Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Apa hubungan mereka?


__ADS_3

"Tumben gak di temani suaminya bu..." ucap Icha sambil membereskan peralatannya.


Akila yang mendengar pertanyaan tersebut tentulah paham siapa yang di maksud oleh Icha, hanya saja tidak mungkin kan Akila mengatakan bahwa Elbara bukanlah suaminya.


"Saya suaminya." ucap Delvano dari arah sebelah nakas, yang lantas membuat Icha yang mendengar suara tersebut dengan spontan menoleh ke arah sumber suara.


"Apa? bukannya suami bu Akila yang kemarin menemani bu Akila?" ucap Icha dengan tatapan yang bingung menatap ke arah Delvano dan juga Akila secara bergantian.


Delvano yang mendengar ucapan Icha barusan tentu saja langsung berwajah masam, membuat Icha yang paham akan kondisinya lantas langsung terdiam seketika.


"Em bukan bu, ini suami saya..." ucap Akila memperkenalkan Delvano ketika Akila melihat perubahan wajah Delvano barusan.


"Oh iya salam kenal saya Icha" ucap Icha dengan nada yang canggung kerena masih tidak menyangka bahwa orang yang sedari kemarin menemani Akila ternyata bukanlah suaminya.


"Baiklah kondisi bu Akila sudah semakin membaik dan menunjukkan progres, tekanan darah ibu sedikit rendah namun masih dalam batas wajar. Jangan terlalu banyak pikiran ya bu, untuk tulang bagian pundak ibu yang tempo hari retak saya sarankan untuk melakukan CT Scan untuk kembali memastikan kondisinya." ucap Icha kemudian menjelaskan tentang keadaan Akila secara rinci, sekalian menghindari rasa malu yang kini menyelimuti dirinya karena salah mengenali suami pasien, tidak hanya itu bahkan kemarin Icha merasa bersalah karena sudah berkata kasar kepada Elbara karena memang Icha pikir Elbara adalah suami dari Akila.


"Terima kasih banyak dok" ucap Akila dengan lirih namun masih bisa di dengar oleh Icha.


"Tentu bu tak perlu sungkan, jika tidak ada lagi yang di tanyakan saya permisi dulu." ucap Icha kemudian yang di balas anggukan kepala oleh Akila.


Setelah menyelesaikan tugasnya Icha kemudian lantas melangkahkan kakinya pergi dari sana, sambil merutuki kebodohannya yang main hardik sendiri kemarin.


"Lalu? mengapa kemarin laki laki yang bersama dengannya hanya diam saja ketika aku marahi? bukankah harusnya dia membantah? aneh sekali." ucap Icha dalam hati sambil melangkahkan kakinya pergi meninggalkan keduanya di ruangan tersebut.


Setelah kepergian Icha dari sana, Akila sesekali melirik ke arah Delvano yang hingga kini masih diam dengan wajah yang tak enak di pandang. Akila menelan salivanya dengan kasar ketika melihat wajah Delvano yang seakan berubah setelah mendengar ucapan dari Icha barusan.


"Mas aku..." ucap Akila hendak menjelaskan semuanya namun sudah terlebih dahulu di potong oleh Delvano.


"Stop Ki... jangan mengatakan apapun saat ini aku sedang tidak mood!" ucap Delvano sambil memejamkan matanya, membuat Akila langsung terdiam seketika setelah mendengar ucapannya.

__ADS_1


"Aku akan keluar sebentar mencari udara segar, kau makanlah sarapan mu." ucap Delvano dengan nada yang dingin kemudian berlalu pergi dari sana.


Akila yang melihat kepergian Delvano dari ruang perawatannya hanya bisa menatapinya hingga punggung Delvano tidak lagi terlihat, Akila menghela nafasnya panjang setelah kepergian Delvano dari ruangannya kemudian terdiam membeku di sana memikirkan segala hal yang terjadi padanya belakangan ini.


