
Anabel benar benar seakan tidak ingin terlibat pembicaraan dengan Ferdi.
"Yank, kamu serius uda tidur ? Maafin Mas ya." ucap Ferdi yang kembali berusaha memeluk tubuh Anabel dari belakang dan sesekali mencium
pipinya.
Hingga Ferdi sadar bahwa Anabel tidak benar benar tidur, ketika ia merasakan asin dan basah di bibirnya saat ia mencium Anabel.
Ferdi kini telah paham jika Anabel tidak benar-benar tidur dan ia sedang menangis.
"Yank, maafin Mas ya." ucap Ferdi, berhenti sejenak mengambil nafas sebelum melanjutkan ucapannya.
"Maaf bila mas telah melukai perasaanmu.
Maafin Mas ya sayang bila belum bisa menjadi suami yang baik untukmu dan membahagiakanmu. Maafin Mas ya sayang." ucap Ferdi kembali, dengan mencoba mencondongkan tubuhnya ke Anabel dan menghapus bulir bulir air mata Anabel.
"Sayang, jangan menangis lagi ya seperti ini. Mas minta tolong, jangan biarkan air mata ini terus membasahi pipimu. Mas sedih melihatnya." ucap
Ferdi.
"Mas, masih peduli denganku? Mas, masih peduli dengan perasaanku memangnya ?" lirih Anabel, seakan kalimat yang ia lontarkan mengisyaratkan
kesedihan dan kesakitan.
"Tentu saja Mas peduli denganmu. Mas kan suamimu. " ucap Ferdi, dengan mencoba menggemgam tangan Anabel.
"Sayang ...." ucap Ferdi terhenti, saat seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Bentar, biar Mas bukain." ucap Ferdi yang turun dari tempat tidurnya.
"Eh, Bik Ina , Ada apa Bik?" tanya Ferdi.
"Itu Tuan, Nyonya...Itu ..." ucap Bik Ina yang tergagap gagap.
"Bi, coba bicara dengan tenang ya. Ada apa? Bicaralah Bi." ucap Ferdi kembali.
"Itu Nyonya, Tuan ...Bulan, Bintang juga David tidak ada di rumah. bibik sudah mencari mereka semenjak tadi tapi belum ketemu juga. Awalnya bibik gak mau kasih tau Tuan dan Nyonya karena
takut Tuan dan Nyonya nanti cemas.
Tapi karena tidak ketemu juga, hingga bibik memutuskan untuk memberitahu ke Tuan dan Nyonya. Karena bibik fikir Tuan dan Nyonya juga berhak mengetahuinya tentang ini, karena bagaimanapun David, Bulan juga Bintang kan, anak Tuan dan Nyonya." ucap Bik Ina.
"Apa Bik ?
mereka hilang ? Ya Allah..ke mana?" ucap Anabel dan Ferdi yang terkejut.
"Yaudah, kita cari mereka ya. Ayuk Bel." ucap Ferdi.
__ADS_1
"Iya Mas, ayuk kita cari mereka." ucap Ferdi, yang kemudian segera bersiap-siap begitupun dengan
Anabel.
Sedangkan bik Ina keluar dari kamarnya.
Setelah bersiap siap Anabel dan Ferdi pun segera mencari kehadiran Bulan, Bintang juga David .
"Bik, kami keluar dulu ya. Mau mencari anak anak. Titip rumah ya Bik. Seumpama ada info atau anak anak pulang ke sini, kabarin ya Bik." ucap Ferdi dan Anabel.
"Oke, Nyonya, Tuan." ucap bik Ina. Setelahnya Anabel dan Ferdi pun berlalu pergi.
"Kak David, kita di mana sekarang ? kok sepertinya kita tersasar ya, Bulan takut kak." ucap Bulan.
"Iya kak, sepertinya kita tersesat. Bintang juga takut." ucap Bintang.
"Tenang, tenang kalian ya. Mungkin kita hanya lupa jalan, pasti bentar lagi kita menemukan jalan untuk
kita kembali pulang." ucap David, yang berusaha menenangkan hati adiknya. Walau ia sendiri juga cemas dan ketakutan.
"Tapi kita sudah berjalan terlalu jauh kak." ucap Bulan dan Bintang.
"Tenang ya kalian, kita cari sama sama ya jalan keluar dari sini." ucap David, berusaha tenang.
