkena noda coklat panas yang tumpah baru saja.
Viona yang mendengar nada bicara Elbara semakin meninggi, bukannya takut atau menyesal ia malah membuang nampan itu beserta isinya hingga pecah dan berhamburan di lantai detik itu juga.
Prang...
"Apa kau sudah gila Vio?" pekik Elbara ketika ia mendengar suara benda jatuh tepat di sebelahnya.
"Ya aku gila! jika aku gila berarti kau juga gila, bukankah kita sama sama gila ha?" teriak Viona dengan kesetanan membalas pekikan Elbara yang meninggi barusan.
Elbara yang melihat situasinya sudah tidak lagi kondusif, lantas sedikit mendorong tubuh Viona ke sebelah agar sedikit bergeser dari hadapannya.
__ADS_1
"Sudahlah, aku tidak punya waktu lagi meladeni kegilaan mu itu!" ucap Elbara hendak melangkahkan kakinya pergi dari sana.
Viona yang melihat Elbara tetap pergi walah Viona telah membuat kerusuhan, lantas langsung memegang pundak Elbara, membuat Elbara yang terkejut akan tindakan Viona barusan lantas dengan spontan langsung berbalik badan mengikuti arah tarikan Viona barusan.
"Apa apaan kau Vio?" ucap Elbara dengan nada yang kesal.
Viona yang mendengar kekesalan dari Elbara barusan, bukannya menghentikan aksinya malah lantas menarik dasi Elbara dan membuat posisi kepala Elbara sejajar dengannya, baru kemudian Viona langsung mencium Elbara dengan brutal dan ganas.
Elbara yang mendapat ciuman tersebut tentu saja terkejut bukan main, hanya saja Elbara yang sadar akan apa yang tengah terjadi mulai berusaha melepas Viona agar sedikit melonggarkan lu**tannya.
Viona yang terus di desak untuk melepaskan, bukannya melepaskannya malah langsung melompat ke arah tubuh Elbara, sehingga Elbara yang posisinya berada tepat di depannya mau tidak mau malah menangkap tubuh Viona dan menggendongnya selayaknya bayi besar.
"Apa yang sebenarnya coba di lakukan oleh Viona saat ini?" ucap Elbara dalam hati namun masih dengan mengikuti permainan Viona.
Hingga Elbara yang sudah tidak tahan lagi akan kelakuan istrinya itu, lantas langsung membawa tubuh Viona yang ada di gendongannya naik ke atas meja makan, beberapa maid yang melihat aksi tuan dan nyonyanya yang memanas itu, lantas langsung berhamburan keluar seakan mengerti bahwa keduanya sedang tidak ingin di ganggu.
Elbara yang sudah melihat beberapa maid keluar dari sana melalui ekor matanya, lantas langsung menggigit bibir bawah Viona agar wanita itu membuka mulutnya dan Elbara bisa melepaskan tautan Viona kepadanya.
"Aw... sakit El.." pekik Viona sambil memegang bibir bawahnya yang terasa seperti bengkak akan ulah Elbara barusan yang menggigit bibirnya.
"Stop Vio.. aku benar benar sudah lelah akan tingkah laku mu itu! aku bahkan sudah mengatakan padamu berulang kali bahwa aku tengah sibuk, tapi kau... kau malah terus memancing ku!" ucap Elbara dengan kesal sambil menatap tajam ke arah Viona.
"Tapi El.. aku merindukan mu!" ucap Viona berusaha membela diri.
"Sudah ku bilang cukup! jangan lagi bermain main aku sudah lelah saat ini." ucap Elbara kemudian berlalu pergi meninggalkan Viona seorang diri di atas meja makan.
"El tunggu..." teriak Viona.
__ADS_1
Bersambung