Entah mengapa Akila merasa gagal menjadi seorang istri, sudah hampir dua tahun keduanya menjalin bahtera rumah tangga, namun Akila sama sekali belum menemukan cara untuk meluluhkan laki laki itu. Bukankah Delvano yang meminang Akila? namun mengapa Delvano pula yang memberikan luka bertubi tubi kepada Akila? sampai sekarang Akila bahkan masih bertanya tanya apa yang menyebabkan Delvano selalu saja ringan tangan kepadanya.


***


Ruangan praktek Dr. Icha


Tok tok tok


"Masuk" ucap sebuah suara dari dalam ruangan.


Delvano yang mendapat ijin untuk masuk, lantas langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Icha dengan nada yang sopan.


"Istri anda masih dalam tahap observasi pak, bukankah saya menyarankan untuk melakukan CT Scan?" ucap Icha lagi.


"Itu tidak perlu, yang istri saya perlukan saat ini hanyalah istirahat di rumah saja itu sudah cukup." ucap Delvano tetap bersikukuh meminta kepulangan Akila.


"Bapak tidak bisa egois seperti ini, istri anda masih membutuhkan perawatan." ucap Icha dengan kekeh namun dalam nada bicara yang lembut berharap Delvano mau mengerti.


Delvano yang mendapat penolakan dari Icha lantas merasa tersinggung, ia kemudian bangkit sambil sedikit menendang kursi konsultasi membuat Icha sedikit terkejut akan tindakan dari Delvano barusan.


"Baik kalau anda memaksa, ada atau tidaknya ijin dari anda saya akan tetap membawa istri saya pulang." ucap Delvano dengan kesal kemudian berlalu pergi dari sana.


Icha yang terkejut akan hal itu hanya bisa memandangi punggung Delvano dengan tatapan yang heran. Pikirannya kemudian melayang akan luka lebam yang sudah terlihat samar yang ia temukan di sekujur tubuh Akila.

__ADS_1


"Apa mungkin pasien itu mendapat KDRT? bukankah ini sudah keterlaluan jika memang ini benar? mengingat suaminya tempramental seperti itu." ucap Icha pada diri sendiri setelah kepergian Delvano dari sana.


**


20 menit setelah kepergian Delvano dari ruangannya.


Sebuah deringan ponsel milik Icha lantas membuyarkan lamunannya, Icha yang melihat nama Dr. Fatih di layar ponselnya lantas langsung mengernyit dengan bingung.


"Tumben Dr. Fatih telpon?" ucap Icha dengan tatapan yang bingung sebelum akhirnya mengusap ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.


"Halo" ucap Icha.


"Halo Cha... aku ingin menanyakan sesuatu padamu, apa kamu yang menangani pasien bernama Akila Nafasya Humairah?" tanya Fatih langsung to the point pada intinya.


Icha yang mendapat pertanyaan tersebut tentu saja bingung, bagaimana mungkin seorang Direktur utama Rumah sakit menanyakan pasiennya jika memang ini tidaklah penting.


"Iya dok, saya yang menangani pasien tersebut." jawab Icha kemudian.


"Berikan ijin untuk kepulangannya hari ini." ucap Fatih yang lantas membuat Icha terkejut ketika mendengarnya.


"Tapi dok kondisi pasien masih belum memungkinkan untuk pulang dan melakukan rawat jalan." ucap Icha membantah secara halus perintah dari Fatih.


"Tidak perlu membantah lakukan saja perintah ku, biar aku yang akan bertanggung jawab." ucap Fatih lagi kali ini tidak ingin di bantah sama sekali.


"Tapi dok..." ucap Icha hendak kembali membantah hanya saja suara panggilan yang di matikan secara sepihak lantas memotong ucapannya.


Tut tut tut...


"Ah sial... apa hubungan sebenarnya antara suami pasien dengan Direktur utama Rumah sakit?" ucap Icha setelah panggilan telponnya di putus begitu saja oleh Fatih.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2