"Humm coba kita lewat sana.." ucap David, menunjuk sebuah jalan hingga Bulan dan Bintang
mengikutinya.
Sementara di tempat lain, Anabel dan David berusaha mencari kehadiran ketiga anaknya.
David dan Anabel berharap mereka bisa segera bertemu dengan ketiga anaknya sebelum hari semakin petang.
****
Toktoktok ( Suara pintu di ketuk)
Seseorang mengetuk pintu rumah keluarga Anabel.
Sedangkan Bik Inah yang berada di dapur, baru mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu rumah.
Bik Inah berharap semoga yang mengetuk Tuan juga Nyonya dan Bulan, Bintang juga David yang sudah di temukan.
"Sapa ya yang mengetuk beberapa kali ? apa Tuan dan Nyonya ? semoga saja iya.
Bibik harap Bulan, Bintang dan David sudah di temukan. Aamiin..
Tak lama kemudian terdengar pintu rumah di ketuk, Bik Inah mengomel sendiri.
__ADS_1
"Issh, siapa sih ? sabaran dikit napa. Bibik kan masih harus copot celemek ini dan cuci dulu. Gak sabaran banget sih, setelah ini Bubuk juga bukain kok pastinya." omel Bik Inah, yang segera melepaskan celemeknya, mencuci tangannya dan kemudian membukakan pintu
tersebut.
Kreeeeek ( Suara pintu di buka ).
"Eh, iya cari siapa ya mbak?" tanya Bik Inah.
"Maaf, apa benar ini rumah Pak Ferdi ?" tanya seseorang tersebut.
"Ehmmm, iya benar mbak. Maaf kenapa ya? Mbak ini mau mencari siapa ?" tanya Bik Inah, kepada orang tersebut.
"Maaf, Pak Ferdi sudah menikah kan ? dan sudah mempunyai anak ?" tanya seseorang tersebut.
"Eummm, maaf mbaknya ini siapa ya?" tanya Bik Inah kembali, dan tidak merespon pertanyaan orang tersebut.
"Apa istrinya ada di rumah?" tanyanya lagi.
" Maaf ya mbak, keperluan mbak ke sini untuk apa? dan ingin bertemu siapa ?
Mbak ini siapanya ? kenapa pertanyaan.yang mbak lontarkan seakan menjurus ke privasi ya?" tanya Bik Inah.
"Tenang, tenang. Saya di sini teman Pak Ferdi, oleh sebab itu saya ke sini dan bertanya.
Apakah ia ada atau tidak. Begitupun istrinya, karena mungkin jika ada istrinya bisa saya sampaikan ke istrinya supaya bisa menyampaikan pesan saya kepada pak Ferdi.
Paham kan Bu maksudnya ? jadi saya minta tolong jangan berfikir yang macam macam." ucap seseorang tersebut.
"Hummm, maaf mbak saya sudah berfikiran yang macam macam kepada mbak. Iya mbak, maaf Pak Ferdinya sedang tidak berada di rumahnya begitupun istrinya." ucap Bi Inah.
"Loh, mereka ke mana Bik ?" tanya seseorang tersebut, terlihat syok.
"Humm, maaf maksudnya Pak Ferdi dan istrinya ke mana ya? dan apa masih lama kepulangan mereka? jika sebentar lagi pulang saya akan menunggunya. Tapi jika lama saya akan pulang duluan dan kembali besok.
Jadi saya harus menunggukah ini?" tanya seseorang tersebut, yang berusaha tenang.
"Iya, mereka sedang mencari ketiga anaknya yang hilang. Bulan, Bintang juga David tadi keluar rumah bermain saat Tuan dan Nyonya tidur.
Padahal Tuan dan Nyonya meminta mereka
agar tidak keluar rumah ketika bermain, jika pun harus keluar ya tidak lama lama dan harus segera kembali pulang.
Tapi mereka tidak mendengarkan pesan orang tuanya.
Mereka memilih mengabaikan pesan itu dan bermain hingga kini mereka menghilang." ucap Bik Ina, menjelaskan.
"Ya Tuhan, jadi seperti itu ya, saya sedih dan ikut khawatir.. Semoga mereka segera di temukan ya.
__ADS_1
Aamiin." ucap seseorang tersebut.
"Eummm, saya pamit dulu ya. Assalamualaikum." ucapnya lagi dan berpamitan untuk pulang.